
jangan lupa Vote dan like ya
selamat membaca
Dia melihat pintu kamar yang di tempati Grace sedikit terbuka. Dengan langkah pelan dia mendekati pintu dan mulai mengintip apa yang ada di dalam. Samar-samar Ai mendengar perbincangan yang ada di dalam.
Di dalam kamar, Grace sedang berbicangan bersama seorang lelaki paruh baya.
“ apa mereka tidak bertanya-tanya kenapa aku tidak kesana?” tanya Grace.
“ tidak nona, mereka hanya menitipkan salam kepada Duchess” jawab lelaki itu.
“ bagus” Grace tampak puas dengan senyum lebarnya. Lelaki itu hanya diam saja menunggu perintah selanjutnya.
“ ingat, dua hari lagi Duke akan kembali. Sebelum itu kau letakkan kotak-kotak perhiasan ini di kamar Duchess, pastikan tidak ada satu orang yang tau mengetahui ini. Paham?” lelaki tadi mengangguk berulang untuk membuat Grace yakin.
“ oke, kau boleh pergi. Lebih baik besok baru mulai rencananya. Duchess akan sibuk dengan pertemuan besok sore” ucap Grace. Lelaki itu pamit undur diri.
Ai yang mengetahui jika pembicaraan itu telah usai, kini sudah bergeser dia menyembunyikan dirinya di samping meja besar. Dengan menunduk hati-hati Ai menehan geraknya agar ketika ada yanga keluar mereka tidak curiga.
Tap tap langkah kaki semakin mendekat, Ai semakin menciutkan tubuhnya. Begitu menjuah Ai melihat sosok lelaki itu dari belakang.
‘ siapa itu?’ tanya Ai dalam hati.
Brak pintu di tutup. Setelah menunggu sedikit lama dan tidak ada pergerakan, Ai keluar dari persembunyian. Melangkah pelan menuju kamarnya.
“ nyonya dari mana saja, saya kira nyonya sudah di kamar” ucap Milly yang akhirnya bisa menemukan nyonyanya. Dia sudah akan kembali ke lantai bawah untuk mencari keberadaan nyonya itu.
“ diamlah ikut aku” Ai segera keluar menuju balkon, mungkin saja dia bisa melihat sosok tadi.
“ ada apa nyonya?” Milly yang bingung mengekori Ai.
‘ dapat!’ AI menyeringai senang. Lelaki itu dia sudah tau identitasnya.
“ kenapa nyonya ? ada apa?” Mily terus bertanya, penasaan dengan tingkah nyonyanya yang aneh.
“ nanti akan aku jelaskan, sekarang aku ingin mandi cantik,” dengan hati riang Ai menuju kamar mandi. Seharian berada di ruang terbuka benar-benar membuat tubuhnya lengket penuh keringat.
Malam hampir datang ketika Ai keluar dari pemandian, rasa segar dan bau harum begitu terasa. Milly yang sedari tadi kebosanan menunggu nyonya keluar kini segera menghampiri Ai dan membantunya mengeringkan rambut.
Ai duduk di sofa setelah memakai gaun santai rumahan. Mily sibuk mengeringkan rambut nyonyanya yang hitam, panjang dan lebat. Sunggu Milly selalu iri dengan tubuh yang di miliki nyonyanya. Kulit putih bersih serta rambut yang bagus. Membuatnya betah berlama-lama mengurusi nyonyanya yang cantik jelita.
“ 2 hari lagi Duke akan kembali” Ai membuka pembicaraan.
“ em, besok lusa berarti” ucap Milly
“ iyalah, mulai besok suruh seseorang untuk mengawasi kamarku diam-diam” ucap Ai membuat Mily berhenti sejenak sambil mengerutkan keningnya.
“ bukan justru sebaliknya, suruh pelayan yang sedang tidak bertugas saja. Awasi secara diam -diam dari jarak jauh, mengerti?” Ai tidak mengatakan secara gamblang alasannya. Dia takut Milly tidak bisa mengontrol mulutnya jika sudah berkumpul dengan pelayan lainnya. Jadi lebih sedikit yang tau akan lebih aman.
“ mengerti nyonya” jawab Milly tenang, dia sudah hampir selesai mengeringkan rambut nyonyanya itu. Tak lama dia turun untuk mengambil makan malam Ai. Beberapa hari ini memang Ai lebih suka makan di kamar, dia tidak ingin membuat kerepotan pelayan lainnya untuk menyiapkan makanan dirinya seorang di meja makan. Sungguh membuang tenaga, selain itu juga dengan begini sisa makanan akan semakin banyak untuk mereka.
Pagi telah datang hari telah berganti, sesuai dengan jadwal sore ini ada jamuan perayaan pernikahan Marques Kleiner, ayah Hardwin. Sebenarnya Ai sedikit berat untuk menghadiri perayaan ini. Namun dia tidak menemukan alasan cocok untuk menghindar, apalagi dengan rencana Grace yang dia tau kemarin. Lebih baik dia pergi.
Kereta sudah siap, perintah Ai juga sudah di laksanakan oleh Mily. Mereka berdua turun dan memasuki kereta kuda. Perjalanan sedikit jauh mengingat keluarga Kleiner tinggal tidak di pusat kota seperti dirinya. Lingkungan tempat mereka tinggal begitu asri dan lebih seperti suasana desa. Jauh dari hiruk piruk kota yang sibuk.
“ Duchess Wellington, silahkan masuk” sapa seorang pelayan penjaga. Ai tersenyum ringan untuk membalas sapaan itu.
Milly membantu nyonyanya menuruni tangga kereta, didalam sepertinya sudah sedikit ramai. Beberapa bangsawan melihat penampilan Ai yang anggun itu dengan seksama. Tak lupa mata para lelaki yang mengekori kemana perginya Ai.
“ Duchess, sungguh kerhormatan bagi kami dengan adanya anda disini”
“ jangan sepergi itu Marquess Kleiner, saya sudah sering mendengar tentang anda yang seorang perwira berani “ Ai yang sedikit banyak mengetahui riwayat ayah Hard kini mulai unjuk pengetahuan.
“ ah itu tidak ada apa-apanya dengan prestasi Duke” Ai sedikit tidak enak hati. Jika di bandingkan dengan suaminya, satu kota memang tidak ada yang bisa menandingi prestasi dan kemampuan Duke Wellington. Jadi tidak salah jika gelar itu di berikan kepada Axton.
“ Ai!” sapa Hardwin begitu melihatnya berbicang dengan ayahnya.
“ Hardwin mana sopan santunmu?” tegus Aidyn yang mendengar anaknya memanggil Duchess menggunakan nama. Beberapa bangsawan yang tidak mengetahui hubungan mereka juga ikut terkejut dengan tindakan Hardwin itu.
“ oh maafkan saya Duchess Wellington” dengan malas Hardwin mengoreksi panggilannya tadi. Ai tersenyum singkat melihat Hard yang mati kutu di omeli ayahnya.
“ sudah tidak apa-apa Marquess, kami teman masa kecil” jelas Ai mencoba membela temannya itu.
“ tuh kan ayah, Ai saja tidak keberatan”
“ tapi kau jangan ngelonjak, disini banyak bangsawan. Duchess begitu murah hati memaklumimu, jadi jangan sampai kau memberikan rumor buruk padanya” bisik Aidyn kepada anaknya. Hard hanya mengangguk kecil tidak ingin memperpanjang masalah kecil ini.
“ saya akan menyapa yang lain, permisi Duchess” Marquess segera meninggalkan dua orang itu.
“mari Duchess saya akan membawa anda menemui Marqueoness” Hardwin menjahili Ai dengan bertindak secara formal pada Ai.
“ tentu” Ai ikut dalam permainan Hardwin.
Ai dan Hardwin semakin masuk kedalam pesta. Dari jarak jauh Ai bisa melihat seorang wanita cantik di umurnya yang sudah 40 an itu. Melihat kedantangan tamu kehormatan wanita itu langsung mendekati Ai.
“ Duchess Wellington “ sapa wanita itu.
“ Marqueeoness Daesy” sapa Ai balik.
Mereka kemudian berbicang sejenak, bersama ibunya Ai bisa melihat bagaimana tingkah manja temannya ini. Selama ini Ai hanya melihat sikap keras dan kakunya Hardwin ketika melatih diri di Barack. Saat ini begitu jauh berbeda. Hardwin seperti sosok anak kecil di hadapan ibunya. Ai begitu iri dengan hubungan mereka.
Tak terasa malam sudah semakin larut kini Ai pamit undur diri. Perjalanan yang sedikit jauh memberinya alasan untuk pulang sebelum acara berakhir. Di kereta Ai sudah begitu mengantuk, jadi dia memilih untuk tidur sejenak.