
Kerajaan Bavaria sedang ramai, tentu saja karena ulah Putra Mahkota. Sea mengadakan jamuan khusus untuk
para menteri. Pesta dirancang untuk memberikan hiburan dan membuat agenda baru kerajaan tentu itu hanya sebagai alibi. Nyatanya hal ini tidak lain karena berita keberangkatan sang Duke sudah tersiar sejak kemarin. Sang ratu juga ikut hadir meskipun dia tidak terlalu menampilkan diri. Berbeda dengan sang raja,
Aldirck dan kedua adik Sea. Mereka tidak memiliki keinginan akan merayakan sesuatu dalam kondisi yang kritis seperti
ini.
Terlebih dengan pangeranAric, putra kedua Aldrick. Lelaki ini memiliki kecurigaan atas sikap sang kakak
yang seakan memiliki rasa benci dengan Duke Wellington. Namun sejauh yang dia dapat, Aric tidak menemukan satupun alasannya.
“ pangeran ini rute perjalanan yang anda minta” seorang pengawal berjalan mendekati Aric.
Diambilnya map itu dan dibaca dengan seksama.
“ bagaimana bisa semudah ini?” tanya Aric.
“ kemarin berkas ini taruh oleh seorang lelaki yang tidak kami ketahui siapa” jawab pengawal itu
dengan penuh khawatir.
“ kemarin? “ Aric mengerutkan keningnya. Kemarin adalah hari keberangkatan Duke, dan sekarang
ditangannya adalah rute perjalanannya menuju medan perbatasan.
“ tidak ada petunjuk sedikitpun?” tanya Aric memastikan.
“ se,,,sebenarnya ada yang mengatakan jika lelaki itu seperti pengawal pribadi Duke”
“ pengawal Duke”guman Aric. Dia semakin tidak mengerti dengan situasinya. Entahlah selama ini Duke
dirasa terlalu sulit dia dekati. Padahal sebenarnya Aric memiliki rasa kagum dengan lelaki itu. Saat diusianya lelaki itu sudah menerima tugas kemiliteran sekaligus menyandang status Duke of Wellington. Dari semua pejabat dan
bangsawan yang dia kenal dirasa sangat sedikit orang yang berwibawa seperti
Duke.
Di ruang lainnya, putra mahkota Sea sedang menikmati pesta. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan dengan
memberikan banyak hadiah kepara para menteri. Tidak ada alasan lain, dia menginginkan keberpihakan orang kerajaan dalam melancarkan aksinya nanti.
“ kita harus menikmati hidup selagi bisa, semua permasalahan ini pasti membuat kalian kewalahan. Sekarang
kita bersenang-senang untuk menghilangkan kepenatan, bukan begitu?” ucap Sea dengan menaikan satu segelas anggur.
“ benar yang mulia” jawab kompak para menteri. Tak lupa dengan ikut mengambil segelas anggur.
Suasana pesta semakin meriah dengan penampilan wanita-wanita cantik yang dengan eloknya menari.
Sungguh gambaran kesenangan duniawi yang begitu memabukkan.
Disisi lain, Duchess yang beberapa hari mengurung dirinya didalam kamar. Pagi ini sudah bersiap pergi,
kali ini tujuanya adalah tempat yang tidak mungkin difikirkan banyak orang. Berita pesta yang diadakan kerajaan kemarin tentu membuat Ai semakin mematangkan rencananya. Meski Axton tidak secara gamblang mau menjelaskan masalah yang dihadapai keluarga Duke, namun Ai sudah tau garis besarnya.
“ Duchess anda yakin mau masuk ke dalam?” tanya Mily yang seakan tidak mengerti jalan pikiran nyonyanya.
Ai mengangguk yakin.
“ kita perlu sebuah pengalihan” lirih Ai mantap. Dengan langkah tegap memasuki pertokoan mewah.
“ oh Duchess Wellington..” sapa pemilik toko, Samantha Morton.
“madam Samantha, lama sekali aku tidak mengunjungimu” ucap Ai basa-basi.
“ maafkan saya yang tidak berkunjung ke kediaman” jawab Samantha penuh arti.
“ selagi Duke bertugas, kediaman terbuka untuk anda madam” sindir Ai yang tertangkap jelas oleh madam,
namun dia tidak mungkin berani menyalahi seorang Duchess.
“ ah ya, tentu Duchess” jawab Samantha tak ingin mempanjang masalah.
“ kali ini kedatangan Duchess pasti tidak hanya berkunjung bukan?” lanjut madam.
“ ah kau benar. Sepertinya aku membutuhkan beberapa set gaun. Tentu saja yang mewah dan berbeda
dari yang lain” jawab Ai mantap sambil duduk di sebuah sofa.
suaminya sedang bertaruh nyawa di perbatasan.
“ apakah madam bisa?” tanya Ai membuyarkan lamunan madam.
“ ah. Tentu saja Duchess. Untuk anda pasti ada.”
“ Bawakan set terbaru kita” teriak madam pada pelayannya, seketika toko terlihat sibuk. Pelayan
disana tak ingin membuat seorang Duchess menunggu. Ai tertawa puas dalam hati, rencananya harus berhasil.
Hampir seharian Ai menghabiskan waktunya di dalam toko, waktu hamper sore saat kereta memasuki
pelataran kediaman.
“ nyonya, sebenarnya untuk apa anda membeli banyak gaun pesta. Padahal kita tidak sedang mengadakan
pesta ataupun mengahadiri pesta?” tanya Milly yang sedang membantu Ai bersiap
tidur.
“ kata siapa? Setelah ini kita agendakan beberapa pesta” jawab Ai enteng
“ tapi nyonya, bagaimana dengan Duke serta nona Grace” cicit Milly takut bila nyonyanya tersinggung. Ai
tau jika pelayannya ini mengkhawatirkan pernilaian orang tetang dirinya, jika difikir memang saat ini tidak alasan yang cocok untuk mengadakan pesta. Namun seperti perkataanya tadi, saat ini yang Ai butuhkan adalah pengalihan.
“ kau tidak perlu cemas, aku tau apa yang aku lakukan” menenangkan pelayan setianya.
Seperti yang dikatakan Ai malam itu, kini agenda diadakannya pesta sudah dapat di pastikan. Saat ini
sedang perjalanan menuju kediaman Halbert tentu saja untuk menemui Masy. Terasa
begitu lama Ai tidak mengunjungi sahabatnya ini.
“ Masy..” teriak Ai begitu meliat sosok Masy yang berdiri di pintu masuk kediaman.
“ Ainsley,,” balas Masy. Kedua wanita itu berpelukan erat.
“ bagaimana kabarmu?” tanya Masy sambil mengandeng tamunya menuju pelataran samping yang sudah siap
dengan kudapan.
“ seperti yang kau lihat” jawab Ai tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang begitu senang melihat
dirinya.
“kau sendiri bagaimana?” tanya balik. Masy menuangkan teh sambil tersenyum penuh arti.
“ kau masih ingat dengan Dereck Blackton?” bisik Masy. Tentu saja nama ini tidak akan Ai lupakan denga
mudah.
“ kenapa kau tersenyum seperti itu?” Ai sedikit ceriga dengan tingkah aneh gadis di depannya ini.
“ beberapa hari yang lalu dia membantuku mengurusi kuda yang kabur”
“ lalu?” sambil menyerutput teh nya.
“ dia telihat begitu… gagah” pipi Masy terlihat sedikit ada semburat merah muda. Dan tentu saja Ai sudah bisa menebak.
“ sepertinya ada aroma seseorang yang kasmaran” ledek Ai. Sepasang sahabat itu larut dalam canda tawa. Menghabiskan waktu siang dengan sangat baik.
“ ini” Ai menberikan surat undangan pesta.
“ kau yakin sebanyak ini?” tanya Masy keheranan.
“ buka yang lainnya”
“ itu adalah waktu dan tempat kita akan bertemu setelah ini, ada hal yang aku perlu bantuan darimu.
Kau taukan kerajaan sedang tidak baik-baik saja” lajut Ai kepada Masy, sahabatnya ini sudah tau mengenai misteri kematian mendiang Duchess tentu tidak perlu bagi Ai untuk menjelaskan hal ini secera rinci.
“ aku akan membatu sebisaku” jawab Masy yakin. Sebelum mengakhiri pertemuan itu mereka saling
berpelukan. Satu demi satu rencananya sudah berjalan sesuai dengan keinginan Ai. Didalam kereta Ai terus mendoakan keselamatan suaminya. Jika di kehidupan sebelumnya dia yang mati, kali ini kalaupun ada yang mati itu bukanlah suaminya. Ai sudah menyadari jika ada hal-hal tertentu yang sejatinya masih sama dengan sebelumnya, hanya saja obyek ataupun situsianya saja yang berbeda.