The New Duchess

The New Duchess
Bab 83 : Jatuhnya Perbatasan



Sudah sangat Ai nantikan


perihal kabar suaminya, jika benar apa yang Masy katakan mungkin keselamatan


Axton masih bisa di harapkan.


“ mereka mengatakan


tentang kerajaan dan pangeran Sea. Aku tidak mengerti apapun yang mereka


perbincangkan selain mengabarkan keadaanmu selepas kejadian di pesta lelang


tempo hari” ucapan Masy seakan menyadarkan Ai tentang rasa curigainya dulu pada


nyonya Halbert saat mengunjunginya. Ternyata seseorang yang menyuruhya adalah


suaminya sendiri. Ai sudah terlanjur curiga dan berfikir buruk pada nyonya


Halbert.


“ lalu apa lagi yang kau


tau?” Ai berusaha mengorek infomasi lanjutan.


“ tak ada, hanya beberapa


surat dari kakakmu, Dalbert” ini Ai sudah mengetahuinya. Namun ada yang masih


belum jelas.


“ sejak kapan keluargamu


berkirim surat dengan kakakku?” Ai tidak berhenti, dia harus mengetahui


sejelas-jelasnya.


“ entahlah, mungkin sejak


beberapa bulan yang lalu.” Masy tidak bisa memastikan, pasalnya hal ini juga


sebenarnya di tutup-tutupi dari dirinya.


“ aku ingin menemui orang


tuamu” Ai harus berbicara secara pribadi pada tuan dan nyonya Halbert.  Banyak sekali hal yang perlu dia tanyakan dan perbincangkan


dengan sepasang bangsawan itu. Mungkin saja mereka bisa membantunya untuk bertemu


dengan sang suami.


“ yah, baru kemarin


mereka pergi” Masy sedikit merasa bersalah.


“ pergi kemana?” Ai


berniat mengejar.


“ entahlah aku tidak


mengetahuinya, namun kemungkinan 2-3 hari lagi mereka akan kembali. Biasanya


begitu” Masy sedikit mengingat rata-rata waktu kepulangan kedua orang tuanya.


“ beritahu aku jika


mereka sudah kembali” hanya pesan itu yang bisa Ai titipkan pada Masy. Wanita


itu sudah lama menunggu kabar dan kini begitu ada petunjuk dia harus bersabar


beberapa waktu. Ai cukup mengesalkan hal ini.


“ Dalbert, kau disini?”


tanya Masy begitu mengetahui lelaki itu berjalan dari dalam kediaman. Masy kira


Dalbert sedang berada di luar karena semenjak datang dia tidak melihatnya.


“ sebenarnya aku sudah


bersiap untuk pergi”Ai mengerutkan keningnya. Kakanya tidak mengatakan apapun


mengenai kepergian malah Ai berfikir jika Dalbert akan menemaninya disini.


“ pergi kemana?” Ai


menangkap sesuatu yang aneh, wajah Dalbert terlihat gusar dan cemas meskipun


samar. Lelaki itu juga terliha terburu-buru untuk pergi.


Pertanyaan Ai ternyata


tidak langsung di jawab oleh Dalbert, malah membuat Ai semakin curiga. Lelaki


itu akhirnya duduk bergabung dengan kedua wanita itu dan mulai memasang wajah serius


“ perbatasan telah jatuh,


aku harus segera kembali ke pangkalan” nafas Ai langsung menderu cepat,


jantungnya seakan terpacu kuat. Kabar ini seakan membuat segala harapannya


musnah. Bagaimana dengan suaminya disana. Ai tidak bisa tenang dan diam begitu


saja.


“ aku ikut” ucap Ai


tegas, dirinya lebih baik menyusul dan melihat sendiri bagaimana kondisi


suaminya. Ai akan mencari kemanapun sampai dia bisa bertemu dengan Axton.


“ tidak, kau harus tetap


disini” Dalbert segera menolak ide  gila


adiknya. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi di keluarga Wellington.


“ aku tetap ikut, aku


ingin memastikan jika Axton baik-baik saja” Ai tidak mau kalah, dia sudah


bertekad untuk pergi. Dalbert kenal betul bagaimana keras kepalanya sang adik,


jika dia terus dilarang Ai malah bertambah memberontak. Dia tidak bisa di


kasari, lelaki itu harus memberikan pengertian dan menenangkan hati adiknya.


“ Ai dengarkan aku,


Kau tetap disini dan aku akan mengirimkan pesan secepat mungkin mengenai apapun


yang berkaitan dengan Duke. Mengerti?” Dalbert dengan penuh kelembutan


menjelaskan alasannya dengan harapan adiknya ini bisa melunak dan menurut.


“ aku tidak mau menunggu


lagi, tolong bawa aku ke pangkalan” Ai mengiba, meminta kakanya mengerti dengan


ketakutannya.


“ Dalbert benar Ai, meski


perbatasan jatuh tapi kabar Duke juga belum bisa dipastikan. Kau kesana malah


akan membuat masalah baru. Ingat kau masih dalam status orang dicari. Pihak


pengadilan akan langsung menahanmu begitu tau kehadiranmu” Masy berfikir


menyeluruh, dia tidak mau semua usaha mengeluarkan Ai akan sia-sia.


Baik Dalbert maupun Masy


sangat mengerti dengan ketakutan Ai, namun mereka juga tidak mau kehilangan


Duchess. Orang yang penting di kehidupan mereka masing –masing.


“ kau harus berjanji


padaku” ucap Ai yang akhirnya mengalah. Semua yang mereka katakan benar,


posisinya sudah tidak sebebas dulu. Sebelum kabar Axton dengan jelas dia


dengar, dia harus bisa melindungi dirinya. Hanya lelaki itu yang menjadi


satu-satunya tujuannya.


“ aku berjanji akan


selalu berkirim surat” Dalbert memeluk adiknya sebagai salam perpisahan. Ai


sangat berharap  sangat besar pada


Dalbert. Masy sedikit terharu dengan suasana ini, matanya sempat berkaca-kaca


melihat saudara yang akan berpisah  itu.


“ kau jaga Ai baik-baik”


pesan Dalbert pada Masy. Wanita itu mengangguk singkat sebagai jawaban.


“ hati-hati” Dalbert


berjalan menuju gerbang, manik Ai menatap kepergian sang kakak sampai sosok itu


hilang dibalik pintu. Tatapanya berubah sendu dan dengan perlahan lelahan


hangat mengalir di pipinya. Melihat kondisi Ai yang rapuh, Masy memegang kedua


bahunya, seolah memberikan kekuatan agar temannya ini bisa kuat. Ai tersenyum


singkat sebagai balasannya.


“temani aku malam ini”


Masy mengangguk dia memang berencana menginap beberapa hari untuk menemani Ai.


tak ada siapapun yang berada di samping Ai.


Selepas kembali dari


pengadilan, Hardwin kini berada di barrack, kediaman Duke Wellington sebagian


di tutup hanya ada beberapa pelayan kebersihan saja yang sibuk menjaga kediaman


itu. Beberapa masyarakat banyak yang sudah mendengar mengenai jatuhnya


perbatasan.


Terlihat beberapa pasukan


sudah memulai perjalanan menuju kota terdampak perang. Dari sekian lama mereka


hidup damai dalam penjagaan negara kini beberapa warga sedikit panik. Mereka


takut jika sampai musuh berhasil menduduki wilayah mereka, pasti keadaan akan


lebih merana.


Semua juga bersimpati


atas kabar Duke yang masih dalam percarian. Mereka begitu tidak percaya jika


komandan perang yang selama ini sukses menjaga perbatasan kini tiada kabar.


Menghilang begitu saja. Beberapa orang bahkan terus berdoa agar Duke tetap


dalam keselamatan. Selama ini hanya Duke Wellington yang melindungi mereka.


Bahkan anggota kerajaan


terlihat minim dalam keikutsertaan menjaga perbatasan. Rakyat semakin dibuat kahwatir


dengan putra mahkota yang tidak terlihat batang hidungnya dalam membela rakyat.


Sudah menjadi rahasia umum anggota kerajaan hanya tau soal hidup mewah dan


bersenang-senang. Kini satu-satunya harapan mereka malah entah bagaimana


kabarnya.


Bavaria kini seakan


berubah mendadak, setelah kasus yang menimpa Duchess kini desas-desus kesaksian


Mily juga mulai menganggu para bangsawan. Hal ini semakin diperumit dengan


menghilangnya Duchess dari pemeriksaan, masyarakat dibuat bingung dengan apa


yang sebenarnya terjadi, beberapa dari mereka ada yang berfikir bahwa semua ini


adalah malapetaka Bavaria, ada juga yang berfikir bahwa Duke dan Duchess telah


di bunuh oleh pihak kerajaan. Situasi semakin simpangsiur.