The New Duchess

The New Duchess
Bab 81 : Dalbert



Ai terpaku sejenak begitu


menoleh menatap wajah si pemilik suara. Ai tidak mengenai siapa orang yang


berada di hadapannya. Wanita yang sudah tua dengan membawa sebuah nampan dengan


senyum tulus masih menatapnya dalam diam.


“ anda siapa?” tanya Ai


hati-hati tidak ingin menyinggung perasaan wanita tua itu.


Wanita itu tidak


mengatakan apapun, malah berjalan melewatinya kemudian masuk ke dalam ruangan


yang tadi ingin Ai buka.


“ masuklah dulu” ucap


wanita itu saat berada di dalam ruangan. Ai melangkah kedalam dengan penuh rasa


penasaran.  Wanita itu lalu duduk sambil


menatap Ai, membuat Ai ikut duduk di depannya.


“ anda sekarang sudah


menjadi seorang Duchess, saya tidak menyangkanya nona” ucap wanita tua itu


kemudian.


“ siapa sebenarnya anda?”


karena belum mendapatkan jawaban Ai kembali menanyakan hal yang sama.


“ saya dulu adalah


pelayan pribadi nyonya An, ibu anda sewaktu muda” ucap wanita itu sontak


membuat Ai mengerutkan kening, pantas saja wanita ini tampak begitu tua


dimatanya.


“ anda yang sudah membantu


saya ?” Ai hanya ingin memastikan.


“ bukan, sudah setua ini


tidak mungkin mengurusi hal seperti itu. Saya hanya tinggal disini” jawab


wanita itu sambil tersenyum tipis.


“ lalu siapa yang sudah


membantu saya?” Ai harus mengetahui siapa dibalik semua ini.


“ Ainsley, kau sudah


sampai?” seorang lelaki masuk ke dalam ruangan memotong pembicaraan. Ai


langsung saja berdiri dan berjalan menuju lelaki itu.


“ Dalbert, kau kenapa


bisa disini? Bagaimana kabar perbatasan?, kata  paman perang sudah pecah, apakah Axton


baik-baik saja?” belum juga duduk Ai sudah memberondong kakak sepupunya dengan


banyaknya pertanyaan.


“ kau duduklah kembali,


aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu” lelaki itu langsung menarik lengan Ai


untuk mendekati sofa.


“ kalau begitu saya


permisi dulu” wanita tua itu meninggalkan mereka berdua. Keduanya mengangguk


sambil tersenyum.


“ iya, terimakasih bibi”


ucap Dalbert pada wanita tua itu.


“ sebelumnya aku minta


maaf baru bisa membawamu sekarang, aku bahkan tidak tau jika akan secepat ini


kau bisa keluar, untung saja temanmu Masy membantuku menyusun rencana”


“ Masy?” Ai tidak percaya


sahabatnya ternyata bisa secerdik ini.


“ iya selama ini kami


sebenarnya berkomunikasi dengan kediaman Halbert mengenai situasi ibu kota,


maaf baru bisa mengatakannya padamu. Mungkin beberapa hari lagi dia akan


menyusul kemari” Dalbert terlihat sedikit menyesal.


“ aku bisa mengerti, lalu


bagaimana dengan Axton?” Ai terus mendesak Dalbert agar memberitahukan kabar


suaminya.


“ mengenai kabar Duke,


sebenarnya kami tidak mendapatkan berita apapun selain perbatasan yang di


ambang kejatuhan, ayah melarangku mengatakan ini, tapi aku ingin kau juga tau


mengenai ini” Ai diam tak bisa berkata-kata.


“ belum lagi dengan kasus


yang menimpamu, kami benar-benar tidak bisa membiarkan masalah ini, jadi ayah


menyuruhkun agar langsung pergi menyelamatkanmu” lanjut Dalbert.


“ jika perbatasan jatuh,


lalu bagaimana kabar Axton?, apa Axton..?” lelehan air itu semakin deras turun


di pipinya. Ketakutan semakin menguasai dirinya. Ai seakan ditarik kembali


kedalam mimpinya. Apa mungkin jika mimpinya akan menjadi kenyataan. Suaminya benar-benar


tewas dalam peperangan.


“ kau tenanglah, aku


yakin Duke pasti akan selamat” ucap lelaki itu meskipun dalam hatinya dia hanya


ingin menghibur adiknya saja, karena mau bagaimanapun begitu perbatasan jatuh


akan sangat kecil sekali keselamatan Duke beserta pasukannya. Bisa dibilang


mereka adalah penjaganya, jika perbatasan terbobol otomatis para penjaganya


juga ikut tiada.


Ai tidak mau terhibur


dengan ucapan kakaknya, dia tidak bodoh dengan mempecayai hal itu.


“ lalu apa paman memiliki


berharap sekali Dalbert memiliki jawaban yang bisa menenangkannya.


Namun setelah lama


menatap Dalbert, lelaki itu tidak bersuara. Hanya terdiam dengan pandangan


sendu.


“ Dalbert katakan, paman


pasti memiliki rencana kan?” Ai mendesak dalam kekalutan. Wanita itu tidak bisa


membiarkan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.


“ kau tenanglah” Dalbert


segera memeluk Ai, menenangkan wanita yang sudah menangis ketakutan. Dia tau


adiknya pasti akan seperti ini tapi Dalbert juga tidak mau menutupi semuanya,


adiknya juga berhak tau apapun yang sedang terjadi. Seakan luruh segala


bebannya, Ai tidak menutupi kesedihannya di depan kakaknya, wanita itu terus menangis


tersedu-sedu, seakan di berikan perlidungan, Ai sama sekali tidak


menyembunyikan rasa takutnya. Suara tangis itu terdengar begitu menyedihkan,


begitu ringkih membuat siapapun menjadi ikut dalam kesedihan yang pilu.


Hari terus berganti, pagi


sudah menjelang. Situasi yang berbeda terjadi dalam sebuah ruangan.


“ bagus sekali, siang ini


kita kembali ke ibukota” Sea tampak puas dengan berita yang baru saja dia


terima dari mata-matanya di perbatasan. Bagaimana tidak, berita kejatuhan


perbatasan sudah dia dengar, 2 hari perang meriam dan pasukan Axton sudah


jatuh. Sesuai dengan intruksi Sea dan kini rencananya sudah berhasil dengan


lancar.


“ baik yang mulia, saya


akan mempersiapkan keperluannya” ucap pengawal pribadinya.


Hari baik untuk Sea telah


tiba, setelah bertahun-tahun melawan Axton dan baru kali ini dia bisa


mengalahkannya. Dia memang membenci lelaki itu, apalagi dengan kebenaran yang


ibunya katakan, rasanya dia begitu marah dan satu-satunya hal yang bisa dia


jadikan pelampiasan adalah dengan membunuh Axton. lelaki itu harus tiada agar


semua  kebenaran itu tidak ada yang


mengetahuinya.


Sea kini duduk dengan


senyum yang mengembang, tak lupa dengan segelas anggur sebagai bentuk perayaan


atas keberhasilan dirinya membunuh Axton. kini tinggal satu langkah lagi dia


akan bisa menguasai kerajaan. Memang benar jika berurusan dengan kerajaan harus


meninggalkan segala bentuk perasaan bersalah, manusiawi dan hal-hal remeh yang


akan mengagalkan semua tekadnya. Dan seperti inilah jadinya seorang Sea, lelaki


tanpa perasaan yang begitu kejam, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan


keinginannya.


Kediaman Duke sudah tak


lagi sama, setelah mengetahui bahwa Duchess melarikan diri dan secara otomastis


Mily menjadi tahanan, sedangkan Hardwin seperti orang kesetanan menghukum semua


penjaga miliknya, lelaki itu seakan frustrasi atas kehilangan Ai.


Meskipun begitu saat dia kembali


dari peradilan  dan mengetahui bahwa


penjaga dalam rumah sudah dilumpuhkan awalnya Hardwin berusaha keras menutupi


hal ini, namun pagi harinya begitu pihak peradilan memanggil Duchess maka kabar


menghilangnya Duchess tidak bisa lagi di tutupi.


Lelaki itu masih bisa


berfikir dengan baik, jika kabar menghilangnya Duchess diketahui peradilan maka


otomatis hukuman Ai nantinya akan semakin berat. Jadi sebisa mungkin lelaki itu


menahan kabar ini. Sayang dia hanya mampu menutupinya dalam sehari. Buntut dari


hal ini adalah di curigainya dirinya dalam membantu Duchess melarikan diri.


“ kau pasti membantu


pelarian ini?” Hardwin berada dalam ruangan intograsi. Ya jelas dia akan ikut


terseret, karena Hardwin yang mengepalai keamanan kediaman.


“ apa kalian tidak


melihatnya, aku saat itu berada di tempat yang berbeda belum lagi penjaga milik


kediaman yang di serang, seharusnya aku yang mencurigai kalian!” ucap Hardwin


terpancing emosi. Bahkan dia juga memukul meja sebagai bentuk rasa marahnya.


“ kamu jangan asal


bicara! Tidak ada bukti bahwa kami yang membawa Duchess” pihak keamanan


kerajaan ikut berteriak.


“ begitupun denganku


tidak ada bukti bahwa aku yang membantu Duchess pergi” kedua belah pihak saling


mempertahankan diri.


“ kau benar, pemeriksaan


ini dihentikan” ucap salah seorang yang baru saja masuk, dilihat dari


pangkatnya orang ini adalah atasan para penjaga yang mengintograsi Hardwin. Terbukti


dengan tindakan penjaga yang tidak ada penyangkalan dan segera pergi


meninggalkan ruangan. Kini diruangan itu hanya ada Hardwin yang orang


berpangkat itu.


“ lebih baik kau amankan


nona Grace” ucapnya misterius.