The New Duchess

The New Duchess
Bab 118 : Terbuka



Betapa kagetnya pelayan


pondok ketika mendapati tandu miliknya tergeletak di tepi danau. Dia barusaja


kembali bersama tuan Kleiner, karena mereka tidak menemukan sumber mata Air


yang mereka inginkan, belum lagi hujan badai yang tiba-tiba datang seakan


menyuruh mereka untuk kembali.


Begitu sampai mereka


langsung cemas saat tidak mendapati seorangpun di dalam pondok. di tengah


lebatnya hujan mereka keluar mencari dimana keberadaan sepasang suami istri


itu. Namun hanya sebuah tandu kosong yang mereka temukan.


“ apa mungkin?” kedua


orang itu menatap tengah danau sejenak dan langsung masuk ke dalam danau.


Mereka saeakan melihat siluet kain yang melambai-lambai dari dalam danau.


Dan sesuai dengan tebakan


mereka, didalam danau sepasang suami istri itu tenggelam. Dengan cepat mereka


langsung menarik keduanya sampai ke permukaan dan meletakkan mereka di tepi


danau.


“ bagaimana bisa mereka


tenggelam disini?” pelayan itu merasa bingung dengan keadaan yang dia temui.


“ mungkin Duchess yang


merencakaan semua ini” tuan Kleiner segera mencoba menyadarkan masing-masing


orang.


“ lebih baik kita


pindahkan saja di kedalam, hujan semakin lebat” ucap tuan Kleiner di tengah


badai hujan yang mengguyur badan mereka.


Keduanya dengan saling


bantu memindahkan tubuh Ai dan Axton dengan hati-hati. Mereka meletakkannya di


ruang depan. Tuan Kleiner menepuk pipi Axton.


“ Duke, sadarlah” tuan


Kleiner mengucapkan itu berulang-ulang. Sampai tiba-tiba kelopak mata itu


bergoyang dan mulai membuka.


“ Duke!” betapa senangnya


tuan Kleiner saat Axton akhirnya bisa tersadar. lelaki itu membantu Axton duduk


bersadar pada kaki kursi agar tubuhnya bisa lebih tinggi dari kaki.


“ akhirnya anda sadar”


Axton menatap bingung, apa yang sudah terjadi pada dirinya. Semua orang basah


kuyup. Axton mulai mencari tau dengan menatap kesekeliling ruangan.


“ apa yang..” kalimat itu


terputus karena lelaki itu menyadari istrinya terbaring tak sadar di


sampingnya. Lelaki itu segera mendekat, otomatis pelayan yang sedari tadi


mencoba menyadarkan Ai langsung menarik diri.


“Ai, Ai sadarlah” Axton


menepuk pipi istrinya. Wanita itu tetap tidak sadar. Ai segera memberikan nafas


buatan. Dia tidak mau kehilangan istrinya.


“ Ai, ku mohon ” Axton


terus memompa dan memberikan nafas buatan secara bergantian. Akhirnya Ai


memuntahkan air yang cukup banyak, mereka semua mulai tenang. Ai bahkan sempat


membuka matanya singkat, sebelum akhirnya menutup kembali


“ kita pindahkan kedalam,


sepertinya Duchess masih butuh istirahat” ucap tuan Kleiner, setidaknya nadi Ai


sudah teratur. Air yang masuk ke paru-parunya juga sudah keluar.


Ai akhirnya di papah dan


di baringkan, Axton yang masih terbilang lemah tidak mau diam saja. Dia benar-benar


mengkhawatirkan istrinya.


“ tubuhnya masih basah


kuyup, sebaiknya..” ucap Tuan Kleiner.


“ kalian keluarlah dulu”


potong Axton. lelaki itu akan mengganti pakaian Ai agar tubuhnya menghangat.


Kleiner mencoba mengingatkan Duke, dia takut jika Duke akan semakin lemah lagi.


“ aku lebih tau tubuhku,


kalian siapkan saja makanan hangat” Axton tidak mau bertele-tele. Selagi dia


masih bisa dia tidak mau orang lain mengurus istrinya.


“ baiklah” tuan Kleiner


segera mengajak pelayan keluar dari kamar. Mereka akan menyiapkan ramuan penghangat


tubuh agar kedua tuannya tidak mengalami hal buruk.


Entah apa yang sudah


terjadi, Axton masih belum mengerti. Dia hanya ingat kalau dia masuk kedalam


wadah penuh ramuan hangat selebihnya dia tidak ingat apapun.


Setelah selesai mengganti


baju Ai dan dirinya, Axton langsung menyelimuti tubuh Ai. dia benar-benar tidak


tega saat melihat wajah pucat Ai dan telapak tangan dan kakinya yang masih


berkerut.


Di elusnya kepala sang


istri pelan, bagaimana bisa dia membiarkan istri kecilnya sampai mengalami hal


ini. Semuanya tidak bisa Axton bayangkan.


Tok tok tuan Kleiner


sudah ada di ambang pintu sambil membawa nampan berisikan dua mangkuk.


“ saya bawakan soup


tonic, agar tubuh anda hangat” ucap Kleiner, dia masih diam menunggu Axton


memberikannya izin.


“ kemarikan” Axton


meminta satu mangkuk, dia akan mencoba menyuapi Ai. tubuh wanita itu terasa


begitu dingin. Satu mangkuk lagi di taruh diatas nakas. Setelah menyelesaikan


tugasnya, tuan Kleiner segera pergi meninggalkan kamar.


“ Ai” Axton menepuk pelan


pipi Ai, mencoba membangunkan istrinya.


Setelah beberapakali


percobaan, akhirnya kepolak itu mulai bergerak. Wanita itu mulai tersadar, dia


mengerjab matanya. Dia melihat suaminya ada di hadapannya. Rasanya seakan tidak


percaya.


“ Axton, apa kita sudah


di surga?” Ai masih dalam kondisi setengah sadar, otaknya masih belum mencerna


keadaan dengan baik.


“ kita ada di pondok”


jawab Axton singkat sambil mengelus pipi mulus itu pelan.


“ pondok?” Ai mengerutkan


keningnya. Seingatnya mereka tadi tenggelam lalu bagaimana bisa kembali di


pondok. Ai menatap sekeliling, dia benar-benar berada di kamar.


“ Axton kau sudah sadar?”


Ai mulai sepenuhnya sadar. Dia langsung duduk dan memeluk suaminya. Rasanya


seperti mimpi, dia bisa melihat suaminya lagi.


“ iya seperti yang kamu


lihat, sekarang kamu minum ini dulu” Axton mencoba melepaskan pelukan rasa


cekikan, begitu erat sampai Axton kesulitan bernafas. Ai melepaskan pelukannya,


dilihatnya wajah Axton sekali lagi dengan dalam. Seakan membuktikan bahwa semua


ini bukanlah mimpi.


“sini minumlah” Axton


mendekatkan sendoknya, Ai langsung membuka mulutnya.


“ ini bukan mimpi kan?”


sekali lagi Ai masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


“ tidak, ini coba rasakan”


Axton membawa tangan Ai untuk menyentuh wajahnya. Ai terlihat begitu senang,


akhirnya semua ketakutannya tidak terjadi. Akhirnya Axton bisa sembuh, semuanya


akan menjadi normal. Ai benar-benar bersyukur tuhan telah mengabulkan doanya.