
Mata lelaki itu menatap
Ai lekat, jika bukan karena kalimat Ai yang mengundang niat jahatnya, Hardwin
tidak mungkin mau menuruti keinginan wanita itu.
“ apa itu?” Ai menerka-nerka. Wanita itu masih tidak
merasa jika dia sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan Hardwin meminta
syarat.
“ yang pertama jangan
mengacuhkanku” Ai terdiam.
“ lalu yang kedua?”
merasa syarat yang pertama tidak terlalu memberatkan, Ai mulai meminta syarat
terakhir.
“ tinggalkan Axton “
inilah yang paling Hardwin inginkan. Baginya melihat Axton kehilangan Ai akan
sangat menyenangkan.
Ai yang mendengar kalimat
itu, terpaku. Dia sudah merasa hal ini pasti yang diinginkan Hardwin. Namun
saat mendengarnya secara langsung rasanya begitu menyesakkan dada. Antara
percaya atau tidak.
“ aku tidak memaksa” Hardwin
tau jika ini berat bagi Ai, karena wanita itu hanya terdiam sejak tadi. Lelaki
itu segera memutar badannya untuk keluar dari kamar. Seakan semakin membuat Ai dilemma.
Lelaki ini pintar sekali memainkan psikologis Ai.
“ jika aku setuju, apa
kau bersedia menjamin sampai Axton benar-benar sembuh?” suaranya terdengar
begitu rapuh.
“ tentu” Hardwin
menghentikan langkahnya. dia bahkan tidak menatap Ai saat menjawab pertanyaan
itu. Hardwin tentu menyombongkan dirinya, akhirnya dia bisa mendapatkan wanita
pujaanya.
Sesuai dengan
kesepakatan, malam hari itu juga mereka segera
pergi menuju kawasan pondok. Dalbert terpaksa duduk di samping kusir karena
muak melihat Hardwin. Lelaki itu tidak mau satu ruangan atau bahkan berdekatan
dengan lelaki bajingan itu.
Tepat saat tengah malam
mereka sampai di kawasan pondok. Ai menyuruh pelayan untuk mengantar Hardwin
menuju kamar tamu, sedang dirinya meminta Dalbert mengantarnya memasuki hutan. Tujuannya
adalah pondok Axton, wanita itu ingin menemani suaminya. Rasa rindu bercampur
sedih membuat wanita itu begitu ingin memeluk sang suami dengan erat.
“ apa yang kalian
perbicangan tadi?” Dalbert memulai perbincangan begitu mereka masuk hutan.
“tidak ada, hanya
basa-basi” jawab Ai acuh, dia tidak mau ada orang lain yang mengetahui
kesepakatan mereka. takutnya hal ini
akan di dengar oleh Axton.
“ kau yakin?” Dalbert
menangkap ada hal aneh dari jawaban adiknya, belum lagi sejak meninggalkan kota
wajah adiknya ini terlihat lesu dan tidak bersemangat.
“ iya” singkat Ai.
Dalbert tidak mau berdebat, dia akan membuat perhitungan pada Hardwin nanti.
Dalbert akan menyusun rencana agar bisa
membuat adiknya ini kembali ceria.
Saat sampai dia pondok,
Dalbert duduk di teras. Sedang Ai langsung menuju kamar. Dilihatnya Axton sudah
terlelap. Wajahnya yang pias terlihat begitu damai. Mengundang Ai untuk
membaringkan diri di samping suaminya.
Pelan-pelan Ai menaiki
ranjang dan berbaring memeluk suaminya, nafas itu begitu teratur. Ai
menyembunyikan wajahnya di bahu Axton, tak lupa air matanya yang luruh tidak
bisa di bendung.
Kejadian demi kejadian
yang mereka alami terasa tidak begitu berat kecuali harus meninggalkan
suaminya. Wanita itu menyesal namun jika hal itu bisa di tukar dengan
kesembuhan suaminya, dia rela. Asal Axton baik-baik saja dia akan melakukan
apapun.
Pagi harinya, Ai mengeliat
bangun dari tidur. Ternyata sebelahnya sudah kosong. Hanya dirinya dengan
sebuah selimut yang membungkus tubuh kecilnya.
Ai segera beranjak turun
dan mencari Axton. mulai saat ini dia tidak mau berjauhan dengan suaminya itu. Dia
akan memaksimalkan waktu yang dia miliki untuk bersama dengan Axton.
Ai berjalan menuju bagian
depan, ternyata Axton sedang duduk di teras dengan di temani Tuan Kleiner. Mereka
sedang berbicara serius.
“ kau sarapanlah lebih
dahulu” Dalbert datang dari arah belakang, begitu melihat adiknya bangun. Dia segera
mendekati yang menyuruhnya makan.
mengikuti kakanya menuju ruang tengah. Meninggalkan suaminya, dia akan
menemuinya nanti. Ai berfiki mungkin saja mereka sedang berbicara mengenai
Hardwin, dan Ai tidak mau mengganggu.
Kakak beradik itu makan
dengan tenang. Hari ini Ai bersikap biasa. Dia sudah bertekat bahwa dia akan
menutupi semuanya dan bertingkah selayaknya dahulu. Jangan sampai menimbulkan
kecurigaan.
“ apa Axton sudah
sarapan?” Ai menatap Dalbert sambil tetap mengunyah.
“ sudah” jawab Dalbert
singkat. Malah sikap Dalbert yang seakan berubah cuek.
“ sudah minum obat?”
tanya Ai kembali.
“ sudah” jawaban
template. Dalbert bahkan tidak menatap Ai saat menjawab.
“kau kenapa??” Ai
mengerutkan keningnya. Tingkah Dalbert terasa aneh.
“ tak apa” lelaki itu
hanya menjawabnya dengan kalimat yang sangat singkat. Ai ingin menanyakan lebih
lanjut, namun dia urungkan karena melihat Axton yang berjalan masuk menuju ke
arahnya.
“bagaimana kondisimu?” Ai
langsung bertanya saat Axton berdiri di sampingnya sambil mengelus kepalanya
pelan.
“ lebih baik” jawaban
Axton sambil tersenyum tulus. Wajahnya itu terlihat senang.
“ aku akan menemui ayah”
Dalbert meninggalkan meja makan. Dia tidak mau mengganggu moment berduaan
sepasang suami istri itu.
Ai dan Axton hanya
mengangguk dan menatap Dalbert sampai menghilang di balik pintu.
“ kemarin kau pergi tanpa
meminta izin” ucap Axton saat duduk di kursi makan. Dia akan menemani istrinya
sarapan.
“ ah ya, maafkan aku. Aku
terburu-buru” jawab Ai sambil tersenyum cengengesan.
“ jangan ulangi lagi,
jangan pergi tanpa meminta izinku” ucap Axton tegas. Dia tidak mau istrinya
berbuat hal yang sama.
“ Ai?” istrinya langsung
terdiam dan melamun setelah mendengar permintaan Axton. membuat Axton harus
meminta jawaban.
“ tentu” sambil tersenyum
getir. Wanita itu tau bahwa dirinya pasti akan melakukan larangan itu.
Disisi lain setelah
mengatahui bahwa anaknya bersedia membantu kesembuhan Duke, tuan Aidyn langsung
saja memulai meracik ramuan. Meski wajahnya lelah dan Nampak tidak terurus dia
tidak peduli, dia akan membantu Duke semaksimal mungkin.
“ kenapa kau baru
menyetujui sekarang?” ucap Aidyn saat pagi hari melihat anaknya dan Hardwin
dengan entengnya menawarkan diri.
“ entahlah, setidaknya
aku bisa mengetahui keberadaan pangeran” jawab Hardwin cuek, dia menutupi
persyaratan yang dia ajukan pada Ai. ayahnya jelas akan menyalahkannya, dan dia
tidak mau rencananya gagal.
Aidyn tampak tidak begitu
percaya dengan jawaban anaknya. Seakan mearasa ada sesuatu yang janggal dan di
tutup-tutupi.
“ begitu Duke sembuh aku
segera mengawal pangeran kembali” ucap Hardwin memecahkan kebisuan ayahnya. Dia
ingin segera menyelesaikan tugasnya, karena ada sesuatu yang menarik
setelahnya.
“ jika berhasil,
setidaknya butuh 1 sampai 2 minggu lagi kau bisa meninggalkan pondok. pastikan
pangeran tau hal ini. Dan jaga pangeran dengan baik” Aidyn seakan sedang
memarahi anaknya, nada suara begitu tegas dan dingin. Imbas pikiran buruk yang
Aidyan rasakan.
“ jangan khawatir”ucap
Hardwin sambil mengambil mengulurkan tangannya kepada ayahnya yang memegang
pisau kecil.
Aidyn tidak mau mengulur
waktu, kesehatan Duke sangatlah buruk. Beberapa organ tubuhnya mulai kehilangan
fungsi. Jika tidak segera di obati, takutnya penawar yang mereka temukan tidak
sanggup menetralkan tubuh Duke yang
beracun. Semuanya akan menjadi sia-sia.