
Tepat saat matahari mulai terbenam pasukan milik Axton berjalan menuju istana selatan. Mereka hanya berbekal keyakinan bahwa hal ini akan membawa kedamaian pada Bavaria.
" kita berpencar, kalian jaga di tempat masing-masing" Duke memberikan instruksi saat sampai di depan gerbang istana selatan.
" baik" jawab pasukannya. Mereka segera menyebar sesuai dengan rencana.
Axton berjalan masuk seorang diri, di sana sudah ada beberapa prajurit yang siap menghadang.
" Maaf Duke anda tidak diizinkan masuk" ucap alah satu prajurit di sana.
" aku tidak butuh perizinan siapapun" jawab Axton tegas, dirinya lalu melanjutkan langkahnya.
trang. prajurit menghalang dengan tombaknya.
" berani mati, silahkan maju" Axton tidak akan bertele-tele. Dia hanya ingin menemui Sean yang menghentikan kegilaannya.
Para prajurit tidak menyangka jika Duke akan bertindak sejauh ini, mereka saling berpandangan.
" Axton tidak ingin menunggu lelaki itu langsung mendorong tombak mereka. Kini tidak ada waktu untuk berfikir. Para prajurit langsung menyerang Axton demi bisa menahannya tidak masuk.
Perkelahian berlangsung singkat, Axton langsung bisa melumpuhkan mereka tanpa perlu kesusahan.
Axton berjalan tanpa gentar, istana terlihat sepi dari luar, tidak ada pelayan ataupun prajurit lainnya. Axton sedikit terkecoh kala pengawal pribadi Sean berjalan muncul dari dalam aula istana.
" Dimana tuanmu?" tanya Axton langsung.
" anda terlihat melupakan etika, status anda lebih rendah dari putra mahkota" jawab pengawal itu tidak tau apa yang sebenarnya.
" jika benar begitu, dia putra mahkota yang tidak layak" Axton tidak akan menghormati lelaki brengsek itu.
" jadi kenapa anda kemari?" pengawal itu terlihat sekali ingin menghalangi jalan Axton.
" sudah ku bilang, dimana tuanmu?" Axton merasakan ada yang beres.
" hadapi saya dulu" jawab pengawal itu keras. Tanpa pikir panjang, mereka saling bertanding dengan tangan kosong. Axton semakin merasa aneh, dia langsung mengunci pergerakan pengawal itu dengan cepat.
" apa Sean tidak ada di dalam?" tanya Axton menyelidik, tidak biasanya pengawal akan menyerahkan dirinya. Biasanya Sean akan lebih dulu menghadapinya.
Pengawal itu diam saja dalam kunciannya. Dia sudah di perintahkan untuk mengulur waktu selama mungkin. Karena sejak sore tadi junjungannya sudah meninggalkan istana menuju kediaman Wellington.
" kemana dia ?" Axton merasa yakin jika Sean sudah pergi, menurutnya lelaki itu pasti melarikan diri.
" lepaskan aku!" teriak pengawal itu saat Axton mengikat kedua tangannya di belakang punggungnya.
Axton masuk ke dalam istana, pasukannya yang juga merasakan keanehan segera kembali menemui Duke. Mereka melihat pengawal pribadi putra mahkota yang terikat, sebagian masuk ke dalam dan sebagian menjaga pengawal itu.
" Duke, istana sudah kosong" lapor salah satu pasukan yang melihat Axton terdiam di depan aula istana.
" lelaki itu sudah pergi, tapi kenapa pengawal nya seakan mengulur waktu?" Axton mulai berfikir apa yang sedang di rencanakan Sean padanya.
Axton kembali keluar istana.
" katakan padaku, ke mana perginya Sean?" Axton mendesak agar pengawal itu mengaku.
" anda tidak bisa memanggilnya seperti itu!" pengawal itu malah menjawab hal yang lain.
Sedangkan di luar istana Tuan Kleiner dan Dalbert baru saja bertemu.
" aku menemukan kereta itu, lokasinya dekat dengan kediaman Wellington. Apa mungkin?" tuan Kleiner memberitahukan apa yang dia lihat. Dia ingin tau apa Dalbert juga memiliki pemikiran yang sama.
" lebih baik kita pastikan saja. malam ini juga kita masuk" Dalbert sudah tidak bisa menahannya lagi. Semakin lama menunggu maka keselamatan Duchess bisa semakin terancam.
Mereka segera mengumpulkan pasukan. Pengawal pangeran Aric sudah kembali ke istana raja, Setelah tau jika Duchess kemungkinan di bawa ke kediaman Wellington.
Dia baru saja masuk ke gerbang istana, keadaan jauh berubah. Pasukan kerajaan terlihat memilih kubu Duke.
" dimana pangeran Aric?" tanya pengawal itu saat masuk di gerbang.
" kau dari mana saja? ku kira kau sudah tewas" pengawal pribadi raja baru mengetahui kedatangan pengawal pangeran.
" saya dan Duke saling melaksanakan rencana, dan baru bisa masuk saat pasukan kerajaan memberikan jalan. maafkan saya" pengawal pangeran memang merasa kehadirannya sedikit terlambat. Dia ingin menemui pangeran dan menjelaskan keadaanya.
" tidak masalah, kau segera temui pangeran" ajak pengawal raja agar ikut masuk ke istana.
Mereka berdua berjalan masuk. Saat sampai di depan kamar, pengawal raja pamit. Dia tidak mau menganggu pertemuan mereka.
" yang mulia" panggil pengawal.
" ah kau sudah sampai? ada Hardwin juga disini?" tanya Aric, dia sejak tadi mengkhawatirkan bagaimana keadaan Duke.
" saya dan tuan Hardwin terpisah begitu masuk ke ibukota, sandiwara kami terbongkar" jawab pengawal itu.
Pangeran Aric masih terdiam, membuat pengawal itu curi-curi melihat ke arah raja.
" pangeran , bagaimana keadaan raja?" ucap pengawal itu sedikit ketakutan. Pangeran Aric terlihat semakin sendu.
" yang mulia raja masih tidak menunjukkan perkembangan. kondisi kerajaan juga semakin rumit, aku merasa gagal menjadi anggota kerjaan. Bahkan Duke yang bukan orang kerajaan saat ini malah bertempur habis-habisan" Guman Aric, dia menjelaskan rasa gundahnya. Pengawal itu mendengarkan dengan seksama.
" Duke Wellington dimana? " Pengawal itu mulai tersadar jika semenjak tadi dia tidak melihat Duke.
" dia pergi ke istana selatan untuk menangkap Sean sendirian" Jawab Aric dengan suara mengambang.
" kau pergilah kesana, bantu dia. Jangan sampai terjadi hal yang buruk pada Duke" lanjut Aric, setidaknya dia memberikan tambahan bantuan. Pengawal nya tidak mungkin menolak perintahnya.
" baiklah pangeran, saya akan membantu Duke sekuat tenaga" pengawal itu pergi setelah memberikan salam penghormatan.
" bawa dia!" ucap penculik kepada bawahannya. Mereka akan membawa Duchess menemui Sean. Dia baru saja sampai dan saat ini berada di ruang tengah kediaman Wellington.
" emm emem" Mulut Ai di sumpal dengan kain, semua teriakanya berakhir sia-sia.
" cepat!" mereka semakin menyeret Ai karena wanita itu terus saja meronta.
" kau yakin?" tanya Grace kepada Mily.
" yakin sekali, Duchess di bawa ke ruangan tengah. Kita harus mencari cara untuk menyelamatkan Duchess" ucap Milly menggebu-gebu. Dia melihat junjungannya terikat dan sedikit di seret. Sejak awal kediaman kedatangan orang asing, Milly dan Grace sudah waspada. Mereka berdua melihat Duchess di sekap dan terus mencari cara untuk menyelamatkan. Namun sayang malam ini saat mereka akan beraksi para penjaga membawa Duchess pergi.
" bagaimana caranya?" Grace semakin khawatir. Saat ini perutnya sangat besar, dia tidak mungkin bisa bergerak dengan leluasa.
" kau tetap disini saja, sembunyikan dirimu baik-baik. Biar aku yang mencari cara untuk menyelamatkan Duchess". Mily membulatkan tekad. Mau apapun yang terjadi dia akan datang menyelamatkan.
" baiklah" Grace pasrah, dia menyadari keterbatasan dirinya.
" emememem" gumanan Duchess semakin kencang tak kala melihat Sean sudah ada di depan matanya.
" Duchess Wellington" ucap Sean kegirangan, setelah lama menunggu ditambah keadaan yang semakin merugikannya, kehadiran Duchess saat ini sangat menghibur dirinya.
" hati-hati, jangan melukainya!" kesal Sean yang melihat betapa kasarnya penjaga itu membawa Duchess kearahnya. Duchess di letakkan di atas lantai, membuatnya bersimpuh di hadapan Sean.
" Ainsley, sudah lama sekali kita tidak bertemu" Sean menatap Ai penuh nafsu. Sejak lama sekali lelaki ini saat menginginkan Ainsley, dan baru sekarang rasanya dia bisa menyentuh wanita ini sesukanya.