The New Duchess

The New Duchess
Bab 59 : Tak Sengaja



“ bagaimana keadaanya?


Apakah ada pergerakan?” tanya  pangeran


Aric pada salah satu pengawalnya.


“ tidak ada yang mulia.


Tapi yang membuat aneh putra mahkota tiba-tiba mengunjungi makam lord Duke


Edward” Aric mencerna informasi barunya. Ini benar-benar acak. Tak ada satu


benang merahpun yang saling berhubungan. Aric hanya menduga jika kakaknya


memiliki dendam dan berniat buruk pada Duke Axton. untuk alasannya sampai


sekarang tak tahu.


“ apa hubungan antara


lord Duke dengan putra mahkota?” Aric berguman sendiri.


“ bagaimana dengan


kediaman Duchess?” lanjut Aric.


“ tidak ada hal yang


aneh, Duchess hanya membuat pesta ataupun keluar untuk menghadiri


pertemuan.  Namun salah satu pengawal


menangkap sepertinya tidak hanya kita yang mengintai kediaman itu”


“ sudah dicari tau?”


“ dari pencarian beberapa


dari kediaman ratu”


“ yang benar kamu!” Aric


meninggikan suaranya. Bagaimana mungkin ibundanya juga terseret dalam hal ini.


Aric mengerutkan keningnya,  antara putra


mahkota dan ibundanya seakan memiliki niat yang sama kepada Duke Wellington.


Hal ini semakin memperkeruh pikirannya.


“ ibunda ada niatan apa


pada Duchess” Aric terus berguman pada dirinya sendiri.


“ kalian terus awasi dan


jaga keselamatan Duchess Wellington, aku memiliki firasat yang buruk menimpa wanita


ini” Aric menyuruh pengawal itu pergi. Dirinya masih terdiam di ruang kerjanya.


Sembari menerawang keadaan sepertinya kali ini dia harus memutuskan pilihannya.


Aric tidak yakin jika ayahnya tidak mengetahui apapun. Dia menyusun rencana


agar bisa memancing ayahnya berbicara. Lelaki itu harus memastikan bahwa


ayahnya tidak memiliki hubungan apapun dengan dua orang kerajaan ini.


Di kedimana lainnya,


keadaan masih sangat sepi, pagi yang nyaman untuk seorang wanita hamil di desa


yang asri. Wanita itu duduk di ranjang dengan mengelus perutnya pelan.  Grace sudah bisa menerima keadaanya. Meski


ayah dari bayinya bukanlah lelaki yang dia harapkan, namun dia yakin hal ini


tidak akan mempengaruhi rasa sayangnya kepada bayinya. Asal sang ayah tidak


mengetahui perihal kehamilannya, semuanya akan baik-baik saja.


“ nona, makanan sudah


siap” dari luar kamarnya terdengar suara pelayan. Dengan pelan Grace menuruni


ranjang menuju ruang makan.


Setelah menyelesaikan


sarapannya, Grace berjalan santai di taman kediaman sekedar mengisi waktu


luang. Wanita ini tidak mengetahui sedikitpun tentang situasi di ibukota maupun


kerajaan. Tak ada satu fikiran buruk dalam dirinya.


Di tengah aktivitas jalan


paginya Grace tidak mengetahui jika ada seorang lelaki yang tengah mengawasinya


sedari tadi kini sudah pergi melapor kepada tuannya. Karena ketidaktahuannya


situasi menjadi lebih buruk.


“ milly, jamuan dari


kediaman madam Joly itu besok atau lusa?” Ainsley bertanya, wanita itu sibuk di


ruang kerja milik suaminya. Memeriksa berkas-berkas yang mungkin saja bisa


membantunya. Sedikit informasi pasti akan berguna.


“ lusa, Duchess” Milly


sedang meletakkan cemilan beserta teh di atas meja. Pelayan ini bingung dengan


keadaan ruangan yang cukup berantakan. Dilihatnya nyonyanya yang begitu serius


membuka lembar demi lembar.


“ siapkan baju berkudaku


sama sebuah bingkisan untuk jamuan lusa” Ainsley bahkan tak melihat wajah


kebingungan pelayannya.


“ baik Duchess” jawab


Malli ragu-ragu. Karena tidak ada percakapan lagi Milly akhirnya pergi


meninggalkan .


 “ tunggu, apa ada surat yang datang hari ini?”


wajah Duchess mendongak menatap pelayannya yang sudah ada di ambang pintu.


Millly memutar tubuhnya


dengan cepat. Dia lupa dengan tugasnya tadi.


“ ah ya, akan saya


periksa” ucapnya cepat tak mau membuat nyonyanya kesal. Tanpa menunggu lagi


segera pergi dan menuruni tangga.


Ainsley kembali pada aktivitasnya.


Sesaat fikirannya tiba-tiba mengingat sesuatu.


“ semua berkas ini hampir


tidak mengaitkan dengan kediaman Kleiner, setauku tuan Kleiner cukup sering kemari”


“ nyonya ada surat” Mill


kembali dengan beberapa tumpukan surat. Diberikanna kepada nyonyanya dengan


sorot mata yang serius. Milly tau diantara tumpukan itu ada satu yang cukup


misterius.


Ainsley membaca satu


persatu pengirim surat, semuanya hanya tentang jamuan dan beberapa langganan


majalah beserta agenda para bangsawan. Sampai sebuah surat membuat wanita itu


menyingkirkan surat lainnya.


“ dari siapa nyonya?”


Milly menangkap adanya raut cemas pada Duchess ketika membaca isi surat yang di


yakininya pasti bukan dari sembarang orang. Pelayan itu takut jika itu berisi


kabar buruk.


Ainsley menghembuskan


nafas kasar. Keadaanya yang dikiranya akan sejalan namun kini bertambah satu


masalah.


“ aku harus pergi menemui


paman” ucap Ainsley lemas.


“ bagaimana caranya


nyonya, bukankah kini kediaman banyak yang sedang  mengawasi?” Milly ikut khawatir.


“ aku juga bingung,


alasan apa ya?” Ainsley beranjak dari kursi menuju jendela besar yag ada di


belakangnya.


Wanita itu termenung


sejenak, hari demi hari sudah dia lalui penuh kecemasan. Semenjak kepergian


suaminya wanita itu selalu berharap keselamatan. Dia tau semakin hari berlalu


maka semakin dekat dengan hal buruk yang akan menimpa keluarga kecilnya. Dia


membohongi dirinya jika siap dan bisa melalui semuanya, nyatanya dia sedang


kalut dengan ketakutan. Bahkan rencana yang sedang dia jalankan tidak satupun


yang membuatnya yakin membawanya pada keselamatan.


“ lusa besok beritahu


Leyna untuk menemuiku di jamuan” Ainsley tak memiliki pilihan lain, sambil


menghembuskan nafas pelan wanita itu memeluk dirinya sendiri.


“ baik Duchess” suara


lemah dari pelayan membuat suasana semakin sendu. Milly tau jika nyonyanya


pasti akan melakukan hal yang besar.


Dan hari inipun tiba,


kediaman Madan Jolly sudah begitu sibuk sejak pagi. Pemilik bisnis perhiasan


ini mengadakan jamuan sekaligus acara lelang beberapa mutiara kualitas tinggi


yang didapatkannya. Pelayan tidak henti mondar mandir membersihkan sekaligus


menyiapkan sajian, tuannya sudah berpesan agar jangan sampai ada sedikitpun


kesalahan dalam acara. Keadaan hampir sama dengan kediaman Duchess Wellington,


bedanya disini hanya 2 orang saja yang sibuk.


“ semua  pakaian itu letakkan di dalam kereta, jangan


sampai ada yang tau” Ainsley tengah mempersiapkan dirinya dengan gaun yang


sedikit sederhana.


“ baik Duchess”


Sepeninggal pelayannya


Ainsley meletakkan sebuah besi untuk melapisi perut dan lututnya. Dia sengaja


merahasiakan ini dari siapapun. Setelah siap, nyonya dan pelayan itu menaiki


kereta kuda dan meluncur menuju acara pesta. Keduanya hanya diam dalam


perjalanan. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


“ nyonya sudah sampai”


Milly membuyarkan lamunan Ainsley. Wanita itu sampai tidak menyadari karena


terlalu sibuk dalam fikirannya.


“ ah ya”


Situasi begitu ramai, keadaan


yang diinginkan oleh Ainsley. Wanita itu berjalan setelah kehadirannya


dilaporkan orang kediaman. Ainsley menyapa semua orang, memastikan setiap mata


melihat kehadirannya.


“ Duchess Wellington,


anda begitu memukau malam ini” sapa seorang bangsawan.


“ terimakasih anda juga


begitu menawan” balas Ainsley seadanya. Berniat ingin melanjutkan perbincangan


namun sudut matanya menangkap sepasang pemilik peternakan kuda. Kedua orang tua


sahabatnya. Tuan dan nyonya Halbet.  Sudut


bibir Ainsley tertarik dan berjalan meninggalkan kerumunan bangsawan yang tidak


berguna.


“ malam tuan dan nyonya


Halbet” sapa Ainsley yang ternyata membuat keduanya kaget.


“ Duchess Wellington,


maafkan ketidaktahuan kami” ucap tuan Halbet sedangkan nyonya Halbet menatap


Ainsley sedikit khawatir.


“ saya dengar kuda-kuda


tuan banyak terjual” ucap Ai basa-basi tapi memiliki makna. Mesti samar Ai bisa


melihat ada kecemasan pada sepasang suami istri ini.