The New Duchess

The New Duchess
Bab 125 : Berubah



Hardwin berlari menjauhi


pondok, dia pergi entah kemana. Terus melangkah sampai hatinya puas. Dia begitu


menyesal dan merasa bersalah. Bagaimana ayahnya meminta maaf dan mengatakan


gagal mendidiknya, rasanya hatinya ikut tercabik. Dia tidak pernah memikirkan


ini sebelumnya. Dia hanya melakukan semuanya sesuai dengan keinginan dan


kesenangannya semata. Nyatanya ayahnya begitu mengharapkannya, dan kini dia sudah


menghancurkan harapan ayahnya.


“ maafkan aku ayah”


Hardwin terus menggumankan hal yang sama. Rasa sakit karena berkelahi dengan


Axton, tidak sebanding dengan kesakitan hatinya saat melihat ayahnya bersimpuh.


Lelaki itu terduduk di


bawah sebuah pohon berbatu, tubuhnya sudah tidak kuat lagi berlari. Lelaki itu


menangis tersedu-sedu karena kesalahannya. Dia tidak pernah memikirkan dampak


yang terjadi akibat ulahnya.


Hari semakin sore,


Hardwin masih duduk termenung dibawah pohon. Semenjak tadi dirinya terus


merenungi dan menyalahkan dirinya. Sampai pada keputusan bahwa dirinya akan


mulai berubah. Dia harus menjadi lelaki dewasa yang tidak lagi mendahulukan ego


dan kesenangannya. Hardwin akan membuat ayahnya bangga memilikinya.


Lelaki itu kemudian berjalan


menuju pondok Duke, disitulah semua kesalahannya berasal. Dia akan memperbaiki


semuanya darisana.


Hardwin berdiri tepat di


depan pintu masuk, pelayan yang melihatnya segera memberikan pesan pada tuan


rumah. Tak lama setelahnya Axton keluar beserta Ai yang berjalan di


belakangnya.


“ maafkan aku,” kini


giliran Hardwin yang duduk bersimpuh di depan sepasang suami istri itu. Ai ingin


mencegahnya namun di tahan oleh Axton.


“ kau sudah bisa berfikir


jernih?” tanya Axton tegas.


“ sudah Duke, maafkan atas


semua kehilafan saya. Saya benar-benar tidak berfikir sebelumnya” Hardwin


seakan menjadi pribadi yang berbeda.


“ maafkan aku juga Ai,


aku sudah lancang dan memanfaatkanmu” Hardwin menatap kearah Ai. wanita itu


memandangnya di balik bahu sang suami.


“ aku sudah memaafkanmu”


jawab Ai cepat. Dirinya memang sudah sangat berterimakasih karena Hardwin sudah


mau menolong suaminya.


“ kau satu-satunya


pewaris Kleiner, putra pertama dan terakhirnya. Jadilah lebih baik, mau sampai


kapan ayahmu hidup menderita seperti ini. Buat dia bangga memilikimu” ucap


Axton menasehati. Semuanya hanya untuk Aidyn, Axton sangat mengharapkan lelaki


itu bisa menikmati kehidupannya. Bukan terus-terusan mengabdi padanya.


Mendengar penuturan Duke,


air mata Hardwin kembali tumpah. Lelaki yang di bencinya ternyata begitu


perhatian kepada ayahnya. Dia benar-benar bodoh selama ini.


“ baik Duke, saya akan


mengingat semua ucapan anda” Hardwin mengusap air matanya kasar. Lelaki itu


kemudian pamit, dia akan menemui ayahnya. Dia akan meminta maaf sampai ayahnya


tidak lagi bersedih dan  mau


memaafkannya.


Waktu sudah memasuki


berhadapan dengan ayahnya, dia merasa sudah tidak memiliki harga diri lagi di


depan ayahnya.


Lelaki berdiri cukup


lama, sampai suara pintu terbuka langsung menyita perhatiannya.


“a,ayah” cicit Hardwin.


Aidyn menatap sendu anaknya, penampilannya begitu kasihan.


“ obati dulu lukamu” ucap


tuan Kleiner datar, kemudian melangkah menjauhi Hardwin.


“ ayah, maafkan


kesalahanku” teriak Hardwin untuk mencegah ayahnya pergi. Langkah Aidyn


langsung terhenti, lelaki itu tidak mengira anaknya akan berbicara seperti itu.


“ maafkan aku ayah, maaf


karena selama ini karena hanya memikirkan diriku sendiri, maaf karena sudah


membuat ayah kecewa dan malu. Aku bersalah ayah, aku bersalah padamu” Hardwin


bersimpuh dan memegang kaki ayahnya. Dia bahkan akan bersujud jika perlu. Semua


rasa kecewa ayahnya akan Hardwin bayar.


Aidyn mendengar semuanya


dengan hati pilu, bagaimana mungkin dia bisa membenci anaknya. Hatinya sungguh


tidak sanggup. Dia memang kecewa namun melihat bagaimana anaknya tulus meminta


maaf rasanya semuanya sudah  cukup.


“ tidak perlu kau meminta


maaf. Ayah yang salah, nak” kalimat itu malah menjadi cambukan di hati Hardwin.


Ayahnya selalu saja menanggung semuanya sendiri. Dia bahkan tidak


menyalahkannya atas semua perbuatannya. Hardwin benar-benar kecewa dengan


dirinya sendiri.


“ tidak ayah, ini


salahku. Semuanya salahku. Maafkan aku” Hardwin menangis dibawah kaki ayahnya.


“ sudah, ayah sudah


memaafkanmu. Mulai sekarang kita jalani hidup baru, biarkan semuanya menghilang


dan kita ganti menjadi hari yang lebih baik” ucapan Aidyn ini menyelesaikan


semuanya. Lelaki itu menarik anaknya bangun. Dilihatnya wajah anaknya yang


sudah basah air mata, di hapusnya pelan air itu. Kemudian dia tersenyum senang.


Kejadian ini merubah


segalanya. Setelah berbaikan Aidyn membantu anaknya untuk mengobati luka-luka


di tubuhnya. Dengan penuh kehati-hatian dia mengolesi obat hampir di seluruh


tubuh anaknya, karena memang sebanyak itu luka yang Hardwin terima.


“ aku benar-benar babak


belur” ucap Hardwin sambil menahan sakitnya.


“ baru sadar? Kau bukan


tandingan Duke” jawab tuan Kleiner ketus.


“ ayah benar, lain kali


aku akan berlatih dulu sebelum bertanding” saut Hardwin santai. Hubungan mereka


kini lebih erat. ayah dan anak itu semakin dekat dan saling mengerti.


“ mau berlatih selama


apapun, jika lawannya Duke kau pasti tamat” Aidyn menaruh obat olesnya. Dia tidak


mau hal ini terjadi lagi.


“ ayah benar, pukulannya


seakan menembus masuk kedalam tubuhku” ungkap Hardwin mengenai perkelahiannya.


“ kau payah” tuan Kleiner


malah mengejek anaknya.


“ aku akui itu, hahahha”


mereka tertawa bersama setelah cukup lama hal ini tidak pernah terjadi. Memang benar


pasti ada hikmah dibalik semua kejadian.