The New Duchess

The New Duchess
Bab 108 : Kau bukan Hardwin



Allard dan Dalbert yang


masih menunggu di teras, dengan kebingungan melihat Ai keluar  dengan raut wajah menahan marah. Mereka


menyangka jika kemarahan itu untuk mereka.


“ Ai, jangan marah. Ayah


melakukan ini hanya demi kebaikanmu” Dalbert segera berdiri dan mendekati Ai.


dia akan menjadi penengah, mau bagaimanapun dia juga yang secara tidak langsung


membuat keributan ini.


Ai melihat wajah paman Al


nampak begitu sedih, dirinya jelas yang menjadi alasan kesedihan itu. Bukan


maksud Ai marah kepadanya, Ai hanya merasa kesal. Di tambah lagi dengan


kebenaran yang baru saja dia dengar. Mereka sedang salah paham.


“ maafkan Ai, paman” Ai


mendekat dan memeluk pelan pamannya. Lelaki itu menerima pelukan itu dengan


sangat senang.


“ paman tidak berniat


untuk membuatmu sedih, maafkan paman juga ya” Allard mengelus punggung Ai, dia


tidak mau bertengkar dengan keponakannya ini.


Setelah emosi mereka


mereda, Ai kembali pada niatan awalnya.


“ Ai mau mengambil


beberapa barang di perbatasan. Apakah bisa?” selama ini dia hanya bisa masuk


dengan bantuan Edward, mungkin saja saat kelaur juga harus melewati prosedur.


“ aku bisa mengantarmu”


jawab Dalbert. Sesuai dengan keinginan Ai. wanita itu memang hanya bisa


mengandalkan kakaknya saat ini.


“ iya, kau bisa pergi


dengan Dalbert, kau sudah meminta izin pada Duke?” Allard menghawatirkan


keselamatan Ai, situasi perbatasan saat ini sedang tidak menentu.


“ sudah, tenang saja”


jawab Ai riang, dia menutupi rasa gugupnya. Karena sebenarnya Axton tidak


mengetahui persoalan ini, meskipun jika menyadari Ai pergi dia juga tidak akan


tau alasan pastinya.


“ ayo” ajak Ai.


“ sekarang?” Dalbert


tidak berfikir jika itu sekarang juga.


“ iya,, ayo” Ai segera


menarik tangan kakaknya meninggalkan pondok. hari juga masih pagi, jadi mereka


bisa tenang dalam perjalanan.


Matahari mulai condong kearah


barat saat mereka sampai di gerbang dalam kota Tordor. Ai tidak mengatakan


apapun pada Dalbert. Dia bahkan menyuruh lelaki itu untuk menemui Edward,


karena tidak mungkin mengajaknya bertikai dengan Hardwin.


Kebetulan begitu masuk ke


kota mereka langsung bertemu dengan Edward yang terlihat baru akan meninggalkan


kota.


“ kalian disini?” tanya


Edward. Dia nampak kebingungan dengan kehadiran orang pondok.


“ aku akan menemui


Hardwin, kalian mengobrolah dulu” Ai bergegas memisahkan diri.


“ apa anda juga akan


mengatarnya saat meninggalkan kota?” teriak Edward. Seketika langkah Ai


terhenti. Kelimat itu membuat Ai berfikir buruk.


“ kau bilang apa?” tanya


Ai kemudian mendekati Edward.


“ Hardwin akan


meninggalkan kota hari ini, bukankah anda berencana memberikan salam


perpisahan?” tanya polos Edward, dia sedikit heran dengan pertanyaan yang Ai


ajukan.


“ kau yang mengusirnya?”


Ai berfikir jika Edward masih menginginkan Hardwin untuk meninggalkan kota.


“ tidak, dia sendiri yang


bergegas pergi. Saya bahkan menawarinya untuk bertemu dengan ayahnya, tapi dia


tidak mau” jawab Edward tanpa menutupi, dia baru mengetahui jika lelaki itu


adalah anak tuan Aidyn, Edward  berniat


berdamai dengan Hardwin. Namum malah Hardwin yang seakan membencinya.


Ai jelas mengerti alasan


dibalik keinginan Hardwin untuk pergi. Lelaki itu jelas menolak membantu


suaminya. Dia ingin menghindar dari semuanya. Ai akan menghadangnya dan membuat


perhitungan. Selama ini ia masih percaya dengan Hardwin meski dirinya penah


dikhianati dulu, tapi siapa yang menyangka jika selama ini lelaki itu sedang


mengkhianatinya. Menutupi semua kabar yang dia cari setengah mati.


Wanita itu dengan langkah


cepat segera menuju tempat Camp Hardwin, dia dengan ditemani seorang prajurit


yang mendampinginya langsung memisahkan diri. Penuh dengan emosi Ai terus


lambat bagi Ai.


“ cepat, dimana?” Ai berteriak


marah. Prajurit itu masih mengatur nafasnya, begitu sampai di kawasan Camp.


“ di. Disana, tenda


berwana gelap itu” jawab prajurit itu dengan sedikit tersengal-sengal.   Ai


lansung mengikuti arah yang prajurit itu maksudkan. Kini dia tidak perlu


menunggu prajurit lagi, dengan langkah tegas Ai menuju tenda itu sendirian.


Di bukanya pintu tenda


dengan sedikit keras, membuat suara kain yang seakan sobek.


“ keluar” suruh Ai kepada


anak buah Hardwin yang sedang berberes didalam tenda. Tanpa banyak tanya mereka


langsung saja meninggalkan tempat.


Disana Hardwin sedang


berberes dengan posisi memunggungi Ai. lelaki itu tidak terlihat kaget dengan


kehadiran Ai disana. Dengan santainya masih memasukkan barang-barang kedalam


tas.


“ kita perlu bicara” Ai


masih mencoba dengan cara yang baik. Bagaimanapun dia harus bisa membuat


Hardwin mau memberikan darahnya untuk Axton.


Hardwin seakan tidak


mendengar apapun, lelaki itu tidak terganggu masih saja memilah-milah barang.


Ai yang melihatnyapun semakin kesal, dengan kasar dia merebut barang yang ada


di tangan Hardwin.


“ Hardwin” Ai menyebut


nama lelaki itu dengan tegas, dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menahan


emosinya. Jangan  sampai dia meledak, dan


membuat hubungan mereka menjadi renggang.


Akhirnya lelaki itu


menghentikan kegiatannya, dia tidak bisa mengacuhkan Ai terus. Dia menatap Ai


dengan pandangan datar, seakan dia tau apa yang membuat wanita itu datang


menemuinya.


“ teganya kau berbohong


padaku selama ini?” sorot mata Ai begitu mengisyaratkan jika hatinya terluka,


tatapan nanar bercampur dengan benci. Lelaki itu mengambil nafas dalam lalu berbalik


badan menatap wanita itu.


“ lalu kenapa?” seakan


menantang balik lawan bicaranya, lelaki itu sama-sekali tidak menampilkan rasa


bersalah.


“ kau, brengsek!” Ai


melemparkan barang tadi tepat kearah Hardwin, dengan keras menubruk dada lelaki


itu. Namun sama sekali tidak berefek, Hardwin dengan tatapan datarnya berdiri


dengan angkuh.


“ heh, brengsek? Bukankah


aku sudah mengutarakan cintaku padamu?, lalu kau berfikir aku akan membantumu


bersatu kembali dengannya?, kau terlalu naif Ai” Hardwin seakan tidak mau


kalah, dia malah terlihat lebih emosional daripada Ai dengan seringai mencemooh


membalas perkataan Ai.


“ kau jahat, kau


Brengsek. Selama ini aku begitu mempercayaimu, berfikir kau adalah teman


terbaikku. Tapi apa?  Kau mengecewakanku.


Kau menyembunyikan kabar Axton , bahkan kau berniat pergi karena tidak mau


menolongnya,..”


“ benar, aku memang


brengsek. Aku memang berniat pergi karena Axton. lalu kenapa? Kenapa aku tidak


bisa melakukannya, hah? Kau saja bisa mengacuhkan perasaanku, kenapa aku tidak


bisa mengacuhkan Axton?” seakan tersambar petir, Ai tercengang dengan ucapan


Hardwin. Bagaimana bisa dengan entengnya dia mengatakan hal itu pada Ai. mereka


teman masa kecil tapi kini terasa seakan orang asing. Dengan berurai air mata


Ai melangka mundur, dia teramat kecewa dengan perkataan Hardwin.


“ kau bukan Hardwin yang


ku kenal, kau berubah” ucap Ai lemah, dirinya terlalu kecewa sampai meragukan


bahwa lelaki itu adalah temannya.


“ tidak, aku tidak


berubah. Kaulah yang berubah. Kau tidak seperti Ai yang dulu. Kau selalu


saja memikirkan Axton dan Axton terus. Aku muak Ai, aku benci saat kau dimiliki


oleh orang lain. Kini lelaki itu sudah tidak memiliki banyak waktu, bagaimana


jika kau pergi bersamaku. Kita akan hidup bahagia bersama, ya?” Hardwin semakin


tidak terkendali.


Ai mundur, dia tidak bisa


mengenali seseorang yang ada di depannya. semuanya semakin menakutkan, Ai akan


merundingkan ini nanti, wanita itu berniat pergi dari tenda. Hardwin sedang


tidak bisa berfikir jernih. Tapi belum juga melangkah Hardwin menarik keras lengannya


dan melemparkan wanita itu diatas tempat tidur.