
Seorang wanita tengah
terengah-engah belari menuju kota dia pagi buta. Tidak ada kereta yang lewat
yang bisa dia mintai tolong. Keadaanya terlihat sedikit lusuh penuh keringat.
Belum lagi alas kaki yang tak terlihat tertutup lumpur persawahan.
“ aku harus kuat,” ucap
wanita itu pada dirinya sendiri. Setelah
beberapa saat, terdengar suara kaki kuda. Wanita itu menengok dan matanya
melebar saat mengetahui siapa yang akan datang. Dengan cepat berlari
kesemak-semak untuk menyembunyikan diri. Tangannya bergetar ketakutan, jangan
sampai rombongan itu menemukan dirinya.
Rombongan itu tak lain
adalah rombongan putra mahkota, pelayan wanita itu dengan sangat serius berdoa
agar dirinya tidak diketahui. Ada informasi penting yang harus dia sampaikan
kepada kediaman Duke.
Akhirnya pelayan itu bisa
bernafas lega, dia tidak mendengar suara lagi. Sudah di pastikan rombongan itu
sudah melewatinya.
“ untung saja” ucapnya
pelan. Menunggu sejenak agar dia bisa menenangkan diri lalu meneruskan
perjalanan.
Sepeninggalnya putra
mahkota, Grace hanya berdiam diri di kamar. Malam telah berlalu namuan tidak
sedetikpun dia kehilangan kesadaran. Semua karena rencana yang Sea berikan
padanya. Haruskan dia menuruti semua keinginan Sea dan menjadi Grace yang dulu
lagi?, atau dirinya harus merelakan dan mengorbankan diri?. Grace dilema.
Fikirannya sudah tidak bisa lagi memutuskan. Antara dia atau Ainsley yang harus
menjadi korban. Grace tak pernah menyangka jika hari seperti akan datang, dia
menyesal mengapa dulu harus mengenal dan bekerjasama dengan bajingan Sea. Ini
adalah karma untukknya. Tapi jika harus bayinya yang membayar Grace tidak
sanggup. Bayi dalam kandungannya tidak bersalah, dia harus menyelamatkannya.
“ ibu akan menjaga mu”
tangan putih itu mengusap lembut perut buncitnya. Tak dia sadari lelehan hangat
sudah menetes dari sudur matanya.
Setelah berdiskusi
panjang, akhirnya Amber bisa membujuk Ai agar dirinya bisa tenang dan harus
berdiam diri di kediaman Duke. Paman Allard berjanji akan mengirim surat jika
mendapat kabar dari perbatasan.
“ paman harus berjanji
apapun yang terjadi harus melibatkan Ai, jangan sembunyikan apapun dari Ai”
wanita itu memegang erat tangan pamannya.
“ tenanglah, paman
berjanji” jawab paman Al yakin. Meski hatinya memiliki rencana lain, dia harus
memperlihatkan bahwa dia bersungguh-sungguh mengatakannya.
“jangan rencanakan
apapun” imbuh paman Al. lelaki itu tidak ingin Ai celaka, cukup dirinya saja
yang terlibat. Semuanya harus sesuai dengan rencana Duke.
“ akan Ai usahakan” wanita
itu terlihat ragu, dirinya sudah terlanjur melaksanakan sesuatu dan Ai yakin
ingin melibatkan diri. Entah bahaya sebesar apapun dia akan berjuang demi
Axton.
“ Ai, paman ingin kau
jangan lakukan apapun” paman Al menggeleng, seakan menegaskan agar Ai harus
menurut. jangan sampai situasi menjadi semakin runyam.
“ paman tau bagaimana Ai”
Ai tetap keras kepala, sebelum paman Al menuntut jawaban lain, Ai segera
memasuki kereta. dirinya bersiap kembali ke ibukota.
Paman Al dan Amber hanya
berhembuskan kasar sambil memberikan salam perpisahan dari pelataran. Ai
memandangi kaca dan melambaikan tangannya. Meski tidak berniat membuat kedua
pasangan itu khawatir namun Ai yakin paman bibinya pasti mengetahui situasinya.
Bohong jika Ai akan diam dan menyerah, kesempatan hidup sekarang membuat wanita
itu akan lebih bersungguh-sungguh mendapatkan keinginannya.
Dilain sisi setelah
mengunjungi mantan kawannya, putra mahkota melanjutkan kunjungannya di area
dekat dengan perbatasan. Dia ingin mengetahui bagaimana situasi di perbatasan.
Berapalama lagi dia harus menunggu kabar gembira itu.
Hari mulai gelap dengan
setia Sea duduk menunggu tamunya datang.
“ yang mulia, mereka
sudah datang” pengawal setianya masuk ruangan dengan beberapa orang mengekori
masuk kedalam ruangan.
Sea hanya menatap tanpa
“ kami perlu mengurusi
beberapa hal” salah satu orang dari kelompok memulai pembicaraan. Mereka
menangkap raut kesal Sea, jadi mencoba membela diri.
“ kalian fikir aku
pengangguran?” sorot matanya tajam mencekam.
Kelompok itu saling
memandang, mereka merasa situasinya sedikit tegang. Mereka tidak boleh
menganggap remeh pria kerjaan ini. Atau tidak keselamatan mereka menjadi
taruhannya.
“ kami minta maaf”
akhirnya kelompok itu mengalah, mereka bukan siapa-siapa di tanah orang. Lelaki
dihadapan mereka adalah penguasa di wilayah ini.
“ bagaimana
perkembangannya?” Sea tidak mau memperpanjang masalah, dia tidak mau
bertele-tele. Tujuannya kemari bukan untuk ini.
“ seperti yang kita
rencanakan diawal, beberapa hari lagi akan pecah perang dan saat itulah
kesepakatan kita akan terjadi” jawab tamu itu yakin.
Sea mengangguk kecil, dia
cukup puas dengan perkembangan yang dia dengar.
“ jangan sampai ada
kecurigaan, harus mulus dan semua persyaratannya akan kalian dapatkan” Sea
memberikan mereka sedikit hadiah. Bekerjasama dengan negara musuh seperti
sedang bermain api. Sea hanya perlu menyembunyikan airnya ketika semua telah
selesai, saat ini dia terus menyiram minyak agar api itu tidak padam.
Melihat hadiah dari Sea,
kelompok itu tampak berbinar. Mereka tidak curiga sedikitpun. Dengan senang
hati mereka menerimanya. Pertemuan malam itu sesuai dengan rencana.
Malam itu juga Ainsley baru
sampai di pelataran kediaman, kereta kuda sewaanya memasuki kediaman dari pintu
samping, tak ada yang mengetahui bagaimana Ainsley bisa tiba-tiba masuk ke
dalam.
“ Duchess” Leyna yang
melihat Ai langsung mendekati wanita itu. Mereka berada di lantai 3, saat itu
Leyna sedang berada di ruang santai.
“ bagaimana apa ada yang
curiga?” tanya Ai memastikan keadaan.
“ kemarin ada tamu dari
kediaman Halbert, untung saja Milly dapat mengatasinya” mereka berdua berjalan
menuju ruang kerja Axton.
“ sepertinya luka anda
sedikit membaik saya akan menyiapkan perbannya” Leyna meninggalkan Ai sendiri
disana. Ai duduk menatap meja dan kursi kerja Axton. biasanya Axton hanya akan
menghabiskan waktu disana beserta tumpukan kertas. Ai mulai berhalusinasi
melihat suaminya itu sedang disana, membuka satu persatu lembar sambil
tangannya mengangkat cangkir kopi. Tak lama Axton menatapnya dan tersenyum.
Sesuatu hal yang biasa lelaki itu lakukan saat Ai datang menemuinya.
“ aku merindukanmu” cicit
Ai seakan kalimatnya itu bisa didengar sang suami.
“ nyonya.” Milly masuk
sambil membawa makanan. Pelayan itu terlihat senang bercampur sedih melihat Ai
yang baru saja mengusap air mata.
“ apa semuanya baik-baik
saja nyonya?” Milly duduk dibawah, dia menggegam tangan Ai.
“ kuharap begitu” Ai
masih tidak bisa memalingkan wajahnya dari tempat kerja Axton.
“ Duke pasti baik-baik
saja, dia adalah lelaki paling kuat dan pintar” Milly mencoba menyemangati nyonyanya.
“ aku tau” Ai membalas
genggaman tangan Milly, dia tersenyum dan menangis diwaktu bersamaan. Kedua
wanita itu kemudian berpelukan, pelayan dan nyonya itu sudah seperti keluarga. Tak ada jarak, mereka tidak memandang
status. Mereka hanya saling menjaga.
“ nyonya makan dulu,
jangan sampai kesehatan nyonya ikut terganggu” Milly mengambil mangkok sup
beserta cemilan meletakkanya diatas meja.
“ nyonya terlihat lebih
kurus” lanjutnya.
Ai tersenyum singkat dan
menuruti perintah pelayannya. Pertarungan ini belum selesai, Ai harus menjaga
fisiknya meski mentalnya sedikit terguncang. Masih panjang perjalanan, dia
tidak akan menyia-nyiakan waktu.