
Sudah sangat Ai nantikan
perihal kabar suaminya, jika benar apa yang Masy katakan mungkin keselamatan
Axton masih bisa di harapkan.
“ mereka mengatakan
tentang kerajaan dan pangeran Sea. Aku tidak mengerti apapun yang mereka
perbincangkan selain mengabarkan keadaanmu selepas kejadian di pesta lelang
tempo hari” ucapan Masy seakan menyadarkan Ai tentang rasa curigainya dulu pada
nyonya Halbert saat mengunjunginya. Ternyata seseorang yang menyuruhya adalah
suaminya sendiri. Ai sudah terlanjur curiga dan berfikir buruk pada nyonya
Halbert.
“ lalu apa lagi yang kau
tau?” Ai berusaha mengorek infomasi lanjutan.
“ tak ada, hanya beberapa
surat dari kakakmu, Dalbert” ini Ai sudah mengetahuinya. Namun ada yang masih
belum jelas.
“ sejak kapan keluargamu
berkirim surat dengan kakakku?” Ai tidak berhenti, dia harus mengetahui
sejelas-jelasnya.
“ entahlah, mungkin sejak
beberapa bulan yang lalu.” Masy tidak bisa memastikan, pasalnya hal ini juga
sebenarnya di tutup-tutupi dari dirinya.
“ aku ingin menemui orang
tuamu” Ai harus berbicara secara pribadi pada tuan dan nyonya Halbert. Banyak sekali hal yang perlu dia tanyakan dan perbincangkan
dengan sepasang bangsawan itu. Mungkin saja mereka bisa membantunya untuk bertemu
dengan sang suami.
“ yah, baru kemarin
mereka pergi” Masy sedikit merasa bersalah.
“ pergi kemana?” Ai
berniat mengejar.
“ entahlah aku tidak
mengetahuinya, namun kemungkinan 2-3 hari lagi mereka akan kembali. Biasanya
begitu” Masy sedikit mengingat rata-rata waktu kepulangan kedua orang tuanya.
“ beritahu aku jika
mereka sudah kembali” hanya pesan itu yang bisa Ai titipkan pada Masy. Wanita
itu sudah lama menunggu kabar dan kini begitu ada petunjuk dia harus bersabar
beberapa waktu. Ai cukup mengesalkan hal ini.
“ Dalbert, kau disini?”
tanya Masy begitu mengetahui lelaki itu berjalan dari dalam kediaman. Masy kira
Dalbert sedang berada di luar karena semenjak datang dia tidak melihatnya.
“ sebenarnya aku sudah
bersiap untuk pergi”Ai mengerutkan keningnya. Kakanya tidak mengatakan apapun
mengenai kepergian malah Ai berfikir jika Dalbert akan menemaninya disini.
“ pergi kemana?” Ai
menangkap sesuatu yang aneh, wajah Dalbert terlihat gusar dan cemas meskipun
samar. Lelaki itu juga terliha terburu-buru untuk pergi.
Pertanyaan Ai ternyata
tidak langsung di jawab oleh Dalbert, malah membuat Ai semakin curiga. Lelaki
itu akhirnya duduk bergabung dengan kedua wanita itu dan mulai memasang wajah serius
“ perbatasan telah jatuh,
aku harus segera kembali ke pangkalan” nafas Ai langsung menderu cepat,
jantungnya seakan terpacu kuat. Kabar ini seakan membuat segala harapannya
musnah. Bagaimana dengan suaminya disana. Ai tidak bisa tenang dan diam begitu
saja.
“ aku ikut” ucap Ai
tegas, dirinya lebih baik menyusul dan melihat sendiri bagaimana kondisi
suaminya. Ai akan mencari kemanapun sampai dia bisa bertemu dengan Axton.
“ tidak, kau harus tetap
disini” Dalbert segera menolak ide gila
adiknya. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi di keluarga Wellington.
“ aku tetap ikut, aku
ingin memastikan jika Axton baik-baik saja” Ai tidak mau kalah, dia sudah
bertekad untuk pergi. Dalbert kenal betul bagaimana keras kepalanya sang adik,
jika dia terus dilarang Ai malah bertambah memberontak. Dia tidak bisa di
kasari, lelaki itu harus memberikan pengertian dan menenangkan hati adiknya.
“ Ai dengarkan aku,
Kau tetap disini dan aku akan mengirimkan pesan secepat mungkin mengenai apapun
yang berkaitan dengan Duke. Mengerti?” Dalbert dengan penuh kelembutan
menjelaskan alasannya dengan harapan adiknya ini bisa melunak dan menurut.
“ aku tidak mau menunggu
lagi, tolong bawa aku ke pangkalan” Ai mengiba, meminta kakanya mengerti dengan
ketakutannya.
“ Dalbert benar Ai, meski
perbatasan jatuh tapi kabar Duke juga belum bisa dipastikan. Kau kesana malah
akan membuat masalah baru. Ingat kau masih dalam status orang dicari. Pihak
pengadilan akan langsung menahanmu begitu tau kehadiranmu” Masy berfikir
menyeluruh, dia tidak mau semua usaha mengeluarkan Ai akan sia-sia.
Baik Dalbert maupun Masy
sangat mengerti dengan ketakutan Ai, namun mereka juga tidak mau kehilangan
Duchess. Orang yang penting di kehidupan mereka masing –masing.
“ kau harus berjanji
padaku” ucap Ai yang akhirnya mengalah. Semua yang mereka katakan benar,
posisinya sudah tidak sebebas dulu. Sebelum kabar Axton dengan jelas dia
dengar, dia harus bisa melindungi dirinya. Hanya lelaki itu yang menjadi
satu-satunya tujuannya.
“ aku berjanji akan
selalu berkirim surat” Dalbert memeluk adiknya sebagai salam perpisahan. Ai
sangat berharap sangat besar pada
Dalbert. Masy sedikit terharu dengan suasana ini, matanya sempat berkaca-kaca
melihat saudara yang akan berpisah itu.
“ kau jaga Ai baik-baik”
pesan Dalbert pada Masy. Wanita itu mengangguk singkat sebagai jawaban.
“ hati-hati” Dalbert
berjalan menuju gerbang, manik Ai menatap kepergian sang kakak sampai sosok itu
hilang dibalik pintu. Tatapanya berubah sendu dan dengan perlahan lelahan
hangat mengalir di pipinya. Melihat kondisi Ai yang rapuh, Masy memegang kedua
bahunya, seolah memberikan kekuatan agar temannya ini bisa kuat. Ai tersenyum
singkat sebagai balasannya.
“temani aku malam ini”
Masy mengangguk dia memang berencana menginap beberapa hari untuk menemani Ai.
tak ada siapapun yang berada di samping Ai.
Selepas kembali dari
pengadilan, Hardwin kini berada di barrack, kediaman Duke Wellington sebagian
di tutup hanya ada beberapa pelayan kebersihan saja yang sibuk menjaga kediaman
itu. Beberapa masyarakat banyak yang sudah mendengar mengenai jatuhnya
perbatasan.
Terlihat beberapa pasukan
sudah memulai perjalanan menuju kota terdampak perang. Dari sekian lama mereka
hidup damai dalam penjagaan negara kini beberapa warga sedikit panik. Mereka
takut jika sampai musuh berhasil menduduki wilayah mereka, pasti keadaan akan
lebih merana.
Semua juga bersimpati
atas kabar Duke yang masih dalam percarian. Mereka begitu tidak percaya jika
komandan perang yang selama ini sukses menjaga perbatasan kini tiada kabar.
Menghilang begitu saja. Beberapa orang bahkan terus berdoa agar Duke tetap
dalam keselamatan. Selama ini hanya Duke Wellington yang melindungi mereka.
Bahkan anggota kerajaan
terlihat minim dalam keikutsertaan menjaga perbatasan. Rakyat semakin dibuat kahwatir
dengan putra mahkota yang tidak terlihat batang hidungnya dalam membela rakyat.
Sudah menjadi rahasia umum anggota kerajaan hanya tau soal hidup mewah dan
bersenang-senang. Kini satu-satunya harapan mereka malah entah bagaimana
kabarnya.
Bavaria kini seakan
berubah mendadak, setelah kasus yang menimpa Duchess kini desas-desus kesaksian
Mily juga mulai menganggu para bangsawan. Hal ini semakin diperumit dengan
menghilangnya Duchess dari pemeriksaan, masyarakat dibuat bingung dengan apa
yang sebenarnya terjadi, beberapa dari mereka ada yang berfikir bahwa semua ini
adalah malapetaka Bavaria, ada juga yang berfikir bahwa Duke dan Duchess telah
di bunuh oleh pihak kerajaan. Situasi semakin simpangsiur.