
Keluar dari kamar sang
ayah, lelaki itu menuju kamar adiknya. Dia akan mencoba menghibur Ai.
Tok tok tidak ada sautan. Lelaki itu
memberanikan diri untuk membuka dan langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Ai sedang
duduk termenung menatap dinding dan jendela kamar yang kecil.
Dalbert menghembuskan
nafas kasar, dia tidak merasa aneh dengan pemandangan ini. Dulu saat dia menemani
Ai di pondok pelayan Grafton, wanita itu juga sering melakukan hal yang sama.
“ Ai” Dalbert memanggil
pelan agar adiknya tau kehadirannya. Namun Ai tidak menyahuti, lelaki itu
kemudian berjalan mendekat dan duduk di ranjang. Dia mengelus punggung adiknya.
Tampak jelas dipipi Ai ada bekas air mata yang belum kering. Adiknya ini pasti
menangis sepanjang siang.
“ hey, “Dalbert mencoba
berkomunikasi dengan wanita ini, dia sudah memantapkan hati bahwa dirinya akan
selalu berpihak pada adiknya ini.
Ai menatapnya lemah,
wanita itu tampak tidak memiliki semangat hidup.
“ kau tak apa?” Dalbert
menyeka pipi Ai yang basah.
“ mereka mengatakan Axton
telah tewas, mereka semua sudah menyerah. Lalu aku bisa apa? Siapa yang akan
membantuku menemukan Axton” suara itu begitu parau, Ai mulai berurai air mata
lagi. Dirinya seakan mudah sekali menangis sekarang, memang berada dekat dengan
keluarga rasanya dia tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi.
Melihat adiknya yang
terus menangis Dalbert segera memeluknya pelan. Dia mengelus punggung Ai halus.
“ kau ingin jalan-jalan?
Agar kau tidak sedih seperti ini, ayo” Dalbert segera menarik tangan Adiknya.
Dia akan menghibur adik satu-satunya ini. Biarkan meski akan besar sekali
konsekuensi yang akan dia tanggung, Dalbert tidak peduli lagi.
Ai awalnya tidak berminat
dengan ajakan kakaknya, namun melihat bagaimana antusiasnya Dalbert membuat
wanita itu dengan sedikit berat akhirnya menurut saja.
“ kita akan kemana?” tanya
Ai yang sedari tadi tangannya di gandeng Dalbert. Mereka berjalan semakin masuk
ke dalam hutan, dan menjauhi kawasan bangunan. Berjalan melalui jalan setapak
yang sangat kecil dengan berbagai pohon seakaan memagarinya.
“ kau akan senang nanti”
kalimat itu memiliki banyak arti bagi Dalbert. Dia yang sudah beberapa lama
berada di sini, sudah sangat familiar dan tau betul situasi dan apa saja yang
terjadi.
Mereka terus berjalan
sampai menuju sebuah bukit, disana pemandangan hutan dan sekitarnya terpampang
dengan jelas. Ai begitu dibuat takjub, belum bernah dia melihat hal semacam
ini.
Didepan mereka hamparan
tanah lapang dengan bagian tengahnya ada sebuah danau yang lumayan lebar.
Langit sore kuning jingga menyambut mereka. Ai terdiam sesaat menutup matanya
dan membiarkan surai hitamnya terbang tertiup angin.
Posisi danau memang agak
rendah, jika ingin melihatnya lebih dekat mereka harus turun beberapa meter.
Namun Ai dan Dalbert memilih untuk tetap di atas, mereka berada di bawah sebuah
pohon Willow dengan daun yang lebat.
“ bagaimana kau suka?”
Dalbert menatap Ai dengan wajah sumringah, dia juga dengan jelas bisa melihat
perubahan dalam diri adiknya itu.
“ suka sekali,
terimakasih Dalbert” Ai begitu terpesona dengan pemandangannya, wanita itu
memeluk kakanya sesaat kemudian dia duduk di atas rumput.
Dalbert pun ikut duduk
berdampingan dengan Ai, bahkan lelaki itu bukan hanya duduk, tetapi berbaring
diatas rumput menatap langit sore yang begitu menarik.
“ rasanya begitu damai disini”
ucap Ai sambil menerawang jauh kearah matahari yang mulai turun.
Suasana menjadi senyap,
hanya suara angin dan membuat dedaun saling bergesek. Mereka begitu menikmati
suasana sore ini. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka yang melayang jauh
membawa keresahan. Membuat hati seakan kosong sementara. Tak terasa Ai juga
ikut membaringkan tubuhnya, dia menutup matanya.
Dalam kesunyian itu Ai
yang sedari siang sibuk menangis, akhirnya tak sadar terlelap diatas hamparan
kakaknya pergi. Hari sudah mulai gelap, di langit tinggal serpihan rona merah.
Bagaimana bisa Dalbert meninggalkannya disini, kenapa lelaki itu tidak
membangunkannya.
Ai segera berdiri, dia
menatap sekeliling. Bingung bagaimana jalan pulang. Wanita itu melangkah entah
kemana, dirinya mencari mungkin kakanya ada di dekatnya namun terhalang pohon.
Ditengah-tengah mencari
Ai seakan menangkap kilauan lampu, di bawah sana. Sedikit lebih dekat danau,
meski tidak di tepi. Ai tidak tau kalau disini masih ada pondok untuk bertempat
tinggal. Dia hanya berfikir mungkin ini juga termasuk pada bagian bangunan
kawasan mereka.
Dengan langkah pelan
wanita itu segera mendekati bangunan tersebut, dia tidak tau jika tanpa
sepengetahuannya seorang lelaki mengintip dari celah pohon sedang memperhatikan
dirinya. Siapa lagi kalau bukan Dalbert memang sengaja mengajak adiknya kemari
tidak hanya untuk menghibur kesedihan, namun dia memiliki tujuan khusus.
Dalbert tidak sedang
meninggalkan Ai, dirinya hanya memantau agar rencananya berhasil tanpa
mendapatkan banyak resiko. Dilihatnya Ai semakin mendekati tujuan, pondok
itulah yang menjadi alasan Dalbert membawa adiknya kemari.
Asap terlihat mengebul
dari cerobong pondok, disana juga terlihat ada sedikit penerangan dari lilin
dan lampu lampion. Jelas menandakan bahwa disana ada kehidupan.
“ apa mungkin Dalbert
disana?” guman Ai pada dirinya sendiri. Dia akan memarahi kakaknya begitu
sampai disana, dengan santainya bisa meninggalkannya sendiri tertidur. Awas
saja.
Jarak Ai sudah sangat
dekat, dirinya berhenti sejenak untuk mengawasi setiap sudut pondok mencari
kehadiran kakaknya. Dia seperti mendengar sayup-sayup suara darisana.
“ Angin malam semakin
kencang, anda lebih baik masuk kedalam” Ai bisa mendengarnya dengan jelas.
Wanita semakin berhati-hati dalam melangkah, itu jelas bukan suara Dalbert.
“ hem” Ai menghentikan
langkahnya, suara itu begitu familiar, meskipun hanya deheman.
Ai semakin mendekat, dia
sudah tepat berada di belakang pondok. Dari jarak sedekat ini Ai bisa mencium
aroma ramuan obat yang begitu kental, sepertinya orang didalam sedang merebus
obat-obatan.
“ obatnya sudah selesai,
anda bisa menimunya selagi masih hangat” kembali lagi suara itu semakin keras
dan jelas. Ai bisa menebak jika mereka ada di sisi depan pondok. Dan itu
membuat Ai semakin mendekati sumber suara.
Suara dentingan keramik,
orang itu sedang meminum ramuan obat yang dimaksudkan.
“ rasanya obat ini tidak
ada gunakanya” jantung Ai berdegup kencang, suara itu terasa begitu nyata.
Wanita itu tau betul suara itu milik siapa, dia seakan sedang berhalusinasi
mendadak.
Dari sisi tembok, wanita
itu melihat ada sesosok lelaki dengan baju sederhana dan sebuah mantel
menyelimutinya sedang duduk di teras
pondok sedang menaruh gelas sedang di sampingnya ada seorang lagi yang Ai
yakini seorang pelayan yang membuat ramuan.
“ mari saya bantu masuk,
angin malam tidak baik untuk tubuh anda” Ai menyaksikan dengan seksama,
bagaimana lemahnya lelaki bermantel itu di papah berdiri untuk masuk kedalam.
Saat itu Ai yakin bahwa dia tidak sedang
berhalusinasi, begitu berbalik badan wajah sang lelaki dengan jelas terpampang
didepannya. Kakinya seakan kaku mendadak, bahkan air matanya langsung jatuh
tanpa dia sadari.
“ hati-hati ” pelayan itu
memegangi bahu lelaki bermantel karena langkahnya yang tidak seimbang.
Bibir Ai terasa kelu,
bagaimana bisa kenyataan yang terpampang ini seakan menghentikan waktu. Antara
percaya dan tidak, wanita itu sangat jelas melihat wajah lelaki itu.
“ A..Ax.ton” suara Ai
tercekat, begitu lemah. Namun dapat di dengar oleh kedua lelaki itu, dengan
wajah kagetnya mereka langsung menoleh kearah suara. Mereka sama-sama terpaku,
tercengang. Seakaan semua mimpi.