The New Duchess

The New Duchess
Bab 99 : Setia



Hardwin bersama dengan


Edward menuju pos pemeriksaan  keamanan,


mereka berdua akan mengatur bagaimana posisi pasukan yang baru saja datang itu.


Meskipun dalam hati Edward akan memulangkan mereka dalam waktu dekat, hanya


tinggal menunggu persetujuan dari Ai yang sudah menjanjikannya.


“ tuan Hardwin!” ucap


anak buahnya begitu melihat atasannya berjalan mendekati pasukan.


“ kalian lengkap?” tanya


Hardwin memeriksa keadaan pasukan.


“ iya tuan” jawab mereka


kompak. Setelah memastikan bahwa tidak ada masalah di dalam pasukannya, Hardwin


membimbing mereka masuk ke dalam kota.


“ aku akan memerintahkan


bagian Camp untuk mengatur tempat untuk kau dan pasukanmu. Untuk sementara


kalian bisa bergabung dengan pasukan keamanan warga. Dia akan mengatar kalian”


jelas Edward sambil menunjuk seorang tentara yang memang mengepalai bagian itu.


“ lalu bagaimana dengan


Ai” mata Edward melotot sejenak, bagaimana bisa lelaki ini dengan santainya


menyebut nama Duchess, begitu tidak sopan. Namun dengan cepat wajahnya kembali


normal.


“ jelas sudah kami


siapkan tempat terbaik” jawab Edward tegas, tanpa menunggu tanggapan dari


Hardwin, dia segera pergi meninggalkan lelaki itu. Ada banyak hal yang harus


dia lakukan setelah kedatangan Duchess kemari.


Malam telah datang, Ai


baru saja selesai membersihkan diri, setelah beberapa hari lamanya tidak


berbesih atau mengganti pakaian.


“ Susan bisa kau bawakan


pakaian bersihnya?” ucap Ai yang masih berada di dalam kamar. Ai diberikan


sebuah ruangan sedikit lengkap, ada kamar beserta ruangan depan untuk menerima


tamu. Ruangan ini berada di lantai 2 jadi pemandagan kota sedikit bisa dilihat


dari kamarnya.


“ sudah saya siapkan di


atas nakas nyo, eh tuan” jawab susan sedikit gugup. Wanita itu sudah diberikan


pesan agar memanggil Ai dengan sebutan Tuan. Ai tidak ingin kehadirannya begitu


mencolok di kumpulan pasukan. Apalagi sebutan nyonya pasti akan mengundang rasa


penasaran pasukan yang nanti malah menghambat rencananya.


“ ah, ya. Sudah ketemu”


Ai segera memakai baju itu. Dia sudah mengatakan jenis pakaian seperti apa yang


dia inginkan. Bercelana dan berkemeja, hampir sama dengan pakaian pasukan hanya


saja memiliki model yang berbeda.


Setelah selesai dengan


masalah pribadi, Ai kini memakan makan malamnya. Meski dalam keadaan siaga, Ai


cukup terkejut dengan menu yang mereka berikan. Cukup lengkap dan enak. Tidak seperti


makanan pasukan pada umumnya. Ai yakin si Edward pasti yang mengatur semuanya,


ternyata lelaki itu cukup hormat juga pada dirinya.


“ sampaikan pesanku,


kapan bisa bertemu dengan tuan Edward” Ai menyuruh susan. Dia ingin membahas


masalah sebelumnya, dia takut jika Edward sedang sibuk jadi meminta pelayannya untuk


menanyakan kabar.


“ baik tuan” Susan segera


meninggalkan ruangan.


Lain halnya dengan


Hardwin, lelaki itu sedang mengatur pasukannya namun fikirannya melayang menuju


Ai. dia tidak tenang berjauhan dengan wanita itu disaat ada orang yang sudah


mengetahui identitas Ai. dari gelagat Edward tadi lelaki itu bisa menangkap


bahwa kehadirannya dirasa asing dan tidak diharapkan.


“ tuan semuanya sudah


aman, tinggal menunggu perintah anda selanjutnya” anak buahnya memberikan


laporan.


“ kita akan membantu


sebisanya sambil menunggu kabar keberadaan pangeran Aric” ucap Hardwin.


“ aku akan berkeliling


sejenak, kau jaga yang lain” Hardwin akan mencari tahu sendiri sebenarnya


bagaimana kondisi kota mungkin saja dia bisa menemukan petunjuk keberadaan


pangeran Arick.


“ baik tuan”


Lelaki itu segera


meninggalkan tempat, dia akan mencari keberadaan Ai juga. Ada yang perlu dia


tanyakan kepada wanita itu.


Disisi lain Edward baru


selesai dari patrolinya memasuki ruangannya. Sudah menjadi kebiasaanya jika


dari pagi sampai sore dia tidak akan ada di ruangan. Dia akan berpatroli


mengecek beberapa hal, baru sekitar senja hari akan kembali ke pangkalan.


“ ada apa mencariku?”


begitu sampai di teras lelaki itu melihat seorang pelayan yang sedang


menunggunya.


bisa bertemu dengan anda” ucap Susan.


“ tuan siapa?” Edward


mengerutkan keningnya, pasalnya tidak ada tamu lelaki yang di layani seorang


wanita.


“ seseorang yang keluar


dari ruangan anda tadi pagi” ah, jadi pelayan ini yang bertugas melayani


Duchess, Edward hampir lupa dengan perintahnya sendiri.


“ ah, aku sendiri yang


akan kesana” Edward langsung mengganti arah langkahnya. Dia menuju tempat Ai


dengan di belakangnya susan mengikuti.


Tok tok, suara pintu


kamarnya. Ai segera membukakan pintu.


“ tuan Edward,” Ai sedkit


kaget dengan kehadiran lelaki yang memiliki umur hampir sama dengan kakak


sepupunya.


“ saya mendengar jika


anda mencari saya, Nyonya” ucap Edwad begitu sopan.


“ pangil aku tuan, aku


tidak mau menimbulkan keributan” Ai segera mengoreksi jangan sampai salah


sebut.


“ ah ya, tuan” Edward


langsung menuruti perintah Ai.


“ masuklah ada yang ingin


aku diskusikan” Ai segera mempersilahkan lelaki itu masuk dan langsung menutup


pintu. Membiarkan pelayannya menunggu di luar ruangan.


“ bagaimana? Kapan aku


bisa bertemu dengan seseorang itu?” Ai langsung saja menodong Edward dengan


pertanyaan.


“ em, saya sudah


memberikan pesan, kemungkinan besok baru akan mendapatkan jawabannya” jawab Edward


tenang. Dirinya memang sudah memberikan kabar keberadaan Duchess serta apa yang


ingin Duchess ketahui. Tinggal menunggu kabar selanjutnya baru bisa memutuskan.


Tak lupa soal lelaki yang bernama Hardwin juga Edward sampaikan di dalam


pesannya.


“ baiklah, aku tidak bisa


menunggu terlalu lama” Ai masih tetap dalam mode arogannya.


“ saya mengerti tuan”


jawab Edward sopan. Sikap semena-menanya sudah lenyap entah kemana. Lelaki itu


dengan cepatnya langsung menjadi anak buah setia Duchess.


“ oh ya bagaimana dengan


Hardwin, apa pasukannya aman?” Ai juga menanyakan kabar temannya, dia tetap berwaspada


atas kondisi lelaki itu.


“ semuanya sudah diatur


dengan baik” jawab Edward, dia masih belum berani mengutarakan ketidak sukaanya


pada Hardwin. Dia akan mencari waktu yang tepat agar bisa membujuk Duchess


untuk segera memulangkan lelaki itu.


“  aku ingin berkeliling sejenak melihat suasana


kota, apa kau memiliki waktu?” tanya wanita itu, semenjak datang dia memang


tidak mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi kota. Kini ada waktu dan orang


yang bisa membantunya kenapa tidak.


“ tentu tuan,” Edward


akan berusaha menyanggupi apapun yang Duchess inginkan.


Akhirnya kedua orang


tersebut meninggalkan ruangan dan memulai untuk berkeliling. Suasana malam di


kota serasa begitu sunyi, disini di berlakukan jam malam bagi warga kota,


membuat jalanan tampak sepi.


“ ada kisaran berapa


orang yang masih tinggal disini?” Ai memulai pertanyaan.


“ hampir separuh dari


warga sudah di ungsikan ke kota Nialu dan kota terdekat lainnya. Kota ini bisa


di bilang bagian terluar dari Bavaria, jika perang pecah lagi maka akan sangat


mengkhawatirkan dan mengancam kota”  Edward menjawab selengkap mungkin.


“ bagaimana dengan


sisanya kenapa mereka tidak mau pergi?” Ai melanjutkan.


“ sebagian menjaga ternak


dan ladang mereka dan sebagian berniat membantu pasukan, ibaratnya yang ada


disini sudah pasrah mau bagaimana nanti situasinya”


“ah ya, ku dengar hanya


di kota ini pasukan milik Duke berjaga, apa benar?” kembali lagi pada seputar


hal berkaitan dengan Axton. Edward kali ini tidak langsung menjawab, bahkan


langkahnya berhenti sejenak.


“ benar, pasukan Duke


memang hanya berada di kota. Tapi mereka menjaga di bagian terluar, langsung


menghadap musuh. Hanya sesekali kami berganti jaga untuk memastikan keadaan


baik-baik saja” Edward terlihat sayu, dirinya begitu simpati dengan bagaimana


setianya pasukan milik Duke itu.