
Hardwin bersama dengan
Edward menuju pos pemeriksaan keamanan,
mereka berdua akan mengatur bagaimana posisi pasukan yang baru saja datang itu.
Meskipun dalam hati Edward akan memulangkan mereka dalam waktu dekat, hanya
tinggal menunggu persetujuan dari Ai yang sudah menjanjikannya.
“ tuan Hardwin!” ucap
anak buahnya begitu melihat atasannya berjalan mendekati pasukan.
“ kalian lengkap?” tanya
Hardwin memeriksa keadaan pasukan.
“ iya tuan” jawab mereka
kompak. Setelah memastikan bahwa tidak ada masalah di dalam pasukannya, Hardwin
membimbing mereka masuk ke dalam kota.
“ aku akan memerintahkan
bagian Camp untuk mengatur tempat untuk kau dan pasukanmu. Untuk sementara
kalian bisa bergabung dengan pasukan keamanan warga. Dia akan mengatar kalian”
jelas Edward sambil menunjuk seorang tentara yang memang mengepalai bagian itu.
“ lalu bagaimana dengan
Ai” mata Edward melotot sejenak, bagaimana bisa lelaki ini dengan santainya
menyebut nama Duchess, begitu tidak sopan. Namun dengan cepat wajahnya kembali
normal.
“ jelas sudah kami
siapkan tempat terbaik” jawab Edward tegas, tanpa menunggu tanggapan dari
Hardwin, dia segera pergi meninggalkan lelaki itu. Ada banyak hal yang harus
dia lakukan setelah kedatangan Duchess kemari.
Malam telah datang, Ai
baru saja selesai membersihkan diri, setelah beberapa hari lamanya tidak
berbesih atau mengganti pakaian.
“ Susan bisa kau bawakan
pakaian bersihnya?” ucap Ai yang masih berada di dalam kamar. Ai diberikan
sebuah ruangan sedikit lengkap, ada kamar beserta ruangan depan untuk menerima
tamu. Ruangan ini berada di lantai 2 jadi pemandagan kota sedikit bisa dilihat
dari kamarnya.
“ sudah saya siapkan di
atas nakas nyo, eh tuan” jawab susan sedikit gugup. Wanita itu sudah diberikan
pesan agar memanggil Ai dengan sebutan Tuan. Ai tidak ingin kehadirannya begitu
mencolok di kumpulan pasukan. Apalagi sebutan nyonya pasti akan mengundang rasa
penasaran pasukan yang nanti malah menghambat rencananya.
“ ah, ya. Sudah ketemu”
Ai segera memakai baju itu. Dia sudah mengatakan jenis pakaian seperti apa yang
dia inginkan. Bercelana dan berkemeja, hampir sama dengan pakaian pasukan hanya
saja memiliki model yang berbeda.
Setelah selesai dengan
masalah pribadi, Ai kini memakan makan malamnya. Meski dalam keadaan siaga, Ai
cukup terkejut dengan menu yang mereka berikan. Cukup lengkap dan enak. Tidak seperti
makanan pasukan pada umumnya. Ai yakin si Edward pasti yang mengatur semuanya,
ternyata lelaki itu cukup hormat juga pada dirinya.
“ sampaikan pesanku,
kapan bisa bertemu dengan tuan Edward” Ai menyuruh susan. Dia ingin membahas
masalah sebelumnya, dia takut jika Edward sedang sibuk jadi meminta pelayannya untuk
menanyakan kabar.
“ baik tuan” Susan segera
meninggalkan ruangan.
Lain halnya dengan
Hardwin, lelaki itu sedang mengatur pasukannya namun fikirannya melayang menuju
Ai. dia tidak tenang berjauhan dengan wanita itu disaat ada orang yang sudah
mengetahui identitas Ai. dari gelagat Edward tadi lelaki itu bisa menangkap
bahwa kehadirannya dirasa asing dan tidak diharapkan.
“ tuan semuanya sudah
aman, tinggal menunggu perintah anda selanjutnya” anak buahnya memberikan
laporan.
“ kita akan membantu
sebisanya sambil menunggu kabar keberadaan pangeran Aric” ucap Hardwin.
“ aku akan berkeliling
sejenak, kau jaga yang lain” Hardwin akan mencari tahu sendiri sebenarnya
bagaimana kondisi kota mungkin saja dia bisa menemukan petunjuk keberadaan
pangeran Arick.
“ baik tuan”
Lelaki itu segera
meninggalkan tempat, dia akan mencari keberadaan Ai juga. Ada yang perlu dia
tanyakan kepada wanita itu.
Disisi lain Edward baru
selesai dari patrolinya memasuki ruangannya. Sudah menjadi kebiasaanya jika
dari pagi sampai sore dia tidak akan ada di ruangan. Dia akan berpatroli
mengecek beberapa hal, baru sekitar senja hari akan kembali ke pangkalan.
“ ada apa mencariku?”
begitu sampai di teras lelaki itu melihat seorang pelayan yang sedang
menunggunya.
bisa bertemu dengan anda” ucap Susan.
“ tuan siapa?” Edward
mengerutkan keningnya, pasalnya tidak ada tamu lelaki yang di layani seorang
wanita.
“ seseorang yang keluar
dari ruangan anda tadi pagi” ah, jadi pelayan ini yang bertugas melayani
Duchess, Edward hampir lupa dengan perintahnya sendiri.
“ ah, aku sendiri yang
akan kesana” Edward langsung mengganti arah langkahnya. Dia menuju tempat Ai
dengan di belakangnya susan mengikuti.
Tok tok, suara pintu
kamarnya. Ai segera membukakan pintu.
“ tuan Edward,” Ai sedkit
kaget dengan kehadiran lelaki yang memiliki umur hampir sama dengan kakak
sepupunya.
“ saya mendengar jika
anda mencari saya, Nyonya” ucap Edwad begitu sopan.
“ pangil aku tuan, aku
tidak mau menimbulkan keributan” Ai segera mengoreksi jangan sampai salah
sebut.
“ ah ya, tuan” Edward
langsung menuruti perintah Ai.
“ masuklah ada yang ingin
aku diskusikan” Ai segera mempersilahkan lelaki itu masuk dan langsung menutup
pintu. Membiarkan pelayannya menunggu di luar ruangan.
“ bagaimana? Kapan aku
bisa bertemu dengan seseorang itu?” Ai langsung saja menodong Edward dengan
pertanyaan.
“ em, saya sudah
memberikan pesan, kemungkinan besok baru akan mendapatkan jawabannya” jawab Edward
tenang. Dirinya memang sudah memberikan kabar keberadaan Duchess serta apa yang
ingin Duchess ketahui. Tinggal menunggu kabar selanjutnya baru bisa memutuskan.
Tak lupa soal lelaki yang bernama Hardwin juga Edward sampaikan di dalam
pesannya.
“ baiklah, aku tidak bisa
menunggu terlalu lama” Ai masih tetap dalam mode arogannya.
“ saya mengerti tuan”
jawab Edward sopan. Sikap semena-menanya sudah lenyap entah kemana. Lelaki itu
dengan cepatnya langsung menjadi anak buah setia Duchess.
“ oh ya bagaimana dengan
Hardwin, apa pasukannya aman?” Ai juga menanyakan kabar temannya, dia tetap berwaspada
atas kondisi lelaki itu.
“ semuanya sudah diatur
dengan baik” jawab Edward, dia masih belum berani mengutarakan ketidak sukaanya
pada Hardwin. Dia akan mencari waktu yang tepat agar bisa membujuk Duchess
untuk segera memulangkan lelaki itu.
“ aku ingin berkeliling sejenak melihat suasana
kota, apa kau memiliki waktu?” tanya wanita itu, semenjak datang dia memang
tidak mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi kota. Kini ada waktu dan orang
yang bisa membantunya kenapa tidak.
“ tentu tuan,” Edward
akan berusaha menyanggupi apapun yang Duchess inginkan.
Akhirnya kedua orang
tersebut meninggalkan ruangan dan memulai untuk berkeliling. Suasana malam di
kota serasa begitu sunyi, disini di berlakukan jam malam bagi warga kota,
membuat jalanan tampak sepi.
“ ada kisaran berapa
orang yang masih tinggal disini?” Ai memulai pertanyaan.
“ hampir separuh dari
warga sudah di ungsikan ke kota Nialu dan kota terdekat lainnya. Kota ini bisa
di bilang bagian terluar dari Bavaria, jika perang pecah lagi maka akan sangat
mengkhawatirkan dan mengancam kota” Edward menjawab selengkap mungkin.
“ bagaimana dengan
sisanya kenapa mereka tidak mau pergi?” Ai melanjutkan.
“ sebagian menjaga ternak
dan ladang mereka dan sebagian berniat membantu pasukan, ibaratnya yang ada
disini sudah pasrah mau bagaimana nanti situasinya”
“ah ya, ku dengar hanya
di kota ini pasukan milik Duke berjaga, apa benar?” kembali lagi pada seputar
hal berkaitan dengan Axton. Edward kali ini tidak langsung menjawab, bahkan
langkahnya berhenti sejenak.
“ benar, pasukan Duke
memang hanya berada di kota. Tapi mereka menjaga di bagian terluar, langsung
menghadap musuh. Hanya sesekali kami berganti jaga untuk memastikan keadaan
baik-baik saja” Edward terlihat sayu, dirinya begitu simpati dengan bagaimana
setianya pasukan milik Duke itu.