The New Duchess

The New Duchess
Bab 69 : Berfikir



“ yang mulia” saut para


anak buah Aric saat dia dan pengawalnya sampai di tempat persembunyian mereka


di hutan.


“ kita tidak memiliki


waktu segera lakukan rencana” pengawal itu segera turun, diikuti dengan Aric.


“ apa ini?” tanya Aric


dia diberikan sebuah pakaian.


“ biarkan saya


menggantika anda dengan memakai pakaian anda” ucap seseorang itu. Aric


termenung sejenak kemudian mengangguk pelan. Mungkin ini adalah rencana yang


sudah mereka rancang sedemikian rupa. Dia sangat mempercayai bawahannya jadi


tanpa mempertanyakan dia kemudian mencari tempat untuk berganti.


Pengawal it uterus


mengintai dari atas pohon, dia harus memastikan jaraj mereka masih terbilang


aman untuk menjalankan misi pelarian diri.


“ bagaimana?” Aric


bertanya dari bawah, dia sudah berganti pakaian. Melihat penampilan tuannya,


pengawal itu segera turun.


“ kita berangkat sekarang


yang mulia” pengawal itu tidak menjelaskan secara detail apa rencananya, Aric


cukup mengeti dengan keterbatasan waktu yang mereka miliki.


Kedua orang itu segera


menaiki kuda yang berbeda dengan sebelumnya. Tenaganya pasti lebih baik, itu


yang mereka inginkan.


“ bagaimana dengan yang


lain?” Aric melihat gerak-gerik bawahannya yang seakan akan memecah diri.


“ mereka akan mengalihkan


mereka, kita harus segera menuju perbatasan yang mulia” pengawal itu melihat


keengganan tuannya.


“ mereka pasti menutup


semua jalur, kita harus menunggu dan mempelajari celah keamanan mereka” ada


benarnya juga, pangeran itu menilai secara menyeluruh.


“ anda benar, kita akan


berpencar kita bertemu disini besok malam” kelomok itu segera menjalankan


aksinya.


Pangeran Aric dan


pengawalnya semakin memasuki hutan sedang yang lain  menunggu di tepi agar pasukan Sea bisa


melihat sehingga pengalihan mereka akan berhasil.


Malam semakin larut,


didalam hutan benar-benar tidak ada cahaya. Membuat laju kedua orang itu


menjadi sedikit lambat untuk erhati-hati pada terjal dan curamnya medan.


“ yang mulia kita


sebaiknya menaiki bukit itu” pengawal itu menujukk sebuah dataran tinggi.


Disana mereka bisa melihat situasinya.


“ ya, kau benar” keduanya


segera menuju bukit.


Begitu sampai mereka bisa


melihat kilatan cahaya yang bergerak dengan cepat dari tepi hutan dan


menjauhinya. Kilatan cahaya itu mengejar kilauan cahaya lainnya yang lebih


kecil.


“ apa itu mereka?” aric


bermaksud menanyakan apakah kalau kecil itu adalah kelompoknya.


“ ya yang mulia, jangan


khawatir kami sudah merencanakan semuanya dengan matang” pengawal itu segera


menenangkan perasaan tuannya.


Mereka memantau pergerakan


itu dengan serius, hingga kedua kilatan itu menghilang tidak terlihat lagi.


Hanya keselamatan yang Aric inginkan untuk para bawahannya.


“ sepertinya kita harus


tinggal disini malam ini” Aric menghembuskan nafas kasar. Dia tidak menyangka


jika sang kaka akan bertindka sejauh ini. Entah bagaimana mana kondisi


perbatasan, kemungkinan kondisinya aka jauh lebih buruk.


“ benar yang mulia” untung


saja kuda mereka di lengkapi dengan makanan serta beberapa kain tebal untuk


selimut. Malam hari begitu dingin di tengah hutan seperti ini.


Kedua orang itu tengah


beristirahat sambil mengambil beberapa persediaan makanan, dunia tampak luas


dari sini. Aric memandangi kea rah perbatasan. Itu adalah tujuannya, lelaki itu


tidak pernah berfikir bahwa dirinya akan menemui hari seperti ini. Sungguh Duke


Wellington benar-benar lelaki yang begitu berani di mata Aric. Sendirian


berjuang demi kerajaan namun malah kerajaan yang menghianatinya. Sungguh


kasihan.


berada di kediaman setelah semalam menjalankan aksi. Kini dia berada di ruang


kerja Axton dengan ditemani dokter Leyna. Wanita itu memeriksa luka di kepala


Duchess.


Sebenarnya semalam Mily


hanya mengalihkan para pengintai, dia tidak bermaksud membuat dokter itu cemas.


Bagaimana tidak, Leyna yang sudah lelap dalam tidurnya dibangunkan kedatangan


Mily pelayan pribadi Duchess. Leyna berfikir jika kondisi Duchess memburuk.


Jadi tanpa menanyakan lebih lanjut, wanita itu segera mengambil peralatan


dokternya dan bergegas menaiki kereta.


Baru didalam kereta Mily


menjelaskan bahwa Duchess hanya meminta resep serta beberapa suplemen makanan.


Sudah terlanjur masuk, jadi Leyna tetap ikut ke kediaman dan berakhir


melanjutkan mimpinya disini.


“ luka anda sudah sangat


membaik, sudah tidak memerlukan kapas” ucap Leyna dan memberikan sebuah ramuan


oles pada luka Ai.


“ apa kau begitu khawatir


dengan kondisiku, sampai-sampai kau datang hanya menggunakan gaun tidur?” Ai


tersenyum singkat, dia tidak habis pikir dengan Mily. Kenapa dia tidak


menjelaskan di awal.


“saya begitu


terburu-buru” jawab Leyna sedikit ketus. Dia tidak mengira wanita di depannya


ini seakan sedang menertawakan dirinya, dia sedikit kesal.


“ maafkan aku” Ai


menyentuh bahu dokter Leyna lembut. Dia sudah banyak merepotkan dokter leyna


“ tidak masalah Duchess”


Leyna tersentuh dengan kerendahan hati Ai, malah berganti tidak enak hati


jadinya.


“ sarapanlah disini baru


kau bisa kembali” ucap Ai dan menyuruh Mily mengantar Leyna kembali ke kamar.


Leyna mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan.


Seperti yang sudah dia


janjikan kepada Ainsley, Hardwin terlihat sudah sampai di kediaman Duke di


desa. Sesuai dengan informasi dari Duchess akhirnya Hardwin bisa menemukan


tempatnya. Kediaman ini memang terlihat terawat namun letaknya yang sedikit


tersembunyi ini membuatnya sulit untuk di temukan. Bahkan nyaris tidak akan


terlihat bila didalam sedang ada yang menghuni.


Tok tok


Hardwin tidak mengajak siapapun


dia seorang diri memasuki kediaman yang entah menerima atau malah menolaknya.


“ sebentar” terdengar


sautan dari dalam, dan tak lama seorang pelayan membuka pintu.


“ anda siapa?” pelayan


itu tidak mengenali tamunya. Bertempatan dengan Grace yang baru menyelesaikan


sarapannya, sehingga dia ikut melihat siapa yang bertamu.


“ biarkan dia masuk” ucap


Grace begitu tau tamunya kali ini adalah seseorang yang telah merusak


rencananya dulu. Grace mempersilahkan Hardwin masuk dan duduk di sofa.


“ bagaimana kabar anda


nona Grace?” Hardwin mengamati kondisi Grace dengan seksama. Benar perkataan


Ai, perut buncit itu tidak bisa di sembunyikan oleh gaun besar yang Grace


kenakan.


“ tidak usah


bertele-tele, Ai pasti yang mengirimmu. Apa yang dia katakana?” Grace sudah


menebak, satu pelayannya hilang dan sudah pasti kediaman Duke tujuan perginya.


Dengan kedatangan Harwdin kemari itu membuat Grace yakin jika Ai pasti sudah


mengetahui kedatangan putra mahkota tempo hari.


“ anda tetap ketus dan


kaku denganku” Hardwin mencoba menyairkan suasana. Namun Grcae tidak


merespon,wanita itu menunggu jawaban dari pertanyaanya.


“ apa yang putra mahkota


katakana padamu?” pertanyaanya di jawab dengan pertanyaan pula. Grace menarik


sudut bibirnya, dia menemukan jalan keluar dari dilemanya beberapa hari yang


lalu.


“ kejahatan atas menculik


dan menahanku secara diam-diam, aku akan menuntut Duchess dengan laporan itu”


ucap Grace yakin. Hardwin melebarkan matanya bersamaan dengan munculnya kerutan


di dahinya. Dia tidak percaya dengan ucapan wanita di depannya. Tapi jika


benar, jelas keselamatan Ai akan menjadi taruhannya. Hardwin tertegun dia


mencari tanda-tanda kebohongan di raut wajah Grace, tapi tidak dia temukan. Ini


gawat. Tapi tunggu, ada yang tidak beres.