
Setelah seharian menghabiskan waktu dengan banyak tidur, hari ini pasangan suami istri itu keluar dari kamar untuk sarapan pagi. Meskipun tidak ada apapun yang terjadi, dimana Axton hanya tertidur seharian dikamar Ai, tetapi fikiran para pelayan sungguh jauh dari kenyataan. Mereka senyum-senyum sendiri ketika melihat pasangan tuan dan nyonya itu menuruni tangga.
“ tuan “ sapa Grace begitu mengetahui jika Axton kini sedang berjalan turun ke lantai bawah.
“ hem” jawab Axton singkat. Ai yang ada di belakang menyeringai puas melihat reaksi suaminya yang datar. Grace sedikit tidak terima, tapi dia hanya bisa membalasnya dengan senyum singkat.
Meja makan tampak meriah, tidak seperti beberapa minggu yang lalu. Dimana keuangan begitu serat untuk di keluarkan.
“ bagaimana kondisi militer, apa masalahnya sudah selesai?” Ai basa-basi membuka percakapan. Karena situasi meja begitu hening.
“ tidak begitu menghawatirkan, jangan terlalu di fikirkan” jawab Axton. Dia kembali fokus makan. Mood Axton benar-benar tidak bisa di tebak. Baik Ai maupun Grace tidak bisa mengetahui bagaimana suasana hati lelaki ini.
“ apa hari ini kau akan keluar?” Ai kembali bertanya, semenjak kepulangan suaminya, jadwal pertemuan tidak bisa segampang sebelumnya. Sekarang harus meminta izin dulu baru bisa pergi. Niatnya hari ini Ai akan pergi berbincang dengan lady Masy dan Lady Lansoria. Pertemuan ringan antar wanita saja.
“ maksudmu ke Barack? Tidak. Aku seharian ini akan di ruang kerja. Kau juga tidak boleh keluar” Ai menghembuskan nafas pelan. Rencana hari ini gagal. Tanpa sadar Ai mengerucutkan bibirnya, hal ini tertangkap oleh sudut mata Axton.
“ kenapa mulutmu seperti itu?” tanya Axton sambil menatap raut kesal istrinya.
“ kenapa dengan mulutku?” saking tidak sadarnya Ai malah balik bertanya sambil meraba bibirnya. Selalu saja hal seperti ini yang membuat Axton gemas sendiri.
“ sudah, lupakan “ gantian Axton yang menghembuskan nafas kesal.
“ tidak jelas” cibir Ai yang masih terdengar oleh Axton. Tapi Axton hanya diam, dia memilih untuk tidak meneruskan perdebatan dengan istrinya itu. Baru kemarin hubungannya begitu baik, Axton tidak mau merusaknya hanya karna masalah sepele.
Setelah sarapan usai, sesuai dengan ucapannya Axton langsung menuju ke ruang kerjanya. Sedangkan Ai dia memilih untuk berada di taman samping, duduk di alas kain dan mencoba merangkai bunga. Mily bertugas untuk memetik bunga-bunga yang mekar di taman kediaman.
Tok tok
pintu kerja Axton berbunyi. Disana ada seorang wanita yang sedari kemarin sudah merencanakan hal ini. Tentu saja Grace, sambil membawa buku keuangan Grace masuk ke ruang kerja Axton.
“ ada masalah Grace?” tanya Axton yang masih fokus membaca laporannya.
“ saya ingin melaporkan tugas yang sudah tuan berikan sebelum pergi” jawab Grace yakin. Sudah biasanya setelah kembali dari tugas, Axton akan meminta laporan. Namun kali ini Grace lebih dulu melaporkannya.
“ berikan saja pada Duchess, masalah kediaman diskusikan dengannya saja” Axton sedang tidak berminat membahas masalah kediaman. Apalagi sekarang sudah ada Ai, Axton tidak ingin riweh sendiri.
“ em, saya tidak yakin dengan hal itu” Axton mendongak menatap Grace. Keningnya mengerut mendengar kalimat Grace yang seolah ada sesuatu yang terjadi.
“ apa maksud dari ucapanmu?” tanpa banyak berkata, dengan tenang Grace langsung memberikan laporan yang sudah dia siapkan.
Axton menerima dengan sedikit penasaran. Mata itu meneliti berkas keuangan, apalagi di bagian pengeluaran. Sejak Grace di pulangkan semua keuangan di berikan kepada Chloe sebagai kepala pelayan pengganti, setelahnya kepada Ai dengan di bantu Grace. Dari beberapa bulan sebelumnya tidak ada yang aneh. Hingga mata Axton sedikit menyipit ketika sampai pada beberapa minggu terakhir. Dimana saat dia pergi bertugas.
“ kenapa banyak pengurangan? Kemana lebihanya?” tanya Axton yang sedikit emosi.
‘ semoga masalah ini bisa memisahkan mereka’ batin Grace.
Axton mulai mencerna perkataan Grace dengan perlahan. Semuanya begitu mengagetkan. Kenapa Ai tidak mengatakan apapun mengenai hal ini. Axton mulai tersulut emosinya setelah mengetahui kebenaran ini.
“ apa lagi yanga terjadi selama aku pergi?” Axton mulai mengorek informasi.
“ nyonya pernah mengajak teman lelakinya bertamu ke kediaman. Mereka menghabiskan waktu cukup lama “ jawab Grace yang sebenarnya tidak tau persis kapan Hardwin pergi.
“ kau kenal siapa lelaki itu?” Axton tidak mau terlewat sedikitpun.
“ Marquess Hardwin Kleiner “ Grace mengingantnya dengan jelas karena ketika Hardwin pertama kali datang di kediaman dia sudah mengamatinya.
Nama itu adalah nama lelaki yang sudah memiliki sedikit kesalapaham dengan Axton. Bahkan Axton pernah cemburu dengan lelaki ini karena perlakuannya yang begitu perhatian kepada Ai. Kini mendengar jika istrinya mengajaknya kemari dan menghabiskan waktu yang lama, benar-benar membuat Axton marah. Bagaimana bisa masalah seperti ini tak pernah di jelaskan Ai sebelumnya, mendengar hal ini dari orang lain membuat Axton berfikir bahwa istrinya sengaja menyembunyikan hal ini darinya.
“ berapa kali lelaki itu kemari?!” tanya Axton penuh nada marah.
“ saya hanya tau sekali tuan. Tapi dua hari yang lalu nyonya menghadiri pesta di kediaman Kleiner, malam baru kembali” ucapan Grace ini, ibaratkan menyiram bengsin dalam api amarah Axton. Emosi marahnya semakin membara. Axton sudah terbakar api cemburu.
“ Hardwin Kleiner, lelaki itu terus saja mendekati Ai” guman Axton sambil mengepalkan tanganya. Melihat reaksi Axton yang sesuai dengan keinginanya, Grace tertawa puas dalam hati.
‘ rasakan itu, sebentar lagi kau akan tamat’ ucap Grace dalam hati. Dia begitu senang rencana awalnya berjalan dengan sangat lancar.
“ apa ada lagi yang terjadi?”
“ em saya sebenarnya tidak yakin, tapi sepertinya nyonya membeli beberapa set perhiasan menggunakan uang-uang itu” Grace sampai pada rencana utamanya. Dengan suara lemah yang dibuat-buat, sukses membuat Axton langsung saja mempercayai perkataan Grace. Meskipun sebenarnya tidak masalah juga Ai membeli perhiasan tapi jika caranya seperti ini Axton benar-benar tidak menyukainya.
“ panggilkan Duchess kemari” Axton sudah tidak bisa menahan amaranya. Kini dia ingin mendengarnya secara langsung dari istrinya.
Perintah Axton kali ini dengan penuh semangat segera di laksanakan oleh Grace. Setelah mengetahui keberadaan Ai, Grace segera menghampiri.
“Duchess anda di panggil Duke di ruang kerjanya” ucap Grace dengan bahasa tubuh sedikit angkuh. Ai yang sibuk merangkai bunga sejenak berhenti.
‘sepertinya dia sudah memulainya’ batin Ai sedikit curiga.
“ em, sebentar lagi aku akan kesana” jawab Ai tenang, dia harus bersandiwara tidak mengetahui apa-apa. Grace segera meninggalkan Ai.
Milly yang mengamati semuanya, kini beralih mendekati nyonyanya setelah kepergian Grace.
“ rencana kita di mulai” Ai dan Milly kompak menganggukan kepalanya. Meraka memiliki pemikiran yang sama. Ai merapikan penampilannya dan berjalan masuk ke kediaman, sedang Milly segera menuju kereta kuda. Ada hal mendesak yang harus dia lakukan.