
Hardwin berlari menjauhi
pondok, dia pergi entah kemana. Terus melangkah sampai hatinya puas. Dia begitu
menyesal dan merasa bersalah. Bagaimana ayahnya meminta maaf dan mengatakan
gagal mendidiknya, rasanya hatinya ikut tercabik. Dia tidak pernah memikirkan
ini sebelumnya. Dia hanya melakukan semuanya sesuai dengan keinginan dan
kesenangannya semata. Nyatanya ayahnya begitu mengharapkannya, dan kini dia sudah
menghancurkan harapan ayahnya.
“ maafkan aku ayah”
Hardwin terus menggumankan hal yang sama. Rasa sakit karena berkelahi dengan
Axton, tidak sebanding dengan kesakitan hatinya saat melihat ayahnya bersimpuh.
Lelaki itu terduduk di
bawah sebuah pohon berbatu, tubuhnya sudah tidak kuat lagi berlari. Lelaki itu
menangis tersedu-sedu karena kesalahannya. Dia tidak pernah memikirkan dampak
yang terjadi akibat ulahnya.
Hari semakin sore,
Hardwin masih duduk termenung dibawah pohon. Semenjak tadi dirinya terus
merenungi dan menyalahkan dirinya. Sampai pada keputusan bahwa dirinya akan
mulai berubah. Dia harus menjadi lelaki dewasa yang tidak lagi mendahulukan ego
dan kesenangannya. Hardwin akan membuat ayahnya bangga memilikinya.
Lelaki itu kemudian berjalan
menuju pondok Duke, disitulah semua kesalahannya berasal. Dia akan memperbaiki
semuanya darisana.
Hardwin berdiri tepat di
depan pintu masuk, pelayan yang melihatnya segera memberikan pesan pada tuan
rumah. Tak lama setelahnya Axton keluar beserta Ai yang berjalan di
belakangnya.
“ maafkan aku,” kini
giliran Hardwin yang duduk bersimpuh di depan sepasang suami istri itu. Ai ingin
mencegahnya namun di tahan oleh Axton.
“ kau sudah bisa berfikir
jernih?” tanya Axton tegas.
“ sudah Duke, maafkan atas
semua kehilafan saya. Saya benar-benar tidak berfikir sebelumnya” Hardwin
seakan menjadi pribadi yang berbeda.
“ maafkan aku juga Ai,
aku sudah lancang dan memanfaatkanmu” Hardwin menatap kearah Ai. wanita itu
memandangnya di balik bahu sang suami.
“ aku sudah memaafkanmu”
jawab Ai cepat. Dirinya memang sudah sangat berterimakasih karena Hardwin sudah
mau menolong suaminya.
“ kau satu-satunya
pewaris Kleiner, putra pertama dan terakhirnya. Jadilah lebih baik, mau sampai
kapan ayahmu hidup menderita seperti ini. Buat dia bangga memilikimu” ucap
Axton menasehati. Semuanya hanya untuk Aidyn, Axton sangat mengharapkan lelaki
itu bisa menikmati kehidupannya. Bukan terus-terusan mengabdi padanya.
Mendengar penuturan Duke,
air mata Hardwin kembali tumpah. Lelaki yang di bencinya ternyata begitu
perhatian kepada ayahnya. Dia benar-benar bodoh selama ini.
“ baik Duke, saya akan
mengingat semua ucapan anda” Hardwin mengusap air matanya kasar. Lelaki itu
kemudian pamit, dia akan menemui ayahnya. Dia akan meminta maaf sampai ayahnya
tidak lagi bersedih dan mau
memaafkannya.
Waktu sudah memasuki
berhadapan dengan ayahnya, dia merasa sudah tidak memiliki harga diri lagi di
depan ayahnya.
Lelaki berdiri cukup
lama, sampai suara pintu terbuka langsung menyita perhatiannya.
“a,ayah” cicit Hardwin.
Aidyn menatap sendu anaknya, penampilannya begitu kasihan.
“ obati dulu lukamu” ucap
tuan Kleiner datar, kemudian melangkah menjauhi Hardwin.
“ ayah, maafkan
kesalahanku” teriak Hardwin untuk mencegah ayahnya pergi. Langkah Aidyn
langsung terhenti, lelaki itu tidak mengira anaknya akan berbicara seperti itu.
“ maafkan aku ayah, maaf
karena selama ini karena hanya memikirkan diriku sendiri, maaf karena sudah
membuat ayah kecewa dan malu. Aku bersalah ayah, aku bersalah padamu” Hardwin
bersimpuh dan memegang kaki ayahnya. Dia bahkan akan bersujud jika perlu. Semua
rasa kecewa ayahnya akan Hardwin bayar.
Aidyn mendengar semuanya
dengan hati pilu, bagaimana mungkin dia bisa membenci anaknya. Hatinya sungguh
tidak sanggup. Dia memang kecewa namun melihat bagaimana anaknya tulus meminta
maaf rasanya semuanya sudah cukup.
“ tidak perlu kau meminta
maaf. Ayah yang salah, nak” kalimat itu malah menjadi cambukan di hati Hardwin.
Ayahnya selalu saja menanggung semuanya sendiri. Dia bahkan tidak
menyalahkannya atas semua perbuatannya. Hardwin benar-benar kecewa dengan
dirinya sendiri.
“ tidak ayah, ini
salahku. Semuanya salahku. Maafkan aku” Hardwin menangis dibawah kaki ayahnya.
“ sudah, ayah sudah
memaafkanmu. Mulai sekarang kita jalani hidup baru, biarkan semuanya menghilang
dan kita ganti menjadi hari yang lebih baik” ucapan Aidyn ini menyelesaikan
semuanya. Lelaki itu menarik anaknya bangun. Dilihatnya wajah anaknya yang
sudah basah air mata, di hapusnya pelan air itu. Kemudian dia tersenyum senang.
Kejadian ini merubah
segalanya. Setelah berbaikan Aidyn membantu anaknya untuk mengobati luka-luka
di tubuhnya. Dengan penuh kehati-hatian dia mengolesi obat hampir di seluruh
tubuh anaknya, karena memang sebanyak itu luka yang Hardwin terima.
“ aku benar-benar babak
belur” ucap Hardwin sambil menahan sakitnya.
“ baru sadar? Kau bukan
tandingan Duke” jawab tuan Kleiner ketus.
“ ayah benar, lain kali
aku akan berlatih dulu sebelum bertanding” saut Hardwin santai. Hubungan mereka
kini lebih erat. ayah dan anak itu semakin dekat dan saling mengerti.
“ mau berlatih selama
apapun, jika lawannya Duke kau pasti tamat” Aidyn menaruh obat olesnya. Dia tidak
mau hal ini terjadi lagi.
“ ayah benar, pukulannya
seakan menembus masuk kedalam tubuhku” ungkap Hardwin mengenai perkelahiannya.
“ kau payah” tuan Kleiner
malah mengejek anaknya.
“ aku akui itu, hahahha”
mereka tertawa bersama setelah cukup lama hal ini tidak pernah terjadi. Memang benar
pasti ada hikmah dibalik semua kejadian.