
Allard dan Dalbert yang
masih menunggu di teras, dengan kebingungan melihat Ai keluar dengan raut wajah menahan marah. Mereka
menyangka jika kemarahan itu untuk mereka.
“ Ai, jangan marah. Ayah
melakukan ini hanya demi kebaikanmu” Dalbert segera berdiri dan mendekati Ai.
dia akan menjadi penengah, mau bagaimanapun dia juga yang secara tidak langsung
membuat keributan ini.
Ai melihat wajah paman Al
nampak begitu sedih, dirinya jelas yang menjadi alasan kesedihan itu. Bukan
maksud Ai marah kepadanya, Ai hanya merasa kesal. Di tambah lagi dengan
kebenaran yang baru saja dia dengar. Mereka sedang salah paham.
“ maafkan Ai, paman” Ai
mendekat dan memeluk pelan pamannya. Lelaki itu menerima pelukan itu dengan
sangat senang.
“ paman tidak berniat
untuk membuatmu sedih, maafkan paman juga ya” Allard mengelus punggung Ai, dia
tidak mau bertengkar dengan keponakannya ini.
Setelah emosi mereka
mereda, Ai kembali pada niatan awalnya.
“ Ai mau mengambil
beberapa barang di perbatasan. Apakah bisa?” selama ini dia hanya bisa masuk
dengan bantuan Edward, mungkin saja saat kelaur juga harus melewati prosedur.
“ aku bisa mengantarmu”
jawab Dalbert. Sesuai dengan keinginan Ai. wanita itu memang hanya bisa
mengandalkan kakaknya saat ini.
“ iya, kau bisa pergi
dengan Dalbert, kau sudah meminta izin pada Duke?” Allard menghawatirkan
keselamatan Ai, situasi perbatasan saat ini sedang tidak menentu.
“ sudah, tenang saja”
jawab Ai riang, dia menutupi rasa gugupnya. Karena sebenarnya Axton tidak
mengetahui persoalan ini, meskipun jika menyadari Ai pergi dia juga tidak akan
tau alasan pastinya.
“ ayo” ajak Ai.
“ sekarang?” Dalbert
tidak berfikir jika itu sekarang juga.
“ iya,, ayo” Ai segera
menarik tangan kakaknya meninggalkan pondok. hari juga masih pagi, jadi mereka
bisa tenang dalam perjalanan.
Matahari mulai condong kearah
barat saat mereka sampai di gerbang dalam kota Tordor. Ai tidak mengatakan
apapun pada Dalbert. Dia bahkan menyuruh lelaki itu untuk menemui Edward,
karena tidak mungkin mengajaknya bertikai dengan Hardwin.
Kebetulan begitu masuk ke
kota mereka langsung bertemu dengan Edward yang terlihat baru akan meninggalkan
kota.
“ kalian disini?” tanya
Edward. Dia nampak kebingungan dengan kehadiran orang pondok.
“ aku akan menemui
Hardwin, kalian mengobrolah dulu” Ai bergegas memisahkan diri.
“ apa anda juga akan
mengatarnya saat meninggalkan kota?” teriak Edward. Seketika langkah Ai
terhenti. Kelimat itu membuat Ai berfikir buruk.
“ kau bilang apa?” tanya
Ai kemudian mendekati Edward.
“ Hardwin akan
meninggalkan kota hari ini, bukankah anda berencana memberikan salam
perpisahan?” tanya polos Edward, dia sedikit heran dengan pertanyaan yang Ai
ajukan.
“ kau yang mengusirnya?”
Ai berfikir jika Edward masih menginginkan Hardwin untuk meninggalkan kota.
“ tidak, dia sendiri yang
bergegas pergi. Saya bahkan menawarinya untuk bertemu dengan ayahnya, tapi dia
tidak mau” jawab Edward tanpa menutupi, dia baru mengetahui jika lelaki itu
adalah anak tuan Aidyn, Edward berniat
berdamai dengan Hardwin. Namum malah Hardwin yang seakan membencinya.
Ai jelas mengerti alasan
dibalik keinginan Hardwin untuk pergi. Lelaki itu jelas menolak membantu
suaminya. Dia ingin menghindar dari semuanya. Ai akan menghadangnya dan membuat
perhitungan. Selama ini ia masih percaya dengan Hardwin meski dirinya penah
dikhianati dulu, tapi siapa yang menyangka jika selama ini lelaki itu sedang
mengkhianatinya. Menutupi semua kabar yang dia cari setengah mati.
Wanita itu dengan langkah
cepat segera menuju tempat Camp Hardwin, dia dengan ditemani seorang prajurit
yang mendampinginya langsung memisahkan diri. Penuh dengan emosi Ai terus
lambat bagi Ai.
“ cepat, dimana?” Ai berteriak
marah. Prajurit itu masih mengatur nafasnya, begitu sampai di kawasan Camp.
“ di. Disana, tenda
berwana gelap itu” jawab prajurit itu dengan sedikit tersengal-sengal. Ai
lansung mengikuti arah yang prajurit itu maksudkan. Kini dia tidak perlu
menunggu prajurit lagi, dengan langkah tegas Ai menuju tenda itu sendirian.
Di bukanya pintu tenda
dengan sedikit keras, membuat suara kain yang seakan sobek.
“ keluar” suruh Ai kepada
anak buah Hardwin yang sedang berberes didalam tenda. Tanpa banyak tanya mereka
langsung saja meninggalkan tempat.
Disana Hardwin sedang
berberes dengan posisi memunggungi Ai. lelaki itu tidak terlihat kaget dengan
kehadiran Ai disana. Dengan santainya masih memasukkan barang-barang kedalam
tas.
“ kita perlu bicara” Ai
masih mencoba dengan cara yang baik. Bagaimanapun dia harus bisa membuat
Hardwin mau memberikan darahnya untuk Axton.
Hardwin seakan tidak
mendengar apapun, lelaki itu tidak terganggu masih saja memilah-milah barang.
Ai yang melihatnyapun semakin kesal, dengan kasar dia merebut barang yang ada
di tangan Hardwin.
“ Hardwin” Ai menyebut
nama lelaki itu dengan tegas, dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menahan
emosinya. Jangan sampai dia meledak, dan
membuat hubungan mereka menjadi renggang.
Akhirnya lelaki itu
menghentikan kegiatannya, dia tidak bisa mengacuhkan Ai terus. Dia menatap Ai
dengan pandangan datar, seakan dia tau apa yang membuat wanita itu datang
menemuinya.
“ teganya kau berbohong
padaku selama ini?” sorot mata Ai begitu mengisyaratkan jika hatinya terluka,
tatapan nanar bercampur dengan benci. Lelaki itu mengambil nafas dalam lalu berbalik
badan menatap wanita itu.
“ lalu kenapa?” seakan
menantang balik lawan bicaranya, lelaki itu sama-sekali tidak menampilkan rasa
bersalah.
“ kau, brengsek!” Ai
melemparkan barang tadi tepat kearah Hardwin, dengan keras menubruk dada lelaki
itu. Namun sama sekali tidak berefek, Hardwin dengan tatapan datarnya berdiri
dengan angkuh.
“ heh, brengsek? Bukankah
aku sudah mengutarakan cintaku padamu?, lalu kau berfikir aku akan membantumu
bersatu kembali dengannya?, kau terlalu naif Ai” Hardwin seakan tidak mau
kalah, dia malah terlihat lebih emosional daripada Ai dengan seringai mencemooh
membalas perkataan Ai.
“ kau jahat, kau
Brengsek. Selama ini aku begitu mempercayaimu, berfikir kau adalah teman
terbaikku. Tapi apa? Kau mengecewakanku.
Kau menyembunyikan kabar Axton , bahkan kau berniat pergi karena tidak mau
menolongnya,..”
“ benar, aku memang
brengsek. Aku memang berniat pergi karena Axton. lalu kenapa? Kenapa aku tidak
bisa melakukannya, hah? Kau saja bisa mengacuhkan perasaanku, kenapa aku tidak
bisa mengacuhkan Axton?” seakan tersambar petir, Ai tercengang dengan ucapan
Hardwin. Bagaimana bisa dengan entengnya dia mengatakan hal itu pada Ai. mereka
teman masa kecil tapi kini terasa seakan orang asing. Dengan berurai air mata
Ai melangka mundur, dia teramat kecewa dengan perkataan Hardwin.
“ kau bukan Hardwin yang
ku kenal, kau berubah” ucap Ai lemah, dirinya terlalu kecewa sampai meragukan
bahwa lelaki itu adalah temannya.
“ tidak, aku tidak
berubah. Kaulah yang berubah. Kau tidak seperti Ai yang dulu. Kau selalu
saja memikirkan Axton dan Axton terus. Aku muak Ai, aku benci saat kau dimiliki
oleh orang lain. Kini lelaki itu sudah tidak memiliki banyak waktu, bagaimana
jika kau pergi bersamaku. Kita akan hidup bahagia bersama, ya?” Hardwin semakin
tidak terkendali.
Ai mundur, dia tidak bisa
mengenali seseorang yang ada di depannya. semuanya semakin menakutkan, Ai akan
merundingkan ini nanti, wanita itu berniat pergi dari tenda. Hardwin sedang
tidak bisa berfikir jernih. Tapi belum juga melangkah Hardwin menarik keras lengannya
dan melemparkan wanita itu diatas tempat tidur.