The New Duchess

The New Duchess
Bab 109: Bagaimana



Ai jatuh terduduk di atas


tempat tidur kayu. Dia masih syok mengalami hal yang tidak terduga, bagaimana


bisa Hardwin bisa berubah menjadi begitu terobsesi denganya. Bahkan lelaki itu


seperti sedang kehilangan akalnya.


“ apa yang ingin kau


lakukan Hardwin” suara Ai sedikit bergetar. Dia menatap Hardwin yang semakin


mendekat.


“ bagaimana dengan


penwaranku? Kita pergi bersama ya?” Hardwin mendekati Ai, dia terus saja


mengajukan penawaran gilanya.


“ tidak, aku tidak mau!”


Ai langsung beranjak turun, nyatanya dia kalah cepat. Hardwin segera mencengkal


lengan Ai agar wanita itu tidak bisa menuruni tempat tidur.


“lepaskan aku! Kau gila”


Ai berteriak agar Hardwin bisa kembali waras.


“ tidak!” Hardwin semakin


mendekatkan tubuhnya, ingin memeluk dan mencium wanita pujaanya.


“ lepas, atau aku akan


menodongkan pistol ini padamu” Ai berdesis, dia sudah merencanakanya. Wanita


itu mengambil pistol milik Dalbert untuk berjaga-jaga. Dia tidak tau jika


memang akan terjadi sesuatu yang buruk saat bertikai dengan Hardwin.


Mulut pistol itu


tertempel tepat di dada Hardwin. Lelaki itu terdiam, dia tidak bergerak. Mengamati


kedua manic Ai yang memancarkan keseriusan.


“ lihat, kau yang sudah


berubah. Dan semua ini karena lelaki itu. Lebih baik dia mati saja” tidak kalah


menyeramkan Hardwin lebih menakutkan dengan seringai mencemooh,dia sama sekali


tidak terganggu dengan pistol yang mengarah ke jantungnya.


“ tidak, dia tidak akan


mati” mata Ai melebar menunjukkan keyakinan. dia tidak mau seorangpun


meremehkan suaminya.


Mendengar kalimat tidak


menyenangkan, Hardwin semakin mendekatkan tubuhnya. Seakan ingin menindih tubuh


kecil Ai. namun wanita itu dengan kuat memegang pelatuk pistol, dia sudah akan


bersiap jika saja Hardwin semakin bersikap kurang ajar dengannya.


“ kau akan menyesalinya”


Ai mencoba memperingatkan Hardwin. Situasi semakin menegangkan.


Keteguhan Ai semakin


diuji, di depannya ini masihlah teman masa kecilnya. Satu saja tarikan dia akan


benar-benar kehilangan lelaki ini. Bagaimana dia akan menyelamatkan Axton jika


Hardwin celaka.


“ kenapa? kau ragu bukan.


Tarik pelatuknya dan dia juga akan mati” lelaki itu tersenyum senang.


Ditengah kebingungan Ai,


Hardwin mememafaatkannya dengan benar, dengan cepat di renggutnya pistol itu


dan melemparkannya ke sembarang arah. Ai dalam posisi yang sulit, akhirnya


dengan cepat mendorong lelaki itu dan berusaha berlari.


Gerakannya kurang cepat,


tubuhnya dengan cepat di tahan dengan sebuah lengan yang melingkari perutnya.


Ai tidak bisa bergerak.


“ kita pergi  bersama, ya” Hardwin seakan merengek agar


keinginannya penuhi.


“ lepaskan aku ” Ai terus


“ ku mohon biarkan aku


memilikimu Ai” Hardwin masih saja tidak mau menyerah, pelukan itu semakin erat.


malah karena gerakan Ai kini mereka saling berhadapan. Hardwin semakin


terhipnotis dan ingin segera mencium bibir itu.


Ai terus meronta dan


secara tiba-tiba sebuah pukulan mendarat cepat di pipi Hardwin.


“ dasar brengsek!”


Hardwin jatuh terduduk, dengan tubuh miring. Sudut bibirnya bahkan sudah


mengelurkan darah.


Dilihatnya Ai sedang di


papah Dalbert berjalan keluar dari tenda. Seakan tersadar, Hardwin hanya diam


melihat mereka berjalan dan menghilang di balik tirai kain. Lelaki itu


menghembuskan nafas kasar. Dia sudah kehilangan kewarasannya.


Kini Ai sedang terduduk


sendirian di dalam ruangan. Wanita itu terdiam dan merenung. Bagaimana bisa


Hardwin melakukan hal keji itu, bagaimana jika lelaki itu benar-benar tidak mau


menolong Axton.


“ hey, kau tak apa?”


Dalbert masuk dengan membawa nampan berisi makanan. Wanita itu memang belum


menyentuh makanan sejak dia berangkat kemari.


“ untung saja aku datang


tepat waktu, Bagaimana bisa dia melakukan itu padamu, dasar Hardwin brengsek.”


Dalbert mengoceh, dia sangat membenci Hardwin sekarang.


Ai terdiam saja, dia


harus mencari cara bagaimana membuat Hardwin mau menolong Axton. apapun dengan


cara apapun. Melihat Ai yang masih terbisu Dalbert memilih untuk membiarkan


wanita itu sendirian sejenak, agar bisa menenangkan diri.


Di lain sisi Axton sedang


terduduk di teras pondok, dia sedang menikmati angin sore danau. Meski wajahnya


tenang namun jiwanya seakan sedang berkecamuk. Dia merasakan sesuatu buruk yang


sedang terjadi.


“ tuan, obatnya” pelayan


itu membuyarkan lamunan Axton. dengan pelan lelaki itu menerima mangkuk dan


meminum isinya.


“ em tuan, sepertinya


tadi nyonya mendeng..”


“ aku tau,” jawaban Axton  membuat kening pelayan itu berkerut.


“ jadi anda membiarkannya


mendengar semuanya?” pelayan itu mengungkapkan rasa penasarannya.


“ dia bisa melihat


bagaimana tubuhku, dia akan mencari tau. Sia-sia menyembunyikan darinya, lebih


baik mengarahkannya untuk mendapatkan yang lain” Axton memang merencakan


semuanya, dia sengaja membuat wanita itu merasa seolah-olah dirinya tidak  mengetahui. Ai bukan orang yang mudah


dikelabuhi apalagi itu ada di depan matanya. Axton bahkan membiarkan wanita itu


dengan mudahnya keluar dari kawasan pondok untuk menemui Hardwin. Kini perasaannya


terasa tidak enak, membuat lelaki itu sejenak menyesal dengan keputusannya.


“ lalu apa mungkin akan


berhasil?” pelayan semakin menerka-nerka.


“ kita akan melihatnya


nanti, Ai wanita yang dapat diandalkan” jawab Axton yakin dia aka menebus


semuanya. Kesalahan dan semua rencana yang melibatkan Ai akan Axton bayar


kepada wanita itu nanti.