The New Duchess

The New Duchess
Bab 124: Bersalah



“ Hardwin hentikan!”


teriak Aidyn yang berjalan cepat mendekati dua lelaki itu.


Hardwin akhirnya


berhenti, bukan karena menuruti ucapan ayahnya. Namun tubuhnya sudah tidak


sanggup lagi meneruskan pertarungan. Penampilannya begitu luruh akibat jatuh di


tanah basah dan beberapa genangan lumpur. Kedua sudut bibirya mengeluarkan darah,


pelipisnya sedikit sobek dan mengalir darah serta beberapa noda keunguan yang


menyebar di seluruh bagian tubuh yang masih tertutup pakaian.


Keadaan Hardwin sudah


babak belur, lelaki itu masih tidak mau mengalah. Dia tetap merasa berjasa dan


berhak melawan atas semua serangan Axton. ayahnya dengan kuat memegang


lengannya. Bukan untuk menyangga tubuh Hardwin namun untuk menahan anaknya agar


jangan sampai meneruskan perkelahian.


“ dia sudah melecehkan


istriku, bahkan mengancam dan membuatnya tidak berdaya. Anakmu ini seorang


lelaki brengsek” Axton penuh amarah saat mengatakan kenapa dia berlaku keras pada


Hardwin. Aidyn berhak tau apa yang sudah anaknya perbuat selama ini.


“ kau kaget aku


mengetahuinya? Jangan lupakan perjanjian konyol tidak masuk akal yang membuatku


katakutan” gantian kini Axton menatap nyalang dan tajam ke arah Hardwin. Lelaki


ini sudah dilarang masuk ke pondok karena Axton tidak ingin hal seperti ini


terjadi, nyatanya tuhan berbaik hati padanya dengan memberikan kesempatan


menghajar lelaki brengsek yang mempermainkan istrinya.


Semua yang mendengarnya


langsung kaget tidak percaya, baik Ai yang didalam pondok. dia bahkan tidak


pernah mengatakan apapun pada suaminya. Dan nyatanya Axton tau semuanya.


Sedangkan Aidyn, sebagai


ayah dirinya merasa malu dengan apa yang sudah anaknya lakukan. Dia tidak


mengira anaknya akan melewati batas seperti ini. Pantas saja Duke dengan keras


memberikan pelajaran. Pengeran Aric hanya terdiam, dia memang sudah mengira


jika pasti ada alasan kuat kenapa Duke bertindak seperti ini.


“ Ai tidak pernah


mengatakan apapun, dia menyimpan semuanya sendiri. Bisa kau bayangkan bagaimana


tersiksanya dia?” Axton masih belum selesai dengan kalimat-kalimatnya. Salah siapa


membawa Hardwin kemari.


“ aku juga tersiksa!, aku


yang lebih dulu mengenalnya kenapa orang lain yang memilikinya” teriak Hardwin


mengiba. Dia sudah tidak kuat menahan perasaanya lagi. Dia muak saat orang lain


hanya menganggap dirinya sebagai teman masa kecil Duchess. Dia ingin lebih dari


itu.


“ Hardwin!” Plak,  Aidyn sudah tidak bisa berfikir jernih. Satu tamparan


keras melayang ke pipi Hardwin.


“ ayah benar-benar kecewa


padamu. Bagaimana bisa kau memiliki perasaan seperti itu. kau harus tau, jika bukan


karena Grand Duke, keluarga kita semuanya sudah tiada. Kita memiliki banyak


hutang budi pada mereka. bahkan kematian ayah tidak akan bisa menebus jasa


mereka pada keluarga kita” jelas Aidyn dengan suara  bergetar karena begitu emosional.


Dia menyembunyikan


masalah ini agar anaknya tidak menaggung beratnya beban hutang budi ini. Biarkan


dia saja yang menanggungnya. Axton juga pernah mengatakan hal yang sama, bahkan


menyuruhnya untuk melupakan semuanya. Kembali pada kehidupan normal. Namun Aidyn


tidak mau, dia akan mendedikasikan hidupnya untuk membayar hutang budi ini.


Hardwin terdiam, dia


tidak bisa berkata-kata. Apa hutang budi yang ayahnya maksudkan. Hardwin hanya


bisa menatap ayahnya dengan wajah sedih dan penuh tanya. Ayahnya terlihat


begitu sedih dan kecewa dengannya, Hardwin merasa sangat bersalah.


“ Aidyn sudah, aku tidak


bermaksud mengulik masa lalu, kau tidak perlu menceritakannya. semuanya sudah


selesai. Kita sama-sama impas. Tidak ada lagi hutang budi ” Axton sedikit


meredam kemarahan Aidyn. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah menyinggung


masalah hutang budi.


Inilah salah satu alasan


kenapa Axton tetap mau menerima darah Hardwin bahkan ketika dia tau akan


perjanjian istrinya dengan lelaki brengsek ini. Dia ingin memutuskan hubungan


hutang budi antara keluarga Kliener dengan dirinya. Dia tidak mau melihat Aidyn


melalui hidup dengan beban itu. Ayahnyalah yang berjasa bukan dirinya jadi rasanya


Karena saat ini Hardwin


berhasil menyelamatkannya, dia rasa Aidyn akan mengerti dan mau kembali pada


kehidupan normalnya. Namun sayang, ketidak tahuan Hardwin mengenai masalah ini


malah membuatnya berlaku melewati batas dan memanfaatkannya untuk mengambil


sesuatu berharga milik Duke. Tidak. Jika begini Axton tidak akan tinggal diam.  Ai sangat berharga dan Axton akan menjaganya


sepenuh hatinya.


“ maafkan semua kesalahan


anak tidak tau diri ini, saya telah gagal mendidiknya” Aidyn bersimpuh di depan


Axton. dengan segera Axton langsung memegang kedua bahu Aidyn untuk menahannya.


“ kau tidak perlu seperti


ini” tolak Axton. dia tida mau seperti ini, Aidyn sudah seperti paman baginya.


Hardwin yang meilhat


bagaimana ayahnya bersikap dan mendengar penyesalan ayahnya membuat hatinya


begitu sakit. Dia tidak sadar bahwa selama ini dirinya sudah sangat memalukan


dan melukai perasaan ayahnya.


“ a,ayah. Maafkan aku”


Hardwin tidak sanggup melihat ayahnya menanggung semua perbuatannya. Lelaki itu


kemudian berlari menjauhkan diri. Dia tidak kuat melihat orang tua satu-satunya


bersimpuh meminta maaf karena dirinya.  Hatinya


benar-benar sakit.


“ Hardwin!” Aidyn


memanggil anaknya, dia tidak mau terjadi hal yang buruk pada anaknya. Tubuhnya masih


banyak luka dan belum di obati. Aidyn mencemaskan hal itu.


“ sudah, dia pasti ingin


sendiri” cegah Axton saat melihat Aidyn ingin mengejar anaknya.


Situasi yang awalnya


panas kini mulai mendingin. Pangeran Aric yang sedari tadi menonton kini


berjalan mendekati kedua orang itu.


“ kalian masuklah,


biarkan Hardwin menenangkan dirinya” ucap pangeran Aric lembut. Dia tidak mau


mencampuri urusan keluarga mereka, jadi hanya bisa memberikan jalan tengah


saja.


Akhirnya mereka bertiga


berjalan memasuki pondok. setelah beberapa saat pengeran dan tuan Kleiner


meminta undur diri. Mereka akan bertemu di kawasan depan dalam waktu dekat. Axton


sudah siap melaksanakan rencananya, mereka semua bersiap menuju ibukota dalam


beberapa hari.


Sepeninggalnya para tamu,


Axton masih berdiam diri di teras depan. Dia sedang memikirkan kejadiannya


dengan Hardwin. Dia juga merasa sedikit tidak enak dengan respon yang Aidyn


ungkapkan.


“ Axton” Ai baru saja


keluar, sejak tadi dia juga menenangkan dirinya. Wanita itu kemudian duduk di


kursis sebelah Axton. perlahan dia menggapai tangan suaminya dan menautkan


jemari mereka.


Axton menatap tanpa


bicara. Istrinya pasti mendengar semuanya. Entah apa yang istrinya fikirkan


tentangnya.


“ terimakasih sudah tau


semuanya tanpa perlu aku ceritakan. Terimakasih juga sudah melindungiku


habis-habisan. Maaf harus merahasiakan hal ini, maaf juga karena membuatmu


merasa bersalah” kata demi kata keluar lembut dari mulut sang istri. Axton


menyimak dengan penuh rasa syukur, istrinya tidak marah bahkan lebih mengerti


dirinya.


“ kamu jangan menyalahkan


diri, apa yang tuan Kleiner alami sudah saatnya Hardwin mengetahuinya. Sudah waktunya


dia dewasa” Ai bisa merasakan rasa bersalah suaminya karena membuat tuan


Kleiner mengetahui tabiat buruk anaknya. Sontak saja perkataan istrinya seakan


menjadi air dingin yang membasahi kekhawatirannya. Begitu menenangkan.


“ terimakasih atas semua


perhatiamu” Axton mengelus pipi istrinya pelan. Tak lupa Axton juga mencium


kening sang istri.


“ aku bersyukur


memilikimu” imbuh Axton selanjutnya.