The New Duchess

The New Duchess
Bab 143. Sial



pengawal Aric dengan di kawal beberapa prajurit berjalan menuju istana selatan. Sesuai dengan perintah pangeran mereka harus menuruti perintah Duke dan menjaga keselamatan lelaki itu.


" Duke, pengawal pangeran datang kemari" ucap salah satu pasukannya yang bertugas memantau bagian luar istana.


" biarkan masuk" ucap Axton. Lelaki itu sibuk mengintrogasi pengawal Sean. Dia masih belum bisa menebak kemana perginya Sean.


" Duke" ucap pengawal Aric memberikan salam penghormatan.


" kau sudah bertemu dengan Pangeran?" tanya Duke tak kala Pengawal itu masuk.


" sudah Duke, di mana putra mahkota?" tanya Pengawal itu ketika hanya melihat pengawal putra mahkota saja.


" entahlah, aku rasa lelaki itu sudah pergi. Namun dia seakan ingin mengulur waktu" jawab Duke sambil terus memikirkan kemana perginya Putra mahkota.


" apa mungkin dia pergi ke kediaman anda?" Pengawal itu mulai berasumsi. Dia mengkhawatirkan kondisi Duchess jika benar wanita itu di sandera di sana.


" kediamanku? ada apa di sana" tanya Axton curiga.


" saat saya di luar saya bertemu dengan Dalbert, dia mengabarkan jika Duchess di culik. Sampai sekarang keberadaanya masih belum di ketahui. Hanya saja Tuan Kleiner memiliki kecurigaan jika di bawa ke kediaman anda" jelas pengawal itu. Dia merasa bersalah karena tidak bisa ikut memastikan bagaimana kejelasannya.


" Duchess di culik bagaimana bisa?! bukankah dia berada di kediaman Allard?" tanya Duke langsung panik. Bagaimana bisa hal ini dia tidak mengetahuinya.


" saya juga tidak tau Duke" jawab pengawal itu sama sekali tidak menenangkan Duke.


" kita pergi sekarang!" ucap Duke cepat.


pengawal Putra mahkota tidak menampiknya, dia diam saja membiarkan Duke tau kebenarannya. Axton tanpa perlu berpamitan dia pergi menggunakan kuda, sedangkan yang lainnya menyusul. Entahlah lelaki itu di landa kecemasan tidak memikirkan hal lain lagi.


" lepaskan aku!" teriak Ai saat Sean mendekati wajahnya setelah membuka penutup mulutnya. sayangnya tangan masih terikat jadi Ai tidak bisa melakukan apapun.


" kau terlihat sangat cantik Duchess," Sean berucap sambil mengelus pipi lembut Ai.


" jangan menyentuh ku, Brengsek!" caci Ai dengan tatapan tajam.


" hahahaha, kau semakin menarik" desis Sean setelah memikirkan rencana lain.


" bawa dia ke kamar utama" Teriak Sean. Dia akan memberikan kejutan pada Duke ketika dia datang. Sean bahkan sangat senang dengan hanya memikirkannya saja.


" mau apa kau?, brengsek jangan menyentuh ku!" Ai terus memberontak wanita itu mencoba melepaskan diri dari pengawal yang menariknya menuju lantai 3, di mana kamar Duke dan dirinya berada.


Teriakkan itu di dengar oleh Milly yang berada di lantai 2. Wanita itu segera berlari menuju kamar lainnya.


" hahaahah" Sean tertawa senang. Dia yakin kali ini Duke pasti akan hancur. Dia tidak sabar melihat bagaimana ekspresi Axton saat tau istrinya terkapar karena dirinya.


" baik yang mulia" jawab pengawal itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk membelinya di kedai terdekat.


Ai di masukkan kedalam kamar dan segera di kunci. Tangannya masih terikat, Ai mencari barang yang bisa ikatannya terlepas.


Milly yang sudah bersembunyi di kamar lama Ai, wanita itu sibuk mencari-cari jalan rahasia yang pernah Ai ceritakan. Dia sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan banyak suara.


Axton tanpa memperdulikan kudanya yang kelelahan, lelaki terus memacu tanpa henti. Malam semakin larut dan dirinya semakin kalut.


Tuan Kleiner dan Dalbert memasuki kediaman lewat jalan samping. Mereka semakin yakin jika Ai berada di sana. Mereka bisa melihat lalu lalang prajurit kerajaan yang keluar dari kediaman.


" aku yakin mereka sudah membawa Duchess kemari" ucap Tuan Kleiner.


" aku juga begitu, kita lebih baik menyebar" ucap Dalbert. Mereka menyetujuinya, setelah membagi kelompok mereka berpencar untuk mengurangi ketahuan.


Milly terus mencari di segala tempat. Namun tak kunjung ketemu.


" di mana??" Ucap Milly meneliti dalam kegelapan.


" yang mulia kita sudah siapkan semuanya" jawab pengawalnya, mereka membawakan berbagai macam buah dan anggur.


" bagus, segera tata di kamar" ucap Sean. Lelaki itu masih akan membersihkan dirinya sebelum menghabiskan waktu bersama dengan wanita pujaannya selama ini.


" akhirnya" ucap Milly setelah berhasil menemukan sebuah pintu yang menuju ke sebuah lorong.


" kita pergi ke samping" Ucap Dalbert kepada 2 orang lainnya. Mereka menghindari para pengawal yang berjaga. Mereka mengangguk pelan.


" jika situasi mendesak kalian langsung saja melarikan diri" ucap Dalbert tidak ingin membuat mereka terkena hukuman.


" sudah siap? aku Sudah tidak sabar" Sean menaiki tangga menuju lantai 3.


" siap yang mulia" jawab mereka. Kedua pengawal itu berjalan membawakan 2 nampan makanan.


ceklek


Sean membuka pintu, dengan senyum lebar.


" Duchess, kau tidak akan bisa pergi" ucap Sean yang mendapati Ai berada di pojok kamar dengan berusaha membuka ikatan tali.


Lelaki itu masuk dan para pengawal meletakkan nampan dan langsung meninggalkan junjungannya untuk bersenang -senang.