The New Duchess

The New Duchess
Bab 111: Kesepakatan



Mata lelaki itu menatap


Ai lekat, jika bukan karena kalimat Ai yang mengundang niat jahatnya, Hardwin


tidak mungkin mau menuruti keinginan wanita itu.


“ apa itu?”  Ai menerka-nerka. Wanita itu masih tidak


merasa jika dia sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan Hardwin meminta


syarat.


“ yang pertama jangan


mengacuhkanku” Ai terdiam.


“ lalu yang kedua?”


merasa syarat yang pertama tidak terlalu memberatkan, Ai mulai meminta syarat


terakhir.


“ tinggalkan Axton “


inilah yang paling Hardwin inginkan. Baginya melihat Axton kehilangan Ai akan


sangat menyenangkan.


Ai yang mendengar kalimat


itu, terpaku. Dia sudah merasa hal ini pasti yang diinginkan Hardwin. Namun


saat mendengarnya secara langsung rasanya begitu menyesakkan dada. Antara


percaya atau tidak.


“ aku tidak memaksa” Hardwin


tau jika ini berat bagi Ai, karena wanita itu hanya terdiam sejak tadi. Lelaki


itu segera memutar badannya untuk keluar dari kamar. Seakan semakin membuat Ai dilemma.


Lelaki ini pintar sekali memainkan psikologis Ai.


“ jika aku setuju, apa


kau bersedia menjamin sampai Axton benar-benar sembuh?” suaranya terdengar


begitu rapuh.


“ tentu” Hardwin


menghentikan langkahnya. dia bahkan tidak menatap Ai saat menjawab pertanyaan


itu. Hardwin tentu menyombongkan dirinya, akhirnya dia bisa mendapatkan wanita


pujaanya.


Sesuai dengan


kesepakatan, malam  hari itu juga mereka segera


pergi menuju kawasan pondok. Dalbert terpaksa duduk di samping kusir karena


muak melihat Hardwin. Lelaki itu tidak mau satu ruangan atau bahkan berdekatan


dengan lelaki bajingan itu.


Tepat saat tengah malam


mereka sampai di kawasan pondok. Ai menyuruh pelayan untuk mengantar Hardwin


menuju kamar tamu, sedang dirinya meminta Dalbert mengantarnya memasuki hutan. Tujuannya


adalah pondok Axton, wanita itu ingin menemani suaminya. Rasa rindu bercampur


sedih membuat wanita itu begitu ingin memeluk sang suami dengan erat.


“ apa yang kalian


perbicangan tadi?” Dalbert memulai perbincangan begitu mereka masuk hutan.


“tidak ada, hanya


basa-basi” jawab Ai acuh, dia tidak mau ada orang lain yang mengetahui


kesepakatan mereka. takutnya  hal ini


akan di dengar oleh Axton.


“ kau yakin?” Dalbert


menangkap ada hal aneh dari jawaban adiknya, belum lagi sejak meninggalkan kota


wajah adiknya ini terlihat lesu dan tidak bersemangat.


“ iya” singkat Ai.


Dalbert tidak mau berdebat, dia akan membuat perhitungan pada Hardwin nanti.


Dalbert akan menyusun rencana  agar bisa


membuat adiknya ini kembali ceria.


Saat sampai dia pondok,


Dalbert duduk di teras. Sedang Ai langsung menuju kamar. Dilihatnya Axton sudah


terlelap. Wajahnya yang pias terlihat begitu damai. Mengundang Ai untuk


membaringkan diri di samping suaminya.


Pelan-pelan Ai menaiki


ranjang dan berbaring memeluk suaminya, nafas itu begitu teratur. Ai


menyembunyikan wajahnya di bahu Axton, tak lupa air matanya yang luruh tidak


bisa di bendung.


Kejadian demi kejadian


yang mereka alami terasa tidak begitu berat kecuali harus meninggalkan


suaminya. Wanita itu menyesal namun jika hal itu bisa di tukar dengan


kesembuhan suaminya, dia rela. Asal Axton baik-baik saja dia akan melakukan


apapun.


Pagi harinya, Ai mengeliat


bangun dari tidur. Ternyata sebelahnya sudah kosong. Hanya dirinya dengan


sebuah selimut yang membungkus tubuh kecilnya.


Ai segera beranjak turun


dan mencari Axton. mulai saat ini dia tidak mau berjauhan dengan suaminya itu. Dia


akan memaksimalkan waktu yang dia miliki untuk bersama dengan Axton.


Ai berjalan menuju bagian


depan, ternyata Axton sedang duduk di teras dengan di temani Tuan Kleiner. Mereka


sedang berbicara serius.


“ kau sarapanlah lebih


dahulu” Dalbert datang dari arah belakang, begitu melihat adiknya bangun. Dia segera


mendekati yang menyuruhnya makan.


mengikuti kakanya menuju ruang tengah. Meninggalkan suaminya, dia akan


menemuinya nanti. Ai berfiki mungkin saja mereka sedang berbicara mengenai


Hardwin, dan Ai tidak mau mengganggu.


Kakak beradik itu makan


dengan tenang. Hari ini Ai bersikap biasa. Dia sudah bertekat bahwa dia akan


menutupi semuanya dan bertingkah selayaknya dahulu. Jangan sampai menimbulkan


kecurigaan.


“ apa Axton sudah


sarapan?” Ai menatap Dalbert sambil tetap mengunyah.


“ sudah” jawab Dalbert


singkat. Malah sikap Dalbert yang seakan berubah cuek.


“ sudah minum obat?”


tanya Ai kembali.


“ sudah” jawaban


template. Dalbert bahkan tidak menatap Ai saat menjawab.


“kau kenapa??” Ai


mengerutkan keningnya. Tingkah Dalbert terasa aneh.


“ tak apa” lelaki itu


hanya menjawabnya dengan kalimat yang sangat singkat. Ai ingin menanyakan lebih


lanjut, namun dia urungkan karena melihat Axton yang berjalan masuk menuju ke


arahnya.


“bagaimana kondisimu?” Ai


langsung bertanya saat Axton berdiri di sampingnya sambil mengelus kepalanya


pelan.


“ lebih baik” jawaban


Axton sambil tersenyum tulus. Wajahnya itu terlihat senang.


“ aku akan menemui ayah”


Dalbert meninggalkan meja makan. Dia tidak mau mengganggu moment berduaan


sepasang suami istri itu.


Ai dan Axton hanya


mengangguk dan menatap Dalbert sampai menghilang di balik pintu.


“ kemarin kau pergi tanpa


meminta izin” ucap Axton saat duduk di kursi makan. Dia akan menemani istrinya


sarapan.


“ ah ya, maafkan aku. Aku


terburu-buru” jawab Ai sambil tersenyum cengengesan.


“ jangan ulangi lagi,


jangan pergi tanpa meminta izinku” ucap Axton tegas. Dia tidak mau istrinya


berbuat hal yang sama.


“ Ai?” istrinya langsung


terdiam dan melamun setelah mendengar permintaan Axton. membuat Axton harus


meminta jawaban.


“ tentu” sambil tersenyum


getir. Wanita itu tau bahwa dirinya pasti akan melakukan larangan itu.


Disisi lain setelah


mengatahui bahwa anaknya bersedia membantu kesembuhan Duke, tuan Aidyn langsung


saja memulai meracik ramuan. Meski wajahnya lelah dan Nampak tidak terurus dia


tidak peduli, dia akan membantu Duke semaksimal mungkin.


“ kenapa kau baru


menyetujui sekarang?” ucap Aidyn saat pagi hari melihat anaknya dan Hardwin


dengan entengnya menawarkan diri.


“ entahlah, setidaknya


aku bisa mengetahui keberadaan pangeran” jawab Hardwin cuek, dia menutupi


persyaratan yang dia ajukan pada Ai. ayahnya jelas akan menyalahkannya, dan dia


tidak mau rencananya gagal.


Aidyn tampak tidak begitu


percaya dengan jawaban anaknya. Seakan mearasa ada sesuatu yang janggal dan di


tutup-tutupi.


“ begitu Duke sembuh aku


segera mengawal pangeran kembali” ucap Hardwin memecahkan kebisuan ayahnya. Dia


ingin segera menyelesaikan tugasnya, karena ada sesuatu yang menarik


setelahnya.


“ jika berhasil,


setidaknya butuh 1 sampai 2 minggu lagi kau bisa meninggalkan pondok. pastikan


pangeran tau hal ini. Dan jaga pangeran dengan baik” Aidyn seakan sedang


memarahi anaknya, nada suara begitu tegas dan dingin. Imbas pikiran buruk yang


Aidyan rasakan.


“ jangan khawatir”ucap


Hardwin sambil mengambil mengulurkan tangannya kepada ayahnya yang memegang


pisau kecil.


Aidyn tidak mau mengulur


waktu, kesehatan Duke sangatlah buruk. Beberapa organ tubuhnya mulai kehilangan


fungsi. Jika tidak segera di obati,  takutnya penawar yang mereka temukan tidak


sanggup  menetralkan tubuh Duke yang


beracun.  Semuanya akan menjadi sia-sia.