The New Duchess

The New Duchess
Bab 112: Mulai Pengobatan



“ gunakan ini untuk


menutup lukamu” Hardwi barun saja melakukan janjinya. Telapak tangannya terbuka


dan Aidyn memberikan kain.


“ jangan lupa berikan


ini” Aidyan juga memberikan obat agar lukanya tidak terinfeksi dan menutup


dengan cepat.


“ iya aku tau” jawab


Hardwin cuek, dia memang beberapa kali melakukan hal serupa. Entah apa hebatnya


darahnya, ayahnya sudah beberapakali memintanya. Hardwin terlalu malas untuk


mencari tau alasannya. Dia hanya tau bahwa darahnya bisa digunakan sebagai


campuran obat, agar fungsi obatnya bisa semakin kuat. Itu saja.


Selesai dari kegiatan


itu, Hardwin keluar dari ruangan ayahnya. Dia akan beristirahat sejenak.


Tubuhnya terkadang lemas setelah aktifitas pemberian darah.


Sedang Aidyn dengan


segera mengirim ramuan itu ke pondok Duke. Dia memang sengaja tidak meramu di


area pondok, karena memang pesan dari Duke yang tidak mengizinkan Hardwin masuk


kesana. Lelaki itu sejak lama sudah tidak suka dengan kehadiran Hardwin dalam


hidup istrinya.


“ saya sudah membawakan


ramuannya, kita bisa mulai pengobatan mulai sekarang” ucap Aidyn kepada Axton.


disana juga ada Ai, wanita ini berlagak seolah-olah dia tidak tau. Seperti pada


umunya obat yang Axton minum tidaklah berbeda dari sebelumnya, hanya saja ada


bahan baru. Itu yang Axton katakana pada Ai.


“ apakah akan ada reaksi


khusus?” tanya Ai.


“ kemungkinan suhu tubuh


Duke akan naik atau turun secara tiba-tiba. Untuk yang lain kita akan mengawasi


secara bertahap” jawab tuan Kleiner.


Duke langsung


menghabiskan ramuan dalam sekali teguk. Dia tidak begitu memperhatikan


percakapan istrinya dan tuan Kleiner. Semuanya dia sudah tau resikonya. Dampak dari


ramuan ini akan sangat terasa, beberapa hari kedepan semuanya akan terasa lebih


sulit.


Suhu tubuhnya bisa tidak


menentu, dan berdampak pada jantungnya. Pernafasannya bisa bertambah berat dan


kesadarannya akan sedikit terganggu. Memang membersihkan racun ini begitu


sulit, baik penawar ataupun reaksinya. Setiap orang akan berbeda.


“ baiklah, aku juga akan


ikut membantu untuk memantau”Ai menatap Axton dengan penuh lemah lembut. Sangat


tinggi harapan agar Axton bisa segera sembuh.


“ terimaksih Duchess”


tuan Kleiner mengambil mangkuk ramuan. Untuk seterusnya dia akan meminta


pelayan agar mengolah ramuan bunga Yark  di pondok sedang dia akan membantu mengambil


darah Hardwin. Perlu beberapa kali  minum


baru bisa mengatahui efek dari ramuan penawar ini.


“ kalian tidak pelru


khawatir, semuanya akan baik-baik saja” potong Axton. kenapa semuanya orang


begitu khawatir dengannya. Bahkan cenderung khawatir yang berlebihan. Axton


tidak suka, dia tidak suka dipandang lemah ataupun dikasihani.


“ iya, kita berharap


seperti itu” Ai mengelus lengan Axton dan menyenderkan kepalanya.


“ kalau begitu saya pamit”


tuan Kleiner segera menarik diri, dia merasa jika kehadirannya sudah tidak


dibutuhkan lagi. Pasangan ini butuh privasi.


Ai dan Axton menganggu


dan tersenyum kecil. Hari mulai sore, Ai dan Axton sedang duduk di teras


samping pondok. mereka menikmati pemandangan sambil bercerita singkat. Mengenang


masa lalu saat mereka masih ada di kediaman Duke.


Tak terasa waktu sudah


malam, Ai dan Axton sedang menikmati makan malam. Sejak sore tadi setelah


bercengkrama di teras, tak lama Axton meminta untuk berbaring. Baru selepas


senja lelaki itu terbangun. Dan kini makan malam bersama istrinya.


“ bisa kau panaskan lagi


supnya?” Axton meminta kepada pelayan.


“ bisa tuan” jawab


pelayan itu sambil mengambil mangkuk suop dan berjalan ke dapur.


“ aku rasa sudah cukup


hangat, apa kau kedinginan?” Ai merasa aneh dengan permintaan Axton, wanita itu


bertanya sambil mendekatikan tangannya ke tubuh Axton.


“ tubuhnmu dingin” Ai


melebarkan matanya, dia kaget. Bagaimana bisa kulit itu dingin padahal cuaca


cukup panas sejak tadi.


kedinginan” jawab Axton sambil mengeratkan mantel.


“ lebih baik kau masuk,


ayo” Ai menarik tangan Axton agar masuk kekamar.


Begitu naik di ranjang,


Ai segera mengambil selimut tambahan, kain untuk telapak kaki dan sebuah mantel


lagi.


“ gunakan ini dulu” Ai


membungkus masing-masing kaki Axton dengan kain. Kemudian membungkus mantel


baru,  dan membungkus lagi dengan


selimut.


“ tuan ini supnya”


pelayan masuk kedalam kamar. Menaruh mangkuk itu diatas nakas tempat tidur.


“ aku bantu” Ai menyuapi


Axton. Posisi Axton masih terduduk di atas ranjang. Dengan penuh kehati-hatian


Ai menyuapi suaminya.


“ kau tau, kau terlalu


berlebihan. Aku bahkan tidak bisa bergerak atau bernafas jika sebanyak ini


balutannya” Axton baru bisa protes, sejak tadi istrinya begitu panic dan dengan


cepat memasangkan bermacam-macam kain di tubuhnya.


“ aku tidak ingin kau


kedinginan” jawab Ai datar, dia masih fokus menyuapi. Jangan sampai ada tetesan


soup yang mengotori ranjang.


“tapi tidak seperti ini


juga” Axton merasa aneh dengan kondisinya. Tubuhnya seakan begitu berat tidak


bisa bergerak.


“ sudah jangan protes


terus, habiskan dulu soupnya” Ai berlagak seperti ibu-ibu galak. Axton seakan


anak kecil yang sedang merengek.


Akhirnya Axton hanya diam


sampai soup itu benar-benar habis. Dia tidak mau menyanggah lagi.  Setelah selesai Ai keluar dari kamar membawa


mangkuk kosong.


Kesempatan ini digunakan


Axton untuk membuka semua lilitan kain ditubuhnya. Mulai kaki sampai mantel-mantel


dan bertengger di punggungnya. Bahkan dia melepaskan satu selimut. Rasa dingin


ini tidaklah sekuat yang Ai fikirkan.


“ kenapa dilepas?” Ai


baru sampai di ambang pintu, melihat Axton yang sudah bersih tanpa lapisan


penghangat.


“ sudah ku bilang,


rasanya aku tidak bisa bergerak dan sulit bernafas” Axton menjawab seadanya.


“ tidak-tidak pakai ini”


Ai mengambil selimut ke 2 untuk di lilitkan di tubuh Axton.


“ lebih baik kau naik”


Axton menyuruh istrinya agar bergabung di atas ranjang. Dia menolak selimut


baru.


Ai menghembuskan nafas


kasar, jika sudah begini dia hanya mengikuti saja kemauan Axton, suaminya ini


tidak mudah dibujuk.


“ lalu?” tanya Ai dengan


nada kesal.


“ berbaringlah” jawab


Axton sambil memberikan kode lewat matanya kearah bantal.


Sekali lagi Ai hanya


mengikuti saja kemauan Axton. tak lama kemudian Axton ikut menyusul istrinya


berbaring. Lelaki itu memeluk istrinya dibawah satu lapis selimut.


“ seperti ini lebih


efektif” ucap Axton senang. Ai juga ikut tersenyum singkat. Lelaki itu sudah


berangsur membaik, jika dilihat dari tingkahnya. Mereka berdua saling


berpelukan. Tubuh Axton mulai menghangat, memang benar memeluk seseorang itu lebih


efektif untuk menghangatkan tubuh.


“ dasar kau” Ai malah


merapatkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Axton


membalasnya dengan menyenderkan dagunya di kepala Ai.


Rasanya sudah lama sekali


mereka bisa dalam posisi ini. Semenjak sakit tubuh Axton sangatlah lemah,


biasanya lelaki itu hanya bisa tiudr dengan posisi terlentang, tidak bisa


banyak bergerak. Bahkan Ai tidak berani mengganggu suaminya jika terlelap,


jangankan menyentuhnya menimbulkan suara yang agar keras saja Ai tidak berani.


Seakan suaminya ini


barang rapuh yang jika di kasari sedikit saja maka akan hancur tak bersisa. Melihat


Axton yang mulai genit Ai sedikit lega. Suaminya berangsur membaik.