
Kereta kuda terus melaju
menuju ibukota. Hari demi hari Ai lewati dengan penuh kekhawatiran. Beberapa
kali mereka sempat mengalami kendala. Ai menyamar sebagai pelayan tuan muda
Bohmen. Untung saja hal itu dengan mudah membuat mereka berhasil menerobos
pemeriksaan.
Malam ini mereka sampai
di pondok perbatasan, sang pemilik terlihat kaget dengan kedatangan tamu
special yang sudah lama meninggalkan tempat.
“ masuklah kalian, saya
kira kalian tidak akan berkunjung kemari
lagi” ucap sang pemilik, dia menyambut dengan gembira Ai dan Dalbert.
“ ya bibi, kami meminta
izin menginap semalam disini, apa boleh?” Ai menjelaskan kedatangan mereka
kemari kepada wanita yang merupakan anak dari pelayan ibunya.
“ tentu saja boleh,
kalian bisa tinggal disini kapapun kalian mau” wanita itu sangat ramah dan
baik.
“ terimakasih bibi, oh ya
apa bibi tau bagaimana kondisi ibu kota sekarang?” Dalbert mencoba berbasa-basi
untuk mencari informasi terbaru. Lelaki ini mau tidak mau ingin membantu adiknya
masuk ke ibukota.
“ disana sangat ketat,
banyak yang mengatakan keadaan Raja semakin parah. Mereka meningkatkan keamanan
ditakutkan musuh akan memanfaatkan keadaan istana untuk menjatuhkan kerajaan”
wanita itu mengatakan kabar yang selama ini beredar di masyarakat.
Ai dan Dalbert mengangguk
mendengarkan penjelasan wanita itu, mereka saling berpandangan. Sepertinya
mereka harus mempersiapakn sebuah rencana yang matang.
“ baiklah bibi
terimakasih sudah mau menerima kami” Ai tidak mau berlama-lama, dia dan
kakaknya harus merundingkan sesuatu setelah ini.
“ kalian istirahatlah”
wanita itu akhirnya keluar dan meninggalkan adik dan kakak itu sendiri. Mereka tidak
perlu penjelasan mengenai kamar, semuanya sudah mereka dapatkan saat pertama
kali masuk ke dalam pondok.
“jadi bagaimana, masih
mau masuk ke ibukota?” tanya Dalbert menguji keberanian sang adik.
“ tetap masuk “ Ai tidak
akan goyah, mau apapun yang menghadang dia tetap bertekat masuk kedalam
ibukota.
“bagaimana jika ada yang
mengenalimu?” Dalbert kembali menguji kepintaran AI.
“ aku harus berusaha
menyembunyikannya” jawab Ai enteng. Dia juga tidak mau ketahuan, namun jika hal
itu terjadi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa.
“ kenapa? kau takut? Kau bisa menungguku
disini” Ai seolah meremehkan keberanian kakaknya. Wanita itu sebenarnya tidak
mau jika kakaknya akan terlibat dalam masalah bersama dengan dirinya. Wanita
itu tidak akan mundur.
“ bukan begitu, kita
sama-sama tidak memiliki pasukan, jika tertangkap kita tidak bisa membela diri”
Dalbert mulai serius membahas keberangkatan mereka.
“ aku tau, yang aku
khawatirkan adalah kamu. Jika tertangkap kemungkinan besar aku akan dikirim
untuk bertemu dengan Sea, lalu kamu bagaimana nasibnya?” Ai juga ikut serius
menanggapi penjelasan kakaknya.
“apa kita masuk secara
terpisah?” lanjut Ai dengan memberikan ide konyol.
“tidak, kita harus
bersama. Kita tetap dalam sandiwara bahwa kau adalah pelayan kediaman. Kau
harus berdandan lebih menyakinkan lagi” Dalbert memberikan masukan. Mereka
pantang mundur. Sebisa mungkin melakukan penyamaran.
“ ya, kau benar” Ai
mengangguk. Mereka yakin dengan rencana mereka kali ini.Setelah berdiskusi
mereka kemudian masuk kedalam kamar masing-masing, dan mulai beristrahat.
Pagi menjelang kakak
beradik itu sudah siap dengan kereta mereka. bahkan wanita pemilik pondok
hampir tidak mengenali Ai karena dandanannya yang sudah cocok seperti pelayan
kaum rendah.
“ kenapa anda
berpenampilan seperti ini?” tanya wanita itu setelah diberitahu jika yang ada
di hadapannya ternyata Ai.
“ kami hanya sedang
bermain-main” ucap Ai menutupi kebenarannya. Dia tidak mau menyeret wanita baik
ini kedalam rencananya.
“ ah begitu rupanya”
wanita itu tersenyum tulus kemudian mengantar tamunya keluar dari gerbang.
Wanita itu bahkan membawakan sedikit perbekalan kepada Ai, untuk menemani dalam
perjalanan.
“ terimakasih atas
bantuan anda” Ai melambaikan tangan dan kereta berjalan menjauh dari pondok. perjalanan
dimulai kembali.
Di sisi lain, rombongan Hardwin saat ini
sedang diperiksa di pos. mereka sudah dalam posisi siaga. Posisi pengawal sudah
tidak lagi berada di barisan depan, melainkan berada di samping kereta yang
membawa seseorang dengan postur yang sama dengan pangeran Aric.
“ letakkan senjata dan
perlihatkan tanda pengenal kalian” ucap
salah satu petugas keamanan, mereka memasuki kota pertama, masih ada kota satu
lagi yang harus mereka lewati sebelum masuk kedalam ibukota.
Hardwin melaksanakan
identitas milik pengeran.
Petugas awalnya kaget dengan
kehadiran tnada pengenal pangeran Aric yang Hardwin bawa. Kemudian dengan
sembunyi-sembunyi mereka berbisik seolah sedang merencanakan sesuatu.
“ cepat, pengeran tidak
bisa menunggu” Hardwi berteriak kencang, dia sudah mengetahui gelagat aneh dari
para penjaga.
Penjaga langsung
memalingkan wajah dan tersentak dengan teriakan Hardwin.
“ kami memiliki urusan
lain juga, kalian silahkan menunggu disini” ucap penjaga. Mereka berencana
melaporkan berita yang selama ini mereka tunggu.
Sudah sejak lama berita
tentang kepulangan pangeran Aric tersebar dalam jajaran penjaga keamanan kota.
Semua ini tidak lain adalah pengaturan dari putra mahkota Sea. Dari kota sebelumnya
mereka sudah diberitakan bahwa rombongan kerajaan itu akan menuju ibukota.
Saat ini mereka harus
mengirim berita dan menunggu bagaimana keputusan yang harus mereka ambil.
“ tidak bisa, pengeran
harus segera masuk kedalam istana” Harwdin terus bersikukuh. Mereka harus
segera sampai, karena berdasarkan informasi mata-mata, Duke dan pangeran Aric
malam ini sudah akan masuk ke istana. Mereka harus segera sampai untuk bisa
ikut dalam pasukan perlindungan.
“peraturannya memang
seperti itu” penjaga tentu tidak mau mengalah.
Terjadi keributan kecil
yang menarik perhatin beberapa orang penjaga. Mereka berkumpul dibagian depan
dan mulai berunding. Sampai salah seorang yang menjadi kepala penjaga berjalan
mendekati rombongan mereka.
“ kalian berencana masuk
ke ibukota bukan?” tanya kepala itu dengan wajah sinis. Meskipun ada pangeran
disini nyatanya tuannya jauh lebih berkuasa. Kepala itu tentu tidak takut
dengan pengeran Aric.
“ apa kau tidak memiliki
telinga? Sudah aku katakan sebelumnya” Hardwin terpancing emosi karena tingkah
kepala penjaga yang terlihat sok berkuasa.
“ kalian bisa masuk
dengan syarat semua pasukan hanya bisa sampai disini. Untuk selanjutnya hanya
kalian berdua yang bisa mendampingi pangeran.
Hardwin dan Pengawal itu
langsung berpandangan. Mereka menyembunyikan raut panic yang mereka rasakan.
Jika begitu posisi mereka akan jauh dirugikan. Meski bisa masuk ke dalam
ibukota mereka tetap tidak memiliki kekuatan untuk bisa melakukan perlindungan.
“ bagaimana,? Dari jarak
sini semuanya harus bebas senjata dan pasukan selain dari pasukan khusus
kerajaan” ucap kepala penjaga dengan serius. Seakan dia sudah menyadari jika
yang ada di dalam kereta bukanlah pengeran Aric yang asli. Ucapannya sangat
berani dan tidak ada etika. Bagaimana bisa pengeran diberikan penawaran lancang
seperti itu dari kepala pasukan kecil.
“ kau tidak takut
kemarahan pangeran?” pengawal mulai mengeluarkan teknik menakut-nakuti.
“ saya hanya melakukan
prosedur yang putra mahkota berikan” kilahnya dengan menekan kata putra
mahkota, seolah mempertegas siapa yang berkuasa disini.
“ lancang sekali kau!”
Hardwin terpancing emosi, lelaki itu bahkan sudah siap mengeluarkan senjata,
untung saja dengan cepat pengawal menahannya. Semuanya akan menjadi runyam jika
sampai ada baku tembak. Bisa-bisa mereka langsung menjadi tahanan atau di
eksekusi di tempat.
“ tahan emosimu” ucap
pengawal pelan. Dia melihat situasi yang sangat merugikan pihak mereka.
Hardwin menatap pengawal
itu sebentar, dia juga merasa terancam. Mereka tidak memiliki pilihan lain.
Akhirnya dengan pertimbangan yang alot pasukan Hardwin terpaksa menyetujui
prosedur yang penjaga berikan.
Perjalanan dapat kembali
dimulai dengan hanya ada Hardwin, pengawal dan kereta kerajaan. Mereka dikawal
langsung oleh kepala penjaga dengan dalih agar perjalanan mereka bisa semakin
mudah menuju ibukota.
Hardwin dan pengawal itu
tidak bisa berkutik. Mereka sebentar lagi pasti akan ketahuan. Hanya bisa
mengulur waktu agar semakin dekat dengan ibukota.
Salah seorang yang
mengawasi pasukan Hardwin kini kembali ke rombongan, dialah mata-mata tuan
Kleiner. Lelaki itu berjalan agak tergesah karena melihat nasib buruk yang
pasukan pertama alami.
“gawat!” ucap tuan
Kleiner setelah mendengar semua penjelasan yang mata-mata itu sampaikan.
Pasukan pertama tidak
berfungsi lagi, mereka harus segera menyusun rencana atau keselamatan Hardwin
dan pengawal itu akan semakin teracam.
“ kau berikan pesan agar
mereka berpencar, jangan ada yang diam menunggu disana” ucap tuan Kleiner, dia
berupaya agar pasukan pertama bisa membubarkan diri dan beberapa dari mereka
bisa ikut dalam rombongannya.
“ baik tuan,” ucap
mata-mata itu, kemudian pergi melaksanakan tugas.
Situasi berbalik arah,
mereka semakin tersudut. Entah bagaimana dengan pasukan Duke, semoga saja
mereka bisa lolos dan memasuki istana dengan lancar.