The New Duchess

The New Duchess
Bab 87 : Berhasil Masuk



Mily merapikan sebagian


gaunnya memastikan bahwa dia berpenampilan layak di depan raja. Wanita itu


mengehembuskan nafas dalam sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan.


Tidak sepeti bayangannya


ruangan itu ternyata jauh lebih besar dan mewah daripada dugaanya. Semua pernak


perniknya terlihat estetik. Sangat memukau. Namun dia tidak mau bertindak


ceroboh, Mily memperhatikan langkah kaki dan pandangannya ke depan. Disaa ada


seorang beseragam sedang berbincang dengan lelaki paruh baya dan begitu


karismatik.


Keduanya kemudian menoleh


ke arahnya, membuatnya Mily menjadi lebih gugup lagi. Mily berhenti dan


memberikan salam penghormatan. Lelaki berseragam itupun berjalan mundur


kemudian meninggalkan dirinya sendirian.


“ salam yang mulia raja”


ucap Mily, meskipun dia tidak pernah bertemu dengan raja Bavaria sebelumnya,


namun dari aura dan gayanya lelaki di depannya ini pastilah sang Raja.


“ kau, siapa?” Raja itu


mengerutkan keningnya. Ada banyak sekali orang yang dijadwalkan bertemu


dengannya, membuat raja harus memastikan siapa yang saat ini berdiri


dihadapannya.


“ saya Mili ,pelayan


pribadi Duchess Wellington”  jawab Mily


dengan tutur kata yang lembut.


“ ah, ya. Kemarilah duduk


disini” tak di sangka raja Aldrich tampak senang menyambut kedatangannya. Sama


sekali diluar dugaanya, Raja Aldrich begitu sederhana dan bijaksana.


“ jadi sudah berapa lama


kau menjadi pelayan Duchess?” tanya Raja sebagai pembuka pembicaraan.


“ sebenarnya saya awalnya


adalah pelayan keluarga Duke, namun ketika Nyonya Ainsley menjadii Duchess,


saya yang di tunjuk sebagai pelayan pribadinya” jelas Mily, wanita itu sedikit


menundukkan kepalanya. Dia tidak merasa cukup pantas jika memandang langsung ke


wajah raja.


“ begitu, jadi bisa


dibilang kau baru saja menjadi pelayanya, kurang dari setahun bukan? lalu


mengenai kesaksianmu tempo hari, apakah bisa di pertanggung jawabkan?” raja


Aldrich benar dengan itu, Mily memang belum genap setahun melayani Duchess. Namun


semua perjalanan hidup Duchess sejak menikah Mily lebih tau daripada orang


lain.


“ iya yang mulia, saya


berani bersumpah bahwa apa yang saya ucapakan sebagai kesaksian adalah benar”


Mily begitu serius, dirinya harus bisa membuat raja mempercayai semua ucapannya.


“ jika memang Duchess


memiliki alibi kuat seperti yang kau ucapkan, mengapa dia harus melarikan diri?”


ini juga yang tidak bisa Mily jawab. Wanita itu sudah diberikan pesan oleh


Duchess agar rahasia lain yang dia tahu tidak boleh diceritakan selain masalah


kehamilan Grace. Duchess masih tidak bisa mempercayai anggota kerajaan dan Mily


juga memiliki ketakutan yang sama.


“ saya sendiri juga tidak


tau, namun belakang ini Duchess begitu mengkhawatirkan Duke, nyonya memang berniat


menyusul Duke ke perbatasan” Mily hanya bisa menjawab sebagaimana umumnya. Wanita


ini sedikit memiliki bakat dalam membuat cerita-cerita fiksi.


Raja terdiam menatap Mily


dengan seksama, semua yang dikatakan wanita ini tidak ada yang mencurigakan.


Duchess pergi adalah seperti yang kamu ucapkan. Tapi bagaimana membuktikan jika


kesaksiamu adalah benar?” Raja tidak akan meloloskan Mily dengan mudah.


Mendengar hal itu Mily


meremas tangannya, sejak awal dia memang tidak memiliki bukti apapun. Jadi dia


akan memperkuat kesaksiannya lewat hal lainnya.


“bukti memang agak sulit


bagi saya untuk memberikannya tapi saya memiliki beberapa saksi” Mily tidak mau


jatuh sendirian. Dia akan menarik sebanyak mungkin orang-orang yang berkaitan


dengan kasus ini.


“ yang mulia bisa


memanggil tuan muda Kleiner dan Lady Bart, biarkan mereka ikut bersaksi” Mily


akan memperluas bagaimana kasus ini bermula. Untung saja dua orang ini tidak


ikut menghilang bersama Duke ataupun Duchess.


Raja Aldrich mengangguk


kecil. Baru saja pengawalnya mengatakan jika sore tadi 2 orang  nama yang pelayan ini sebutkan meminta


bertemu dengannya. Apa mungkin mereka akan memiliki kesaksian yang sama atau


malah berbeda. Aldrich semakin tidak bisa mengambil keputusan. Putra mahkota


juga tidak ada di ibukota, masalah ini tidak seakan hanya memiliki satu sudut


pandang saja.


“ baiklah kau bisa


kembali” raja Aldrich memutuskan untuk menunggu besok untuk melanjutkan


kasusnya. Tunggu semua saksi yang terlibat memberikan keterangan.


Mily beranjak, memberikan


salam kemudian berjalan mundur dan keluar dari ruangan. Dalam hatinya dia


berdoa semoga Hardwin maupun nona Grace kali ini bisa berubah menjadi orang


baik dan mengatakan kebenarannya. Wanita ini hanya tidak tau bahwa 2 orang


tersebut juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.


Sesampainya di depan


pintu, lelaki berseragam masih disana. Dia mengantar Mily kembali ke kamar yang


sama yang dia tinggalkan. Mily tidak tau apakah raja mempercayainya atau


memiliki rencana lain.


Pagi menjelang, saat ini


Hardwin dan Grace sedang menikmati sarapan sederhananya. Pelayan serta kereta


Grace baru saja datang dan mereka membawa berbagai makanan serta baju ganti. Hari


ini mereka akan kembali pergi ke istana raja.


Perjalanan berlangsung


lancar dan kini mereka sampai di depan istana depan, tempat penjaga penyambut


tamu bersiap. Kereta berhenti dan Hardwin membuka cedelanya, kali ini belum


juga lelaki itu bersuara kedua penjaga itu langsung membukaan gerbang. Membuat Hardwin


seakan tau bahwa raja sudah tau dengan kedatangannya.


2 kereta itu segera


memasuki istana depan. Grace yang berada di barisan belakang tampak senang


dengan keberhasilan Hardwin. Begitu turun dari kereta mereka langsung didampingi


melewati beberapa lorong dan terus mengarah ke dalam istana. Sampailah mereka


di depan sebuah ruangan, penjaga itu berhenti sambil membukaan pintu. Kedua orang


itupun masuk dan pintu tertutup.


“ duduklah” ucap seorang


lelaki paruh baya.


“ salam yang mulia raja”Hardwin


jelas mengenali siapa lelaki ini, beberapa kali dia menemani sang ayah


menghadiri jamuan kerajaan.


“ salam yang mulia” Gracepun


ikut memberikan salam penghormatan.