
Grace, Grace. Aku bisa melihat ‘rasa tidak sopanmu’ itu kepada Duke Wellington. Dia sudah memiliki istri baru sekarang, apa kau tidak berniat menerima tawaranku saja. Dengan begitu kau memiliki kedudukan di atas tuanmu itu” Sea mencoba menghasut Grace agar mendapatkan keinginanya. Sea pandai sekali bermain kata-kata. Menjebak dan menipu sudah menjadi keahliannya.
****
“ m..maafkan saya yang mulia, saya permisi ke kamar mandi sebentar” Grace berencana menjauh dari putra mahkota, tapi sayang sekali lagi Sea menarik tangan Grace sekali lagi, membuat Grace jatuh terduduk di sebelah Sea.
“ yang mulia,,” lirih Grace dengan penuh amarah, tak lupa kedua tangannya menahan tubuh Sea yang seakan ingin menindihnya.
“ aku terbiasa mendapatkan semua keinginanku, Grace “ Sea mulai mengelus pipi Grace pelan. Tempat mereka berada di pojok membelakangi para tamu yang sedang berdansa di aula. Jadi memudahkan Sea untuk melancarkan aksinya.
“ em,,. Bagaimana dengan Ainsley, sepertinya yang mulia juga menginginkannya?” Grace mencari celah agar dirinya tidak menjadi korban lelaki ini. Ketika mengamati Axton tadi Grace bisa melihat bagaimana tatapan intens Sea kepada Ai. Jadi sekarang Grace berharap jika tebakannya benar.
“ Ainsley, apa itu nama istri cantik Duke?” Grace mengangguk pelan sebagai jawabanya. Sea menarik sudut bibirnya, Grace begitu mudah memahami hatinya.
“ bagaimana jika saya membantu yang mulia untuk mendapatkan Duchess malam ini?” lanjut Grace begitu senang ternyata tebakannya benar, putra mahkota memang tertarik dengan Ai. Dengan ini rencananya akan semakin lancar.
“ eem, penawaran yang bagus. Jadi bagaimana kau bisa mendapatannya?” Sea masih belum percaya dengan perkataan Grace, dia masih ngorek-ngorek informasi apa wanita ini bisa di percayai.
“ t,tentu saja mudah yang mulia, dengan itu” mata Grace mengarah pada bungkusan kecil yang berada di saku Sea. Membuat Sea mengerti jalan pikiran Grace.
“ hahahaha, kau cukup cerdik, tidak salah Duke memperkerjakanmu. Tapi bagaimana dengan suaminya?” Sea memajukan wajahnya, sedikit mendekati leher jenjang Grace. Padahal menurut Sea wanita di depannya ini juga tidak terlalu buruk menghangatkan ranjangnya. Tapi jika di bandingkan dengan tawaran tadi Sea tidak memungkiri jika dirinya lebih tergoda dengan Duchess.
“ tentu saja bersama denganku” jawab Grace yakin, Sea menoleh wajahnya. Dan membuat wajahnya mennghadap tepat di samping wajah Grace.
“ Deal “ jawab Sea, sambil mengecup singkat sudut bibir Grace. Kemudian menarik dirinya. Membenarkan jasnya dan berdiri dari sofa.
“ sebelum tengah malam, jika gagal kau akan menjadi gantinya” ancam Sea, jelas saja dia tidak ingin rugi. Entah Grace ataupun Ainsley salah satu dari mereka harus menemani tidurnya malam ini.
Selepas kepergian Sean, Grace bisa bernafas dengan normal. Dia melihat ada bungkuan kecil di atas meja. Ya, bubuk miliknya. Grace dengan pelan mengambilnya. Malam ini adalah malam yang Grace tunggu. Apalagi dengan adanya Sea, meskipun mendapat bantuan darinya tapi sejatinya Grace sedang mempertaruhkan dirinya sendiri. Namun jika berhasil Grace akan membuat hidup Ai menjadi kacau.
Pelahan Grace membuka bungkusan itu, menuangkannya ke dalam botol. Dia sudah memeriksa tidak ada siapapun yang melihat aksinya. Sedikit mengocok botol dan menutupnya kembali. Satu langkah telah selesai. Grace menoleh mencari pelayan.
“ bisakah kau mengantarkan minuman ini ke meja Duke dan Duchess. Bilang aja ini minuman khusus untuk mereka” Grace dengan tenangnya menyuruh seorang pelayan. Mesi sedikit ragu-ragu namun pelayan itu tetap melaksanakannya.
Dari jauh Grace terus mengamati langkah pelayan itu. Grace harus menyasikan sendiri bagaimana minuman itu sampai di meja Axton. Beberapa saat kemudian dengan mata kepalanya sendiri Grace melihat bagaimana Axton tanpa curiganya menerima botol itu. Sedang Ai dengan ramah berterimakasih.
“ tinggal satu langkah lagi” ucap Grace puas. Dia meminuma anggur sambil menunggu waktu sampai bubuk itu bekerja. Di sebrang sama Axton dan Ai menikmati anggur itu dengan sajian cemilan. Tak ada yang menyadari jika anggur itu sudah tercampur dengan benda lain yang berefek pada berkurangnya kesadaran dan naiknya gairah.
“ sepertinya kau memiliki banyak peminat” ucap Ai sinis karena tiba-tiba ada seseorang yang mengirimi suaminya itu minuman.
“ tenang saja, aku hanya berminat padamu” jawab Axton menggoda istrinya itu. Hubungan mereka sejauh ini semakin baik, masing-masing mulai terbuka dan menerima.
“ jangan merajuk, kita nikmati dulu pestanya. Ini” sambil memberikan segelas anggur pada istrinya. Tanpa curiga Ai segera menerimanya dan meminumnya. Pasangan itu benar-benar menikmati anggur yang Grace berikan. Meskipun sebenarnya Axton melarang Ai untuk minum terlalu banyak, tapi istrinya itu menolak permintaan Axton.
“ jangan melarangku, lagipula aku bersamamu. Kapan lagi bisa menikmati pesta, malah seharusnya kau yang tidak boleh banyak minum” ucap Ai yang mulai terganggu kesadarannya.
“ Duchess berhenti, sudah hampir setengah botol kau habiskan sendiri, bagaiman,,”
“ Duke Wellington” sapa seorang bangsawan.
“ oh Lord Chester Dale, kau datang sendiri?” Axton bergeser kini membelakangi istrinya.
“ aku ke kamar mandi sebentar” bisik Ai sambil menepuk punggung suaminya pelan. Axton yang sebenarnya tidak tenang membiarkan istrinya sendiri, tapi dengan berat hati harus menemani tuan Dale berbincang.
Ai berjalan menjauh dari meja. Perutnya bergejolak ingin muntah, jadi segera mencari kamar mandi. Dalam perjalanan kepala Ai mulai terasa berat.
“ sepertinya aku memang terlalu banyak minum” Ai yang bersender sejenak pada dinding.
Ketika Axton sedang berbincang dengan orang lain, dan Ai pergi meninggalkan meja untuk pergi ke kamar mandi, maka inilah waktunya. Grace segera memulai rencana terakhirnya. Melihat Ai kesusahan berjalan dengan cepat Grace menyusul di belakangnya.
“ mau saya bantu Duchess” ucap Grace dengan suara yang dia buat-buat.
“ oh ya, terimakasih” Ai tidak melihat wajah Grace yang sedang menunduk itu. Tidak ingin membuang waktu perut Ai benar-benar kacau membuatnya segera berjalan dengan Grace yang memapahnya.
“ sepertinya kita salah jalan” disisa kedasarannya Ai mengenali jika jalan yanga dia lalui bukanlah jalan menuju kamar mandi. Tapi wanita yang memapahnya tidak mau berhenti malah seolah menyeretnya memasuki sebuah kamar.
“ nona, kita salah ja,,” Ai kini dengan jelas mengenali wanita yang memapahnya.
“ Grace..kau,,” Ai merasakan Grace mencengkram lenganya kuat, mendorongnya semakin masuk ke kamar entah punya siapa. Tubuhnya yang lemas membuat Ai tidak bisa melawan.
“ hei Duchess, sayang,,” Grace mendorong Ai ke atas ranjang.
“ merindukanku, emm, sebentar lagi pembalasanku akan segera datang, kau nikmati saja malam ini, Duchess” Grace tersenyum puas melihat Ai tergolek lemas sambil terus mencoba bangun. Bubuknya bekerja dengan baik.
“ selamata tinggal “ Grace melambaikan tangannya dan berjalan menuju pintu, tak lupa menutup. Di dalam Ai sudah tak berdaya, bahkan untuk bangun saja sangat kesusahan. Kesadarannya mulai menghilang.
“ Axton..” lirih Ai memanggil nama suaminya. Namun tak ada yang akan mendengar panggilannya. Kata itu adalah kata terakhir yang Ai ucapkan, setelahnya kegelapan merenggut semua penglihatannya.