The New Duchess

The New Duchess
Bab 44 : Esme Chayton



Waktu sudah menunjukkan tengah malam, ketika sebuah kereta masuk ke dalam pelataran kediaman Halbert. Penjaga gerbang terlihat kaget serta bingung harus melakukan apa, kunjungan semalam ini tentu akan menganggu tuanya. Namun sebagai Duchess penjaga ini tidak berani menolak kedatangannya.


“ aku sudah mengirim surat pada nona muda Halbert “ ucap Ai mulai membuat penjaga itu sedikit tenang, dan segera mempersilahkan tamunya masuk.


Begitu sampai di depan pintu masuk, Maisie sudah menunggu di ruang tamu. Menyambut sahabatnya dengan rasa khawatir.


“ kau begitu mengagetkanku dengan suratmu” ucap Masy segera memeluk Ai.


“ maafkan aku, namun situasinya begitu mendesak” Ai hanya bisa meminta maaf karena tidak bisa mengatakan semuanya sekarang.


“ iya-iya. Ayo masuk ke kamarku, untung saja ibu dan ayah sedang di luar kota, jadi bisa sedikit leluasa” balas Masy membantu Ai membawakan tasnya.


Malam itu Ai tidak menceritakan alasan di balik keinginannya tinggal sementara di kediaman Halbert. Setelah memakan beberapa makanan ringan, AI dan Masy langsung tidur.


Pagi harinya setelah menyelesaikan sarapan, Masy mengajak Ai berjalan-jalan sejenak di lapangan. Inilah salah satu alasan kenapa Ai memilih kediaman ini. Tempatnya yang ada di pinggir kota serta jauh dari tetangga karena memiliki perternakan kuda semakin mempermudah Ai dalam menyembunyikan keberadaannya. Karena Ai yakin jika suaminya tidak sedang bertugas seperti apa yang dikatakannya sebelumnya. Axton sedang berbohong padanya.


“ sebenarnya aku tidak bermaksud apa-apa, tetapi situasi seperti apa yang sedang kau hadapi sampai harus bersembunyi seperti ini?” AI dan Masy duduk dia bawah pohon di atas rerumputan lebat. Ai terdiam sesaat sambil menatap pagar peternakan. Harus dari mana dia akan bercerita.


“ aku tidak tau kenapa, tetapi rasanya ada yang aneh dengan kematian mendiang Duchess. Aku sedang mencari tau kejelasannya sendiri. Axton tidak mau berterus terang sedangkan aku merasa ada kejanggalan” Ai menjelaskan secara singkat. Dia tidak mungkin menjelaskan tentang kejadian putra mahkota, tidak untuk sekarang. Akan sangat beresiko jika sampai hal ini tersebar.


“ jadi kau sudah ada rencana?” tanya Masy yanga mendukung keputusan sahabatnya.


“ aku menemukan berkas pernikahan Axton, mungkin bisa mulai mendatangi kediaman wanita -wanita itu” jawab Ai yakin.


“ baiklah, aku juga sedikit tertarik dengan kasus ini. Aku akan ikut membantumu” ucapan Masy semakin membuat Ai merasa lega. Merasa beruntung memiliki sahabat seperti Masy.


“ apa perlu kita ajak yang lain?” lanjut Masy memberikan saran.


“ tidak, ini harus bersifat rahasia. Apa kau bisa menyimpan ini?” Ai tidak ingin mengambil resiko yang malah akan membahayakan banyak orang.


“ ah iya, tenang saja aku jamin hal ini hanya kita berdua yang tau” mereka tertawa bersama. Setelah puas menikmati pemandangan serta angin pagi kedua wanita itu kembali ke kediaman.


Mereka sedang meneliti semua berkas itu di dalam kamar. Dengan seksama mencari tau alamat serta hal-hal yang menjelaskan keberadaan mereka.


“ kita bisa mulai pada Esme Chayton, dia istri pertaman Axton “ ucap Ai membuka berkas pertama.


“ Chayton? Aku sepertinya pernah mendengar nama ini” lirih Masy. Pengetahuannya tentang nama bangsawan sangat baik, sebagai penjual sukses dia tentu tau, bahkan mampu membedakan bangsawan mana yang memiliki banyak uang dan tidak.


“ selama disini aku belum pernah bertemu ataupun mengenal bangsawan Chayton, apa mungkin mereka sudah tidak disini?” Ai memancing ingatan Masy.


“ sebentar aku akan mengambil buku penjualan, mungkin saja mereka pernah membeli kuda” Masy keluar dari kamar menuju ruang kerja sang ayah.


Beberapa saat kemudian masuk membawa buku tebal yanga berisi rekap nama bangsawan yang membeli kuda dari beberapa tahun yang lalu.


“ mari kita cari” ucap Masy penuh semangat. Jika benar mereka pernah membeli itu akan mempermudahkan mereka mendapatkan alamat kediaman utama sang bangsawan.


Dari yang terbaru hingga 2 tahun sebelumnya kedua wanita itu tidak kunjung menemukan nama banagsawan itu. Mata mereka sudah panas akibat menatap buku-buku yang terlalu banyak.


Hari sudah sore, Masy dengan lelapnya tertidur karena kecepakan. Ai masih tidak bosan memencari. Hingga pada buku catatan 5 tahun yang lalu, Ai berhasil mendapatkan nama itu.


“ masy. Masy bangunlah. Aku menemukannya” Ai menggoyang tubuh Masy yang tidur dengan posisi duduk di sampingnya.


“ hemm, mana?” mengusap matanya agar menghilangkan rasa ngantuknya.


“ ini” tunjuk Ai pada baris yanga terdapat nama itu.


“ benar ini namanya, kediaman itu membeli sekitar 4 kuda. Ini tanggalnya, coba kau lihat tanggal pernikahannya?” Ai mengambil berkas yang diminta. Mencocokan dengan tahun pernikahan.


“ tidak ini tahun setelah pernikahannya “ ucap Ai.


“ apa kau tau tahun kematian Lady Chayton ini?” tanya Ai pada Masy yang seorang penghuni kota.


“ sebentar itu sangat lama “ Masy mencoba mengingat tahunnya. Kematian Duchess Wellington pertama memang begitu mengagetkan seisi kota.


“ ah ya aku ingat, tunggu itu tahun yang sama saat kediaman itu membeli kuda, apa mungkin mereka membutuhkannya untuk acara pemakaman? “ Masy akhirnya menjawab setelah beberapa lama.


“ tidak, dia adalah mendiang Duchess tidak mungkin kekurangan kuda. Axton memiliki banyak di kediaman. Kecuali mereka membawa kudanya pergi”


“ lihat alamat kediaman” lanjut Ai penasaran.


“ ini bahkan berbeda denganyanga tertera di dalam berkas” guman Masy yang seakan dibuat bingung.


“ besok kita akan pergi ke alamat yang ada di buku ini” Ai mengambil pena dan menyalin alamat itu di bukunya. Sambil menaikkan sudut bibirnya Ai berharap jika besok bisa mendapatakan sedikit informasi.


Sesuai dengan rencana sebelumnya, kedua wanita itu sudah meninggalkan kediaman setelah sarapan. Ai sengaja mengenakan topi yang lebar agar wajahnya sulit terlihat. Alamat ini sedikit berada di tengah kota. Warna serta model gaun juga menggunakan yang tidak mencolok dan sederhana. Begitupun dengan Masy. Mereka sudah menetapkan strategi seperti ini.


Awalnya mereka sedikit kesusahan mencari arah alamat yang tertera. Beberapa kali harus putar balik dan akhirnya saat tengah hari baru bisa menemukan alamatnya.


 Mereka berdua turun mendekati sebuah rumah yang terlihat sepi. Bangunan ini hanya satu lantai namun memiliki pagar yang sedikit ciut. Tidak banyak cendela rumah dan terlihat sedikit tidak terawat. Bahkan beberapa bagian tembok sudah tertutupi dengan tumbuhan menjalar.


Ai menekan bel rumah, meski sedikit ragu jika benda ini masih berfungsi atau tidak. Berkali-kali tidak ada sautan dari dalam, Masy berinisiatif mengelilingi bangunan itu, mungkin ada pintu masuk lainnya.


Berjalan melewati taman samping yang sempit karena tembok pagar yang begitu tinggi, akhirnya pencariannya membuahkan hasil. Masy bisa melihat ada balkon disana.


Tok tok dia mengetuk pintu yang terbuhung dengan balkon.


“ permisi, “ Masy sudah beberapa kali mencoba, tapi tetap tidak ada sautan.


Begitu akan kembali, Masy mendegar langkah kaki mendekat dari dalam rumah. Ternyata benar, ada seorang wanita tua yang membukakan pintu.


“ permisi madam, apa ini benar kediaman Sir Chayton?” tanya Masy ramah.