
Ai jatuh terduduk di atas
tempat tidur kayu. Dia masih syok mengalami hal yang tidak terduga, bagaimana
bisa Hardwin bisa berubah menjadi begitu terobsesi denganya. Bahkan lelaki itu
seperti sedang kehilangan akalnya.
“ apa yang ingin kau
lakukan Hardwin” suara Ai sedikit bergetar. Dia menatap Hardwin yang semakin
mendekat.
“ bagaimana dengan
penwaranku? Kita pergi bersama ya?” Hardwin mendekati Ai, dia terus saja
mengajukan penawaran gilanya.
“ tidak, aku tidak mau!”
Ai langsung beranjak turun, nyatanya dia kalah cepat. Hardwin segera mencengkal
lengan Ai agar wanita itu tidak bisa menuruni tempat tidur.
“lepaskan aku! Kau gila”
Ai berteriak agar Hardwin bisa kembali waras.
“ tidak!” Hardwin semakin
mendekatkan tubuhnya, ingin memeluk dan mencium wanita pujaanya.
“ lepas, atau aku akan
menodongkan pistol ini padamu” Ai berdesis, dia sudah merencanakanya. Wanita
itu mengambil pistol milik Dalbert untuk berjaga-jaga. Dia tidak tau jika
memang akan terjadi sesuatu yang buruk saat bertikai dengan Hardwin.
Mulut pistol itu
tertempel tepat di dada Hardwin. Lelaki itu terdiam, dia tidak bergerak. Mengamati
kedua manic Ai yang memancarkan keseriusan.
“ lihat, kau yang sudah
berubah. Dan semua ini karena lelaki itu. Lebih baik dia mati saja” tidak kalah
menyeramkan Hardwin lebih menakutkan dengan seringai mencemooh,dia sama sekali
tidak terganggu dengan pistol yang mengarah ke jantungnya.
“ tidak, dia tidak akan
mati” mata Ai melebar menunjukkan keyakinan. dia tidak mau seorangpun
meremehkan suaminya.
Mendengar kalimat tidak
menyenangkan, Hardwin semakin mendekatkan tubuhnya. Seakan ingin menindih tubuh
kecil Ai. namun wanita itu dengan kuat memegang pelatuk pistol, dia sudah akan
bersiap jika saja Hardwin semakin bersikap kurang ajar dengannya.
“ kau akan menyesalinya”
Ai mencoba memperingatkan Hardwin. Situasi semakin menegangkan.
Keteguhan Ai semakin
diuji, di depannya ini masihlah teman masa kecilnya. Satu saja tarikan dia akan
benar-benar kehilangan lelaki ini. Bagaimana dia akan menyelamatkan Axton jika
Hardwin celaka.
“ kenapa? kau ragu bukan.
Tarik pelatuknya dan dia juga akan mati” lelaki itu tersenyum senang.
Ditengah kebingungan Ai,
Hardwin mememafaatkannya dengan benar, dengan cepat di renggutnya pistol itu
dan melemparkannya ke sembarang arah. Ai dalam posisi yang sulit, akhirnya
dengan cepat mendorong lelaki itu dan berusaha berlari.
Gerakannya kurang cepat,
tubuhnya dengan cepat di tahan dengan sebuah lengan yang melingkari perutnya.
Ai tidak bisa bergerak.
“ kita pergi bersama, ya” Hardwin seakan merengek agar
keinginannya penuhi.
“ lepaskan aku ” Ai terus
“ ku mohon biarkan aku
memilikimu Ai” Hardwin masih saja tidak mau menyerah, pelukan itu semakin erat.
malah karena gerakan Ai kini mereka saling berhadapan. Hardwin semakin
terhipnotis dan ingin segera mencium bibir itu.
Ai terus meronta dan
secara tiba-tiba sebuah pukulan mendarat cepat di pipi Hardwin.
“ dasar brengsek!”
Hardwin jatuh terduduk, dengan tubuh miring. Sudut bibirnya bahkan sudah
mengelurkan darah.
Dilihatnya Ai sedang di
papah Dalbert berjalan keluar dari tenda. Seakan tersadar, Hardwin hanya diam
melihat mereka berjalan dan menghilang di balik tirai kain. Lelaki itu
menghembuskan nafas kasar. Dia sudah kehilangan kewarasannya.
Kini Ai sedang terduduk
sendirian di dalam ruangan. Wanita itu terdiam dan merenung. Bagaimana bisa
Hardwin melakukan hal keji itu, bagaimana jika lelaki itu benar-benar tidak mau
menolong Axton.
“ hey, kau tak apa?”
Dalbert masuk dengan membawa nampan berisi makanan. Wanita itu memang belum
menyentuh makanan sejak dia berangkat kemari.
“ untung saja aku datang
tepat waktu, Bagaimana bisa dia melakukan itu padamu, dasar Hardwin brengsek.”
Dalbert mengoceh, dia sangat membenci Hardwin sekarang.
Ai terdiam saja, dia
harus mencari cara bagaimana membuat Hardwin mau menolong Axton. apapun dengan
cara apapun. Melihat Ai yang masih terbisu Dalbert memilih untuk membiarkan
wanita itu sendirian sejenak, agar bisa menenangkan diri.
Di lain sisi Axton sedang
terduduk di teras pondok, dia sedang menikmati angin sore danau. Meski wajahnya
tenang namun jiwanya seakan sedang berkecamuk. Dia merasakan sesuatu buruk yang
sedang terjadi.
“ tuan, obatnya” pelayan
itu membuyarkan lamunan Axton. dengan pelan lelaki itu menerima mangkuk dan
meminum isinya.
“ em tuan, sepertinya
tadi nyonya mendeng..”
“ aku tau,” jawaban Axton membuat kening pelayan itu berkerut.
“ jadi anda membiarkannya
mendengar semuanya?” pelayan itu mengungkapkan rasa penasarannya.
“ dia bisa melihat
bagaimana tubuhku, dia akan mencari tau. Sia-sia menyembunyikan darinya, lebih
baik mengarahkannya untuk mendapatkan yang lain” Axton memang merencakan
semuanya, dia sengaja membuat wanita itu merasa seolah-olah dirinya tidak mengetahui. Ai bukan orang yang mudah
dikelabuhi apalagi itu ada di depan matanya. Axton bahkan membiarkan wanita itu
dengan mudahnya keluar dari kawasan pondok untuk menemui Hardwin. Kini perasaannya
terasa tidak enak, membuat lelaki itu sejenak menyesal dengan keputusannya.
“ lalu apa mungkin akan
berhasil?” pelayan semakin menerka-nerka.
“ kita akan melihatnya
nanti, Ai wanita yang dapat diandalkan” jawab Axton yakin dia aka menebus
semuanya. Kesalahan dan semua rencana yang melibatkan Ai akan Axton bayar
kepada wanita itu nanti.