The New Duchess

The New Duchess
Bab 136 : Bualan



Sea baru selesai dengan rutinitas mandinya, lelakiitu berjalan menyusuri lorong. Kemudian sampai di kamar mewah.


“ buka kuncinya” ucap salah seorang penjaga begitu mengetahui putra mahkota dalam perjalanan kemari.


Dan setibanya Sea disana, lelaki itu segera masuk dengan membawa nampan berisikan bubur serta teko minuman. Tak ada seorangpun yang ikut masuk, hanya Sea seorang. Lelaki itu menuju ranjang yang sudah terlihat sedikit kotor karena telah lama ditempati.


“ bagaimana kabarmu ayah?” ucap Sea dengan ceria. Lelaki itu datang sesuai dengan janjinya.


Disana terdapat Raja yang sudah terkapar tak berdaya selama berhari-hari. raja hanya bisa menggerakkan tubuhnya secara terbatas, suaranya bahkan sudah mulai menghilang. Semuanya karena efek ramuan yang belum lama ini dia konsumsi.


Sea mengambil tempat di samping ranjang, dan seperti biasa dia akan menyuapi sang ayah dengan bubur terlebih dahulu.


“buka mulutmu” ucap Sea halus. Meski begitu raja tetap tidak mau membuka mulutnya. Sudah berhari-hari lelaki itu tidak mau makan apapun. Dia ketakutan bila makanannya dicampuri dengan racun. Alhasil tubuh raja dengan sendirinya melemah tanpa tenaga. Kondisinya terus memburuk.


“ ayah, bukankah aku begitu berbakti padamu. Dimana semua anakmu, si anak kesanyangmu, Aric. Dan gadis kecilmu Caroline?, semuanya menghilang. Semuanya melupakanmu. Hanya aku ayah. Hanya aku yang mau mengurusmu. Kenapa kau selalu saja tidak mau memakan semua ini, bahkan lihat. Matamu selalu melotot kearahku?. Apa salahku ayah?” Sea mengiba, bersandiwara menjadi orang yang paling tersakiti. Lelaki itu kemudian meletakkan mangkuk bubur, beralih mengambil teko minuman dan menuangkan isinya ke dalam gelas kecil.


Raut wajahnya yang semula mengiba, kini berubah menunjukkan kepuasan. Dia akan membuat ayahnya meminum ramuan ajaib ini. Raja yang melihatnya semakin takut. Bagaimana bisa Sea begitu kejam dan menyeramkan seperti ini.


“ karena ayah tidak mau makan, bagaimana jika kita minum terlebih dahulu. Agar tenggorokan ayah tidak kering, sini” Sea semakin mendekatkan gelas itu ke mulut ayahnya. Raja hanya bisa menggelengkan wajahnya agar minuman itu terjatuh.


Sayangnya Sea lebih berkuasa, dia memegang kedua pipi ayahnya dengan keras. Alhasil raja tidak bisa menolak. Dengan keras Sea segera membuka mulut ayahnya dengan berbagai cara, dan membuat sang ayah menelan ramuan itu secara terpaksa. Meski tidak semua namun tetap saja ramuan itu berhasil masuk ke dalam tubuhnya.


Uhuk uhuk uhuk, raja terbatuk karena paksaan Sea.


“ hahaha, bagus, ayah pintar” Sea kegirangan. Lelaki itu tertawa senang melihat wajah merah ayahnya. Kini sebentar lagi lelaki itu benar-benar bisa menduduki tahta.


Setelah selesai dengan tindakan paksa itu, Sea segera meninggalkan kamar dengan raut gembira. Dia membuka pintu dan berjalan sambil bersenandung. Padahal didalam sana, ayahnya mulai kesulitan bernafas, wajahnya memerah dan dadanya terasa panas.


Kini lelaki itu baralih menuju kamar satu lagi. Dia berjalan masuk melalui lorong yang berbeda. Lelaki itu sangat sibuk dengan rutinitas gilanya. Pelayan istana yang mengetahui semuanya tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka benar-benar takut dengan kegilaan putra mahkota.


“ buka pintunya” penjaga kamar segera mempersilahkan putra mahkota memasuki kamar.


Berbeda dengan sebelumnya penghuni ruangan ini dalam keadaan baik-baik saja. Mereka hanya menjadi tahanan kamar tanpa perlu mengonsumsi ramuan beracun seperti yang Sea berikan kepada Raja.


“ ibu, Cary. bagaimana kondisi kalian?” kedua wanita itu langsung berdiri. Cary dengan takutnya bersembunyi di belakang tubuh ibunnya. Sudah sejak lama Ratu dan putra Caroline menjadi tahanan kamar. Mereka berakhir seperti ini adalah karena mereka berniat menghalangi rencana Sea.


Meskipun awalnya sang Ratu mendukung rencana Sea yang ingin membunuh Axton, ternyata anaknya itu semakin serakah dengan ingin membunuh semua anggota kerajaan yang menghalangi rencananya. Tentu saja Ratu menolak keras rencana Sea ini, alhasil dia beserta putri kesayangannya menjadi tahanan kamar.


Mereka tidak tau bagaimana kondisi sang raja sekarang, keduanya sudah tidak bisa melakukan apapun. Mereka hanya menunggu kabar dari pangeran Aric.


 “ mau apa kau datang kemari?” saut Ratu dengan wajah tegang dan takut.


Kedua wanita itu memperhatikan Sea dengan seksama. Mereka siaga dengan pergerakan Sea. Takut saja bila ternyata lelaki itu berniat melakukan hal buruk pada mereka.


“ bagaimana jika kita sarapan bersama?” Sea tiba-tiba antusias. Lelaki itu segera memanggil pelayan untuk menyiapkan sarapan bersama di kamar Ratu.


Para pelayan langsung terlihat sibuk, mereka hanya diberikan watu singkat untuk bisa menyiapkan sarapan. Sea tidak mau menunggu lama. Lelaki itu sudah terbisa main seenaknya sendiri.


“ wah wah” ucap Sea melihat berbagai menu sudah terpampang di meja. Pelayan berhasil membuat lelaki itu puas.


“ kemarilah, mari makan bersama” Sea terus mengajak ibu dan Caroline agar duduk bersama di sana. Namun kedua wanita itu tidak memiliki minat untuk berdekatan dengan lelaki jahat seperti Sea.


“ cepat duduk disini” bentak Sea. Dia sudah habis kesabaran. Kedua wanita itu tak kunjung melakuka perintahnya. Alhasil Ratu dan Caroline tersentak dan mulai berjalan ketakutan mendekati meja makan.


Ratu dalam posisi melindungi gadisnya agar duduk berjauhan dengan Sea. Sedangkan dirinya  berhadapan langsung dengan sang anak. Mereka terdiam menunggu intruksi selanjutnya. Kedua wanita itu memperhatikan dengan seksama lelaki yang duduk bersama dengan mereka.


“ mari kita mulai” Sea segera mengambil makanan terlebih dahulu. Seakan menghiraukan etika makan di Bavaria.


Baik Ratu maupun Caroline saling mencuri pandang, akibat keraguan yang melanda. Sebenarnya mereka juga kelaparan, namun karena semua makanan ini datangnya atas suruhan Sea, mereka menjadi curiga apa yang terkandung didalamnya.


“ kalian makanlah” ucap Sea santai dengan mulut yang penuh dengan makanan. Lelaki tidak merasa terganggu dengan tatapan bingung dan takut dari kedua wanita itu.


Setelah beberapa saat tidak ada ucapan dari Sea, akhirnya Ratu memberanikan diri mengambil salah satu menu. Wanita itu dengan menimbang-nimbang kemungkinan makanan ini tidak mengandung racun. Karena Sea juga mengonsumsi makanan yang sama.


Ratu mulai menyendok dan melahab makanan sambil menatap kearah anak gadisnya. Dia mengunyah pelan dan menelannya. Ternyata semua itu terekam jelas oleh Sea. Lelaki itu juga mengamati sekitar meski dia terlihat acuh.


“ makanan itu mengandung racun yang membuatmu sesak nafas” ucap Sea santai. Dengan wajah datarnya menatap Ratu yang terlihat panic setelah mendengar penuturan anaknya.


Seketika Ratu menunduk dan mencoba memuntahkan makanan yang baru saja dia telan. Sang anak juga tak kalah paniknya, dia meninggalkan tempat duduk dan membantu ibunya dengan menepuk bagian punggung.


“ ibu, ibu” ucap Caroline ketakutan.


Uhuk uhuk, Ratu terus mengupayakan agar makanan yang baru dia telan bisa keluar dari tubuhnya.


Sea hanya mengamati dengan wajah serius, lelaki itu tidak melakukan apa-apa, hanya terdiam melihat adik tirinya begitu panic bahkan menangis.


“ kalian lucu sekali” ucap Sea kemudian dan beranjak pergi, lelaki itu ternyata hanya membual mengenai racun. Dia tidak benar-benar memberikan racun pada ibunya.


Caroline dan Ratu baru tersadar, mereka hanya di tipu. Dengan masih mengatur nafasnya, kedua wanita itu mengamati kepergian Sea dalam diam. sampai sosok itu menghilang di balik pintu.