
“ bagaimana keadaanya?
Apakah ada pergerakan?” tanya pangeran
Aric pada salah satu pengawalnya.
“ tidak ada yang mulia.
Tapi yang membuat aneh putra mahkota tiba-tiba mengunjungi makam lord Duke
Edward” Aric mencerna informasi barunya. Ini benar-benar acak. Tak ada satu
benang merahpun yang saling berhubungan. Aric hanya menduga jika kakaknya
memiliki dendam dan berniat buruk pada Duke Axton. untuk alasannya sampai
sekarang tak tahu.
“ apa hubungan antara
lord Duke dengan putra mahkota?” Aric berguman sendiri.
“ bagaimana dengan
kediaman Duchess?” lanjut Aric.
“ tidak ada hal yang
aneh, Duchess hanya membuat pesta ataupun keluar untuk menghadiri
pertemuan. Namun salah satu pengawal
menangkap sepertinya tidak hanya kita yang mengintai kediaman itu”
“ sudah dicari tau?”
“ dari pencarian beberapa
dari kediaman ratu”
“ yang benar kamu!” Aric
meninggikan suaranya. Bagaimana mungkin ibundanya juga terseret dalam hal ini.
Aric mengerutkan keningnya, antara putra
mahkota dan ibundanya seakan memiliki niat yang sama kepada Duke Wellington.
Hal ini semakin memperkeruh pikirannya.
“ ibunda ada niatan apa
pada Duchess” Aric terus berguman pada dirinya sendiri.
“ kalian terus awasi dan
jaga keselamatan Duchess Wellington, aku memiliki firasat yang buruk menimpa wanita
ini” Aric menyuruh pengawal itu pergi. Dirinya masih terdiam di ruang kerjanya.
Sembari menerawang keadaan sepertinya kali ini dia harus memutuskan pilihannya.
Aric tidak yakin jika ayahnya tidak mengetahui apapun. Dia menyusun rencana
agar bisa memancing ayahnya berbicara. Lelaki itu harus memastikan bahwa
ayahnya tidak memiliki hubungan apapun dengan dua orang kerajaan ini.
Di kedimana lainnya,
keadaan masih sangat sepi, pagi yang nyaman untuk seorang wanita hamil di desa
yang asri. Wanita itu duduk di ranjang dengan mengelus perutnya pelan. Grace sudah bisa menerima keadaanya. Meski
ayah dari bayinya bukanlah lelaki yang dia harapkan, namun dia yakin hal ini
tidak akan mempengaruhi rasa sayangnya kepada bayinya. Asal sang ayah tidak
mengetahui perihal kehamilannya, semuanya akan baik-baik saja.
“ nona, makanan sudah
siap” dari luar kamarnya terdengar suara pelayan. Dengan pelan Grace menuruni
ranjang menuju ruang makan.
Setelah menyelesaikan
sarapannya, Grace berjalan santai di taman kediaman sekedar mengisi waktu
luang. Wanita ini tidak mengetahui sedikitpun tentang situasi di ibukota maupun
kerajaan. Tak ada satu fikiran buruk dalam dirinya.
Di tengah aktivitas jalan
paginya Grace tidak mengetahui jika ada seorang lelaki yang tengah mengawasinya
sedari tadi kini sudah pergi melapor kepada tuannya. Karena ketidaktahuannya
situasi menjadi lebih buruk.
“ milly, jamuan dari
kediaman madam Joly itu besok atau lusa?” Ainsley bertanya, wanita itu sibuk di
ruang kerja milik suaminya. Memeriksa berkas-berkas yang mungkin saja bisa
membantunya. Sedikit informasi pasti akan berguna.
“ lusa, Duchess” Milly
sedang meletakkan cemilan beserta teh di atas meja. Pelayan ini bingung dengan
keadaan ruangan yang cukup berantakan. Dilihatnya nyonyanya yang begitu serius
membuka lembar demi lembar.
“ siapkan baju berkudaku
sama sebuah bingkisan untuk jamuan lusa” Ainsley bahkan tak melihat wajah
kebingungan pelayannya.
“ baik Duchess” jawab
Malli ragu-ragu. Karena tidak ada percakapan lagi Milly akhirnya pergi
meninggalkan .
“ tunggu, apa ada surat yang datang hari ini?”
wajah Duchess mendongak menatap pelayannya yang sudah ada di ambang pintu.
Millly memutar tubuhnya
dengan cepat. Dia lupa dengan tugasnya tadi.
“ ah ya, akan saya
periksa” ucapnya cepat tak mau membuat nyonyanya kesal. Tanpa menunggu lagi
segera pergi dan menuruni tangga.
Ainsley kembali pada aktivitasnya.
Sesaat fikirannya tiba-tiba mengingat sesuatu.
“ semua berkas ini hampir
tidak mengaitkan dengan kediaman Kleiner, setauku tuan Kleiner cukup sering kemari”
“ nyonya ada surat” Mill
kembali dengan beberapa tumpukan surat. Diberikanna kepada nyonyanya dengan
sorot mata yang serius. Milly tau diantara tumpukan itu ada satu yang cukup
misterius.
Ainsley membaca satu
persatu pengirim surat, semuanya hanya tentang jamuan dan beberapa langganan
majalah beserta agenda para bangsawan. Sampai sebuah surat membuat wanita itu
menyingkirkan surat lainnya.
“ dari siapa nyonya?”
Milly menangkap adanya raut cemas pada Duchess ketika membaca isi surat yang di
yakininya pasti bukan dari sembarang orang. Pelayan itu takut jika itu berisi
kabar buruk.
Ainsley menghembuskan
nafas kasar. Keadaanya yang dikiranya akan sejalan namun kini bertambah satu
masalah.
“ aku harus pergi menemui
paman” ucap Ainsley lemas.
“ bagaimana caranya
nyonya, bukankah kini kediaman banyak yang sedang mengawasi?” Milly ikut khawatir.
“ aku juga bingung,
alasan apa ya?” Ainsley beranjak dari kursi menuju jendela besar yag ada di
belakangnya.
Wanita itu termenung
sejenak, hari demi hari sudah dia lalui penuh kecemasan. Semenjak kepergian
suaminya wanita itu selalu berharap keselamatan. Dia tau semakin hari berlalu
maka semakin dekat dengan hal buruk yang akan menimpa keluarga kecilnya. Dia
membohongi dirinya jika siap dan bisa melalui semuanya, nyatanya dia sedang
kalut dengan ketakutan. Bahkan rencana yang sedang dia jalankan tidak satupun
yang membuatnya yakin membawanya pada keselamatan.
“ lusa besok beritahu
Leyna untuk menemuiku di jamuan” Ainsley tak memiliki pilihan lain, sambil
menghembuskan nafas pelan wanita itu memeluk dirinya sendiri.
“ baik Duchess” suara
lemah dari pelayan membuat suasana semakin sendu. Milly tau jika nyonyanya
pasti akan melakukan hal yang besar.
Dan hari inipun tiba,
kediaman Madan Jolly sudah begitu sibuk sejak pagi. Pemilik bisnis perhiasan
ini mengadakan jamuan sekaligus acara lelang beberapa mutiara kualitas tinggi
yang didapatkannya. Pelayan tidak henti mondar mandir membersihkan sekaligus
menyiapkan sajian, tuannya sudah berpesan agar jangan sampai ada sedikitpun
kesalahan dalam acara. Keadaan hampir sama dengan kediaman Duchess Wellington,
bedanya disini hanya 2 orang saja yang sibuk.
“ semua pakaian itu letakkan di dalam kereta, jangan
sampai ada yang tau” Ainsley tengah mempersiapkan dirinya dengan gaun yang
sedikit sederhana.
“ baik Duchess”
Sepeninggal pelayannya
Ainsley meletakkan sebuah besi untuk melapisi perut dan lututnya. Dia sengaja
merahasiakan ini dari siapapun. Setelah siap, nyonya dan pelayan itu menaiki
kereta kuda dan meluncur menuju acara pesta. Keduanya hanya diam dalam
perjalanan. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“ nyonya sudah sampai”
Milly membuyarkan lamunan Ainsley. Wanita itu sampai tidak menyadari karena
terlalu sibuk dalam fikirannya.
“ ah ya”
Situasi begitu ramai, keadaan
yang diinginkan oleh Ainsley. Wanita itu berjalan setelah kehadirannya
dilaporkan orang kediaman. Ainsley menyapa semua orang, memastikan setiap mata
melihat kehadirannya.
“ Duchess Wellington,
anda begitu memukau malam ini” sapa seorang bangsawan.
“ terimakasih anda juga
begitu menawan” balas Ainsley seadanya. Berniat ingin melanjutkan perbincangan
namun sudut matanya menangkap sepasang pemilik peternakan kuda. Kedua orang tua
sahabatnya. Tuan dan nyonya Halbet. Sudut
bibir Ainsley tertarik dan berjalan meninggalkan kerumunan bangsawan yang tidak
berguna.
“ malam tuan dan nyonya
Halbet” sapa Ainsley yang ternyata membuat keduanya kaget.
“ Duchess Wellington,
maafkan ketidaktahuan kami” ucap tuan Halbet sedangkan nyonya Halbet menatap
Ainsley sedikit khawatir.
“ saya dengar kuda-kuda
tuan banyak terjual” ucap Ai basa-basi tapi memiliki makna. Mesti samar Ai bisa
melihat ada kecemasan pada sepasang suami istri ini.