
Mily merapikan sebagian
gaunnya memastikan bahwa dia berpenampilan layak di depan raja. Wanita itu
mengehembuskan nafas dalam sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan.
Tidak sepeti bayangannya
ruangan itu ternyata jauh lebih besar dan mewah daripada dugaanya. Semua pernak
perniknya terlihat estetik. Sangat memukau. Namun dia tidak mau bertindak
ceroboh, Mily memperhatikan langkah kaki dan pandangannya ke depan. Disaa ada
seorang beseragam sedang berbincang dengan lelaki paruh baya dan begitu
karismatik.
Keduanya kemudian menoleh
ke arahnya, membuatnya Mily menjadi lebih gugup lagi. Mily berhenti dan
memberikan salam penghormatan. Lelaki berseragam itupun berjalan mundur
kemudian meninggalkan dirinya sendirian.
“ salam yang mulia raja”
ucap Mily, meskipun dia tidak pernah bertemu dengan raja Bavaria sebelumnya,
namun dari aura dan gayanya lelaki di depannya ini pastilah sang Raja.
“ kau, siapa?” Raja itu
mengerutkan keningnya. Ada banyak sekali orang yang dijadwalkan bertemu
dengannya, membuat raja harus memastikan siapa yang saat ini berdiri
dihadapannya.
“ saya Mili ,pelayan
pribadi Duchess Wellington” jawab Mily
dengan tutur kata yang lembut.
“ ah, ya. Kemarilah duduk
disini” tak di sangka raja Aldrich tampak senang menyambut kedatangannya. Sama
sekali diluar dugaanya, Raja Aldrich begitu sederhana dan bijaksana.
“ jadi sudah berapa lama
kau menjadi pelayan Duchess?” tanya Raja sebagai pembuka pembicaraan.
“ sebenarnya saya awalnya
adalah pelayan keluarga Duke, namun ketika Nyonya Ainsley menjadii Duchess,
saya yang di tunjuk sebagai pelayan pribadinya” jelas Mily, wanita itu sedikit
menundukkan kepalanya. Dia tidak merasa cukup pantas jika memandang langsung ke
wajah raja.
“ begitu, jadi bisa
dibilang kau baru saja menjadi pelayanya, kurang dari setahun bukan? lalu
mengenai kesaksianmu tempo hari, apakah bisa di pertanggung jawabkan?” raja
Aldrich benar dengan itu, Mily memang belum genap setahun melayani Duchess. Namun
semua perjalanan hidup Duchess sejak menikah Mily lebih tau daripada orang
lain.
“ iya yang mulia, saya
berani bersumpah bahwa apa yang saya ucapakan sebagai kesaksian adalah benar”
Mily begitu serius, dirinya harus bisa membuat raja mempercayai semua ucapannya.
“ jika memang Duchess
memiliki alibi kuat seperti yang kau ucapkan, mengapa dia harus melarikan diri?”
ini juga yang tidak bisa Mily jawab. Wanita itu sudah diberikan pesan oleh
Duchess agar rahasia lain yang dia tahu tidak boleh diceritakan selain masalah
kehamilan Grace. Duchess masih tidak bisa mempercayai anggota kerajaan dan Mily
juga memiliki ketakutan yang sama.
“ saya sendiri juga tidak
tau, namun belakang ini Duchess begitu mengkhawatirkan Duke, nyonya memang berniat
menyusul Duke ke perbatasan” Mily hanya bisa menjawab sebagaimana umumnya. Wanita
ini sedikit memiliki bakat dalam membuat cerita-cerita fiksi.
Raja terdiam menatap Mily
dengan seksama, semua yang dikatakan wanita ini tidak ada yang mencurigakan.
Duchess pergi adalah seperti yang kamu ucapkan. Tapi bagaimana membuktikan jika
kesaksiamu adalah benar?” Raja tidak akan meloloskan Mily dengan mudah.
Mendengar hal itu Mily
meremas tangannya, sejak awal dia memang tidak memiliki bukti apapun. Jadi dia
akan memperkuat kesaksiannya lewat hal lainnya.
“bukti memang agak sulit
bagi saya untuk memberikannya tapi saya memiliki beberapa saksi” Mily tidak mau
jatuh sendirian. Dia akan menarik sebanyak mungkin orang-orang yang berkaitan
dengan kasus ini.
“ yang mulia bisa
memanggil tuan muda Kleiner dan Lady Bart, biarkan mereka ikut bersaksi” Mily
akan memperluas bagaimana kasus ini bermula. Untung saja dua orang ini tidak
ikut menghilang bersama Duke ataupun Duchess.
Raja Aldrich mengangguk
kecil. Baru saja pengawalnya mengatakan jika sore tadi 2 orang nama yang pelayan ini sebutkan meminta
bertemu dengannya. Apa mungkin mereka akan memiliki kesaksian yang sama atau
malah berbeda. Aldrich semakin tidak bisa mengambil keputusan. Putra mahkota
juga tidak ada di ibukota, masalah ini tidak seakan hanya memiliki satu sudut
pandang saja.
“ baiklah kau bisa
kembali” raja Aldrich memutuskan untuk menunggu besok untuk melanjutkan
kasusnya. Tunggu semua saksi yang terlibat memberikan keterangan.
Mily beranjak, memberikan
salam kemudian berjalan mundur dan keluar dari ruangan. Dalam hatinya dia
berdoa semoga Hardwin maupun nona Grace kali ini bisa berubah menjadi orang
baik dan mengatakan kebenarannya. Wanita ini hanya tidak tau bahwa 2 orang
tersebut juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
Sesampainya di depan
pintu, lelaki berseragam masih disana. Dia mengantar Mily kembali ke kamar yang
sama yang dia tinggalkan. Mily tidak tau apakah raja mempercayainya atau
memiliki rencana lain.
Pagi menjelang, saat ini
Hardwin dan Grace sedang menikmati sarapan sederhananya. Pelayan serta kereta
Grace baru saja datang dan mereka membawa berbagai makanan serta baju ganti. Hari
ini mereka akan kembali pergi ke istana raja.
Perjalanan berlangsung
lancar dan kini mereka sampai di depan istana depan, tempat penjaga penyambut
tamu bersiap. Kereta berhenti dan Hardwin membuka cedelanya, kali ini belum
juga lelaki itu bersuara kedua penjaga itu langsung membukaan gerbang. Membuat Hardwin
seakan tau bahwa raja sudah tau dengan kedatangannya.
2 kereta itu segera
memasuki istana depan. Grace yang berada di barisan belakang tampak senang
dengan keberhasilan Hardwin. Begitu turun dari kereta mereka langsung didampingi
melewati beberapa lorong dan terus mengarah ke dalam istana. Sampailah mereka
di depan sebuah ruangan, penjaga itu berhenti sambil membukaan pintu. Kedua orang
itupun masuk dan pintu tertutup.
“ duduklah” ucap seorang
lelaki paruh baya.
“ salam yang mulia raja”Hardwin
jelas mengenali siapa lelaki ini, beberapa kali dia menemani sang ayah
menghadiri jamuan kerajaan.
“ salam yang mulia” Gracepun
ikut memberikan salam penghormatan.