The New Duchess

The New Duchess
Bab 64 : Seakan Lelah



Seorang wanita tengah


terengah-engah belari menuju kota dia pagi buta. Tidak ada kereta yang lewat


yang bisa dia mintai tolong. Keadaanya terlihat sedikit lusuh penuh keringat.


Belum lagi alas kaki yang tak terlihat tertutup lumpur persawahan.


“ aku harus kuat,” ucap


wanita itu pada dirinya sendiri.  Setelah


beberapa saat, terdengar suara kaki kuda. Wanita itu menengok dan matanya


melebar saat mengetahui siapa yang akan datang. Dengan cepat berlari


kesemak-semak untuk menyembunyikan diri. Tangannya bergetar ketakutan, jangan


sampai rombongan itu menemukan dirinya.


Rombongan itu tak lain


adalah rombongan putra mahkota, pelayan wanita itu dengan sangat serius berdoa


agar dirinya tidak diketahui. Ada informasi penting yang harus dia sampaikan


kepada kediaman Duke.


Akhirnya pelayan itu bisa


bernafas lega, dia tidak mendengar suara lagi. Sudah di pastikan rombongan itu


sudah melewatinya.


“ untung saja” ucapnya


pelan. Menunggu sejenak agar dia bisa menenangkan diri lalu meneruskan


perjalanan.


Sepeninggalnya putra


mahkota, Grace hanya berdiam diri di kamar. Malam telah berlalu namuan tidak


sedetikpun dia kehilangan kesadaran. Semua karena rencana yang Sea berikan


padanya. Haruskan dia menuruti semua keinginan Sea dan menjadi Grace yang dulu


lagi?, atau dirinya harus merelakan dan mengorbankan diri?. Grace dilema.


Fikirannya sudah tidak bisa lagi memutuskan. Antara dia atau Ainsley yang harus


menjadi korban. Grace tak pernah menyangka jika hari seperti akan datang, dia


menyesal mengapa dulu harus mengenal dan bekerjasama dengan bajingan Sea. Ini


adalah karma untukknya. Tapi jika harus bayinya yang membayar Grace tidak


sanggup. Bayi dalam kandungannya tidak bersalah, dia harus menyelamatkannya.


“ ibu akan menjaga mu”


tangan putih itu mengusap lembut perut buncitnya. Tak dia sadari lelehan hangat


sudah menetes dari sudur matanya.


Setelah berdiskusi


panjang, akhirnya Amber bisa membujuk Ai agar dirinya bisa tenang dan harus


berdiam diri di kediaman Duke. Paman Allard berjanji akan mengirim surat jika


mendapat kabar dari perbatasan.


“ paman harus berjanji


apapun yang terjadi harus melibatkan Ai, jangan sembunyikan apapun dari Ai”


wanita itu memegang erat tangan pamannya.


“ tenanglah, paman


berjanji” jawab paman Al yakin. Meski hatinya memiliki rencana lain, dia harus


memperlihatkan bahwa dia bersungguh-sungguh mengatakannya.


“jangan rencanakan


apapun” imbuh paman Al. lelaki itu tidak ingin Ai celaka, cukup dirinya saja


yang terlibat. Semuanya harus sesuai dengan rencana Duke.


“ akan Ai usahakan” wanita


itu terlihat ragu, dirinya sudah terlanjur melaksanakan sesuatu dan Ai yakin


ingin melibatkan diri. Entah bahaya sebesar apapun dia akan berjuang demi


Axton.


“ Ai, paman ingin kau


jangan lakukan apapun” paman Al menggeleng, seakan menegaskan agar Ai harus


menurut. jangan sampai situasi menjadi semakin runyam.


“ paman tau bagaimana Ai”


Ai tetap keras kepala, sebelum paman Al menuntut jawaban lain, Ai segera


memasuki kereta. dirinya bersiap kembali ke ibukota.


Paman Al dan Amber hanya


berhembuskan kasar sambil memberikan salam perpisahan dari pelataran. Ai


memandangi kaca dan melambaikan tangannya. Meski tidak berniat membuat kedua


pasangan itu khawatir namun Ai yakin paman bibinya pasti mengetahui situasinya.


Bohong jika Ai akan diam dan menyerah, kesempatan hidup sekarang membuat wanita


itu akan lebih bersungguh-sungguh mendapatkan keinginannya.


Dilain sisi setelah


mengunjungi mantan kawannya, putra mahkota melanjutkan kunjungannya di area


dekat dengan perbatasan. Dia ingin mengetahui bagaimana situasi di perbatasan.


Berapalama lagi dia harus menunggu kabar gembira itu.


Hari mulai gelap dengan


setia Sea duduk menunggu tamunya datang.


“ yang mulia, mereka


sudah datang” pengawal setianya masuk ruangan dengan beberapa orang mengekori


masuk kedalam ruangan.


Sea hanya menatap tanpa


“ kami perlu mengurusi


beberapa hal” salah satu orang dari kelompok memulai pembicaraan. Mereka


menangkap raut kesal Sea, jadi mencoba membela diri.


“ kalian fikir aku


pengangguran?” sorot matanya tajam mencekam.


Kelompok itu saling


memandang, mereka merasa situasinya sedikit tegang. Mereka tidak boleh


menganggap remeh pria kerjaan ini. Atau tidak keselamatan mereka menjadi


taruhannya.


“ kami minta maaf”


akhirnya kelompok itu mengalah, mereka bukan siapa-siapa di tanah orang. Lelaki


dihadapan mereka adalah penguasa di wilayah ini.


“ bagaimana


perkembangannya?” Sea tidak mau memperpanjang masalah, dia tidak mau


bertele-tele. Tujuannya kemari bukan untuk ini.


“ seperti yang kita


rencanakan diawal, beberapa hari lagi akan pecah perang dan saat itulah


kesepakatan kita akan terjadi” jawab tamu itu yakin.


Sea mengangguk kecil, dia


cukup puas dengan perkembangan yang dia dengar.


“ jangan sampai ada


kecurigaan, harus mulus dan semua persyaratannya akan kalian dapatkan” Sea


memberikan mereka sedikit hadiah. Bekerjasama dengan negara musuh seperti


sedang bermain api. Sea hanya perlu menyembunyikan airnya ketika semua telah


selesai, saat ini dia terus menyiram minyak agar api itu tidak padam.


Melihat hadiah dari Sea,


kelompok itu tampak berbinar. Mereka tidak curiga sedikitpun. Dengan senang


hati mereka menerimanya. Pertemuan malam itu sesuai dengan rencana.


Malam itu juga Ainsley baru


sampai di pelataran kediaman, kereta kuda sewaanya memasuki kediaman dari pintu


samping, tak ada yang mengetahui bagaimana Ainsley bisa tiba-tiba masuk ke


dalam.


“ Duchess” Leyna yang


melihat Ai langsung mendekati wanita itu. Mereka berada di lantai 3, saat itu


Leyna sedang berada di ruang santai.


“ bagaimana apa ada yang


curiga?” tanya Ai memastikan keadaan.


“ kemarin ada tamu dari


kediaman Halbert, untung saja Milly dapat mengatasinya” mereka berdua berjalan


menuju ruang kerja Axton.


“ sepertinya luka anda


sedikit membaik saya akan menyiapkan perbannya” Leyna meninggalkan Ai sendiri


disana. Ai duduk menatap meja dan kursi kerja Axton. biasanya Axton hanya akan


menghabiskan waktu disana beserta tumpukan kertas. Ai mulai berhalusinasi


melihat suaminya itu sedang disana, membuka satu persatu lembar sambil


tangannya mengangkat cangkir kopi. Tak lama Axton menatapnya dan tersenyum.


Sesuatu hal yang biasa lelaki itu lakukan saat Ai datang menemuinya.


“ aku merindukanmu” cicit


Ai seakan kalimatnya itu bisa didengar sang suami.


“ nyonya.” Milly masuk


sambil membawa makanan. Pelayan itu terlihat senang bercampur sedih melihat Ai


yang baru saja mengusap air mata.


“ apa semuanya baik-baik


saja nyonya?” Milly duduk dibawah, dia menggegam tangan Ai.


“ kuharap begitu” Ai


masih tidak bisa memalingkan wajahnya dari tempat kerja Axton.


“ Duke pasti baik-baik


saja, dia adalah lelaki paling kuat dan pintar” Milly mencoba menyemangati nyonyanya.


“ aku tau” Ai membalas


genggaman tangan Milly, dia tersenyum dan menangis diwaktu bersamaan. Kedua


wanita itu kemudian berpelukan, pelayan dan  nyonya itu sudah seperti keluarga. Tak ada jarak, mereka tidak memandang


status. Mereka hanya saling menjaga.


“ nyonya makan dulu,


jangan sampai kesehatan nyonya ikut terganggu” Milly mengambil mangkok sup


beserta cemilan meletakkanya diatas meja.


“ nyonya terlihat lebih


kurus” lanjutnya.


Ai tersenyum singkat dan


menuruti perintah pelayannya. Pertarungan ini belum selesai, Ai harus menjaga


fisiknya meski mentalnya sedikit terguncang. Masih panjang perjalanan, dia


tidak akan menyia-nyiakan waktu.