
“ Hardwin hentikan!”
teriak Aidyn yang berjalan cepat mendekati dua lelaki itu.
Hardwin akhirnya
berhenti, bukan karena menuruti ucapan ayahnya. Namun tubuhnya sudah tidak
sanggup lagi meneruskan pertarungan. Penampilannya begitu luruh akibat jatuh di
tanah basah dan beberapa genangan lumpur. Kedua sudut bibirya mengeluarkan darah,
pelipisnya sedikit sobek dan mengalir darah serta beberapa noda keunguan yang
menyebar di seluruh bagian tubuh yang masih tertutup pakaian.
Keadaan Hardwin sudah
babak belur, lelaki itu masih tidak mau mengalah. Dia tetap merasa berjasa dan
berhak melawan atas semua serangan Axton. ayahnya dengan kuat memegang
lengannya. Bukan untuk menyangga tubuh Hardwin namun untuk menahan anaknya agar
jangan sampai meneruskan perkelahian.
“ dia sudah melecehkan
istriku, bahkan mengancam dan membuatnya tidak berdaya. Anakmu ini seorang
lelaki brengsek” Axton penuh amarah saat mengatakan kenapa dia berlaku keras pada
Hardwin. Aidyn berhak tau apa yang sudah anaknya perbuat selama ini.
“ kau kaget aku
mengetahuinya? Jangan lupakan perjanjian konyol tidak masuk akal yang membuatku
katakutan” gantian kini Axton menatap nyalang dan tajam ke arah Hardwin. Lelaki
ini sudah dilarang masuk ke pondok karena Axton tidak ingin hal seperti ini
terjadi, nyatanya tuhan berbaik hati padanya dengan memberikan kesempatan
menghajar lelaki brengsek yang mempermainkan istrinya.
Semua yang mendengarnya
langsung kaget tidak percaya, baik Ai yang didalam pondok. dia bahkan tidak
pernah mengatakan apapun pada suaminya. Dan nyatanya Axton tau semuanya.
Sedangkan Aidyn, sebagai
ayah dirinya merasa malu dengan apa yang sudah anaknya lakukan. Dia tidak
mengira anaknya akan melewati batas seperti ini. Pantas saja Duke dengan keras
memberikan pelajaran. Pengeran Aric hanya terdiam, dia memang sudah mengira
jika pasti ada alasan kuat kenapa Duke bertindak seperti ini.
“ Ai tidak pernah
mengatakan apapun, dia menyimpan semuanya sendiri. Bisa kau bayangkan bagaimana
tersiksanya dia?” Axton masih belum selesai dengan kalimat-kalimatnya. Salah siapa
membawa Hardwin kemari.
“ aku juga tersiksa!, aku
yang lebih dulu mengenalnya kenapa orang lain yang memilikinya” teriak Hardwin
mengiba. Dia sudah tidak kuat menahan perasaanya lagi. Dia muak saat orang lain
hanya menganggap dirinya sebagai teman masa kecil Duchess. Dia ingin lebih dari
itu.
“ Hardwin!” Plak, Aidyn sudah tidak bisa berfikir jernih. Satu tamparan
keras melayang ke pipi Hardwin.
“ ayah benar-benar kecewa
padamu. Bagaimana bisa kau memiliki perasaan seperti itu. kau harus tau, jika bukan
karena Grand Duke, keluarga kita semuanya sudah tiada. Kita memiliki banyak
hutang budi pada mereka. bahkan kematian ayah tidak akan bisa menebus jasa
mereka pada keluarga kita” jelas Aidyn dengan suara bergetar karena begitu emosional.
Dia menyembunyikan
masalah ini agar anaknya tidak menaggung beratnya beban hutang budi ini. Biarkan
dia saja yang menanggungnya. Axton juga pernah mengatakan hal yang sama, bahkan
menyuruhnya untuk melupakan semuanya. Kembali pada kehidupan normal. Namun Aidyn
tidak mau, dia akan mendedikasikan hidupnya untuk membayar hutang budi ini.
Hardwin terdiam, dia
tidak bisa berkata-kata. Apa hutang budi yang ayahnya maksudkan. Hardwin hanya
bisa menatap ayahnya dengan wajah sedih dan penuh tanya. Ayahnya terlihat
begitu sedih dan kecewa dengannya, Hardwin merasa sangat bersalah.
“ Aidyn sudah, aku tidak
bermaksud mengulik masa lalu, kau tidak perlu menceritakannya. semuanya sudah
selesai. Kita sama-sama impas. Tidak ada lagi hutang budi ” Axton sedikit
meredam kemarahan Aidyn. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah menyinggung
masalah hutang budi.
Inilah salah satu alasan
kenapa Axton tetap mau menerima darah Hardwin bahkan ketika dia tau akan
perjanjian istrinya dengan lelaki brengsek ini. Dia ingin memutuskan hubungan
hutang budi antara keluarga Kliener dengan dirinya. Dia tidak mau melihat Aidyn
melalui hidup dengan beban itu. Ayahnyalah yang berjasa bukan dirinya jadi rasanya
Karena saat ini Hardwin
berhasil menyelamatkannya, dia rasa Aidyn akan mengerti dan mau kembali pada
kehidupan normalnya. Namun sayang, ketidak tahuan Hardwin mengenai masalah ini
malah membuatnya berlaku melewati batas dan memanfaatkannya untuk mengambil
sesuatu berharga milik Duke. Tidak. Jika begini Axton tidak akan tinggal diam. Ai sangat berharga dan Axton akan menjaganya
sepenuh hatinya.
“ maafkan semua kesalahan
anak tidak tau diri ini, saya telah gagal mendidiknya” Aidyn bersimpuh di depan
Axton. dengan segera Axton langsung memegang kedua bahu Aidyn untuk menahannya.
“ kau tidak perlu seperti
ini” tolak Axton. dia tida mau seperti ini, Aidyn sudah seperti paman baginya.
Hardwin yang meilhat
bagaimana ayahnya bersikap dan mendengar penyesalan ayahnya membuat hatinya
begitu sakit. Dia tidak sadar bahwa selama ini dirinya sudah sangat memalukan
dan melukai perasaan ayahnya.
“ a,ayah. Maafkan aku”
Hardwin tidak sanggup melihat ayahnya menanggung semua perbuatannya. Lelaki itu
kemudian berlari menjauhkan diri. Dia tidak kuat melihat orang tua satu-satunya
bersimpuh meminta maaf karena dirinya. Hatinya
benar-benar sakit.
“ Hardwin!” Aidyn
memanggil anaknya, dia tidak mau terjadi hal yang buruk pada anaknya. Tubuhnya masih
banyak luka dan belum di obati. Aidyn mencemaskan hal itu.
“ sudah, dia pasti ingin
sendiri” cegah Axton saat melihat Aidyn ingin mengejar anaknya.
Situasi yang awalnya
panas kini mulai mendingin. Pangeran Aric yang sedari tadi menonton kini
berjalan mendekati kedua orang itu.
“ kalian masuklah,
biarkan Hardwin menenangkan dirinya” ucap pangeran Aric lembut. Dia tidak mau
mencampuri urusan keluarga mereka, jadi hanya bisa memberikan jalan tengah
saja.
Akhirnya mereka bertiga
berjalan memasuki pondok. setelah beberapa saat pengeran dan tuan Kleiner
meminta undur diri. Mereka akan bertemu di kawasan depan dalam waktu dekat. Axton
sudah siap melaksanakan rencananya, mereka semua bersiap menuju ibukota dalam
beberapa hari.
Sepeninggalnya para tamu,
Axton masih berdiam diri di teras depan. Dia sedang memikirkan kejadiannya
dengan Hardwin. Dia juga merasa sedikit tidak enak dengan respon yang Aidyn
ungkapkan.
“ Axton” Ai baru saja
keluar, sejak tadi dia juga menenangkan dirinya. Wanita itu kemudian duduk di
kursis sebelah Axton. perlahan dia menggapai tangan suaminya dan menautkan
jemari mereka.
Axton menatap tanpa
bicara. Istrinya pasti mendengar semuanya. Entah apa yang istrinya fikirkan
tentangnya.
“ terimakasih sudah tau
semuanya tanpa perlu aku ceritakan. Terimakasih juga sudah melindungiku
habis-habisan. Maaf harus merahasiakan hal ini, maaf juga karena membuatmu
merasa bersalah” kata demi kata keluar lembut dari mulut sang istri. Axton
menyimak dengan penuh rasa syukur, istrinya tidak marah bahkan lebih mengerti
dirinya.
“ kamu jangan menyalahkan
diri, apa yang tuan Kleiner alami sudah saatnya Hardwin mengetahuinya. Sudah waktunya
dia dewasa” Ai bisa merasakan rasa bersalah suaminya karena membuat tuan
Kleiner mengetahui tabiat buruk anaknya. Sontak saja perkataan istrinya seakan
menjadi air dingin yang membasahi kekhawatirannya. Begitu menenangkan.
“ terimakasih atas semua
perhatiamu” Axton mengelus pipi istrinya pelan. Tak lupa Axton juga mencium
kening sang istri.
“ aku bersyukur
memilikimu” imbuh Axton selanjutnya.