
Pangeran Aric mengusap air matanya, dia sungguh merindukan sosok Duke untuk membantunya mengambil keputusan.
tap tap tap
Suara langkah pengawal Aric yang mendekati kamar. Pertanda ada sesuatu yang terjadi dan menunggu kehadiran pangeran Aric.
Ai dan Allard menatap pengawal itu sesaat lalu ganti ke arah Aric. Lelaki itu terlihat mengambil nafas panjang dan berpamitan pada Axton.
" ku harap Duke bisa segera membuka mata" ucap Aric pelan lalu berbalik badan dan berjalan menuju pintu kamar. Lelaki itu mengangguk saat melewati Duchess dan Allard.
" pangeran" ucap pengawal itu saat Aric keluar kamar.
Aric berjalan menuju ruang tamu sedangkan Ai dan pamannya berjalan pelan di belakangnya.
" terimakasih atas kunjungan pangeran pagi ini" ucap Ai sebagai bentuk simpati. Dia jelas tau bagaimana hancurnya perasaan Aric dengan penolakannya atas surat Ratu. Terlebih saat Aric menatap suaminya yang masih tidak sadarkan diri. Lelaki itu sangat rapuh dan butuh sandaran.
" kabari aku jika terjadi sesuatu pada Duke" ucap Aric sebelum dirinya menaiki kereta menuju istana.
" paman rasa Pangeran begitu percaya padamu" saut Allard saat kereta kerajaan sudah pergi.
" dia tidak memiliki orang lain untuk dia percayai lagi" balas Ai datar. Lalu pergi menuju kamar Axton. Wanita itu merapikan sejenak kondisi kamar dan membersihkan beberapa debu.
Setelahnya dia mengambil ember berisikan air untuk membersihkan tubuh Axton.
tang byur.
ember itu jatuh membuat air di dalamnya tumpah kemana-mana. Suara keras terdengar karena ember itu terbuat dari besi.
" a..Axton?!" lirih Ai tak percaya. kelopak mata suaminya terbuka, manik gelap itu menatap dirinya.
" Dalbert, paman bibi!" teriak Ai agar yang lain bisa memastikan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi.
" kau sudah sadar?" Ai mendekati ranjang dan duduk di tepi. Axton menatap dirinya dengan tatapan kosong. Ai tidak tau apa yang lelaki itu fikirkan, Axton hanya diam dengan wajah datarnya.
" syukurlah, kau bangun Axton" Ai tersenyum dan memeluk suaminya senang.
" astaga, Duke. Anda sudah sadar,.syukurlah" Dalbert ikut senang. Dia menatap Ai yang masih memeluk suaminya dengan posisi berbaring.
" Ai.."
" Duke" paman dan bibi dibuat terkejut saat melihat Axton menatap mereka. Lelaki itu sudah siuman dan ini kabar yang sangat baik.
Ai beranjak dan memeluk Dalbert saking senangnya. Allard mendekati ranjang, berniat untuk menyapa Axton.
" Duke, apa anda baik-baik saja?" tanya Allard. sedang yang lainnya ikut menyaksikan di samping ranjang.
" apa yang terjadi? kenapa kalian semua disini?" tanya Axton membuat semuanya terdiam dan hening seketika.
" kalian keluarlah dulu, biar Ai yang menjelaskan semuanya" ucap Ai yang di angguki semuanya.
Beberapa saat kemudian, di dalam kamar hanya ada 2 orang saja. Ai dan Axton.
" kau terkena pukulan, dan tak sadar beberapa hari" jawab Ai pelan dan duduk di tepi. Tak lupa dia mengambil tangan Axton untuk dia pegang dengan erat.
Axton masih belum mengingat hal terakhir yang membuatnya terkapar berhari-hari disini.
" sekarang bulan apa?" tanya Axton membuat kening Ai berkerut.
" Desember" jawab Ai cepat.
Axton mencoba mengingat-ingat. dia memegang kepalanya yang terasa sedikit pening.
" Desember?" ulang Axton.
" jangan di paksa, pelan-pelan saja" ucap Ai melihat kesulitan Axton. Axton menatap Ai lama, wanita ini bukankah baru dia nikahi, tapi kenapa terasa sangat rindu.
" bantu aku duduk" saut Axton.
" iya" Ai mengubah posisi bantal dan selimut menjadi lebih nyaman saat duduk.