
Ai terpaku sejenak begitu
menoleh menatap wajah si pemilik suara. Ai tidak mengenai siapa orang yang
berada di hadapannya. Wanita yang sudah tua dengan membawa sebuah nampan dengan
senyum tulus masih menatapnya dalam diam.
“ anda siapa?” tanya Ai
hati-hati tidak ingin menyinggung perasaan wanita tua itu.
Wanita itu tidak
mengatakan apapun, malah berjalan melewatinya kemudian masuk ke dalam ruangan
yang tadi ingin Ai buka.
“ masuklah dulu” ucap
wanita itu saat berada di dalam ruangan. Ai melangkah kedalam dengan penuh rasa
penasaran. Wanita itu lalu duduk sambil
menatap Ai, membuat Ai ikut duduk di depannya.
“ anda sekarang sudah
menjadi seorang Duchess, saya tidak menyangkanya nona” ucap wanita tua itu
kemudian.
“ siapa sebenarnya anda?”
karena belum mendapatkan jawaban Ai kembali menanyakan hal yang sama.
“ saya dulu adalah
pelayan pribadi nyonya An, ibu anda sewaktu muda” ucap wanita itu sontak
membuat Ai mengerutkan kening, pantas saja wanita ini tampak begitu tua
dimatanya.
“ anda yang sudah membantu
saya ?” Ai hanya ingin memastikan.
“ bukan, sudah setua ini
tidak mungkin mengurusi hal seperti itu. Saya hanya tinggal disini” jawab
wanita itu sambil tersenyum tipis.
“ lalu siapa yang sudah
membantu saya?” Ai harus mengetahui siapa dibalik semua ini.
“ Ainsley, kau sudah
sampai?” seorang lelaki masuk ke dalam ruangan memotong pembicaraan. Ai
langsung saja berdiri dan berjalan menuju lelaki itu.
“ Dalbert, kau kenapa
bisa disini? Bagaimana kabar perbatasan?, kata paman perang sudah pecah, apakah Axton
baik-baik saja?” belum juga duduk Ai sudah memberondong kakak sepupunya dengan
banyaknya pertanyaan.
“ kau duduklah kembali,
aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu” lelaki itu langsung menarik lengan Ai
untuk mendekati sofa.
“ kalau begitu saya
permisi dulu” wanita tua itu meninggalkan mereka berdua. Keduanya mengangguk
sambil tersenyum.
“ iya, terimakasih bibi”
ucap Dalbert pada wanita tua itu.
“ sebelumnya aku minta
maaf baru bisa membawamu sekarang, aku bahkan tidak tau jika akan secepat ini
kau bisa keluar, untung saja temanmu Masy membantuku menyusun rencana”
“ Masy?” Ai tidak percaya
sahabatnya ternyata bisa secerdik ini.
“ iya selama ini kami
sebenarnya berkomunikasi dengan kediaman Halbert mengenai situasi ibu kota,
maaf baru bisa mengatakannya padamu. Mungkin beberapa hari lagi dia akan
menyusul kemari” Dalbert terlihat sedikit menyesal.
“ aku bisa mengerti, lalu
bagaimana dengan Axton?” Ai terus mendesak Dalbert agar memberitahukan kabar
suaminya.
“ mengenai kabar Duke,
sebenarnya kami tidak mendapatkan berita apapun selain perbatasan yang di
ambang kejatuhan, ayah melarangku mengatakan ini, tapi aku ingin kau juga tau
mengenai ini” Ai diam tak bisa berkata-kata.
“ belum lagi dengan kasus
yang menimpamu, kami benar-benar tidak bisa membiarkan masalah ini, jadi ayah
menyuruhkun agar langsung pergi menyelamatkanmu” lanjut Dalbert.
“ jika perbatasan jatuh,
lalu bagaimana kabar Axton?, apa Axton..?” lelehan air itu semakin deras turun
di pipinya. Ketakutan semakin menguasai dirinya. Ai seakan ditarik kembali
kedalam mimpinya. Apa mungkin jika mimpinya akan menjadi kenyataan. Suaminya benar-benar
tewas dalam peperangan.
“ kau tenanglah, aku
yakin Duke pasti akan selamat” ucap lelaki itu meskipun dalam hatinya dia hanya
ingin menghibur adiknya saja, karena mau bagaimanapun begitu perbatasan jatuh
akan sangat kecil sekali keselamatan Duke beserta pasukannya. Bisa dibilang
mereka adalah penjaganya, jika perbatasan terbobol otomatis para penjaganya
juga ikut tiada.
Ai tidak mau terhibur
dengan ucapan kakaknya, dia tidak bodoh dengan mempecayai hal itu.
“ lalu apa paman memiliki
berharap sekali Dalbert memiliki jawaban yang bisa menenangkannya.
Namun setelah lama
menatap Dalbert, lelaki itu tidak bersuara. Hanya terdiam dengan pandangan
sendu.
“ Dalbert katakan, paman
pasti memiliki rencana kan?” Ai mendesak dalam kekalutan. Wanita itu tidak bisa
membiarkan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.
“ kau tenanglah” Dalbert
segera memeluk Ai, menenangkan wanita yang sudah menangis ketakutan. Dia tau
adiknya pasti akan seperti ini tapi Dalbert juga tidak mau menutupi semuanya,
adiknya juga berhak tau apapun yang sedang terjadi. Seakan luruh segala
bebannya, Ai tidak menutupi kesedihannya di depan kakaknya, wanita itu terus menangis
tersedu-sedu, seakan di berikan perlidungan, Ai sama sekali tidak
menyembunyikan rasa takutnya. Suara tangis itu terdengar begitu menyedihkan,
begitu ringkih membuat siapapun menjadi ikut dalam kesedihan yang pilu.
Hari terus berganti, pagi
sudah menjelang. Situasi yang berbeda terjadi dalam sebuah ruangan.
“ bagus sekali, siang ini
kita kembali ke ibukota” Sea tampak puas dengan berita yang baru saja dia
terima dari mata-matanya di perbatasan. Bagaimana tidak, berita kejatuhan
perbatasan sudah dia dengar, 2 hari perang meriam dan pasukan Axton sudah
jatuh. Sesuai dengan intruksi Sea dan kini rencananya sudah berhasil dengan
lancar.
“ baik yang mulia, saya
akan mempersiapkan keperluannya” ucap pengawal pribadinya.
Hari baik untuk Sea telah
tiba, setelah bertahun-tahun melawan Axton dan baru kali ini dia bisa
mengalahkannya. Dia memang membenci lelaki itu, apalagi dengan kebenaran yang
ibunya katakan, rasanya dia begitu marah dan satu-satunya hal yang bisa dia
jadikan pelampiasan adalah dengan membunuh Axton. lelaki itu harus tiada agar
semua kebenaran itu tidak ada yang
mengetahuinya.
Sea kini duduk dengan
senyum yang mengembang, tak lupa dengan segelas anggur sebagai bentuk perayaan
atas keberhasilan dirinya membunuh Axton. kini tinggal satu langkah lagi dia
akan bisa menguasai kerajaan. Memang benar jika berurusan dengan kerajaan harus
meninggalkan segala bentuk perasaan bersalah, manusiawi dan hal-hal remeh yang
akan mengagalkan semua tekadnya. Dan seperti inilah jadinya seorang Sea, lelaki
tanpa perasaan yang begitu kejam, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
keinginannya.
Kediaman Duke sudah tak
lagi sama, setelah mengetahui bahwa Duchess melarikan diri dan secara otomastis
Mily menjadi tahanan, sedangkan Hardwin seperti orang kesetanan menghukum semua
penjaga miliknya, lelaki itu seakan frustrasi atas kehilangan Ai.
Meskipun begitu saat dia kembali
dari peradilan dan mengetahui bahwa
penjaga dalam rumah sudah dilumpuhkan awalnya Hardwin berusaha keras menutupi
hal ini, namun pagi harinya begitu pihak peradilan memanggil Duchess maka kabar
menghilangnya Duchess tidak bisa lagi di tutupi.
Lelaki itu masih bisa
berfikir dengan baik, jika kabar menghilangnya Duchess diketahui peradilan maka
otomatis hukuman Ai nantinya akan semakin berat. Jadi sebisa mungkin lelaki itu
menahan kabar ini. Sayang dia hanya mampu menutupinya dalam sehari. Buntut dari
hal ini adalah di curigainya dirinya dalam membantu Duchess melarikan diri.
“ kau pasti membantu
pelarian ini?” Hardwin berada dalam ruangan intograsi. Ya jelas dia akan ikut
terseret, karena Hardwin yang mengepalai keamanan kediaman.
“ apa kalian tidak
melihatnya, aku saat itu berada di tempat yang berbeda belum lagi penjaga milik
kediaman yang di serang, seharusnya aku yang mencurigai kalian!” ucap Hardwin
terpancing emosi. Bahkan dia juga memukul meja sebagai bentuk rasa marahnya.
“ kamu jangan asal
bicara! Tidak ada bukti bahwa kami yang membawa Duchess” pihak keamanan
kerajaan ikut berteriak.
“ begitupun denganku
tidak ada bukti bahwa aku yang membantu Duchess pergi” kedua belah pihak saling
mempertahankan diri.
“ kau benar, pemeriksaan
ini dihentikan” ucap salah seorang yang baru saja masuk, dilihat dari
pangkatnya orang ini adalah atasan para penjaga yang mengintograsi Hardwin. Terbukti
dengan tindakan penjaga yang tidak ada penyangkalan dan segera pergi
meninggalkan ruangan. Kini diruangan itu hanya ada Hardwin yang orang
berpangkat itu.
“ lebih baik kau amankan
nona Grace” ucapnya misterius.