The New Duchess

The New Duchess
Bab 110 : Memohon



Sang surya mulai


beranjak, kilau cahayanya menembus penutup kain, masuk melewati celah-celah


jendela. Di dalam seorang wanita masih meringkuk terbaring. Rasa lelah telah


mengantarkannya menuju kelelapan saat fajar baru saja menyingsing.


Ai semalaman terjaga dan


baru saja menutup matanya saat ayam mulai berkokok. Dia baru saja mengalami hal


yang mengejutkan serta mengecewakan. Disamping itu dia juga tidak bisa semena-mena


membunuh atau menghindari si pelaku. Ada takdir lain yang mengubungkannya


dengan orang terkasih. Ai akan melakukannya, apapun asal suaminya bisa selamat.


Tok tok suara pintu.


Tidak ada sautan. Wanita itu masih tenggelam dalam ketidaksadaran.


“ Ai” Dalbert membuka


pintu dan melihat  wanita itu masih terbaring


beringkuk di atas ranjang. Hanya bisa mengurungkan niatnya dan kembali menutup


pintu.


Baru saja ingin


meninggalkan kamar adiknya, Dalbert menangkap sesosok lelaki yang berjalan


pelan mendekatinya. Satu demi satu langkah itu mematik api kemarahan Dalbert yang


kemarin belum sempat dia lampiaskan semua.


Brugh, satu tendangan


mengenai dada Hardwin. Lelaki itu langsung terpental dan tumbang.


“ mau apa kau datang


kemari, hah?” kemarahan Dalbert sudah sampai di ubun-ubun. Wajah Hardwin begitu


membuat Dalbert ingin menembak lelaki itu berkali-kali.


Dengan memegang dadanya


yang masih sakit, Hardwin berdiri dan kembali berjalan tertatih mendekati


Dalbert.


“ aku ingin meminta maaf


pada Ai” suara sediki tersengal akibat menahan sakitnya.


“ minta maaf? Urungkan


saja niatmu. kau kini adalah musuh, pergi sana, Brengsek!” Dalbert kelewat


marah, dia mendorong Hardwin dengan kuat. Lelaki itu kembali terjatuh. Hardwin


mengerti dengan kemarah Dalbert, saat ini dia sudah waras. Dia menyesali


perbuatannya yang melewati batas itu.


“ aku akan tetap menemui


Ai dan minta maaf padanya” Hardwin tidak mau menyerah, meski tendangan, pukulan


atau apapun menghadangnya dia akan menemui Ai.


“ kau fikir Ai sudi melihatmu


lagi setelah apa yang kau lakukan padanya?”  Dalbert benar-benar tidak mau mengalah, dia harus memastikan lelaki


brengsek itu pergi dan tidak menganggu Ai lagi.


“ aku mohon Dalbert, aku


ingin bertemu dengannya” Hardwin mengiba. Dia tidak mau hubungannya dengan Ai


akan berakhir seperti ini. Pertemanan yang sudah mereka jalin harus rusak


seperti ini, tidak.


Krekk,, suara pintu


terbuka, keributan itu sudah menganggu tidur Ai.


Kedua lelaki itu langsung


menatap pintu kamar, mereka sama-sama ingin melihat bagaimana  kondisi Ai saat ini.


“ Ai, aku ingin minta


maaf” Hardwin langsung saja mendekat.


“ pergi dari sini”


Dalbert menghalau gerakan Hadwin, mendorong lelaki itu agar pergi darisana.


Hardwin kembali terjatuh. Ai menatap kedua lelaki yang sedang berkelahi itu


dengan tatapan datar. Dia tidak membela siapun hanya melihat.


“ Ai, aku mohon izinkan


aku menjelaskan semuanya” Hardwin masih dalam posisi jatuhnya, mengatakan penuh


iba. Begitu menyedihkan.


“ kau!” Dalbert sudah


siap dengan kepalan tangannya ingin memukul wajah lelaki itu.


“ biarkan dia” hanya


kalimat singkat, wanita itu membuat kedua lelaki itu sama-sama kaget. Ai masuk


kedalam kamar dengan pintu terbuka lebar. Hardwin dan Dalbert menghentikan


aktifitas kekerasan, Hardwin berusaha untuk berdiri. Dalbert dengan penuh emosi


terpaksa menunda pukulan itu nanti dan lebih dulu masuk kedalam kamar.


Suasana menjadi dingin


ketika Hardwin dengan sedikit tertatih masuk ke dalam kamar, disana Ai dan


Dalbert menghentikan pembicaraan. Dalbert bersikeras untuk mengusir Hardwin,


dia membujuk Ai agar jangan menemui lelaki brengsek itu lagi. Namun Ai tidak


“ Ai” Hardwin menyapa,


dia sangat bersalah pada Ai. meski ragu lelaki itu terus berjalan mendekati Ai


yang berdiri di samping sofa.


“ aku minta maaf, aku


sudah melakukan hal yang tidak pantas padamu,,”


“ tinggalkan kami” Ai


menatap Dalbert yang sedari tadi dengan tajam menyoroti Hadrwin. Lelaki itu


dengan tatapan tak percaya mengalihkan pandangannya kepada Ai.


“ tidak, bagaimana


mungkin aku meningg”


“ aku baik-baik saja,


tolong tinggalkan kami” Ai menampilkan sorot mata sedih, membuat Dalbert


akhirnya dengan terpaksa menuruti keinginan wanita itu.


“ biarkan pintu terbuka”


tidak ada bantahan, Dalbert pergi menunggu di luar dengan pintu kamar yang


terbuka. Dia takut jika Hardwin akan melakukan hal buruk lagi.


Kini diruangan itu hanya


tersisa dua orang. Ai kemudian mendekati sofa dan duduk disana. Hardwin masih


diam tidak tau harus berbuat apa.


“ duduklah” ucap Ai


dingin, wanita itu seakan membangun tembok untuk membatasi diri.


“ aku benar-benar


menyesal Ai, aku sudah kehilangan akal. Aku berjanji tidak akan melakukan hal


seperti itu lagi. Maafkan aku Ai” Hardwin bukan duduk namun bersimpuh di depan


wanita itu. Dia begitu tulus meminta maaf.


Lama tidak ada sautan, Ai


terdiam sambil melihat Hardwin dalam. Meski sedikit trauma, wanita itu dengan


susah payah mengatur ketakutannya.


“ tolong. Bantu. Axton” 3


kata, Ai mengucapkan ketiga kata itu dengan rasa keputusasaan. Mengharap kali


ini Hardwin akan tersentuh dan mengubah keputusannya.


Hardwin tidak menyangka


kalimat itu yang menjadi balasan dari permintaan maafnya. Rasanya wanita itu


tidak menganggap dirinya. Hanya Axton yang Ai fikirkan.


Hardwin beranjak, dia


mulai kecewa.


“ aku datang hanya ingin


meminta maaf padamu sebelum pergi dari sini. Mengenai Duke, keputusanku sudah


bulat” Hardwin mencoba lembut, meski sedikit marah, lelaki itu tidak mau


kehilangan control seperti kemarin.


“ aku mohon padamu


Hardwin,” giliran Ai yang mengiba. Ai berdiri meminta agar Hardwin mengerti


dirinya.


“ tidak Ai, perbuatanku


kemarin memang sangat tidak pantas, namun perasaanku ini tulus. Aku sangat


mencintaimu, aku tidak mau seorangpun memilikimu Ai. aku tidak mau kalian


bersama” Hardwin kekeh, meski wanita itu sudah terlihat putus asa. Dia tetap


tidak goyah.


“ tapi aku mencintai


Axton, aku ingin dia baik-baik saja. Aku tidak mau melihatnya tersiksa seperti


ini. Aku mohon padamu” Ai memegang tangan Hardwin dia sangat menginginkan


pertolongan dari lelaki itu.


“ bisakah kita tidak


membicarakan dia. aku datang kemari karena menyesal sudah berlaku buruk, tapi


kau malah tidak menanggapi permintaan maafku” Hardwin kesal, kenapa pembicaraan


mereka selalu saja tentang Axton.


“ ku mohon tolonglah


Axton. aku akan melakukan apapun” Ai sudah berada dalam titik terendah, dia


hanya bisa mengiba. Bahkan dia tidak memikirkan apa yang baru saja dia katakan.


Rasa khawatirnya membuat syarat di otaknya terhambat.


Hardwin menatap manik


kesdihan Ai dan dia membencinya. Dia benci Ai hanya memikirkan Axton, kenapa Ai


sama sekali tidak mempermasalahkan perbuatan tidak pantas yang Hardwin berikan.


Wanita itu sungguh menyedihkan.


“ baiklah tapi 2 syarat


yang kau harus penuhi” Hardwin akhirnya memanfaatkan situasi. Lelaki itu tidak


akan menolong Axton secara cuma-cuma.