
Betapa kagetnya pelayan
pondok ketika mendapati tandu miliknya tergeletak di tepi danau. Dia barusaja
kembali bersama tuan Kleiner, karena mereka tidak menemukan sumber mata Air
yang mereka inginkan, belum lagi hujan badai yang tiba-tiba datang seakan
menyuruh mereka untuk kembali.
Begitu sampai mereka
langsung cemas saat tidak mendapati seorangpun di dalam pondok. di tengah
lebatnya hujan mereka keluar mencari dimana keberadaan sepasang suami istri
itu. Namun hanya sebuah tandu kosong yang mereka temukan.
“ apa mungkin?” kedua
orang itu menatap tengah danau sejenak dan langsung masuk ke dalam danau.
Mereka saeakan melihat siluet kain yang melambai-lambai dari dalam danau.
Dan sesuai dengan tebakan
mereka, didalam danau sepasang suami istri itu tenggelam. Dengan cepat mereka
langsung menarik keduanya sampai ke permukaan dan meletakkan mereka di tepi
danau.
“ bagaimana bisa mereka
tenggelam disini?” pelayan itu merasa bingung dengan keadaan yang dia temui.
“ mungkin Duchess yang
merencakaan semua ini” tuan Kleiner segera mencoba menyadarkan masing-masing
orang.
“ lebih baik kita
pindahkan saja di kedalam, hujan semakin lebat” ucap tuan Kleiner di tengah
badai hujan yang mengguyur badan mereka.
Keduanya dengan saling
bantu memindahkan tubuh Ai dan Axton dengan hati-hati. Mereka meletakkannya di
ruang depan. Tuan Kleiner menepuk pipi Axton.
“ Duke, sadarlah” tuan
Kleiner mengucapkan itu berulang-ulang. Sampai tiba-tiba kelopak mata itu
bergoyang dan mulai membuka.
“ Duke!” betapa senangnya
tuan Kleiner saat Axton akhirnya bisa tersadar. lelaki itu membantu Axton duduk
bersadar pada kaki kursi agar tubuhnya bisa lebih tinggi dari kaki.
“ akhirnya anda sadar”
Axton menatap bingung, apa yang sudah terjadi pada dirinya. Semua orang basah
kuyup. Axton mulai mencari tau dengan menatap kesekeliling ruangan.
“ apa yang..” kalimat itu
terputus karena lelaki itu menyadari istrinya terbaring tak sadar di
sampingnya. Lelaki itu segera mendekat, otomatis pelayan yang sedari tadi
mencoba menyadarkan Ai langsung menarik diri.
“Ai, Ai sadarlah” Axton
menepuk pipi istrinya. Wanita itu tetap tidak sadar. Ai segera memberikan nafas
buatan. Dia tidak mau kehilangan istrinya.
“ Ai, ku mohon ” Axton
terus memompa dan memberikan nafas buatan secara bergantian. Akhirnya Ai
memuntahkan air yang cukup banyak, mereka semua mulai tenang. Ai bahkan sempat
membuka matanya singkat, sebelum akhirnya menutup kembali
“ kita pindahkan kedalam,
sepertinya Duchess masih butuh istirahat” ucap tuan Kleiner, setidaknya nadi Ai
sudah teratur. Air yang masuk ke paru-parunya juga sudah keluar.
Ai akhirnya di papah dan
di baringkan, Axton yang masih terbilang lemah tidak mau diam saja. Dia benar-benar
mengkhawatirkan istrinya.
“ tubuhnya masih basah
kuyup, sebaiknya..” ucap Tuan Kleiner.
“ kalian keluarlah dulu”
potong Axton. lelaki itu akan mengganti pakaian Ai agar tubuhnya menghangat.
Kleiner mencoba mengingatkan Duke, dia takut jika Duke akan semakin lemah lagi.
“ aku lebih tau tubuhku,
kalian siapkan saja makanan hangat” Axton tidak mau bertele-tele. Selagi dia
masih bisa dia tidak mau orang lain mengurus istrinya.
“ baiklah” tuan Kleiner
segera mengajak pelayan keluar dari kamar. Mereka akan menyiapkan ramuan penghangat
tubuh agar kedua tuannya tidak mengalami hal buruk.
Entah apa yang sudah
terjadi, Axton masih belum mengerti. Dia hanya ingat kalau dia masuk kedalam
wadah penuh ramuan hangat selebihnya dia tidak ingat apapun.
Setelah selesai mengganti
baju Ai dan dirinya, Axton langsung menyelimuti tubuh Ai. dia benar-benar tidak
tega saat melihat wajah pucat Ai dan telapak tangan dan kakinya yang masih
berkerut.
Di elusnya kepala sang
istri pelan, bagaimana bisa dia membiarkan istri kecilnya sampai mengalami hal
ini. Semuanya tidak bisa Axton bayangkan.
Tok tok tuan Kleiner
sudah ada di ambang pintu sambil membawa nampan berisikan dua mangkuk.
“ saya bawakan soup
tonic, agar tubuh anda hangat” ucap Kleiner, dia masih diam menunggu Axton
memberikannya izin.
“ kemarikan” Axton
meminta satu mangkuk, dia akan mencoba menyuapi Ai. tubuh wanita itu terasa
begitu dingin. Satu mangkuk lagi di taruh diatas nakas. Setelah menyelesaikan
tugasnya, tuan Kleiner segera pergi meninggalkan kamar.
“ Ai” Axton menepuk pelan
pipi Ai, mencoba membangunkan istrinya.
Setelah beberapakali
percobaan, akhirnya kepolak itu mulai bergerak. Wanita itu mulai tersadar, dia
mengerjab matanya. Dia melihat suaminya ada di hadapannya. Rasanya seakan tidak
percaya.
“ Axton, apa kita sudah
di surga?” Ai masih dalam kondisi setengah sadar, otaknya masih belum mencerna
keadaan dengan baik.
“ kita ada di pondok”
jawab Axton singkat sambil mengelus pipi mulus itu pelan.
“ pondok?” Ai mengerutkan
keningnya. Seingatnya mereka tadi tenggelam lalu bagaimana bisa kembali di
pondok. Ai menatap sekeliling, dia benar-benar berada di kamar.
“ Axton kau sudah sadar?”
Ai mulai sepenuhnya sadar. Dia langsung duduk dan memeluk suaminya. Rasanya
seperti mimpi, dia bisa melihat suaminya lagi.
“ iya seperti yang kamu
lihat, sekarang kamu minum ini dulu” Axton mencoba melepaskan pelukan rasa
cekikan, begitu erat sampai Axton kesulitan bernafas. Ai melepaskan pelukannya,
dilihatnya wajah Axton sekali lagi dengan dalam. Seakan membuktikan bahwa semua
ini bukanlah mimpi.
“sini minumlah” Axton
mendekatkan sendoknya, Ai langsung membuka mulutnya.
“ ini bukan mimpi kan?”
sekali lagi Ai masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“ tidak, ini coba rasakan”
Axton membawa tangan Ai untuk menyentuh wajahnya. Ai terlihat begitu senang,
akhirnya semua ketakutannya tidak terjadi. Akhirnya Axton bisa sembuh, semuanya
akan menjadi normal. Ai benar-benar bersyukur tuhan telah mengabulkan doanya.