The New Duchess

The New Duchess
Bab 23 : Kepulangan



Begitu sampai kediaman, Milly segera membangunkan nyonyanya. Meski sangat mengantuk dan lelah Ai dengan langkah gontai berusaha berjalan menuju kamarnya.


“ hati-hati nyonya” ucap Milly ketika Ai menaiki tangga. Milly langsung membantu Ai melepas gaunnya begitu sampai di kamar, dan langsung tidur.


Paginya sebelum memulai sarapan, di kamar Ai sedang berbincang dengan seorang pelayan yang diberikan tugas mata-mata.


“ apa ada yang masuk ke kamarku?” tanya Ai yanga sedang di sisir rambutnya oleh Milly.


“ ada nyonya,” jawab pelayan itu.


“ kapan dia masuk dan berapa lama dia didalam ?”


“ saat petang ketika anda keluar, sepertinya tidak terlalu lama”


“ apa dia membawa sesuatu?”


“ iya nyonya, tapi ketika keluar dia tidak membawanya” Ai menyunggingkan sudut bibirnya. Sedangkan Milly terlihat bingung mencerna semuanya.


“ kau boleh pergi, tapi ingat jangan ada orang yang tau. Pura-pura saja jika pembicaraan ini tidak ada. Mengerti?” pelayan itu mengangguk. Sebelum pergi Mily memberikan hadiah kepada pelayan itu. Tentu saja hal ini permintaan Ai sebelumnya.


" terimaksih nyonya” Pelayan itu pergi dan melanjutkan pekerjaanya.


Dikamar Millya sudah selesai mengatur rambut nyonyanya, kini menuangkan teh.


“ Mily kau coba bongkar-bongkar tempat tersembunyi di sini” ucap Mily yang terdengar aneh.


“ nyonya sedang mencari sesuatu?”


“ mungkin kita menemukan harta karun” jawab Ai enteng.


“ nyonya bisa saja” tanpa banyak bertanya lagi Milly segera melakukan permintaan Ai. Ai dengan seksama mengamati pencarian yang dilakukan Milly.  


Setelah beberapa lama Mily tak kunjung menemukan hal aneh.


“ tidak ada harta karun” Milly sudah menyerah. Ai tersenyum kecil. Sekarang giliran dia yang mencari harta karun itu.


Milly sudah mencari di lemari ataupun meja. Tempat-tempat  yang secara umum digunakan untuk menyimpan barang. Tidak dengan Ai, dia mulai dengan kolong sofa, meja, dan tempat-tempat yang terkesan rahasia.


Tanpa butuh banyak waktu akhirnya Ai menemukan benda itu. Ada sekitar 3 kotak yang di susun sejajar di bawah ranjangnya. Ai mengambilnya satu untuk di bawa di sofa.


“ Milly lihatlah yang aku termukan” Milly kaget melihat kotak itu. Siapapun pasti sudah mengira isi dari kotak itu dari penampilannya kotaknya saja.


“ nyonya menemukannya dimana?” Ai sudah duduk di sofa, di letakkanya kotak perhiasan itu diatas meja. Milly segera mendekat untuk melihat isinya. Dengan pelan Ai membuka kotak hitam itu.


“ wah nyonya, anda menemukan harta karun” Milly terpesona dengan keindahan satu set perhiasan yang mengkilap itu. Mata Ai juga tampak berbinar, perhiasan itu sungguh indah sekali. Tentu saja karena Grace membayar dengan harga yang tinggi untuk perhiasan ini.


“ bukan satu, tap tiga. Ada tiga perhiasan di bawah ranjangku” Milly tidak percaya dengan ucapakan nyonya itu, beralih mendekati ranjang untuk mengecek sendiri apa benar yang dikatakan nyonyanya.


“ aaa, nyonya anda akan kaya dengan semua perhiasan ini” ucap Milly yang setengah melongo melihat kotak-kotak perhiasan.


“ kemarilah, taruh ini kembali disana. Aku akan menjelaskan semuanya” dengan sigap Mily meletakan kotak itu di tempat semula. Kemudian duduk di depan Ai.


“ kotak-kotak itu dengan sengaja di letakkan oleh Grace “  Milly sedikit terkejut, menatap nyonyanya lekat-lekat.


“  dia mencoba menjebakku dengan uang-uang yang dia atur itu”


“ kalau begitu kita kembalikan saja perhiasan ini di kamarnya” Milly terlihat cemas ketika mendengar perkataan Ai tadi.


“ tidak, aku sudah merencanakan semuanya, kau hanya perlu mengundang penjaga toko perhiasan “ Mily semakin tidak mengerti dengan pola fikir nyonya itu. Bukankah akan sangat beresiko membiarkan perhiasan ini disini, tapi nyonyanya terlihat biasa saja, malah melarangnya untuk mengembalikannya.


Kemudian Ai dan Milly terlibat pembicaraan yang serius. Mereka membicarakan rencana serangan balik untuk Grace. Milly mendengarkan semua yang diucapkan oleh nyonyanya dengan seksama. Dia mengingat setiap detailnya. Ai yakin jika rencananya berhasil keberadaan Grace disini akan tidak lama lagi.


Hari ini semakin malam, kepulangan Duke tidak kunjung terlihat. Baik Grace maupun Ai sedang menunggu lelaki yang menjadi ujung penentu dari rencana mereka.


“ nyonya tidak bersiap tidur?” Mily sudah membereskan ranjang, Ai juga sudah memakai baju tidur. Tapi malah duduk di balkon sambil membaca buku padahal malam sudah mulai larut.


“ nanti saja, aku belum mengantuk. Kau pergilah” Mily kemudian meninggalkan kamar.


Ai yang terlalu fokus membacaa tidak menyadari jika sudah masuk tengah malam. Matanya mulai lelah dan mengantuk. Niatnya dia menunggu suaminya datang, darisini dia bisa tau kapan keretanya akan datang. Namun sampai matanya menyipit tidak juga mendengar suara apapun.


Karena tidak ingin meninggalkan balkon, Ai akhirnya tertidur di sofa balkon. Untung saja sebelum pergi Milly memberikan nyonyanya itu kain selimut yang sedikit membantu menghangatkan diri. Kini dengan nyaman Ai tertidur dengan buku menjadi teman tidurnya.


Surai fajar mulai terlihat saat Axton menginjak lantai kediaman. Perjalanan pulang sedikit tertunda karena masalah tiba-tiba datang. Untungnya saja bisa selesai dengan cepat, jadi Axton tidak perlu menunda kepulangan terlalu lama.


Axton langsung menuju kamar dan membersihkan diri. Sebelum menaiki ranjang, Axton tertarik untuk melihat istrinya dulu. Selama melaksanakan tugas kali ini, Axton lebih sering memikirkan istri kecilnya. Begitu mengganggu dan membuatnya merindukan Ai.


Dibukanya pintu penghubung dan memasuki kamar istrinya. Axton mengerutkan kening ketika tidak menemukan apapun di ranjang istrinya. Hampir saja Axton berniat memanggil pelayan ketika angin malam dari balkon menerpa kulitnya. Berjalan mendekat ke balkon. Axton menarik sudut bibirnya, mengetahui Ai sedang menunggunya. Manis sekali. Dengan perlahan Axton menggendong tubuh Ai dan memindahkannya di atas ranjang. Wajah teduh inilah yang selalu menganggunya beberapa minggu terakhir. Kini sudah ada dalam dekapannya terlelap dengan nyenyaknya.


Axton menepikan anak-anak rambut yang menutupi wajah istrinya, paras cantik dan mungil membuat hati Axton menghangat. Pelan-pelan Axton mendekatkan bibirnya di kening istrinya itu. Dan ikut tidur di samping Ai tanpa mengganggu tidur sang istri yang begitu lelap.


Pagi datang, pasangan itu tak terganggu dengan mentari yang semakin naik. Axton semakin mengeratkan pelukannya karena tertepaan angin pagi yang masuk dari pintu balkon yang sedari malam terlupa di tutupnya. Ai tidak terbiasa dengan pelukan mulai terganggu tidurnya. Tanpa sadar menyingkirkan lengan kokoh di perutnya.


“ emm” Axton kembali mengeratkan pelukannya. Tubuh ramping Ai begitu pas dalam pelukannya. Nyaman dan hangat.


Ai menyingkirkan kembali, bahkan tubuhnya dia geser menjauh dari hembusan nafas di lehernya. Setelah beberapa saat tubuh Ai tertarik dan kembali dalam pelukan.


Kini kesadaran Ai mulai kembali. Maniknya membola saat dirasakanya lengan seseorang memeluknya erat. Apalagi punggungnya mengenai sesuatu yang hangat dan sedikit keras. Ai menolehkan kepalanya pelan. Kelegaan menerpanya ketika tau jika seseorang itu adalah suaminya. Sudut bibirnya tertarik, Ai tersenyum senang.