
hari itu suasana kediaman tampak lebih sibuk dari biasanya. bagaimana tidak nyonya dan tuan mereka pingsan dalam waktu yang berdekatan. saat ini keduanya di rawat secara terpisah. Dokter Leyna sudah berada di sana sejak pagi tadi. Dan kini waktu sudah menunjukkan sore hari, Axton masih belum tersadar. Sedangkan Ai sudah membuka matanya saat siang tadi. Hanya saja dia masih ingin berada di kamar, setelah tadi sempat melihat Axton sejenak. Kondisi lelaki itu kembali drop pasca keluar darah dari hidungnya. Semua menjadi semakin khawatir, bagaimana jika kali ini lelaki itu akan tak sadar lebih lama. Lalu bagaimana dengan Ai. Wanita itu sudah sangat rapuh menahan semua ini sendiri.
Sedangkan di istana Pangeran Aric masih belum bisa mengambil keputusan. Lelaki itu duduk di depan meja kerjanya dan menatap surat Ibunya sejak siang sampai saat ini.
" pangeran" panggil pengawalnya. Baru lamunan Aric terputus. Lelaki itu menatap pengawalnya yang berdiri di ambang pintu.
" sekertaris kerajaan ingin bertemu"
Aric mengambil nafas panjang, mereka jelas akan meminta surat ini. Bagaimanapun Ratu memiliki perintah yang kuat saat ini. Aric tak mungkin bisa menahannya terus menerus. Mau tidak mau ibunya tetap akan menerima hukuman.
" katakan pada mereka, suruh mengadakan Rapat kerajaan besok siang, aku akan memberikan keputusan" jelas Aric yang langsung di angguki oleh pengawalnya.
Aric akan berusaha netral kali ini, mungkin inilah situasi yang Duchess katakan. Dia harus menyingkirkan hubungan dekat untuk kepentingan publik.
Ruangannya kembali senyap, Aric menatap dan membuka kembali surat tersebut. Lelaki itu bahkan hampir hafal dengan semua kata yang ada di sana.
" pangeran" pengawal itu kembali lagi. Dia berjalan mendekat di meja Aric.
" ini" lelaki itu memberikan sebuah surat yang memiliki penampilan yang sama dengan yang ada di tangannya. Aric menatap dengan pandangan bertanya.
" surat dari istana Ratu" jawab Pengawal itu.
Aric mengerutkan keningnya dan segera mengambil surat tersebut. Lelaki itu membacanya dengan seksama. Matanya mulai berurai air hangat bahkan tangannya juga bergemetar.
" pangeran ada apa?" tanya pengawal itu dengan sangat khawatir.
" ini.. ini benar-benar menjadikan anda sebagai pemegang kekuasaan" balas pengawal itu. Aric melepaskan surat tersebut. Lalu berdiri dari kursinya.
" aku akan menemui ibu" Aric akan meminta kejelasan atas tindakan ibunya.
" baik pangeran"
Waktu sudah melewati senja hari, Kedua lelaki itu berjalan menuju istana Ratu. Aric memiliki sejuta pertanyaan yang ingin dia dengar jawabannya dari mulut sang ibu.
" pangeran" ucap penjaga istana. Aric terus berjalan ke depan.
" charlote" ucap Aric tak kala melihat adiknya sedang berdiri di depan pintu kamar ibunya yang tertutup.
" kakak, ibu sejak pagi belum makan apapun. aku khawatir dengan keadaanya" jawab Charlote dengan wajah sedih. Aric bisa melihat pelayan Charlote membawa nampan penuh dengan makanan.
" kakak akan membantu" jawab Aric menghibur adiknya.
tok tok tok.
" ibu, Aku ingin membicarakan sesuatu" ucap Aric dengan lembut.
tok tok.tok lelaki itu kembali mengetuk pintu. tak ada sautan dari dalam.
" ibu" panggil Aric lagi. Semua menunggu jawaban dengan cemas. termasuk Charlotte yang meremas kedua tangannya karena cemas.