The New Duchess

The New Duchess
Bab 131: Bavaria



 Bavaria


Istana Bavaria dijaga


dengan ketat, tampak banyak sekali pasukan berjaga di sepanjang jalan kota.


Pihak kerajaan dengan di pimpim putra mahkota Sea, melakukan pengamanan kota.


Raja sedang sakit dan perbatasan dalam keadaan labil. Alasan yang sangat masuk


akal demi mensterilkan istana dari para anggota kerajaan lainnya.


Masyarakat di dalam


ibukota tampak cemas dan ketakutan, jam malam sudah di berlakukan. Putra


mahkota Sea terlihat benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang.


Banyak dari mereka yang


tidak mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya di dalam istana. Kabar


sakitnya raja langsung mereka telan mentah-mentah. Memang benar belakangan Raja


mengeluhkan sakit, kematian Duke Wellington, hilangnya Duchess serta kasus


kehamilan Grace semuanya tidak bisa di anggap remeh. Raja sudah memiliki


firasat buruk pada putra mahkota. Satu-satunya yang Raja tunggu adalah


kehadiran pangeran Aric. Demi mentabilkan keadaan, Raja sudah mengirim Hardwin


untuk bisa memastikan keselamatan anaknya. Raja memang sudah sedari awal


memberikan pilihan sulit itu, keselamatan Aric akan di tukar dengan keselamatan


Hardwin juga.


Raja tidak mau mengambil


resiko, dari semua lingkaran kerajaan tidak ada yang bisa dia percaya dan


andalkan. Kini keadaan malah semakin buruk dan kehadiran pangeran masih belum


raja ketahui.


“ayah, makanlah ini” Sea


tengah duduk di samping ranjang Raja, di tangannya terdapat mangkuk ramuan yang


entah apa isinya. Raja sudah dari awal tidak mau memakan satu tegukpun. Lelaki


terus saja menggeleng menolak pemberian putra mahkota.


“ ini akan membuatmu


lebih baik ayah” Sea sudah melupakan kesopananya. Dia memanggil raja tanpa


penyebutan gelar. Tubuh Raja yang lemah membuatnya tidak bisa melakukan apapun.


Bahkan pengawal pribadinya juga tidak bisa berbuat banyak. Sea pasti akan


memberikannya hukuman asal jika pengawal itu berniat melarang perbuatanya.


“aaa, ayah” Sea masih


terus menyuapi ayahnya dengan ramuan. Raja terus saja menggeleng. Dia masih


ingat betul terakhir dia menelan ramuan itu tubuhnya malah semakin lemas tidak


bertenaga. Ramuan itu jelas memiliki kandungan yang buruk pada tubuhnya.


Plang,, suara mangkuk


terjatuh. Raja menolak keras dan dengan tenaga yang lemah itu dia menghempaskan


tangan Sea sehingga mangkuk beserta sendok itu jatuh ke lantai.


“ siall!!” cerca Sea,


lelaki itu dengan wajah marahnya menatap melotot kearah ayahnya.


“ dasar tidak tau


diuntung!” lanjut Sea, lelaki itu menendang mangkuk ramuan sehingga membentur


dinding. Suara pecahan terdengar lebih nyaring. Pelayan serta pengawal yang


berada di luar kamar dengan jelas mendengar suara itu. Tapi tidak ada satupun


dari mereka yang berani masuk kedalam. Mereka hanya bisa memandang satu sama


lainnya.


Raja sudah tidak bisa


berbicara banyak, lelaki itu terdiam mengacuhkan umpatan yang putra mahkota


ucapkan. Dia memilih untuk menyimpan energinya untuk hal yang lebih


menguntungkan.


“ aku pastikan besok kau


meminum ramuan itu” ancam Sea, lelaki itu kemudian pergi dengan langkah lebar.


Brak, suara pintu yang di


banting dengan keras. Sea berjalan keluar dengan raut wajah penuh kemarahan.


Semua yang menyaksikan tidak berani sekedar menaikkan wajah. Kemarahan putra


mahkota sangatlah kejam, sudah beberapa pelayan yang menjadi korban kesadisan


amarah Sea.


Beberapa diantaranya di


ikat berhari-hari di tengah lapang, di berikan besi panas, dicampuk, di seret


dan kebanyakan dari mereka tidak bisa bertahan sampai hukuman itu selesai.


Keadaan istana sudah


benar-benar kacau. Untung saja sebelum semua kengerian ini terjadi, Grace dan


Mily sudah berhasil melarikan diri dari istana. Mereka berdua bersembunyi


didalam kediaman Wellington yang sudah ditutup. Hanya beberapa pelayan saja


yang bertugas kebersihan disana.


tempat yang aman untuk bersembunyi. Mereka bisa menggunakan fasilitas tanpa


perlu khawatir, pelayan juga setuju menutupi kehadiran mereka. kini mereka


hanya bisa menunggu sampai keadaan membaik.


“ nona, malam ini


sepertinya kami baru akan mengirimkan bahan makanan. Stok di dalam sudah


menipis” ucap pelayan kepada Grace yang saat ini sedang duduk sambil mengelus


perutnya yang membesar.


“ bagaimana pendapatmu


Mily?” tanya Grace, kini posisi Mily sudah seperti kepala kediaman. Dia yang


mengurusi semuanya dengan penuh hati-hati. Jangan sampai ada yang menyadari


bahwa didalam kediaman ini ada penghuninya.


“ lebih baik kalian tunda


dulu sampai besok malam. Perbekalan masih cukup. Kalian jangan ada yang kemari


besok dan malamnya baru mengirim barang saat menjelang fajar. Mengerti?” Mily


memberikan arahan, dia melihat beberapa kali seseorang mengawasi kediaman lebih


inters. Mereka sampai menggunakan 2 lilin saja saat untuk menerangi ruangan.


Meski letaknya jauh dari ruangan depan, mereka tetap siaga dan berhati-hati.


“baiklah jika seperti


itu” 2 orang pelayan itu segera bergegas pergi. Waktu sudah menjelang malam.


Tidak lupa mereka mengunci pintu masuk. Dari luar tempat ini tampak tidak


berpenghuni, hanya bagian teras dan gerbang saja yang menggunakan penerangan.


Sebagai bentuk bahwa kediaman masih dimiliki seseorang.


Setelah para pelayan itu


pergi, Mily mulai mengecek keadaan, wanita itu mematikan lampu dan menutup


beberapa jalan masuk. Semua merupakan rutinitas kesehariannya. Disana ada


wanita hamil tua yang harus dijaga. Mereka juga mencemaskan hal ini, bagaimana


mereka menutupi kelahiran Grace nanti. Tidak mungkin mereka memanggil dokter ke


dalam kediaman. Satu-satunya cara adalah mereka dengan mandiri membantu


persalinan nona Grace.


Kebersamaan mereka selama


ini membuat Mily mulai merubah pandangannya kepada Grace, dia juga merasa


kasihan dengan nasib wanita ini. Sebenarnya Grace adalah wanita polos dan


pintar, hanya saja keserakahannya dan tidak mau menerima kenyataanlah yang


mengubahnya menjadi wanita ini menjadi iri tidak memiliki perasaan. Kini


setelah mulai sadar dan mengerti alasan dibaliknya, Mily malah menjaga wanita


itu dengan sepenuh hati.


“ semuanya sudah aman,


kita bisa mulai makan malam dan segera tidur” ucap Mily setelah lelah


berkeliling.


“ bisa kau bantu aku”


Grace mengulurkan tanganya, dia berusaha turun dari sofa. Perutnya yang semakin


besar membuat gerak geriknya terbatasi.


“ mari sini aku bantu”


Mily meraih tangan Grace dan dengan pelan membantu wanita itu mendekati meja


makan. Sejak dalam pelarian mereka hanya ada satu menu saja yang bisa mereka


makan dalam sehari. Itupun mereka sudah sangat beruntung, terkadang mereka


hanya mengosumsi buah-buahan selama beberapa hari. mereka tidak bisa mengeluh,


hanya ini yang bisa membuat mereka aman.


“ terimakasih” Grace dan


Mily mulai menyantap menu sederhana itu dengan lahab. Terkadang Mily sengaja


memberkan porsi lebih untuk Grace, bagaimanapun wanita itu tidak makan untuk


dirinya sendiri. Masih ada bayi yang juga memerlukan asupan makanan. Mereka


bahkan belum pernah memeriksa bagaimana kondisi bayi dalam perut Grace, dan


kapan dia akan lahir. Mereka selalu bersembunyi sehingga tidak bisa leluasa


melakukan aktfitas.


“ ku harap keadaan akan


membaik dalam waktu dekat” mereka selalu mengucapkan harapan setelah selesai


makan, seakan mengingatkan mereka untuk selalu bersyukur mau bagaimanapun


keadaanya.


“ ku harap Duke dan


Duchess dalam keadaan baik-baik saja dan bisa segera kembali ke ibukota” Grace


mengucapkan harapannya. Hanya Duke dan Duchess yang bisa melindungina dan


bayinya. Meski mereka tidak tau pasti bagaimana keadaan kedua orang itu, mereka


tetap yakin dan selalu berdoa untuk keselamatan pasangan itu.