
“ sepertinya tuan Hardwin
yang mengatur ini” ucap Mily, sebenarnya dia tidak mengetahui kenapa, Mily
hanya melihat lelaki itu berbincang singkat dengan petugas penegak hukum.
Kemungkinan yang memang seperti itu, lelaki itu sendiri yang menginginkan agar
Mily tetap di kediaman untuk menemani Duchess.
“ kenapa dia melakukan
ini? Seperti bukan dirinya” guman Ai sambil terus mengunyah.
“ saya juga tidak
mengerti, tuan Hardwin tidak pergi kemanapun. Dia selalu mengawasi kediaman
dari penjaga pemerintah” Ai mengerutkan keningnya, sepertinya lelaki itu memang
bukan suruhan dari Sea. Jadi apa mungkin yang tadi pagi Hardwin katakan adalah
benar. Ai menghentikan aktifitas makannya. Dia menatap Mily sejenak,
menimbang-nimbang apakah menceritakan atau tidak.
“ kenapa nyonya?” Mily
merasa ada sesuatu yang mengganggu nyonyanya jadi bertanya untuk memastikan.
“ ah, tidak. Oia mulai
sekarang kau amati jadwal pergantian penjaga serta jumlah penjaga. Tidak lupa
pergerakan dari Haardwin juga” Ai tidak akan berhenti mencoba.
“ baik nyonya” ucap Mily
semangat, dia bisa melihat kembali nyonyanya dalam keadaan baik sungguh
melegakan. Mily tidak mengetahui jika ini hanya tampak luar saja, sejatinya di
dalam diri sang nyonya hanya ada kecemasan dan kesepian.
Malam terus bergulir semakin
larut, sebuah kereta kuda memasuki pelataran kediaman Duke Wellington. Semua penjaga
sedikit kaget dengan tamu mereka, namun kemudian dengan secarik kertas membuat
jalannya aman terkendali. Tidak ada satupun yang berani menahan ataupun
menghalangi tamu itu memasuki kediaman.
Tak terkecuali tuan muda
Kleiner. Hardwin bukannya tidak menyangka kehadiran seseorang ini, namun kenapa
secepat ini dia datang.
“ bagaimana kabar anda
Nona Grace?” ucap Hardwin sebagai salam pembuka. Mereka sudah berada di ruang
tamu kediaman.
“ baik tuan Hardwin,
bagaimana juga dengan anda?” Grace di bantu dengan seorang pelayan pribadi
duduk di sofa, tak berselang lama Mily di beritahu agar menyediakan jamuan
untuk tamunya oleh seorang penjaga.
“ seperti yang anda lihat”
jawab Hardwin asal. Dia tidak bisa mengatakan baik-baik saja setelah pertengkaran
yang terjadi tadi pagi. Semuanya karena ulahnya sendiri.
“ jadi inilah pilihanmu
tuan?” Grace seakan meyindir tindakan yang Hardwin pilih. Ya dialah yang
memberikan pilihan kepada lelaki ini, kini mereka cuman berbasa-basi.
“ anda tentu bisa
menebaknya dari bagaimana saya merusak rencana anda dulu” semuanya tentu menuju
“ tentu, dan memang ini
juga yang aku inginkan. Keselamatan Duchess” Grace menghentikan pembicaraanya. Saat
langkah kaki berjalan mendekati mereka.
Dari pantulan kaca Grace
bisa tau jika seorang pelayan yang sangat dia kenali sedang membawa nampan
menuju ruangannya. Sedang pelayan itu seakan diam mematung begitu memasuki
ambang pintu. Dia dengan jelas melihat siapa yang dibilang tamu oleh penjaga
itu.
Prang….
“ beraninya kau kemari!?”
Mily sudah tersulut emosi, bagaimana tidak. Dia tau persis kejadian serta
bagaimana nyonyanya membantu kehidupan wanita yang sedang duduk di hadapannya.
Nafas mily memburu, dia
berjalan cepat dan berniat menarik rambut Grace.
“ kau! dasar wanita ular!”
hampir saja, tinggal satu jengkal tangan itu bisa meraih susunan rambut rapi
milik Grace, namun terpaksa tertahan oleh cekalan tangan Hardwin.
“ lepaskan saya!” Mily
meronta tak terima. Grace berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mundur,
menyelamatkan diri. Dia tidak mengira jika pelayan pribadi Duchess masih berada
di kediaman. Pelayan pribadinya datang dan berdiri di depan Grace seolah sedang
melindungi nyonyanya.
“ Mily kendalikan emosimu”
Hardwin memegang tubuh Mily dengan erat. tak lupa lelaki itu mengunci
pergerakan kedua tangan wanita itu agar tidak terus meronta.
“ kau iblis, kemari aku
akan membunuhmu!” Mily tidak berhenti merancu, dia benar-benar sudah murka atas
keberanian Grace datang kemari.
“ aku tau kau pasti akan
semarah ini, tapi aku datang hanya ingin menemui Duchess” Grace berharap
perkataanya bisa menenangkan wanita yang tengah mengamuk ingin mencelakainya.
“ untuk apa lagi, masih
belum cukup kau mencelakai Duchess hah?” Mily semakin dikuasa emosi,
bisa-bisanya setelah semua ini Grace dengan santainya ingin menemui nyonya.
“ sungguh tidak tau malu!”
lanjut Mily tak terima. Hardwin yang mulai kewalahan meminta seorang penjaga
masuk.
“ segera amankan wanita
ini” ucap Hardwin kepada seorang penjaga dan memegang Mily dan membawanya
keluar ruangan.
“ lepaskan aku, kalian
benar-benar ular, tidak tau malu. Awas kalian!” makian itu masih terus
terdengar, Mily ingin membalaskan semua kejahatan mereka, kesabarannya sudah
habis.