
“ yang mulia” saut para
anak buah Aric saat dia dan pengawalnya sampai di tempat persembunyian mereka
di hutan.
“ kita tidak memiliki
waktu segera lakukan rencana” pengawal itu segera turun, diikuti dengan Aric.
“ apa ini?” tanya Aric
dia diberikan sebuah pakaian.
“ biarkan saya
menggantika anda dengan memakai pakaian anda” ucap seseorang itu. Aric
termenung sejenak kemudian mengangguk pelan. Mungkin ini adalah rencana yang
sudah mereka rancang sedemikian rupa. Dia sangat mempercayai bawahannya jadi
tanpa mempertanyakan dia kemudian mencari tempat untuk berganti.
Pengawal it uterus
mengintai dari atas pohon, dia harus memastikan jaraj mereka masih terbilang
aman untuk menjalankan misi pelarian diri.
“ bagaimana?” Aric
bertanya dari bawah, dia sudah berganti pakaian. Melihat penampilan tuannya,
pengawal itu segera turun.
“ kita berangkat sekarang
yang mulia” pengawal itu tidak menjelaskan secara detail apa rencananya, Aric
cukup mengeti dengan keterbatasan waktu yang mereka miliki.
Kedua orang itu segera
menaiki kuda yang berbeda dengan sebelumnya. Tenaganya pasti lebih baik, itu
yang mereka inginkan.
“ bagaimana dengan yang
lain?” Aric melihat gerak-gerik bawahannya yang seakan akan memecah diri.
“ mereka akan mengalihkan
mereka, kita harus segera menuju perbatasan yang mulia” pengawal itu melihat
keengganan tuannya.
“ mereka pasti menutup
semua jalur, kita harus menunggu dan mempelajari celah keamanan mereka” ada
benarnya juga, pangeran itu menilai secara menyeluruh.
“ anda benar, kita akan
berpencar kita bertemu disini besok malam” kelomok itu segera menjalankan
aksinya.
Pangeran Aric dan
pengawalnya semakin memasuki hutan sedang yang lain menunggu di tepi agar pasukan Sea bisa
melihat sehingga pengalihan mereka akan berhasil.
Malam semakin larut,
didalam hutan benar-benar tidak ada cahaya. Membuat laju kedua orang itu
menjadi sedikit lambat untuk erhati-hati pada terjal dan curamnya medan.
“ yang mulia kita
sebaiknya menaiki bukit itu” pengawal itu menujukk sebuah dataran tinggi.
Disana mereka bisa melihat situasinya.
“ ya, kau benar” keduanya
segera menuju bukit.
Begitu sampai mereka bisa
melihat kilatan cahaya yang bergerak dengan cepat dari tepi hutan dan
menjauhinya. Kilatan cahaya itu mengejar kilauan cahaya lainnya yang lebih
kecil.
“ apa itu mereka?” aric
bermaksud menanyakan apakah kalau kecil itu adalah kelompoknya.
“ ya yang mulia, jangan
khawatir kami sudah merencanakan semuanya dengan matang” pengawal itu segera
menenangkan perasaan tuannya.
Mereka memantau pergerakan
itu dengan serius, hingga kedua kilatan itu menghilang tidak terlihat lagi.
Hanya keselamatan yang Aric inginkan untuk para bawahannya.
“ sepertinya kita harus
tinggal disini malam ini” Aric menghembuskan nafas kasar. Dia tidak menyangka
jika sang kaka akan bertindka sejauh ini. Entah bagaimana mana kondisi
perbatasan, kemungkinan kondisinya aka jauh lebih buruk.
“ benar yang mulia” untung
saja kuda mereka di lengkapi dengan makanan serta beberapa kain tebal untuk
selimut. Malam hari begitu dingin di tengah hutan seperti ini.
Kedua orang itu tengah
beristirahat sambil mengambil beberapa persediaan makanan, dunia tampak luas
dari sini. Aric memandangi kea rah perbatasan. Itu adalah tujuannya, lelaki itu
tidak pernah berfikir bahwa dirinya akan menemui hari seperti ini. Sungguh Duke
Wellington benar-benar lelaki yang begitu berani di mata Aric. Sendirian
berjuang demi kerajaan namun malah kerajaan yang menghianatinya. Sungguh
kasihan.
berada di kediaman setelah semalam menjalankan aksi. Kini dia berada di ruang
kerja Axton dengan ditemani dokter Leyna. Wanita itu memeriksa luka di kepala
Duchess.
Sebenarnya semalam Mily
hanya mengalihkan para pengintai, dia tidak bermaksud membuat dokter itu cemas.
Bagaimana tidak, Leyna yang sudah lelap dalam tidurnya dibangunkan kedatangan
Mily pelayan pribadi Duchess. Leyna berfikir jika kondisi Duchess memburuk.
Jadi tanpa menanyakan lebih lanjut, wanita itu segera mengambil peralatan
dokternya dan bergegas menaiki kereta.
Baru didalam kereta Mily
menjelaskan bahwa Duchess hanya meminta resep serta beberapa suplemen makanan.
Sudah terlanjur masuk, jadi Leyna tetap ikut ke kediaman dan berakhir
melanjutkan mimpinya disini.
“ luka anda sudah sangat
membaik, sudah tidak memerlukan kapas” ucap Leyna dan memberikan sebuah ramuan
oles pada luka Ai.
“ apa kau begitu khawatir
dengan kondisiku, sampai-sampai kau datang hanya menggunakan gaun tidur?” Ai
tersenyum singkat, dia tidak habis pikir dengan Mily. Kenapa dia tidak
menjelaskan di awal.
“saya begitu
terburu-buru” jawab Leyna sedikit ketus. Dia tidak mengira wanita di depannya
ini seakan sedang menertawakan dirinya, dia sedikit kesal.
“ maafkan aku” Ai
menyentuh bahu dokter Leyna lembut. Dia sudah banyak merepotkan dokter leyna
“ tidak masalah Duchess”
Leyna tersentuh dengan kerendahan hati Ai, malah berganti tidak enak hati
jadinya.
“ sarapanlah disini baru
kau bisa kembali” ucap Ai dan menyuruh Mily mengantar Leyna kembali ke kamar.
Leyna mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan.
Seperti yang sudah dia
janjikan kepada Ainsley, Hardwin terlihat sudah sampai di kediaman Duke di
desa. Sesuai dengan informasi dari Duchess akhirnya Hardwin bisa menemukan
tempatnya. Kediaman ini memang terlihat terawat namun letaknya yang sedikit
tersembunyi ini membuatnya sulit untuk di temukan. Bahkan nyaris tidak akan
terlihat bila didalam sedang ada yang menghuni.
Tok tok
Hardwin tidak mengajak siapapun
dia seorang diri memasuki kediaman yang entah menerima atau malah menolaknya.
“ sebentar” terdengar
sautan dari dalam, dan tak lama seorang pelayan membuka pintu.
“ anda siapa?” pelayan
itu tidak mengenali tamunya. Bertempatan dengan Grace yang baru menyelesaikan
sarapannya, sehingga dia ikut melihat siapa yang bertamu.
“ biarkan dia masuk” ucap
Grace begitu tau tamunya kali ini adalah seseorang yang telah merusak
rencananya dulu. Grace mempersilahkan Hardwin masuk dan duduk di sofa.
“ bagaimana kabar anda
nona Grace?” Hardwin mengamati kondisi Grace dengan seksama. Benar perkataan
Ai, perut buncit itu tidak bisa di sembunyikan oleh gaun besar yang Grace
kenakan.
“ tidak usah
bertele-tele, Ai pasti yang mengirimmu. Apa yang dia katakana?” Grace sudah
menebak, satu pelayannya hilang dan sudah pasti kediaman Duke tujuan perginya.
Dengan kedatangan Harwdin kemari itu membuat Grace yakin jika Ai pasti sudah
mengetahui kedatangan putra mahkota tempo hari.
“ anda tetap ketus dan
kaku denganku” Hardwin mencoba menyairkan suasana. Namun Grcae tidak
merespon,wanita itu menunggu jawaban dari pertanyaanya.
“ apa yang putra mahkota
katakana padamu?” pertanyaanya di jawab dengan pertanyaan pula. Grace menarik
sudut bibirnya, dia menemukan jalan keluar dari dilemanya beberapa hari yang
lalu.
“ kejahatan atas menculik
dan menahanku secara diam-diam, aku akan menuntut Duchess dengan laporan itu”
ucap Grace yakin. Hardwin melebarkan matanya bersamaan dengan munculnya kerutan
di dahinya. Dia tidak percaya dengan ucapan wanita di depannya. Tapi jika
benar, jelas keselamatan Ai akan menjadi taruhannya. Hardwin tertegun dia
mencari tanda-tanda kebohongan di raut wajah Grace, tapi tidak dia temukan. Ini
gawat. Tapi tunggu, ada yang tidak beres.