The New Duchess

The New Duchess
Bab 38 : Mendayung ( haredang)



“ emm” seakan tersadar gumanan istrinya, Axton melepas bibir merah itu. Hanya sebentar, Axton memberikan waktu singkat untuk Ai mengambil nafas, karena setelahnya tidak ada ampun bagi Ai. Seperti singa yang terbangun, Ai harus rela menjadi santapan sang raja.


Tangan Axton sudah bergerilya membuka jubah tidur Ai, setelah puas menikmati manisnya kelopak merah sang istri. Axton berganti pada leher jenjang, bagaikan bongkahan porselen, Axton memcium perlahan. Ai menolehkan wajahnya, memberikan akses untuk sang suami.


Cumbuan itu semakin turun di detik yang sama ketika Axton menurunkan tali gaun tidur Ai. Sasarannya berganti pada bongkahan gunung kenyal yang menjadi awal nafsunya bangkit.


“ bilang tidak jika kau ingin berhenti” ucap Axton serak, disisa kesadarannya dia tak ingin memaksankan kehendaknya. Meskipun sangat sulit dihentikan.


Kedua gunung itu menjadi mainan untuk tangan dan bibir Axton. Ai yang baru mengalami ini, merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Satu sisi dia tidak nyaman namun satu sisi mencoba menerima perlakuan Axton. Ai juga tidak tau harus mengatakan apa untuk menjawab perkataan suaminya.


Axton menarik tubuhnya, menatap wajah istrinya yang kebingungan. Darisini Axton berfikir sungguh miris melihat penampilan sang istri. Gaun itu sudah terkumpul di bagian perut. Atas dan bawah sudah tersingkap karena ulahnya. Wajah polos istrinya dengan mudah menaikkan gairah Axton.  


“ diammu mengartikan iya” Melihat Ai tak kunjung menolaknya, Axton membuka kemejanya. Nafas Ai perlahan semakin cepat, pertama kalinya mata ini bisa menatap dada bidang sang suami dalam jarak sangat dekat. Seakan tau raut kekaguman Ai, Axton lebih lama memperlihatkan otot dada dan perutnya, tak lupa senyum bangga menghiasi wajahnya. Mengambil satu tangan Ai, di usapkannya ke dadanya. Memberikan izin untuk sang istri menikmati bonus dari tontonan penuh gairah.


“ kau menyukainya?” guman Axton menyudahi aksi pamernya.


Kembali menyerang gunung sang istri, kali ini semakin menuntut. Axton gemas dengan Ai yang tak kunjung mengeluarkan desahannya. Membuat diri begitu tertantang.


Meremasnya dengan sedikit kuat, cumbuan kembali mengarah pada leher. Axton menjelajahi semua hal yang ada pada tubuh Ai. Kebiasaan yang sudah lama tak pernah dia rutinkan sejak menikah. Kali ini Axton tidak akan menyiakan kesempatan.


“ emm,, egh” suara dari istrinya itu semakin membuat Axton bersemangat. Kali ini tindakannya berbuah, Ai merasa sesuatu terbang di perutnya. Menginginkan sesuatu yang lebih, tapi tak tau apa itu.


Entah bagaimana kini mereka sudah tak terlapis satu kain pun, baik Ai maupun Axton telah tenggelam dalam gairah mereka, terbakar dalam api kenikmatan. Ai meremas pelan rambut Axton saat mencuium perut polosnya. Beberapa tanda kemerahan dan keunguan sudah mulai menghiasi beberapa bagian tubuh Ai. Axton semakin tidak dapat lagi mengatur dirinya. Ai seakan pasrah dengan apapun yang di perbuat Axton, dia masih awam dalam hal ini.


Axton kembali menarik tubuhnya, menatap wajah istrinya yang sudah terbakar gairah. Sesuai dengan dugaanya, istrinya sudah dalam kondisi yang tepat. Dengan seringai misterius Axton menutup bibir merekah Ai.


“ bersiaplah” bisik Axton sembari mengigit ringan telinga istrinya. Usapan lembut dirasakan Ai di paha bagian dalam. Tak lama Axton menekuk keatas salah satu kakinya. Ai tiba-tiba di serang kepanikan, ketika sesuatu yang keras mencoba memasuki dirinya.


Baru saja ingin menjerit Axton lebih dulu menutup bibir Ai dengan bibir miliknya. Di saat yang sama, saat lembah suci itu terkoyak. Pengunjung pertama yang membuat pemiliknya merasa seakan terbelah dan begitu penuh. Sang tamu dengan kesadaran dirinya menahan sejenak, sampai rasa tenang mampu membujuk pemilik untuk merelakan diri.


Dirasa sudah cukup, sang tamu memulai aksinya. Semakin masuk menjelajahi setiap sudut dari lembah lembab nan ranum.


“ tenang dan nikmati” kembali Axton membisikkan kata profokasi kepada sang istri. Dia sudah siap mendayung, di bawah sana air sudah mulai mengalir membuat sampannya kembali bergerak.


Tusukan pertama terasa menyakitkan bagi Ai, dia bahkan menggigit bibir sang suami untuk melampiaskan dirinya. Kini sesuatu di bawah sana kembali bergerak. Tamu itu mulai mendayung perlahan, membuat lembah mulai sedikit terbiasa.


“ emm “ guman Ai yang merasakan tusukan itu semakin intes dan menuntut. Rasa sakit itu perlahan menghilang, tergantikan dengan kebutuhan untuk semakin ingin lebih. Bahkan kedua gunung miliknya terlihat terguncang, mengimbangi getaran dari bawah.


Sang tamu terus menerus masuk dan keluar, kedua manusia itu seakan sedang berlomba, terus mendayung tanpa kenal lelah. Meski masih baru Ai dengan cepat mengikuti nalurinya. Membuat Axton semakin tersiksa dengan kenikmatan yang diberikan.


“ A,,axton h,enti,kan” Ai merasa seperti ada yang ingin keluar. Meledak dalam waktu yang tak lama lagi.


“ emm,, aku..aku” Ai tidak berhasil menghentikan tusukan sang suami, dia pasrah. Seperti kapas yang terhempas angin, rasanya dia begitu ringan terbang di udara.


“ Axton,,” panggilnya pelan, punggung Ai melengkung tertarik ke atas. Axton menghentikan tusukannya, membiarkan sang istri menikmati angin pertamanya.


Merasa malu dengan baru saja yang melanda dirinya, Ai menutupi wajahnya. Bahkan ingin menjauhkan diri dari Axton. Namun Ai sudah terjebak. Di lembahnya sang tamu masih tidak mau pergi. Meski air membanjiri tamu itu semakin lincah berjelajah.


“ malam ini kita tidak akan tidur” ucap Axton dengan seringai jahat. Membalik sampan untuk kembali mendayung.


****


Hari sudah sangat siang ketika Ai membuka matanya. Rasa lelah dan remuk langsung terasa. Dia tidak tau jika efek menggodanya begitu membuatnya menderita. Lain kali dia tidak akan begitu saja menerima usulan teman nakalnya itu. Bukannya mendapatkan jawaban dirinya malah kehilangan darah perawannya. Kini entah dengan apa Ai akan mendapatkan jawabannya. Axton benar-benar sulit di hadapi.


 Ai membalikkan diri menjadi terlentang, pinggangnya begitu sakit untuk di gerakkan. Bagian intinya juga seakan perih dan sangat becek. Axton tidak melepas dirinya sampai benar-benar puas. Baru saat fajar Ai bisa merasakan tidur nyenyak. Suaminya ini tidak bisa di anggap remeh.


“ aku akan mencari waktu untuk bicara dengan Hardwin” guman Ai. Setelah memeriksa jika hanya dirinya yang berada di ranjang. Axton sudah pasti berada di ruang kerjanya. Entah urusan apa yang membuat suaminya begitu sibuk.


“ dia pasti melupakanku” kesal Ai kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Ceklek.. pintu terbuka. Rasa kaget Ai langsung hilang saat melihat sang suami masuk dengan membawa nampan makanan. Axton sudah berpakaian lengkap, kemeja putih tulang dengan celana hitamnya.


“ kau membuatku kaget, ku kira pelayan yang datang” gerutu Ai menahan selimut di dadanya saat beranjak duduk.


“ aku sudah menyuruh mereka untuk tidak kemari hari ini” ucap Axton sambil menata makanan.


“ turunlah, aku akan menemanimu sarapan” lanjut Axton, mendengar hal itu Ai mengambil jubah tidurnya yang seperti sengaja di taruh di ujung ranjang.


“ kakiku masih terasa lemas” keluh Ai yang sudah duduk dengan kaki menggantung di pinggir ranjang.


“ mau aku gendong?” tawar Axton menatap Ai nakal.


“ tidak, tidak” Ai melihat seringai nakal itu, membuatnya berfikiran yang tidak-tidak.


Meski sulit berjalan, Ai melangkah dengan sangat pelan. Intinya benar-benar membuatnya tidak nyaman. Samar-samar Ai merasakan ada sesuatu yang hangat menalir di pahanya. Karena Axton masih sibuk dengan makanan itu, Ai menyibak jubahnya untuk memastikan. Cairan putih lengket mengalir lambat dari pangkal pahanya, membuat Ai segera menutup jubah agar tidak terlihat. Namun sayang manik sang suami sudah melihat itu. Axton tertawa kecil melihat reaksi kaget istrinya.


“ apa itu?” goda Axton, yang melihat bibir Ai mengerucut kesal.


“ calon anakmu” jawab Ai sarkas. Kemudian melangkah menuju kamar mandi, diiringi dengan senyum puas Axton.