The New Duchess

The New Duchess
Bab 133 : Upaya



Kereta kuda terus melaju


menuju ibukota. Hari demi hari Ai lewati dengan penuh kekhawatiran. Beberapa


kali mereka sempat mengalami kendala. Ai menyamar sebagai pelayan tuan muda


Bohmen. Untung saja hal itu dengan mudah membuat mereka berhasil menerobos


pemeriksaan.


Malam ini mereka sampai


di pondok perbatasan, sang pemilik terlihat kaget dengan kedatangan tamu


special yang sudah lama meninggalkan tempat.


“ masuklah kalian, saya


kira  kalian tidak akan berkunjung kemari


lagi” ucap sang pemilik, dia menyambut dengan gembira Ai dan Dalbert.


“ ya bibi, kami meminta


izin menginap semalam disini, apa boleh?” Ai menjelaskan kedatangan mereka


kemari kepada wanita yang merupakan anak dari pelayan ibunya.


“ tentu saja boleh,


kalian bisa tinggal disini kapapun kalian mau” wanita itu sangat ramah dan


baik.


“ terimakasih bibi, oh ya


apa bibi tau bagaimana kondisi ibu kota sekarang?” Dalbert mencoba berbasa-basi


untuk mencari informasi terbaru. Lelaki ini mau tidak mau ingin membantu adiknya


masuk ke ibukota.


“ disana sangat ketat,


banyak yang mengatakan keadaan Raja semakin parah. Mereka meningkatkan keamanan


ditakutkan musuh akan memanfaatkan keadaan istana untuk menjatuhkan kerajaan”


wanita itu mengatakan kabar yang selama ini beredar di masyarakat.


Ai dan Dalbert mengangguk


mendengarkan penjelasan wanita itu, mereka saling berpandangan. Sepertinya


mereka harus mempersiapakn sebuah rencana yang matang.


“ baiklah bibi


terimakasih sudah mau menerima kami” Ai tidak mau berlama-lama, dia dan


kakaknya harus merundingkan sesuatu setelah ini.


“ kalian istirahatlah”


wanita itu akhirnya keluar dan meninggalkan adik dan kakak itu sendiri. Mereka tidak


perlu penjelasan mengenai kamar, semuanya sudah mereka dapatkan saat pertama


kali masuk ke dalam pondok.


“jadi bagaimana, masih


mau masuk ke ibukota?” tanya Dalbert menguji keberanian sang adik.


“ tetap masuk “ Ai tidak


akan goyah, mau apapun yang menghadang dia tetap bertekat masuk kedalam


ibukota.


“bagaimana jika ada yang


mengenalimu?” Dalbert kembali menguji kepintaran AI.


“ aku harus berusaha


menyembunyikannya” jawab Ai enteng. Dia juga tidak mau ketahuan, namun jika hal


itu terjadi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa.


“  kenapa? kau takut? Kau bisa menungguku


disini” Ai seolah meremehkan keberanian kakaknya. Wanita itu sebenarnya tidak


mau jika kakaknya akan terlibat dalam masalah bersama dengan dirinya. Wanita


itu tidak akan mundur.


“ bukan begitu, kita


sama-sama tidak memiliki pasukan, jika tertangkap kita tidak bisa membela diri”


Dalbert mulai serius membahas keberangkatan mereka.


“ aku tau, yang aku


khawatirkan adalah kamu. Jika tertangkap kemungkinan besar aku akan dikirim


untuk bertemu dengan Sea, lalu kamu bagaimana nasibnya?” Ai juga ikut serius


menanggapi penjelasan kakaknya.


“apa kita masuk secara


terpisah?” lanjut Ai dengan memberikan ide konyol.


“tidak, kita harus


bersama. Kita tetap dalam sandiwara bahwa kau adalah pelayan kediaman. Kau


harus berdandan lebih menyakinkan lagi” Dalbert memberikan masukan. Mereka


pantang mundur. Sebisa mungkin melakukan penyamaran.


“ ya, kau benar” Ai


mengangguk. Mereka yakin dengan rencana mereka kali ini.Setelah berdiskusi


mereka kemudian masuk kedalam kamar masing-masing, dan mulai beristrahat.


Pagi menjelang kakak


beradik itu sudah siap dengan kereta mereka. bahkan wanita pemilik pondok


hampir tidak mengenali Ai karena dandanannya yang sudah cocok seperti pelayan


kaum rendah.


“ kenapa anda


berpenampilan seperti ini?” tanya wanita itu setelah diberitahu jika yang ada


di hadapannya ternyata Ai.


“ kami hanya sedang


bermain-main” ucap Ai menutupi kebenarannya. Dia tidak mau menyeret wanita baik


ini kedalam rencananya.


“ ah begitu rupanya”


wanita itu tersenyum tulus kemudian mengantar tamunya keluar dari gerbang.


Wanita itu bahkan membawakan sedikit perbekalan kepada Ai, untuk menemani dalam


perjalanan.


“ terimakasih atas


bantuan anda” Ai melambaikan tangan dan kereta berjalan menjauh dari pondok. perjalanan


dimulai kembali.


 Di sisi lain, rombongan Hardwin saat ini


sedang diperiksa di pos. mereka sudah dalam posisi siaga. Posisi pengawal sudah


tidak lagi berada di barisan depan, melainkan berada di samping kereta yang


membawa seseorang dengan postur yang sama dengan pangeran Aric.


“ letakkan senjata dan


perlihatkan tanda pengenal  kalian” ucap


salah satu petugas keamanan, mereka memasuki kota pertama, masih ada kota satu


lagi yang harus mereka lewati sebelum masuk kedalam ibukota.


Hardwin melaksanakan


identitas milik pengeran.


Petugas awalnya kaget dengan


kehadiran tnada pengenal pangeran Aric yang Hardwin bawa. Kemudian dengan


sembunyi-sembunyi mereka berbisik seolah sedang merencanakan sesuatu.


“ cepat, pengeran tidak


bisa menunggu” Hardwi berteriak kencang, dia sudah mengetahui gelagat aneh dari


para penjaga.


Penjaga langsung


memalingkan wajah dan tersentak dengan teriakan Hardwin.


“ kami memiliki urusan


lain juga, kalian silahkan menunggu disini” ucap penjaga. Mereka berencana


melaporkan berita yang selama ini mereka tunggu.


Sudah sejak lama berita


tentang kepulangan pangeran Aric tersebar dalam jajaran penjaga keamanan kota.


Semua ini tidak lain adalah pengaturan dari putra mahkota Sea. Dari kota sebelumnya


mereka sudah diberitakan bahwa rombongan kerajaan itu akan menuju ibukota.


Saat ini mereka harus


mengirim berita dan menunggu bagaimana keputusan yang harus mereka ambil.


“ tidak bisa, pengeran


harus segera masuk kedalam istana” Harwdin terus bersikukuh. Mereka harus


segera sampai, karena berdasarkan informasi mata-mata, Duke dan pangeran Aric


malam ini sudah akan masuk ke istana. Mereka harus segera sampai untuk bisa


ikut dalam pasukan perlindungan.


“peraturannya memang


seperti itu” penjaga tentu tidak mau mengalah.


Terjadi keributan kecil


yang menarik perhatin beberapa orang penjaga. Mereka berkumpul dibagian depan


dan mulai berunding. Sampai salah seorang yang menjadi kepala penjaga berjalan


mendekati rombongan mereka.


“ kalian berencana masuk


ke ibukota bukan?” tanya kepala itu dengan wajah sinis. Meskipun ada pangeran


disini nyatanya tuannya jauh lebih berkuasa. Kepala itu tentu tidak takut


dengan pengeran Aric.


“ apa kau tidak memiliki


telinga? Sudah aku katakan sebelumnya” Hardwin terpancing emosi karena tingkah


kepala penjaga yang terlihat sok berkuasa.


“ kalian bisa masuk


dengan syarat semua pasukan hanya bisa sampai disini. Untuk selanjutnya hanya


kalian berdua yang bisa mendampingi pangeran.


Hardwin dan Pengawal itu


langsung berpandangan. Mereka menyembunyikan raut panic yang mereka rasakan.


Jika begitu posisi mereka akan jauh dirugikan. Meski bisa masuk ke dalam


ibukota mereka tetap tidak memiliki kekuatan untuk bisa melakukan perlindungan.


“ bagaimana,? Dari jarak


sini semuanya harus bebas senjata dan pasukan selain dari pasukan khusus


kerajaan” ucap kepala penjaga dengan serius. Seakan dia sudah menyadari jika


yang ada di dalam kereta bukanlah pengeran Aric yang asli. Ucapannya sangat


berani dan tidak ada etika. Bagaimana bisa pengeran diberikan penawaran lancang


seperti itu dari kepala pasukan kecil.


“ kau tidak takut


kemarahan pangeran?” pengawal mulai mengeluarkan teknik menakut-nakuti.


“ saya hanya melakukan


prosedur yang putra mahkota berikan” kilahnya dengan menekan kata putra


mahkota, seolah mempertegas siapa yang berkuasa disini.


“ lancang sekali kau!”


Hardwin terpancing emosi, lelaki itu bahkan sudah siap mengeluarkan senjata,


untung saja dengan cepat pengawal menahannya. Semuanya akan menjadi runyam jika


sampai ada baku tembak. Bisa-bisa mereka langsung menjadi tahanan atau di


eksekusi di tempat.


“ tahan emosimu” ucap


pengawal pelan. Dia melihat situasi yang sangat merugikan pihak mereka.


Hardwin menatap pengawal


itu sebentar, dia juga merasa terancam. Mereka tidak memiliki pilihan lain.


Akhirnya dengan pertimbangan yang alot pasukan Hardwin terpaksa menyetujui


prosedur yang penjaga berikan.


Perjalanan dapat kembali


dimulai dengan hanya ada Hardwin, pengawal dan kereta kerajaan. Mereka dikawal


langsung oleh kepala penjaga dengan dalih agar perjalanan mereka bisa semakin


mudah menuju ibukota.


Hardwin dan pengawal itu


tidak bisa berkutik. Mereka sebentar lagi pasti akan ketahuan. Hanya bisa


mengulur waktu agar semakin dekat dengan ibukota.


Salah seorang yang


mengawasi pasukan Hardwin kini kembali ke rombongan, dialah mata-mata tuan


Kleiner. Lelaki itu berjalan agak tergesah karena melihat nasib buruk yang


pasukan pertama alami.


“gawat!” ucap tuan


Kleiner setelah mendengar semua penjelasan yang mata-mata itu sampaikan.


Pasukan pertama tidak


berfungsi lagi, mereka harus segera menyusun rencana atau keselamatan Hardwin


dan pengawal itu akan semakin teracam.


“ kau berikan pesan agar


mereka berpencar, jangan ada yang diam menunggu disana” ucap tuan Kleiner, dia


berupaya agar pasukan pertama bisa membubarkan diri dan beberapa dari mereka


bisa ikut dalam rombongannya.


“ baik tuan,” ucap


mata-mata itu, kemudian pergi melaksanakan tugas.


Situasi berbalik arah,


mereka semakin tersudut. Entah bagaimana dengan pasukan Duke, semoga saja


mereka bisa lolos dan memasuki istana dengan lancar.