
“ benar, pasukan Duke
memang hanya berada di kota. Tapi mereka menjaga di bagian terluar, langsung
menghadap musuh. Hanya sesekali kami berganti jaga untuk memastikan keadaan
baik-baik saja” Edward terlihat sayu, dirinya begitu simpati dengan bagaimana
setianya pasukan milik Duke itu.
“ sejauh yang kau tau
bagaimana kondisi mereka saat ini?” tanya Ai
“ mereka tidak terlalu
sibuk, beberapa memang menyusun strategi dan yang lain hanya meneruskan latihan
sembari berjaga. Perbatasan seakan sedang genjatan senjata, musuh tidak pernah
mengatakan untuk berhenti” Edward terus menjelaskan, mereka berjalan menelusuri
jalan sambil melihat-lihat sekitar. Tanpa mereka sadari seorang lelaki kini
tengah menyusul mereka.
“ Ai!” teriak Hardwin
begitu melihat wanita yang dia cari sedari tadi.
“ hey, kau disini?” Ai
tidak bisa menebak bagaimana bisa dia dan Hardwin bisa bertemu di jalan setapak
ini. Sejak mendengar teriakan Hardwin, Edward sudah kesal. Lelaki yang ada di
hadapannya benar-benar tidak tau etika.
“ aku hanya berkeliling,
oh ya, kita sepertinya perlu bicara” bisik Hardwin di akhir kalimatnya. Dia
sudah merasakan aura ketidaksukaan dari Edward jadi mencoba merahasiakan
ucapannya.
“ kemungkinan kita bisa
bertemu besok lusa” jawab Ai, dia masih memiliki janji pertemuan dengan Edward
besok dan itu adalah rahasia. Entah kenapa Ai merasa sedikit gugup bertemu
dengan Hardwin sekarang.
“ kau yakin? Rasanya kau
seakan sedang merahasiakan sesuatu “ Hardwin menangkap ada sesuatu yang berbeda
dengan Ai.
“ tuan Hardwin sepertinya
besok, anda dan pasukan sudah bisa menempati Camp yang sudah di atur oleh kami.
Kemungkinan besok anda juga akan sibuk” Edward langsung memotong percakapan
mereka. lelaki itu tidak mau Duchess bergaul dengan lelaki yang tak sopan itu.
Takutnya nanti akan memberikan pengaruh yang buruk.
“ begitu?” Harwdin mulai
tidak bisa menahan kekesalannya, Edward hanya orang baru, kenapa dia seakan
ikut campur dengan urusannya. Namun saat ini situasinya memang menguntungkan
bagi Edward, Hardwin akan mencoba bersabar sedikit lagi.
“ ya tuan” jawab Edward
datar, kalau bukan di depan Duchess mana mau Edward berlagak sopan pada
Hardwin.
“ lebih baik kita
meneruskan perjalanan, masih banyak tempat yang ingin aku lihat. Kau bisa
bergabung jika kau mau Hardwin” Ai segera menengahi, dia tidak mau ada perang
mulut disini.
“ aku kembali saja” jawab
Hardwin kesal, dia tidak mau berlama-lama memandang wajah Edward.
“ pilihan yang bagus”
ucap Edward lirih, namun dapat di dengar baik oleh Ai dan Hardwin. Dan itu
membuat Harwdin tanpa menunggu lama langsung berlalu tanpa mengucapkan apapun.
Sepeninggalnya Hardwin,
Ai dan Edward melanjutkan langkahnya.
“aku tau kau tidak suka
dengan Hardwin, tapi dia adalah teman masa kecilku. Dia sudah terbiasa
memanggil namaku” Ai bukannya tidak menangkap gelagat ketidak sukaan Edward,
hanya saja dia tidak mengira akan semakin parah seperti ini. Sejak awal memang
Ai tidak mau mengurusi masalah sepele perselisihan mereka, namun jika di
teruskan takutnya Hardwin akan semakin nekat dan tidak mau meninggalkan
dirinya.
“ tetap saja, kawasan
militer tegas akan etika sopan santun. Kami tidak bisa menyepelekan sedikit
saja kelancangan, kami tidak terbiasa” Edward memang seorang wakil ketua
dalam militer sejak kecil dan untuk pengalaman lapangan sangat berbeda dengan
Hardwin. Jelas saja pemahamannya tentang seluk beluk kemiliteran sudah mendarah
daging di tubuhnya.
“ ya kau ada benarnya” Ai
tidak ingin berselisih paham akhirnya memilih diam.
Mereka berdua masih terus
berkeliling sambil beberapa kali Ai melempar pertanyaan. Hingga malam semakin
larut akhirnya Ai kembali ke ruangannya dan berstirahat.
Keesokan paginya sesuai
dengan perkataan Edward, Hardwin beserta pasukanya sudah di pindahkan di bagian
utara kota. Jarak ini cukup jauh dari gerbang masuk kota, dan jelas lebih jauh
dari tempat Ai berada. Darisini saja Hardwin sudah mengira bahwa Edward pasti
sengaja membuatnya jauh dari Ai. meski begitu dia juga tidak bisa melakukan
apapun. Hardwin semakin hari seakan lupa dengan tugas utamanya, dirinya malah
semakin mengkhawatirkan Ai, wanita itu tampak bersama dengan Edward terus dan
melupakan dirinya.
Siang ini setelah
menyelesaikan urusan militer, Hardwiin berniat untuk menemui Ai, dia berjalan
menuju kantor Edward. Semalam dia lupa menanyakan kepada Ai sebenarnya dimana
dia tinggal. Jadinya terpaksa harus menemui Edward.
Belum juga sampai, di
tengah perjalannanya Hardwin menangkap sesosok yang begitu mirip dengan Ai.
seseorang itu membelakanginya membuat Hardwin tidak bisa langsung mengenalinya.
Seseorang itu berjalan menuju gerbang kota. Jelas sekali seseorang itu berjalan
di depannya bersama dengan lelaki dan itu seperti Edward.
Perasaan Hardwin semakin
tak menentu ketika kedua orang itu keluar dari gerbang, Hardwin berniat
menyusul tapi dengan mudahnya dia di tahan oleh penjaga. Dia bukan orang yang
memiliki otoritas disini. Dari tempat dia berdiri Hardwin bisa melihat jika kedua
orang itu memasuki kereta kuda.
Saat menaiki kereta
itulah Hardwin baru bisa mengenali keduanya. Dan semua dugaanya adalah benar.
Ai dan Edward memang sedang merahasiakan sesuatu darinya, mereka berdua entah sedang
berniat pergi kemana. Hardwin tidak bisa mengejar hanya bisa kembali ke Camp
dengan perasaan kecewa.
Dan memang benar saat ini
Ai dan Edward sedang dalam perjalanan menuju ke tempat seseorang itu. Keduanya langsung
bergegas begitu menerima balasan pesan yang berisi memperbolehkan Duchess
kesana. Ai tidak mau menunda waktu lagi, hari masih begitu terik saat mereka
meninggalkan kota.
“ seberapa jauh
perjalananya?” tanya Ai saat berada di dalam kereta. hanya ada mereka dan
seorang kusir. Itupun kusir yang di sediakan khusus, kawasan yang akan mereka
kunjungi begitu rahasia dan ketat. Hanya orang tertentu saja yang mengetahui
kawasan ini.
“ setidaknya setengah hari
tuan” jawab Edward, lelaki itu terlalu gugup bisa satu kereta dengan Ai. dia
tidak terbiasa menaiki kendaraan ini dengan seorang wanita, namun tidak mungkin
juga ada 2 kereta.
“ apa mungkin seseorang
ini tau dimana suamiku berada?” Ai mulai berharap lebih, selayaknya manusia
yang keinginannya terpenuhi, dia akan meminta lebih banyak lagi.
“ coba anda tanyakan
nanti” Edward tidak ingin mendahului, kemungkinan itu bisa ada dan bisa tidak
ada.
“ kau cari aman” Ai
menarik sudut bibirnya, beberapa hari berinterkasi dengan Edward Ai mulai
memahami jika lelaki ini begitu tegas dan taat peraturan. Cerminan seorang
militer militan. Semua ucapan dan tindakannya di fikirkan dengan matang. Hal ini
seakan mengingatkannya dengan perangai Axton di awal pernikahan mereka. begitu
kaku dan tidak mudah terpengaruh. Semuanya tertata rapi, tidak mudah
menggoyahkan seorang Axton saat itu.