The New Duchess

The New Duchess
Bab 100 : Pergi



“ benar, pasukan Duke


memang hanya berada di kota. Tapi mereka menjaga di bagian terluar, langsung


menghadap musuh. Hanya sesekali kami berganti jaga untuk memastikan keadaan


baik-baik saja” Edward terlihat sayu, dirinya begitu simpati dengan bagaimana


setianya pasukan milik Duke itu.


“ sejauh yang kau tau


bagaimana kondisi mereka saat ini?” tanya Ai


“ mereka tidak terlalu


sibuk, beberapa memang menyusun strategi dan yang lain hanya meneruskan latihan


sembari berjaga. Perbatasan seakan sedang genjatan senjata, musuh tidak pernah


mengatakan untuk berhenti” Edward terus menjelaskan, mereka berjalan menelusuri


jalan sambil melihat-lihat sekitar. Tanpa mereka sadari seorang lelaki kini


tengah menyusul mereka.


“ Ai!” teriak Hardwin


begitu melihat wanita yang dia cari sedari tadi.


“ hey, kau disini?” Ai


tidak bisa menebak bagaimana bisa dia dan Hardwin bisa bertemu di jalan setapak


ini. Sejak mendengar teriakan Hardwin, Edward sudah kesal. Lelaki yang ada di


hadapannya benar-benar tidak tau etika.


“ aku hanya berkeliling,


oh ya, kita sepertinya perlu bicara” bisik Hardwin di akhir kalimatnya. Dia


sudah merasakan aura ketidaksukaan dari Edward jadi mencoba merahasiakan


ucapannya.


“ kemungkinan kita bisa


bertemu besok lusa” jawab Ai, dia masih memiliki janji pertemuan dengan Edward


besok dan itu adalah rahasia. Entah kenapa Ai merasa sedikit gugup bertemu


dengan Hardwin sekarang.


“ kau yakin? Rasanya kau


seakan sedang merahasiakan sesuatu “ Hardwin menangkap ada sesuatu yang berbeda


dengan Ai.


“ tuan Hardwin sepertinya


besok, anda dan pasukan sudah bisa menempati Camp yang sudah di atur oleh kami.


Kemungkinan besok anda juga akan sibuk” Edward langsung memotong percakapan


mereka. lelaki itu tidak mau Duchess bergaul dengan lelaki yang tak sopan itu.


Takutnya nanti akan memberikan pengaruh yang buruk.


“ begitu?” Harwdin mulai


tidak bisa menahan kekesalannya, Edward hanya orang baru, kenapa dia seakan


ikut campur dengan urusannya. Namun saat ini situasinya memang menguntungkan


bagi Edward, Hardwin akan mencoba bersabar sedikit lagi.


“ ya tuan” jawab Edward


datar, kalau bukan di depan Duchess mana mau Edward berlagak sopan pada


Hardwin.


“ lebih baik kita


meneruskan perjalanan, masih banyak tempat yang ingin aku lihat. Kau bisa


bergabung jika kau mau Hardwin” Ai segera menengahi, dia tidak mau ada perang


mulut disini.


“ aku kembali saja” jawab


Hardwin kesal, dia tidak mau berlama-lama memandang wajah Edward.


“ pilihan yang bagus”


ucap Edward lirih, namun dapat di dengar baik oleh Ai dan Hardwin. Dan itu


membuat Harwdin tanpa menunggu lama langsung berlalu tanpa mengucapkan apapun.


Sepeninggalnya Hardwin,


Ai dan Edward melanjutkan langkahnya.


“aku tau kau tidak suka


dengan Hardwin, tapi dia adalah teman masa kecilku. Dia sudah terbiasa


memanggil namaku” Ai bukannya tidak menangkap gelagat ketidak sukaan Edward,


hanya saja dia tidak mengira akan semakin parah seperti ini. Sejak awal memang


Ai tidak mau mengurusi masalah sepele perselisihan mereka, namun jika di


teruskan takutnya Hardwin akan semakin nekat dan tidak mau meninggalkan


dirinya.


“ tetap saja, kawasan


militer tegas akan etika sopan santun. Kami tidak bisa menyepelekan sedikit


saja kelancangan, kami tidak terbiasa” Edward memang seorang wakil ketua


dalam militer sejak kecil dan untuk pengalaman lapangan sangat berbeda dengan


Hardwin. Jelas saja pemahamannya tentang seluk beluk kemiliteran sudah mendarah


daging di tubuhnya.


“ ya kau ada benarnya” Ai


tidak ingin berselisih paham akhirnya memilih diam.


Mereka berdua masih terus


berkeliling sambil beberapa kali Ai melempar pertanyaan. Hingga malam semakin


larut akhirnya Ai kembali ke ruangannya dan berstirahat.


Keesokan paginya sesuai


dengan perkataan Edward, Hardwin beserta pasukanya sudah di pindahkan di bagian


utara kota. Jarak ini cukup jauh dari gerbang masuk kota, dan jelas lebih jauh


dari tempat Ai berada. Darisini saja Hardwin sudah mengira bahwa Edward pasti


sengaja membuatnya jauh dari Ai. meski begitu dia juga tidak bisa melakukan


apapun. Hardwin semakin hari seakan lupa dengan tugas utamanya, dirinya malah


semakin mengkhawatirkan Ai, wanita itu tampak bersama dengan Edward terus dan


melupakan dirinya.


Siang ini setelah


menyelesaikan urusan militer, Hardwiin berniat untuk menemui Ai, dia berjalan


menuju kantor Edward. Semalam dia lupa menanyakan kepada Ai sebenarnya dimana


dia tinggal. Jadinya terpaksa harus menemui Edward.


Belum juga sampai, di


tengah perjalannanya Hardwin menangkap sesosok yang begitu mirip dengan Ai.


seseorang itu membelakanginya membuat Hardwin tidak bisa langsung mengenalinya.


Seseorang itu berjalan menuju gerbang kota. Jelas sekali seseorang itu berjalan


di depannya bersama dengan lelaki dan itu seperti Edward.


Perasaan Hardwin semakin


tak menentu ketika kedua orang itu keluar dari gerbang, Hardwin berniat


menyusul tapi dengan mudahnya dia di tahan oleh penjaga. Dia bukan orang yang


memiliki otoritas disini. Dari tempat dia berdiri Hardwin bisa melihat jika kedua


orang itu memasuki kereta kuda.


Saat menaiki kereta


itulah Hardwin baru bisa mengenali keduanya. Dan semua dugaanya adalah benar.


Ai dan Edward memang sedang merahasiakan sesuatu darinya, mereka berdua entah sedang


berniat pergi kemana. Hardwin tidak bisa mengejar hanya bisa kembali ke Camp


dengan perasaan kecewa.


Dan memang benar saat ini


Ai dan Edward sedang dalam perjalanan menuju ke tempat seseorang itu. Keduanya langsung


bergegas begitu menerima balasan pesan yang berisi memperbolehkan Duchess


kesana. Ai tidak mau menunda waktu lagi, hari masih begitu terik saat mereka


meninggalkan kota.


“ seberapa jauh


perjalananya?” tanya Ai saat berada di dalam kereta. hanya ada mereka dan


seorang kusir. Itupun kusir yang di sediakan khusus, kawasan yang akan mereka


kunjungi begitu rahasia dan ketat. Hanya orang tertentu saja yang mengetahui


kawasan ini.


“ setidaknya setengah hari


tuan” jawab Edward, lelaki itu terlalu gugup bisa satu kereta dengan Ai. dia


tidak terbiasa menaiki kendaraan ini dengan seorang wanita, namun tidak mungkin


juga ada 2 kereta.


“ apa mungkin seseorang


ini tau dimana suamiku berada?” Ai mulai berharap lebih, selayaknya manusia


yang keinginannya terpenuhi, dia akan meminta lebih banyak lagi.


“ coba anda tanyakan


nanti” Edward tidak ingin mendahului, kemungkinan itu bisa ada dan bisa tidak


ada.


“ kau cari aman” Ai


menarik sudut bibirnya, beberapa hari berinterkasi dengan Edward Ai mulai


memahami jika lelaki ini begitu tegas dan taat peraturan. Cerminan seorang


militer militan. Semua ucapan dan tindakannya di fikirkan dengan matang. Hal ini


seakan mengingatkannya dengan perangai Axton di awal pernikahan mereka. begitu


kaku dan tidak mudah terpengaruh. Semuanya tertata rapi, tidak mudah


menggoyahkan seorang Axton saat itu.