
Bavaria
Istana Bavaria dijaga
dengan ketat, tampak banyak sekali pasukan berjaga di sepanjang jalan kota.
Pihak kerajaan dengan di pimpim putra mahkota Sea, melakukan pengamanan kota.
Raja sedang sakit dan perbatasan dalam keadaan labil. Alasan yang sangat masuk
akal demi mensterilkan istana dari para anggota kerajaan lainnya.
Masyarakat di dalam
ibukota tampak cemas dan ketakutan, jam malam sudah di berlakukan. Putra
mahkota Sea terlihat benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang.
Banyak dari mereka yang
tidak mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya di dalam istana. Kabar
sakitnya raja langsung mereka telan mentah-mentah. Memang benar belakangan Raja
mengeluhkan sakit, kematian Duke Wellington, hilangnya Duchess serta kasus
kehamilan Grace semuanya tidak bisa di anggap remeh. Raja sudah memiliki
firasat buruk pada putra mahkota. Satu-satunya yang Raja tunggu adalah
kehadiran pangeran Aric. Demi mentabilkan keadaan, Raja sudah mengirim Hardwin
untuk bisa memastikan keselamatan anaknya. Raja memang sudah sedari awal
memberikan pilihan sulit itu, keselamatan Aric akan di tukar dengan keselamatan
Hardwin juga.
Raja tidak mau mengambil
resiko, dari semua lingkaran kerajaan tidak ada yang bisa dia percaya dan
andalkan. Kini keadaan malah semakin buruk dan kehadiran pangeran masih belum
raja ketahui.
“ayah, makanlah ini” Sea
tengah duduk di samping ranjang Raja, di tangannya terdapat mangkuk ramuan yang
entah apa isinya. Raja sudah dari awal tidak mau memakan satu tegukpun. Lelaki
terus saja menggeleng menolak pemberian putra mahkota.
“ ini akan membuatmu
lebih baik ayah” Sea sudah melupakan kesopananya. Dia memanggil raja tanpa
penyebutan gelar. Tubuh Raja yang lemah membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
Bahkan pengawal pribadinya juga tidak bisa berbuat banyak. Sea pasti akan
memberikannya hukuman asal jika pengawal itu berniat melarang perbuatanya.
“aaa, ayah” Sea masih
terus menyuapi ayahnya dengan ramuan. Raja terus saja menggeleng. Dia masih
ingat betul terakhir dia menelan ramuan itu tubuhnya malah semakin lemas tidak
bertenaga. Ramuan itu jelas memiliki kandungan yang buruk pada tubuhnya.
Plang,, suara mangkuk
terjatuh. Raja menolak keras dan dengan tenaga yang lemah itu dia menghempaskan
tangan Sea sehingga mangkuk beserta sendok itu jatuh ke lantai.
“ siall!!” cerca Sea,
lelaki itu dengan wajah marahnya menatap melotot kearah ayahnya.
“ dasar tidak tau
diuntung!” lanjut Sea, lelaki itu menendang mangkuk ramuan sehingga membentur
dinding. Suara pecahan terdengar lebih nyaring. Pelayan serta pengawal yang
berada di luar kamar dengan jelas mendengar suara itu. Tapi tidak ada satupun
dari mereka yang berani masuk kedalam. Mereka hanya bisa memandang satu sama
lainnya.
Raja sudah tidak bisa
berbicara banyak, lelaki itu terdiam mengacuhkan umpatan yang putra mahkota
ucapkan. Dia memilih untuk menyimpan energinya untuk hal yang lebih
menguntungkan.
“ aku pastikan besok kau
meminum ramuan itu” ancam Sea, lelaki itu kemudian pergi dengan langkah lebar.
Brak, suara pintu yang di
banting dengan keras. Sea berjalan keluar dengan raut wajah penuh kemarahan.
Semua yang menyaksikan tidak berani sekedar menaikkan wajah. Kemarahan putra
mahkota sangatlah kejam, sudah beberapa pelayan yang menjadi korban kesadisan
amarah Sea.
Beberapa diantaranya di
ikat berhari-hari di tengah lapang, di berikan besi panas, dicampuk, di seret
dan kebanyakan dari mereka tidak bisa bertahan sampai hukuman itu selesai.
Keadaan istana sudah
benar-benar kacau. Untung saja sebelum semua kengerian ini terjadi, Grace dan
Mily sudah berhasil melarikan diri dari istana. Mereka berdua bersembunyi
didalam kediaman Wellington yang sudah ditutup. Hanya beberapa pelayan saja
yang bertugas kebersihan disana.
tempat yang aman untuk bersembunyi. Mereka bisa menggunakan fasilitas tanpa
perlu khawatir, pelayan juga setuju menutupi kehadiran mereka. kini mereka
hanya bisa menunggu sampai keadaan membaik.
“ nona, malam ini
sepertinya kami baru akan mengirimkan bahan makanan. Stok di dalam sudah
menipis” ucap pelayan kepada Grace yang saat ini sedang duduk sambil mengelus
perutnya yang membesar.
“ bagaimana pendapatmu
Mily?” tanya Grace, kini posisi Mily sudah seperti kepala kediaman. Dia yang
mengurusi semuanya dengan penuh hati-hati. Jangan sampai ada yang menyadari
bahwa didalam kediaman ini ada penghuninya.
“ lebih baik kalian tunda
dulu sampai besok malam. Perbekalan masih cukup. Kalian jangan ada yang kemari
besok dan malamnya baru mengirim barang saat menjelang fajar. Mengerti?” Mily
memberikan arahan, dia melihat beberapa kali seseorang mengawasi kediaman lebih
inters. Mereka sampai menggunakan 2 lilin saja saat untuk menerangi ruangan.
Meski letaknya jauh dari ruangan depan, mereka tetap siaga dan berhati-hati.
“baiklah jika seperti
itu” 2 orang pelayan itu segera bergegas pergi. Waktu sudah menjelang malam.
Tidak lupa mereka mengunci pintu masuk. Dari luar tempat ini tampak tidak
berpenghuni, hanya bagian teras dan gerbang saja yang menggunakan penerangan.
Sebagai bentuk bahwa kediaman masih dimiliki seseorang.
Setelah para pelayan itu
pergi, Mily mulai mengecek keadaan, wanita itu mematikan lampu dan menutup
beberapa jalan masuk. Semua merupakan rutinitas kesehariannya. Disana ada
wanita hamil tua yang harus dijaga. Mereka juga mencemaskan hal ini, bagaimana
mereka menutupi kelahiran Grace nanti. Tidak mungkin mereka memanggil dokter ke
dalam kediaman. Satu-satunya cara adalah mereka dengan mandiri membantu
persalinan nona Grace.
Kebersamaan mereka selama
ini membuat Mily mulai merubah pandangannya kepada Grace, dia juga merasa
kasihan dengan nasib wanita ini. Sebenarnya Grace adalah wanita polos dan
pintar, hanya saja keserakahannya dan tidak mau menerima kenyataanlah yang
mengubahnya menjadi wanita ini menjadi iri tidak memiliki perasaan. Kini
setelah mulai sadar dan mengerti alasan dibaliknya, Mily malah menjaga wanita
itu dengan sepenuh hati.
“ semuanya sudah aman,
kita bisa mulai makan malam dan segera tidur” ucap Mily setelah lelah
berkeliling.
“ bisa kau bantu aku”
Grace mengulurkan tanganya, dia berusaha turun dari sofa. Perutnya yang semakin
besar membuat gerak geriknya terbatasi.
“ mari sini aku bantu”
Mily meraih tangan Grace dan dengan pelan membantu wanita itu mendekati meja
makan. Sejak dalam pelarian mereka hanya ada satu menu saja yang bisa mereka
makan dalam sehari. Itupun mereka sudah sangat beruntung, terkadang mereka
hanya mengosumsi buah-buahan selama beberapa hari. mereka tidak bisa mengeluh,
hanya ini yang bisa membuat mereka aman.
“ terimakasih” Grace dan
Mily mulai menyantap menu sederhana itu dengan lahab. Terkadang Mily sengaja
memberkan porsi lebih untuk Grace, bagaimanapun wanita itu tidak makan untuk
dirinya sendiri. Masih ada bayi yang juga memerlukan asupan makanan. Mereka
bahkan belum pernah memeriksa bagaimana kondisi bayi dalam perut Grace, dan
kapan dia akan lahir. Mereka selalu bersembunyi sehingga tidak bisa leluasa
melakukan aktfitas.
“ ku harap keadaan akan
membaik dalam waktu dekat” mereka selalu mengucapkan harapan setelah selesai
makan, seakan mengingatkan mereka untuk selalu bersyukur mau bagaimanapun
keadaanya.
“ ku harap Duke dan
Duchess dalam keadaan baik-baik saja dan bisa segera kembali ke ibukota” Grace
mengucapkan harapannya. Hanya Duke dan Duchess yang bisa melindungina dan
bayinya. Meski mereka tidak tau pasti bagaimana keadaan kedua orang itu, mereka
tetap yakin dan selalu berdoa untuk keselamatan pasangan itu.