
“ gunakan ini untuk
menutup lukamu” Hardwi barun saja melakukan janjinya. Telapak tangannya terbuka
dan Aidyn memberikan kain.
“ jangan lupa berikan
ini” Aidyan juga memberikan obat agar lukanya tidak terinfeksi dan menutup
dengan cepat.
“ iya aku tau” jawab
Hardwin cuek, dia memang beberapa kali melakukan hal serupa. Entah apa hebatnya
darahnya, ayahnya sudah beberapakali memintanya. Hardwin terlalu malas untuk
mencari tau alasannya. Dia hanya tau bahwa darahnya bisa digunakan sebagai
campuran obat, agar fungsi obatnya bisa semakin kuat. Itu saja.
Selesai dari kegiatan
itu, Hardwin keluar dari ruangan ayahnya. Dia akan beristirahat sejenak.
Tubuhnya terkadang lemas setelah aktifitas pemberian darah.
Sedang Aidyn dengan
segera mengirim ramuan itu ke pondok Duke. Dia memang sengaja tidak meramu di
area pondok, karena memang pesan dari Duke yang tidak mengizinkan Hardwin masuk
kesana. Lelaki itu sejak lama sudah tidak suka dengan kehadiran Hardwin dalam
hidup istrinya.
“ saya sudah membawakan
ramuannya, kita bisa mulai pengobatan mulai sekarang” ucap Aidyn kepada Axton.
disana juga ada Ai, wanita ini berlagak seolah-olah dia tidak tau. Seperti pada
umunya obat yang Axton minum tidaklah berbeda dari sebelumnya, hanya saja ada
bahan baru. Itu yang Axton katakana pada Ai.
“ apakah akan ada reaksi
khusus?” tanya Ai.
“ kemungkinan suhu tubuh
Duke akan naik atau turun secara tiba-tiba. Untuk yang lain kita akan mengawasi
secara bertahap” jawab tuan Kleiner.
Duke langsung
menghabiskan ramuan dalam sekali teguk. Dia tidak begitu memperhatikan
percakapan istrinya dan tuan Kleiner. Semuanya dia sudah tau resikonya. Dampak dari
ramuan ini akan sangat terasa, beberapa hari kedepan semuanya akan terasa lebih
sulit.
Suhu tubuhnya bisa tidak
menentu, dan berdampak pada jantungnya. Pernafasannya bisa bertambah berat dan
kesadarannya akan sedikit terganggu. Memang membersihkan racun ini begitu
sulit, baik penawar ataupun reaksinya. Setiap orang akan berbeda.
“ baiklah, aku juga akan
ikut membantu untuk memantau”Ai menatap Axton dengan penuh lemah lembut. Sangat
tinggi harapan agar Axton bisa segera sembuh.
“ terimaksih Duchess”
tuan Kleiner mengambil mangkuk ramuan. Untuk seterusnya dia akan meminta
pelayan agar mengolah ramuan bunga Yark di pondok sedang dia akan membantu mengambil
darah Hardwin. Perlu beberapa kali minum
baru bisa mengatahui efek dari ramuan penawar ini.
“ kalian tidak pelru
khawatir, semuanya akan baik-baik saja” potong Axton. kenapa semuanya orang
begitu khawatir dengannya. Bahkan cenderung khawatir yang berlebihan. Axton
tidak suka, dia tidak suka dipandang lemah ataupun dikasihani.
“ iya, kita berharap
seperti itu” Ai mengelus lengan Axton dan menyenderkan kepalanya.
“ kalau begitu saya pamit”
tuan Kleiner segera menarik diri, dia merasa jika kehadirannya sudah tidak
dibutuhkan lagi. Pasangan ini butuh privasi.
Ai dan Axton menganggu
dan tersenyum kecil. Hari mulai sore, Ai dan Axton sedang duduk di teras
samping pondok. mereka menikmati pemandangan sambil bercerita singkat. Mengenang
masa lalu saat mereka masih ada di kediaman Duke.
Tak terasa waktu sudah
malam, Ai dan Axton sedang menikmati makan malam. Sejak sore tadi setelah
bercengkrama di teras, tak lama Axton meminta untuk berbaring. Baru selepas
senja lelaki itu terbangun. Dan kini makan malam bersama istrinya.
“ bisa kau panaskan lagi
supnya?” Axton meminta kepada pelayan.
“ bisa tuan” jawab
pelayan itu sambil mengambil mangkuk suop dan berjalan ke dapur.
“ aku rasa sudah cukup
hangat, apa kau kedinginan?” Ai merasa aneh dengan permintaan Axton, wanita itu
bertanya sambil mendekatikan tangannya ke tubuh Axton.
“ tubuhnmu dingin” Ai
melebarkan matanya, dia kaget. Bagaimana bisa kulit itu dingin padahal cuaca
cukup panas sejak tadi.
kedinginan” jawab Axton sambil mengeratkan mantel.
“ lebih baik kau masuk,
ayo” Ai menarik tangan Axton agar masuk kekamar.
Begitu naik di ranjang,
Ai segera mengambil selimut tambahan, kain untuk telapak kaki dan sebuah mantel
lagi.
“ gunakan ini dulu” Ai
membungkus masing-masing kaki Axton dengan kain. Kemudian membungkus mantel
baru, dan membungkus lagi dengan
selimut.
“ tuan ini supnya”
pelayan masuk kedalam kamar. Menaruh mangkuk itu diatas nakas tempat tidur.
“ aku bantu” Ai menyuapi
Axton. Posisi Axton masih terduduk di atas ranjang. Dengan penuh kehati-hatian
Ai menyuapi suaminya.
“ kau tau, kau terlalu
berlebihan. Aku bahkan tidak bisa bergerak atau bernafas jika sebanyak ini
balutannya” Axton baru bisa protes, sejak tadi istrinya begitu panic dan dengan
cepat memasangkan bermacam-macam kain di tubuhnya.
“ aku tidak ingin kau
kedinginan” jawab Ai datar, dia masih fokus menyuapi. Jangan sampai ada tetesan
soup yang mengotori ranjang.
“tapi tidak seperti ini
juga” Axton merasa aneh dengan kondisinya. Tubuhnya seakan begitu berat tidak
bisa bergerak.
“ sudah jangan protes
terus, habiskan dulu soupnya” Ai berlagak seperti ibu-ibu galak. Axton seakan
anak kecil yang sedang merengek.
Akhirnya Axton hanya diam
sampai soup itu benar-benar habis. Dia tidak mau menyanggah lagi. Setelah selesai Ai keluar dari kamar membawa
mangkuk kosong.
Kesempatan ini digunakan
Axton untuk membuka semua lilitan kain ditubuhnya. Mulai kaki sampai mantel-mantel
dan bertengger di punggungnya. Bahkan dia melepaskan satu selimut. Rasa dingin
ini tidaklah sekuat yang Ai fikirkan.
“ kenapa dilepas?” Ai
baru sampai di ambang pintu, melihat Axton yang sudah bersih tanpa lapisan
penghangat.
“ sudah ku bilang,
rasanya aku tidak bisa bergerak dan sulit bernafas” Axton menjawab seadanya.
“ tidak-tidak pakai ini”
Ai mengambil selimut ke 2 untuk di lilitkan di tubuh Axton.
“ lebih baik kau naik”
Axton menyuruh istrinya agar bergabung di atas ranjang. Dia menolak selimut
baru.
Ai menghembuskan nafas
kasar, jika sudah begini dia hanya mengikuti saja kemauan Axton, suaminya ini
tidak mudah dibujuk.
“ lalu?” tanya Ai dengan
nada kesal.
“ berbaringlah” jawab
Axton sambil memberikan kode lewat matanya kearah bantal.
Sekali lagi Ai hanya
mengikuti saja kemauan Axton. tak lama kemudian Axton ikut menyusul istrinya
berbaring. Lelaki itu memeluk istrinya dibawah satu lapis selimut.
“ seperti ini lebih
efektif” ucap Axton senang. Ai juga ikut tersenyum singkat. Lelaki itu sudah
berangsur membaik, jika dilihat dari tingkahnya. Mereka berdua saling
berpelukan. Tubuh Axton mulai menghangat, memang benar memeluk seseorang itu lebih
efektif untuk menghangatkan tubuh.
“ dasar kau” Ai malah
merapatkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Axton
membalasnya dengan menyenderkan dagunya di kepala Ai.
Rasanya sudah lama sekali
mereka bisa dalam posisi ini. Semenjak sakit tubuh Axton sangatlah lemah,
biasanya lelaki itu hanya bisa tiudr dengan posisi terlentang, tidak bisa
banyak bergerak. Bahkan Ai tidak berani mengganggu suaminya jika terlelap,
jangankan menyentuhnya menimbulkan suara yang agar keras saja Ai tidak berani.
Seakan suaminya ini
barang rapuh yang jika di kasari sedikit saja maka akan hancur tak bersisa. Melihat
Axton yang mulai genit Ai sedikit lega. Suaminya berangsur membaik.