
Selama beberapa hari
Hardwin masih terngiang-ngiang dengan ucapan orang berpangkat tempo hari saat dia
berada di peradilan. Ada hubungan apa orang itu dengan Grace, dia yakin sekali
jika dia tidak mengenal dan tidak pernah bertemu dengan lelaki itu. Lantas siapa
sebenarnya lelaki itu.
“ kau kemari, suruh
beberapa orang untuk berjaga dan mengawasi kediaman Lady Bart” ucap Hardwin
kepada penjaga Barack. Lelaki itu masih disibukkan menyusun rencana untuk
segera menemukan Ai.
Kini semua orang di
Bavaria mungkin sudah mengetahui kabar jatuhnya perbatasan beberapa orang
bahkan berbondong-bondong berpindah ke tempat yang mereka fikir aman.
“ baik tuan” jawab
penjaga itu kemudian pergi.
Tak lama kepergian
penjaga, seorang lainnya masuk dengan membawa sebuah surat.
“ tuan ada kiriman surat”
diletakkanya surat itu di atas meja sesuai dengan intruksi tuannya. Dari
amplopnya saja Hardwin sudah bisa mengenali siapa orang yang mengirimi surat.
Maniknya menatap surat
itu lama sambil menimbang apakah dia harus membuka surat itu atau tidak.
“ apa mau mu ayah” guman
lelaki itu, tidak biasanya ayahnya mengirim surat. Bahkan sudah sangat lama
lelaki itu tidak kembali ke kediaman. Dia terlalu nyaman dengan tugas barunya.
Hardwi sudah mengetahui
bahwa sang ayah adalah pengikut Duke sejak lama. Kemungkinan surat ini akan
berisi perintah yang akan tidak dia sukai, daripada anaknya sendiri sang
ayahnya lebih memilih percaya pada Axton. dan Hardwin merasa teracuhkan.
Akhirnya lelaki itu
memilih untuk tidak menyentuh surat tersebut membiarkannya begitu saja di atas
mejanya, sedang dirinya memilih pergi melatih pasukan miliknya.
Malam kembali lagi,
suasana tahanan berubah dingin yang menyakitkan. Mily masih dibilang beruntung,
dirinya tidak berstatus tersangka jadi mendiami sel dengan tempat yang kering
dan dilengkapi ranjang kayu meski tanpa kasur, lumayan hawa dingin tidak
terlalu merusak tubuhnya.
Wanita itu tengah
tertidur ketika pintu selnya di pukul keras dengan batangan besi, menimbulkan
suara pekikan yang keras. Membuat sang pemilik sel langsung terbangun karena
terkejut.
“ bawa dia” dua orang
penjaga membuka pintu sel dan langsung membawa Mily yang masih dalam keadaan
bingung. Wanita itu bahkan belum tersadar 100% ketika para penjaga itu dengan
keras menarik kedua lengannya untuk ikut bersama mereka.
“ mau dibawa kemana aku?
Lepaskan” Mily berusaha memberontak dia begitu ketakutan, wanita itu tidak mau
mati malam ini.
mereka sama-sekali tidak mereganggangkan cekalan mereka. Terus menyeret Mily
dengan langkah tertatih. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan gelap tanpa
ada satupun barang di dalamnya. Dilemparnya tubuh kecil itu kemudian pintu itu
segera ditutup.
Mily menatap sekeliling,
dia tidak menemukan apapun atau lebih tepatnya matanya tidak bisa melihat
apapun dengan jelas. Ruangan itu begitu gelap dan pengap. Satu-satunya sumber
cahaya adalah dari jendela kecil yang berada di bagian atas, jauh dari tempat
Mily berada.
Mily dilanda kepanikan
mendadak, dirinya sudah berfikir tentang segala macam bentuk penyiksaan yang
akan dia alami.
“ ya Tuhan, selamatkan aku”
hanya rintihan doa yang bisa Mily ucapkan. Wanita itu bahkan bergetar dengan
air mata terus keluar dari matanya.
Selang beberapa saat
suara kunci terbuka terdengar, tak lama pintu terbuka. Penjaga membawakan
sebuah kursi dan seember air. Mily melihatnya dengan jantung terus bergetar.
“ katakan bahwa semua
kesaksianmu adalah bohong” ucap seorang penjaga yang duduk di depannya.
“ saya tidak berbohong
sedikitpun” ucap Mily yakin, semua yang dia ucapkan adalah kebenarannya.
“ apa kau punya bukti
bahwa putra mahkota adalah ayah bayi itu?” penjaga terus mencercanya dengan
pertanyaan. Mily terdiam dia jelas tidak memiliki bukti apapun.
“ kau berbohong kan?”
teriak penjaga itu.
“ tidak! Sungguh aku
tidak berbohong, aku..” ucapan itu terhenti, sebuah guyuran air dingin membuat
wanita itu diam mendadak. Tubuhnya langsung mengigil dalam sekejap.
“ katakan yang
sebenarnya!” penjaga itu seolah bersikeras agar Mily mengaku berbohong.
“ tidak, kebenaranya
adalah ayah bayi itu bukanlah Duke melaikan putra mahkota Sea!” Mily berteriak,
dia terbawa emosi dengan kondisinya yang mengigil.
Kini akibat teriakannya
itu satu guyuranpun dia terima lagi, air yang begitu dingin menusuk kulit
tubuhnya membuat tubuhnya mulai mati rasa.
“ katakan yang
sebenarnya!” penjaga itu terus menyiramkan air dingin kepda Mily sambil
menyuruh agar wanita itu mengatakan kebenaran yang dia yakini.
Mily tidak bisa berkata-kata,
mulutnya bergetar tidak bisa dia kendalikan. Bahkan kerongkorngannya terasa
tercekat tak ada suara apapun yang keluar selain rintihan dingin dan suara gigi
yang beradu.