The New Duchess

The New Duchess
Bab148. Pengakuan



Hari ini kediaman Wellington di kaget kan dengan kedatangan rombongan Ratu dan Pangeran Aric. Mereka berdua memang tidak memberitahukan hal ini sebelumnya. Tak ingin ada penyambutan adalah salah satu alasan utamanya.


" Nyonya, ada rombongan kerajaan datang kemari" ucap Milly lembut. Ai sedang membasuh tangan Axton dengan air hangat di kamar.


" siapa?" tanya Ai datar. Bagi Ai mau siapapun yang datang itu tidak ada artinya.


" Ratu dan pangeran" jawab Milly. Seketika usapan tangan itu berhenti. Berani sekali wanita tua itu datang kemari, emosi Ai mendadak meninggi.


Ai berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.


" Duchess maafkan kedatangan kami yang mendadak ini.. "


" maaf pangeran, Jika tujuan kalian kemari hanya ingin melihat Duke kami tidak memberikan izin" potong Ai berusaha menahan amarah. Briana sudah bisa melihatnya sendiri, penolakan halus istri Duke memang terlihat elegant.


" sebenarnya Ratu ingin melihat Duke sebentar" lanjut Pangeran setengah memaksa.


" maaf pangeran.. te.."


" aku ingin melihat Axton" Briana dengan lembut mengutarakan niatnya.


Dari belakang Dalbert yang mengetahui segera menyusul Ai. lelaki itu khawatir dengan Ai, psikisnya masih labil.


" kami tidak.."


" Ai" Dalbert memegang lengan Ai lembut. Dia menatap hangat wajah Ai yang terlihat dingin.


" tahan emosimu" bisik Dalbert sambil mengulus punggung Ai pelan.


" aku tau" jawab Briana singkat tanpa menampilkan perasaan apapun, baik sedih atau bersalah. Sungguh, tidak menampilkan figur seorang ibu sama sekali. Nafas Ai semakin memburu, tidak terima dengan sikap Briana yang seperti ini.


" ini yang terkahir kalinya" lanjut Briana membuat semua terdiam. Bahkan Ai mendadak menurunkan egonya. Begitupun dengan Dalbert, wanita di depannya ini jelas memiliki maksud kuat saat berniat mengunjungi Duke.


Tanpa Sepengatahuan Ai, Dalbert memberikan kode pada Milly untuk menunjukkan kamar Axton pada Briana.


Ai beserta Dalbert mengikuti dari belakang, meski sudah tidak ada lagi penolakan Ai masih berat hari membiarkan wanita ular itu menemui suaminya.


Pangeran Aric merasa sangat lega saat Duchess mau menuruman emosinya, dia tidak ikut masuk karena merasa bersalah. Lagipula dia juga sudah mengetahui semuanya. Rasanya dia tidak mau menganggu Ai dan Dalbert disana.


Ratu Briana berdiri termenung di samping ranjang Axton. Wanita itu menatap lelaki itu lama sekali. Tidak ada yang tau maksud sebenarnya Briana datang menemui Axton saat lelaki itu tidak bisa di ajak komunikasi.


" sudah?" tanya Ai yang tidak bisa lagi menahan emosinya.


" kau mencintainya?" tanya Briana dengan masih menatap Axton. Ai mengerutkan keningnya, dia merasa tidak terima dengan pertanyaan wanita itu. Baru aja mulutnya ingin mencaci tapi Briana segera melanjutkan ucapannya.


" dia terlalu mudah di cintai oleh semua orang, sama seperti ayahnya. Bekali-kali aku membuat namanya hancur, tapi dia masih saja tidak berubah.


Axton anak pertama ku, dia terlalu di cintai ayahnya. Selalu begitu, setiap orang yang melihatnya akan langsung jatuh hati dengan sikap dan perangainya. Membuatku semakin membencinya. membuat hidupnya sensara, membunuh semua istirnya, calon anaknya, dan semua hal yang berkaitan dengannya. Tapi Axton tidak pernah datang dan membalas dendam padaku. Dia lelaki yang hangat awalnya, lalu menjadi dingin. Dan itu membuatku senang" jelas Briana tanpa menutupi apapun. Wanita itu sejak awal selalu iri, dengan mudahnya Axton mendapatkan segalanya, sedang dirinya harus mengikuti perintah kedua orang tuanya, memaksanya membujuk grand Duke tapi masih belum cukup. Dia juga harus menikah dengan Pangeran yang statusnya sudah memiliki pertunangan. Hidupnya sudah rusak dan dia ingin merusak kehidupan orang lain, termasuk anaknya sendiri.


" kau tidak pantas menjadi ibunya" desis Ai tajam.


" memang, aku juga berfikir seperti itu. Axton kecil terlalu banyak mengalami penderitaan. Dia sejak awal membawa tanggung jawab besar. kasihan sekali" balas Briana tanpa rasa bersalah.


" sebagai bentuk kasihan ku, aku akan memikul kesalahan yang sudah aku lakukan padanya. Aku akan melakukan satu hal sebagai ibunya, untuk yang terakhir kalinya" lanjut Briana. Ai menunggu sampai wanita itu mau mengatakan hal apa itu. Sayangnya Briana kembali diam dengan wajah datar. Lalu beberapa saat kemudian wanita itu berbalik badan kemudian pergi dari kamar itu.