The New Duchess

The New Duchess
Bab 149. Wasiat



Ai menatap hampir tidak percaya, saat Briana tanpa pamit langsung berjalan melaluinya dan keluar kamar begitu saja.


Dalbert menahan Ai yang ingin melabrak wanita itu.


" tahan emosimu, dia masih Ratu Bavaria" pesan Dalbert berkali-kali.


" dia wanita jahat yang pernah aku temui" Ai tidak terima.


" aku tau, sudah lebih baik kau temani saja Duke" Dalbert lah yang akan mengantar anggota kerajaan itu pergi.


Saat percakapan itu berlangsung, tak ada yang tau jika tangan Axton bergerak. Semua pembicaraan itu ternyata bisa di dengar oleh lelaki itu. Sayangnya dia belum bisa membuka matanya.


" baiklah, aku tidak bisa mengontrol emosi jika melihat wanita itu" Ai segera berbalik badan duduk di samping ranjang. Dia menarik nafas panjang.


Dalbert keluar dan segera menuju pelataran kediaman.


" maafkan penyambutan kami pangeran. Duchess masih belum stabil pasca keguguran. kuharap kalian mengerti" Dalbert mencoba memberikan pengertian.


" jangan meminta maaf, aku juga merasa bersalah atas insiden ini" jawab pangeran.


" Axton kehilangan anaknya lagi? lelaki itu sangat kasihan" ungkap Briana dengan entengnya.


" saya harap Ratu bisa mengerti emosi Duchess" Dalbert terus saja merendah.


" aku juga seorang ibu," jawab Briana lalu naik ke kereta.


" kami pergi dulu" ucap Aric tak kala kereta Ratu sudah berjalan meninggalkan kediaman Wellington lebih dulu.


Dalbert menarik nafas panjang, biang masalah baru saja pergi, dia akan menemui Ai dan menenangkan wanita itu.


Namun baru saja lelaki itu sampai di ambang pintu kamar, dia mengurungkan niatnya. Lelaki itu melihat Ai yang berdiri di samping jendela dengan bahu bergetar. Wanita itu pasti sedang menangis. Anaknya baru saja pergi, disaat dia butuh sandaran yang ternyata tidak ada. Suaminya juga sedang tidak baik-baik saja. Entah bagaimana menghibur perasaan wanita itu. Semua ini pasti sangat berat bagi Ai. Tak ada yang bisa menyembuhkan luka kehilangan anak dan melihat suami tak berdaya. Dalbert tak ingin mengganggu, membiarkan wanita itu menangis agar hatinya sedikit ringan. Sejak hari itu, Ai memang tidak pernah terlihat menangis di depannya. Ai memilih menyembunyikan tangisan nya agri tidak membuat yang lain khawatir.


Sore harinya, kediaman Wellington kedatangan tamu lagi, Paman dan bibi nya datang setelah mendapatkan kabar mengagetkan ini.


" Astaga Ai, bagaimana bisa kau tidak mengirim kabar apapun pada bibi?" tanya Amber begitu prihatin, melihat Ai yang bertambah kurus dan wajah yang lesu.


" Maafkan Ai bibi, Ai hanya tidak ingin bibi dan paman cemas" jawab Ai menahan kesedihannya.


" Duke masih belum sadar," jawab Ai dengan nada bergetar. Melihat paman dan bibi yang sudah Ai anggap sebagai orang tuanya, membuat tangisnya ingin segera runtuh. Mereka seakan menjadi tempat pulang dan berkeluh kesah.


" kau pasti sangat sedih" ucap Amber sambil menepuk Ai.


Dan saat itu juga, tangis yang Ai coba tahan langsung pecah begitu saja. Ai mengeluarkan semua rasa sedihnya dalam pelukan Amber.


" hiks hiks, Axton belum juga sadar bibir, bagaimana jika dia ..dia.."


" ssutt. jangan berfikir begitu. Duke pasti bisa sadar kembali. Dia sudah berjanji pada kita semua untuk menjaga mu. Kau harus percaya" balas Amber sambil mengelus pelan punggung Ai.


Dalbert yang baru saja tau kedatangan ayah dan ibunya segera menuju ruang tamu. Dia melangkah pelan sambil melihat ibu dan Ai berpelukan. lelaki itu menemui ayahnya dan memeluk Al dengan penuh kerinduan.


" maafkan aku ayah" lirih Dalbert. dia sudah melakukan kesalahan dengan membawa Ai ke ibu kota. Seharusnya dia tidak menyetujui Ai dan menahan adiknya agar tetap di rumah.


" sudah lah, Semuanya sudah terjadi. Kita sebaiknya fokus ke depan dan jangan menyesali apapun" jelas Al, dia bisa merasakan jika anaknya sangat merasa bersalah. Kedua orang itu dengan haru menyambut kedatangan Al dan Amber.


Di tempat yang berbeda, di istana Bavaria sedang mengalami masalah serius. Kejahatan yang dilakukan oleh putra mahkota sudah di ketahui oleh badan hukum kerajaan. Dan yang lebih parahnya lagi, kabar Raja yang sudah tak sadarkan diri membuat kebijakan apapun tidak bisa dilaksanakan. Hanya menunggu keputusan Ratu Bavaria yang sebenarnya juga terlibat dalam kejahatan ini.


" aku tak tau bagaimana menangani semua ini, selama ini hanya mengikuti arahan Duke, bahkan untuk urusan kebijakan Aku pun tidak berhak ikut campur" ungkap Aric yang sudah mulai putus asa dan kebingungan.


" pangeran harus bisa menghadapi ini, semua hanya bisa berharap pada anda. Bahkan Duke pasti menginginkan anda yang menangani ini" balas pengawal pribadi nya.


" aku tau, Duke sudah sangat bijak dan selalu mengarahkan dengan baik. Mungkin saatnya aku bisa dewasa dan berani mengambil tanggung jawab" Aric tidak boleh menyerah begitu saja. Semua hanya bisa mengandalkannya.


" pangeran pasti bisa sama bijaknya dengan Duke" timpal pengawal itu penuh harap.


Malam harinya, Briana duduk di meja kamarnya yang gelap, hanya cahaya bulan yang menjadi penerangan kamar itu. Wanita tua itu sudah menyiapkan kertas beserta tinta yang menjadi akhir perjalanannya sebagai Ratu Bavaria. Briana menatap dengan datar, seakan semua emosi dalam dirinya sudah lenyap tak tersisa. Briana hampir 20 tahun menjadi Ratu yang menguasai keadaan politik secara tidak langsung. Baik Raja maupun Putra mahkota selalu menjadi kaki tangannya.


sekarang dia tidak menyangka, kejayaannya berakhir dengan tangannya sendiri. Dia tidak menyangka semua ini karena Putra pertamanya yang dia benci setengah mati.


" aku baru paham jika cinta dan benci memang sangat tipis, Axton. Bertahun-tahun aku mencoba mengusik perhatian mu dan kini bukannya senang, aku malah dengan suka rela membunuh diriku sendiri" Kertas itu tak ubahnya seperti Axton yang sedang mendengarkan semua penyesalannya. Briana mulai menyesali semua perlakuannya pada anak pertamanya.


" kau memang mudah di cintai, bahkan oleh musuhmu ini, Axton" lirih Briana.


Wanita itu mulai mengangkat tangannya, mengambil pena yang siap menjadi saksi kejahatannya dan kejatuhannya. Seperti yang sudah dia katakan. Ini akan menjadi hal terakhir yang akan dia lakukan untuk Axton. Anaknya Pertamanya.