The New Duchess

The New Duchess
Bab 84 : Permulaan



Selama beberapa hari


Hardwin masih terngiang-ngiang dengan ucapan orang berpangkat tempo hari saat dia


berada di peradilan. Ada hubungan apa orang itu dengan Grace, dia yakin sekali


jika dia tidak mengenal dan tidak pernah bertemu dengan lelaki itu. Lantas siapa


sebenarnya lelaki itu.


“ kau kemari, suruh


beberapa orang untuk berjaga dan mengawasi kediaman Lady Bart” ucap Hardwin


kepada penjaga Barack. Lelaki itu masih disibukkan menyusun rencana untuk


segera menemukan Ai.


Kini semua orang di


Bavaria mungkin sudah mengetahui kabar jatuhnya perbatasan beberapa orang


bahkan berbondong-bondong berpindah ke tempat yang mereka fikir aman.


“ baik tuan” jawab


penjaga itu kemudian pergi.


Tak lama kepergian


penjaga, seorang lainnya masuk dengan membawa sebuah surat.


“ tuan ada kiriman surat”


diletakkanya surat itu di atas meja sesuai dengan intruksi tuannya. Dari


amplopnya saja Hardwin sudah bisa mengenali siapa orang yang mengirimi surat.


Maniknya menatap surat


itu lama sambil menimbang apakah dia harus membuka surat itu atau tidak.


“ apa mau mu ayah” guman


lelaki itu, tidak biasanya ayahnya mengirim surat. Bahkan sudah sangat lama


lelaki itu tidak kembali ke kediaman. Dia terlalu nyaman dengan tugas barunya.


Hardwi sudah mengetahui


bahwa sang ayah adalah pengikut Duke sejak lama. Kemungkinan surat ini akan


berisi perintah yang akan tidak dia sukai, daripada anaknya sendiri sang


ayahnya lebih memilih percaya pada Axton. dan Hardwin merasa teracuhkan.


Akhirnya lelaki itu


memilih untuk tidak menyentuh surat tersebut membiarkannya begitu saja di atas


mejanya, sedang dirinya memilih pergi melatih pasukan miliknya.


Malam kembali lagi,


suasana tahanan berubah dingin yang menyakitkan. Mily masih dibilang beruntung,


dirinya tidak berstatus tersangka jadi mendiami sel dengan tempat yang kering


dan dilengkapi ranjang kayu meski tanpa kasur, lumayan hawa dingin tidak


terlalu merusak tubuhnya.


Wanita itu tengah


tertidur ketika pintu selnya di pukul keras dengan batangan besi, menimbulkan


suara pekikan yang keras. Membuat sang pemilik sel langsung terbangun karena


terkejut.


“ bawa dia” dua orang


penjaga membuka pintu sel dan langsung membawa Mily yang masih dalam keadaan


bingung. Wanita itu bahkan belum tersadar 100% ketika para penjaga itu dengan


keras menarik kedua lengannya untuk ikut bersama mereka.


“ mau dibawa kemana aku?


Lepaskan” Mily berusaha memberontak dia begitu ketakutan, wanita itu tidak mau


mati malam ini.


mereka sama-sekali tidak mereganggangkan cekalan mereka. Terus menyeret Mily


dengan langkah tertatih. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan gelap tanpa


ada satupun barang di dalamnya. Dilemparnya tubuh kecil itu kemudian pintu itu


segera ditutup.


Mily menatap sekeliling,


dia tidak menemukan apapun atau lebih tepatnya matanya tidak bisa melihat


apapun dengan jelas. Ruangan itu begitu gelap dan pengap. Satu-satunya sumber


cahaya adalah dari jendela kecil yang berada di bagian atas, jauh dari tempat


Mily berada.


Mily dilanda kepanikan


mendadak, dirinya sudah berfikir tentang segala macam bentuk penyiksaan yang


akan dia alami.


“ ya Tuhan, selamatkan aku”


hanya rintihan doa yang bisa Mily ucapkan. Wanita itu bahkan bergetar dengan


air mata terus keluar dari matanya.


Selang beberapa saat


suara kunci terbuka terdengar, tak lama pintu terbuka. Penjaga membawakan


sebuah kursi dan seember air. Mily melihatnya dengan jantung terus bergetar.


“ katakan bahwa semua


kesaksianmu adalah bohong” ucap seorang penjaga yang duduk di depannya.


“ saya tidak berbohong


sedikitpun” ucap Mily yakin, semua yang dia ucapkan adalah kebenarannya.


“ apa kau punya bukti


bahwa putra mahkota adalah ayah bayi itu?” penjaga terus mencercanya dengan


pertanyaan. Mily terdiam dia jelas tidak memiliki bukti apapun.


“ kau berbohong kan?”


teriak penjaga itu.


“ tidak! Sungguh aku


tidak berbohong, aku..” ucapan itu terhenti, sebuah guyuran air dingin membuat


wanita itu diam mendadak. Tubuhnya langsung mengigil dalam sekejap.


“ katakan yang


sebenarnya!” penjaga itu seolah bersikeras agar Mily mengaku berbohong.


“ tidak, kebenaranya


adalah ayah bayi itu bukanlah Duke melaikan putra mahkota Sea!” Mily berteriak,


dia terbawa emosi dengan kondisinya yang mengigil.


Kini akibat teriakannya


itu satu guyuranpun dia terima lagi, air yang begitu dingin menusuk kulit


tubuhnya membuat tubuhnya mulai mati rasa.


“ katakan yang


sebenarnya!” penjaga itu terus menyiramkan air dingin kepda Mily sambil


menyuruh agar wanita itu mengatakan kebenaran yang dia yakini.


Mily tidak bisa berkata-kata,


mulutnya bergetar tidak bisa dia kendalikan. Bahkan kerongkorngannya terasa


tercekat tak ada suara apapun yang keluar selain rintihan dingin dan suara gigi


yang beradu.