
Sang surya mulai
beranjak, kilau cahayanya menembus penutup kain, masuk melewati celah-celah
jendela. Di dalam seorang wanita masih meringkuk terbaring. Rasa lelah telah
mengantarkannya menuju kelelapan saat fajar baru saja menyingsing.
Ai semalaman terjaga dan
baru saja menutup matanya saat ayam mulai berkokok. Dia baru saja mengalami hal
yang mengejutkan serta mengecewakan. Disamping itu dia juga tidak bisa semena-mena
membunuh atau menghindari si pelaku. Ada takdir lain yang mengubungkannya
dengan orang terkasih. Ai akan melakukannya, apapun asal suaminya bisa selamat.
Tok tok suara pintu.
Tidak ada sautan. Wanita itu masih tenggelam dalam ketidaksadaran.
“ Ai” Dalbert membuka
pintu dan melihat wanita itu masih terbaring
beringkuk di atas ranjang. Hanya bisa mengurungkan niatnya dan kembali menutup
pintu.
Baru saja ingin
meninggalkan kamar adiknya, Dalbert menangkap sesosok lelaki yang berjalan
pelan mendekatinya. Satu demi satu langkah itu mematik api kemarahan Dalbert yang
kemarin belum sempat dia lampiaskan semua.
Brugh, satu tendangan
mengenai dada Hardwin. Lelaki itu langsung terpental dan tumbang.
“ mau apa kau datang
kemari, hah?” kemarahan Dalbert sudah sampai di ubun-ubun. Wajah Hardwin begitu
membuat Dalbert ingin menembak lelaki itu berkali-kali.
Dengan memegang dadanya
yang masih sakit, Hardwin berdiri dan kembali berjalan tertatih mendekati
Dalbert.
“ aku ingin meminta maaf
pada Ai” suara sediki tersengal akibat menahan sakitnya.
“ minta maaf? Urungkan
saja niatmu. kau kini adalah musuh, pergi sana, Brengsek!” Dalbert kelewat
marah, dia mendorong Hardwin dengan kuat. Lelaki itu kembali terjatuh. Hardwin
mengerti dengan kemarah Dalbert, saat ini dia sudah waras. Dia menyesali
perbuatannya yang melewati batas itu.
“ aku akan tetap menemui
Ai dan minta maaf padanya” Hardwin tidak mau menyerah, meski tendangan, pukulan
atau apapun menghadangnya dia akan menemui Ai.
“ kau fikir Ai sudi melihatmu
lagi setelah apa yang kau lakukan padanya?” Dalbert benar-benar tidak mau mengalah, dia harus memastikan lelaki
brengsek itu pergi dan tidak menganggu Ai lagi.
“ aku mohon Dalbert, aku
ingin bertemu dengannya” Hardwin mengiba. Dia tidak mau hubungannya dengan Ai
akan berakhir seperti ini. Pertemanan yang sudah mereka jalin harus rusak
seperti ini, tidak.
Krekk,, suara pintu
terbuka, keributan itu sudah menganggu tidur Ai.
Kedua lelaki itu langsung
menatap pintu kamar, mereka sama-sama ingin melihat bagaimana kondisi Ai saat ini.
“ Ai, aku ingin minta
maaf” Hardwin langsung saja mendekat.
“ pergi dari sini”
Dalbert menghalau gerakan Hadwin, mendorong lelaki itu agar pergi darisana.
Hardwin kembali terjatuh. Ai menatap kedua lelaki yang sedang berkelahi itu
dengan tatapan datar. Dia tidak membela siapun hanya melihat.
“ Ai, aku mohon izinkan
aku menjelaskan semuanya” Hardwin masih dalam posisi jatuhnya, mengatakan penuh
iba. Begitu menyedihkan.
“ kau!” Dalbert sudah
siap dengan kepalan tangannya ingin memukul wajah lelaki itu.
“ biarkan dia” hanya
kalimat singkat, wanita itu membuat kedua lelaki itu sama-sama kaget. Ai masuk
kedalam kamar dengan pintu terbuka lebar. Hardwin dan Dalbert menghentikan
aktifitas kekerasan, Hardwin berusaha untuk berdiri. Dalbert dengan penuh emosi
terpaksa menunda pukulan itu nanti dan lebih dulu masuk kedalam kamar.
Suasana menjadi dingin
ketika Hardwin dengan sedikit tertatih masuk ke dalam kamar, disana Ai dan
Dalbert menghentikan pembicaraan. Dalbert bersikeras untuk mengusir Hardwin,
dia membujuk Ai agar jangan menemui lelaki brengsek itu lagi. Namun Ai tidak
“ Ai” Hardwin menyapa,
dia sangat bersalah pada Ai. meski ragu lelaki itu terus berjalan mendekati Ai
yang berdiri di samping sofa.
“ aku minta maaf, aku
sudah melakukan hal yang tidak pantas padamu,,”
“ tinggalkan kami” Ai
menatap Dalbert yang sedari tadi dengan tajam menyoroti Hadrwin. Lelaki itu
dengan tatapan tak percaya mengalihkan pandangannya kepada Ai.
“ tidak, bagaimana
mungkin aku meningg”
“ aku baik-baik saja,
tolong tinggalkan kami” Ai menampilkan sorot mata sedih, membuat Dalbert
akhirnya dengan terpaksa menuruti keinginan wanita itu.
“ biarkan pintu terbuka”
tidak ada bantahan, Dalbert pergi menunggu di luar dengan pintu kamar yang
terbuka. Dia takut jika Hardwin akan melakukan hal buruk lagi.
Kini diruangan itu hanya
tersisa dua orang. Ai kemudian mendekati sofa dan duduk disana. Hardwin masih
diam tidak tau harus berbuat apa.
“ duduklah” ucap Ai
dingin, wanita itu seakan membangun tembok untuk membatasi diri.
“ aku benar-benar
menyesal Ai, aku sudah kehilangan akal. Aku berjanji tidak akan melakukan hal
seperti itu lagi. Maafkan aku Ai” Hardwin bukan duduk namun bersimpuh di depan
wanita itu. Dia begitu tulus meminta maaf.
Lama tidak ada sautan, Ai
terdiam sambil melihat Hardwin dalam. Meski sedikit trauma, wanita itu dengan
susah payah mengatur ketakutannya.
“ tolong. Bantu. Axton” 3
kata, Ai mengucapkan ketiga kata itu dengan rasa keputusasaan. Mengharap kali
ini Hardwin akan tersentuh dan mengubah keputusannya.
Hardwin tidak menyangka
kalimat itu yang menjadi balasan dari permintaan maafnya. Rasanya wanita itu
tidak menganggap dirinya. Hanya Axton yang Ai fikirkan.
Hardwin beranjak, dia
mulai kecewa.
“ aku datang hanya ingin
meminta maaf padamu sebelum pergi dari sini. Mengenai Duke, keputusanku sudah
bulat” Hardwin mencoba lembut, meski sedikit marah, lelaki itu tidak mau
kehilangan control seperti kemarin.
“ aku mohon padamu
Hardwin,” giliran Ai yang mengiba. Ai berdiri meminta agar Hardwin mengerti
dirinya.
“ tidak Ai, perbuatanku
kemarin memang sangat tidak pantas, namun perasaanku ini tulus. Aku sangat
mencintaimu, aku tidak mau seorangpun memilikimu Ai. aku tidak mau kalian
bersama” Hardwin kekeh, meski wanita itu sudah terlihat putus asa. Dia tetap
tidak goyah.
“ tapi aku mencintai
Axton, aku ingin dia baik-baik saja. Aku tidak mau melihatnya tersiksa seperti
ini. Aku mohon padamu” Ai memegang tangan Hardwin dia sangat menginginkan
pertolongan dari lelaki itu.
“ bisakah kita tidak
membicarakan dia. aku datang kemari karena menyesal sudah berlaku buruk, tapi
kau malah tidak menanggapi permintaan maafku” Hardwin kesal, kenapa pembicaraan
mereka selalu saja tentang Axton.
“ ku mohon tolonglah
Axton. aku akan melakukan apapun” Ai sudah berada dalam titik terendah, dia
hanya bisa mengiba. Bahkan dia tidak memikirkan apa yang baru saja dia katakan.
Rasa khawatirnya membuat syarat di otaknya terhambat.
Hardwin menatap manik
kesdihan Ai dan dia membencinya. Dia benci Ai hanya memikirkan Axton, kenapa Ai
sama sekali tidak mempermasalahkan perbuatan tidak pantas yang Hardwin berikan.
Wanita itu sungguh menyedihkan.
“ baiklah tapi 2 syarat
yang kau harus penuhi” Hardwin akhirnya memanfaatkan situasi. Lelaki itu tidak
akan menolong Axton secara cuma-cuma.