The New Duchess

The New Duchess
Bab 104 : Akhirnya



Keluar dari kamar sang


ayah, lelaki itu menuju kamar adiknya. Dia akan mencoba menghibur Ai.


 Tok tok tidak ada sautan. Lelaki itu


memberanikan diri untuk membuka dan langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Ai sedang


duduk termenung menatap dinding dan jendela kamar yang kecil.


Dalbert menghembuskan


nafas kasar, dia tidak merasa aneh dengan pemandangan ini. Dulu saat dia menemani


Ai di pondok pelayan Grafton, wanita itu juga sering melakukan hal yang sama.


“ Ai” Dalbert memanggil


pelan agar adiknya tau kehadirannya. Namun Ai tidak menyahuti, lelaki itu


kemudian berjalan mendekat dan duduk di ranjang. Dia mengelus punggung adiknya.


Tampak jelas dipipi Ai ada bekas air mata yang belum kering. Adiknya ini pasti


menangis sepanjang siang.


“ hey, “Dalbert mencoba


berkomunikasi dengan wanita ini, dia sudah memantapkan hati bahwa dirinya akan


selalu berpihak pada adiknya ini.


Ai menatapnya lemah,


wanita itu tampak tidak memiliki semangat hidup.


“ kau tak apa?” Dalbert


menyeka pipi Ai yang basah.


“ mereka mengatakan Axton


telah tewas, mereka semua sudah menyerah. Lalu aku bisa apa? Siapa yang akan


membantuku menemukan Axton” suara itu begitu parau, Ai mulai berurai air mata


lagi. Dirinya seakan mudah sekali menangis sekarang, memang berada dekat dengan


keluarga rasanya dia tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi.


Melihat adiknya yang


terus menangis Dalbert segera memeluknya pelan. Dia mengelus punggung Ai halus.


“ kau ingin jalan-jalan?


Agar kau tidak sedih seperti ini, ayo” Dalbert segera menarik tangan Adiknya.


Dia akan menghibur adik satu-satunya ini. Biarkan meski akan besar sekali


konsekuensi yang akan dia tanggung, Dalbert tidak peduli lagi.


Ai awalnya tidak berminat


dengan ajakan kakaknya, namun melihat bagaimana antusiasnya Dalbert membuat


wanita itu dengan sedikit berat akhirnya menurut saja.


“ kita akan kemana?” tanya


Ai yang sedari tadi tangannya di gandeng Dalbert. Mereka berjalan semakin masuk


ke dalam hutan, dan menjauhi kawasan bangunan. Berjalan melalui jalan setapak


yang sangat kecil dengan berbagai pohon seakaan memagarinya.


“ kau akan senang nanti”


kalimat itu memiliki banyak arti bagi Dalbert. Dia yang sudah beberapa lama


berada di sini, sudah sangat familiar dan tau betul situasi dan apa saja yang


terjadi.


Mereka terus berjalan


sampai menuju sebuah bukit, disana pemandangan hutan dan sekitarnya terpampang


dengan jelas. Ai begitu dibuat takjub, belum bernah dia melihat hal semacam


ini.


Didepan mereka hamparan


tanah lapang dengan bagian tengahnya ada sebuah danau yang lumayan lebar.


Langit sore kuning jingga menyambut mereka. Ai terdiam sesaat menutup matanya


dan membiarkan surai hitamnya terbang tertiup angin.


Posisi danau memang agak


rendah, jika ingin melihatnya lebih dekat mereka harus turun beberapa meter.


Namun Ai dan Dalbert memilih untuk tetap di atas, mereka berada di bawah sebuah


pohon Willow dengan daun yang lebat.


“ bagaimana kau suka?”


Dalbert menatap Ai dengan wajah sumringah, dia juga dengan jelas bisa melihat


perubahan dalam diri adiknya itu.


“ suka sekali,


terimakasih Dalbert” Ai begitu terpesona dengan pemandangannya, wanita itu


memeluk kakanya sesaat kemudian dia duduk di atas rumput.


Dalbert pun ikut duduk


berdampingan dengan Ai, bahkan lelaki itu bukan hanya duduk, tetapi berbaring


diatas rumput menatap langit sore yang begitu menarik.


“ rasanya begitu damai disini”


ucap Ai sambil menerawang jauh kearah matahari yang mulai turun.


Suasana menjadi senyap,


hanya suara angin dan membuat dedaun saling bergesek. Mereka begitu menikmati


suasana sore ini. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka yang melayang jauh


membawa keresahan. Membuat hati seakan kosong sementara. Tak terasa Ai juga


ikut membaringkan tubuhnya, dia menutup matanya.


Dalam kesunyian itu Ai


yang sedari siang sibuk menangis, akhirnya tak sadar terlelap diatas hamparan


kakaknya pergi. Hari sudah mulai gelap, di langit tinggal serpihan rona merah.


Bagaimana bisa Dalbert meninggalkannya disini, kenapa lelaki itu tidak


membangunkannya.


Ai segera berdiri, dia


menatap sekeliling. Bingung bagaimana jalan pulang. Wanita itu melangkah entah


kemana, dirinya mencari mungkin kakanya ada di dekatnya namun terhalang pohon.


Ditengah-tengah mencari


Ai seakan menangkap kilauan lampu, di bawah sana. Sedikit lebih dekat danau,


meski tidak di tepi. Ai tidak tau kalau disini masih ada pondok untuk bertempat


tinggal. Dia hanya berfikir mungkin ini juga termasuk pada bagian bangunan


kawasan mereka.


Dengan langkah pelan


wanita itu segera mendekati bangunan tersebut, dia tidak tau jika tanpa


sepengetahuannya seorang lelaki mengintip dari celah pohon sedang memperhatikan


dirinya. Siapa lagi kalau bukan Dalbert memang sengaja mengajak adiknya kemari


tidak hanya untuk menghibur kesedihan, namun dia memiliki tujuan khusus.


Dalbert tidak sedang


meninggalkan Ai, dirinya hanya memantau agar rencananya berhasil tanpa


mendapatkan banyak resiko. Dilihatnya Ai semakin mendekati tujuan, pondok


itulah yang menjadi alasan Dalbert membawa adiknya kemari.


Asap terlihat mengebul


dari cerobong pondok, disana juga terlihat ada sedikit penerangan dari lilin


dan lampu lampion. Jelas menandakan bahwa disana ada kehidupan.


“ apa mungkin Dalbert


disana?” guman Ai pada dirinya sendiri. Dia akan memarahi kakaknya begitu


sampai disana, dengan santainya bisa meninggalkannya sendiri tertidur. Awas


saja.


Jarak Ai sudah sangat


dekat, dirinya berhenti sejenak untuk mengawasi setiap sudut pondok mencari


kehadiran kakaknya. Dia seperti mendengar sayup-sayup suara darisana.


“ Angin malam semakin


kencang, anda lebih baik masuk kedalam” Ai bisa mendengarnya dengan jelas.


Wanita semakin berhati-hati dalam melangkah, itu jelas bukan suara Dalbert.


“ hem” Ai menghentikan


langkahnya, suara itu begitu familiar, meskipun hanya deheman.


Ai semakin mendekat, dia


sudah tepat berada di belakang pondok. Dari jarak sedekat ini Ai bisa mencium


aroma ramuan obat yang begitu kental, sepertinya orang didalam sedang merebus


obat-obatan.


“ obatnya sudah selesai,


anda bisa menimunya selagi masih hangat” kembali lagi suara itu semakin keras


dan jelas. Ai bisa menebak jika mereka ada di sisi depan pondok. Dan itu


membuat Ai semakin mendekati sumber suara.


Suara dentingan keramik,


orang itu sedang meminum ramuan obat yang dimaksudkan.


“ rasanya obat ini tidak


ada gunakanya” jantung Ai berdegup kencang, suara itu terasa begitu nyata.


Wanita itu tau betul suara itu milik siapa, dia seakan sedang berhalusinasi


mendadak.


Dari sisi tembok, wanita


itu melihat ada sesosok lelaki dengan baju sederhana dan sebuah mantel


menyelimutinya  sedang duduk di teras


pondok sedang menaruh gelas sedang di sampingnya ada seorang lagi yang Ai


yakini seorang pelayan yang membuat ramuan.


“ mari saya bantu masuk,


angin malam tidak baik untuk tubuh anda” Ai menyaksikan dengan seksama,


bagaimana lemahnya lelaki bermantel itu di papah berdiri untuk masuk kedalam.


Saat  itu Ai yakin bahwa dia tidak sedang


berhalusinasi, begitu berbalik badan wajah sang lelaki dengan jelas terpampang


didepannya. Kakinya seakan kaku mendadak, bahkan air matanya langsung jatuh


tanpa dia sadari.


“ hati-hati ” pelayan itu


memegangi bahu lelaki bermantel karena langkahnya yang tidak seimbang.


Bibir Ai terasa kelu,


bagaimana bisa kenyataan yang terpampang ini seakan menghentikan waktu. Antara


percaya dan tidak, wanita itu sangat jelas melihat wajah lelaki itu.


“ A..Ax.ton” suara Ai


tercekat, begitu lemah. Namun dapat di dengar oleh kedua lelaki itu, dengan


wajah kagetnya mereka langsung menoleh kearah suara. Mereka sama-sama terpaku,


tercengang. Seakaan semua mimpi.