
Pesta dihentikan dan
mayat Myra dibereskan oleh pelayan istana. Sea sudah berada di kamarnya dan
melanjutkan tidur. Lelaki itu bahkan tidak tau apa yang sudah dia lakukan.
Kabar mengenai kematian
penari cantik, Myra. Sudah mulai tersebar di area istana. Tidak ada yang berani
mengatakannya di luar, mereka pasti akan menerima hukuman berat akibat
berbicara lancang.
Sedangkan di sayap istana
bagian selatan, pasukan Duke sudah beristirahat di dalam sebuah ruangan. Akibat
pesta yang Sea adakan penjagaan istana menjadi sedikit longgar dan itu
menguntungkan Axton dan Aric memasuki istana.
Pasukan mereka tidak
diperbolehkan beraktifitas saat pagi hari, mereka akan tetap bersembunyi
didalam ruangan. Dengan ini mereka bisa lebih aman.
“ Duke apakah yang kau
ucapan padaku saat di perbatasan adalah benar?” tanya pengeran Aric yang saat
ini sedang duduk berdua dengan Duke. hanya ada mereka didalam ruangan ini.
Pasukan lainnya bersembunyi di tempat lain.
“ mengenai apa pangeran?”
Axton yang terlihat masih sibuk melihat peta istana. Meskipun dirinya sudah
sangat familiar dengan istana namun dipeta ini menunjukkan beberapa ruangan
rahasia beserta jalan rahasia yang belum pernah Axton ketahui.
“ mengenai asal usal
putra mahkota” ucap Aric pelan. Axton menatap Aric dengan wajah datar. Aric
mulai goyah, dia sedikit meragukan ucapan Axton mengenai anggota kerajaan.
Kekhawatiran yang Axton
fikrikan akhirnya terjadi juga, Axton menatap Aric dengan waja datar karena dia
sudah memperkiraan hal ini akan terjadi. Anggota kerajaan seperti Aric yang polos tidak akan mudah percaya jika
tidak melihatnya secara langsung, dan ini sulit untuk dilakukan.
“ saya tidak berbohong
atau ingin memecah belah anggota kerajaan. Saya dan Sea memiliki darah yang
sama” ucap Axton tegas. Sudah sampai sejauh ini, jika sampai Aric menghalangi
rencananya maka semaunya akan sia-sia.
“anda tidak mempercayai
saya?” tanya Axton balik. Lelaki ini akan bersiap jika memang Aric tidak mau
percaya padanya.
“ buka begitu, tapi
aku,,” Aric menghentikan ucapannya, dia bingung harus bagaimana mengatakannya.
dia ragu karena memang selama ini dia tidak pernah melihat sisi gelap sang
kakak. Dia tidak berani mengambil sikap. Dan ini yang Axton takutkan. Aric
masih terlalu lemah.
“ anda akan meyakininya
setelah melihat bagaimana kondisi raja” ucap Axton yakin. Sea pasti sudah
melakukan hal buruk pada Raja sehingga kerajaan bisa seperti ini, Axton berani
jamin.
Aric ssedikit merasa
bersalah karena sudah meragukan Duke. kalimat Duke ini mulai membuat dirinya kembali.
Jika memang benar Raja dalam keadaan yang buruk, Aric akan berani mengambil
sikap.
Hardwin dan pengawal
semakin dekat dengan kota terakhir, kepala penjaga mulai curiga karena sedari
tadi pengeran Aric tidak mengatakan apapun. Lelaki itu menatap Hardwin dan
Pengawal secara bergantian.
“ pengeran kemungkinan
masih tertidur, sudah beberapa hari beliau tidak beristirahat dengan baik”
jelas pengawal tanpa ditanya. Lelaki itu harus cermat menilai keadaan. Dia
tidak mau rahasianya terbongkar.
Kepala penjaga mengangguk
pelan sebagai jawaban dia tidak menghiraukan. Toh kalaupun bukan pangeran, dia juga tidak terancam, semua
senjata sudah diberikan. Hardwin dan pengawal itu bagaikan macan tanpa taring
bagi kepala penjaga.
Mereka terus berjalan,
bahkan kepala penjaga itu dengan mudah membawa mereka masuk tanpa menyertakan
surat dan idetitas pangeran. Hardwin dan pengawal sudah seperti berjalan menuju
kematian. Entah apa yang akan mereka hadapi disana.
“ sebentar lagi kalian
bisa masuk ke istana, segera bangunkan pengeran” ucap kepala itu kepada
Pengawal, lelaki itu mulai berkeringat dingin mereka akan segera ketahuan. Satu-satunya
sejata yang mereka punya hanya senjata jarak dekat. Seperti pisau dan sebuah
anak panah yang mereka sembunyikan didalam baju.
Hardwin mendekati
kedalam kereta kuda. Dia membuka tirai dan menyuruh seseorang yang didalam
keluar dengan menundukkan kepala.
Kepala penjaga yang
melihatnya seakan percaya bahwa memang benar seseorang yang keluar adalah
pangeran Aric.
“ hati-hati” pengawal itu
memapah seseorang itu dengan hati-hati. Dia sudah memberikan intruksi untuk
segera kabur begitu dia melepaskan pegangan tangannya.
Hardwin mulai mengatur
posisi untuk bisa menyerang kepala penjaga itu dalam sekali langkah. Kepala itu
sedang fokus memperhatikan seseorang yang sangat mirip denga pangeran Aric.
“ mari pangeran” pengawal
itu dengan cepat melepaskan pegangan tangannya dan seseorang yang menyamar itu
segera berlari menyelamatkan diri.
Kepala penjaga bahkan
tidak menyadari kehadiran Hardwin yang sudah dibelakangnya. Begitu akan mengejar
dan berteriak Hardwin segera meletakkan pisau di leher kepala penjaga.
Sedangkan pengawal melucuti senjata pada tubuh kepala itu.
Kini sang kepala penjaga
sudah menjadi sandera mereka. sebelum penjaga lainnya mencurigai tindakan
mereka, Hardwin segera memasukkan kepala pejaga ke dalam kereta tidak lupa dia
membuat lelaki itu menjadi tidak sadarkan diri dengan pukulannya.
Hardwin dan Pengawal itu
tetap melanjukan perjalanan sampai menuju pintu masuk istana. mereka juga mendapatkan sebuah pistol sebagai senjata
baru.
Kedua lelaki itu dengan
tanpa takut mendekati pos penjagaan terakhir, mereka akan bersiap melakukan
pertarungan disini. Disini mereka akan berencana menerobos istana secara
terpisah.
“ ada urusan apa kalian
kemari?” ucap salah satu penjaga gerbang.
Hardwin segera
mengeluarkan surat mandat dan lencana indentitas milik pengeran Aric. Petugas iitu melihat kereta kuda dengan
begitu lama.
“ cepat buka, pangeran
tidak mau menunggu lama” ucap Hardwin memperkeruh suasana. Dia tidak mau
berlama-lama terdiam takutnya akan ada penjaga lain yang memperlambat aksinya.
“ yang mulia, anda bisa membuka
gorden kereta agar kami bisa memastikan” ucap penjaga itu lembut.
Ini merupakan pos
terakhir, semuanya harus ketat dan tidak boleh ada kesalahan. Para penjaga akan
memeriksa secara menyeluruh siapapun dan apapun yang akan masuk ke dalam
istana.
Tidak ada sautan ataupun
pergerakan dari dalam kereta, penjaga itu melihat pengawal dan Hardwin secara
bergantian. Sedangkan yang dilihat hanya menampilkan wajah datar tidak tau
apapun.
“ yang mulia” penjaga itu
tetap mencoba berkomunikasi dengan pengeran.
“ kau mau bisa melihatnya
sendiri?” pengawal itu memberikan penawaran. Dia bahkan menurunkan tangga
kereta agar penjaga bisa melihat bagian dalam kereta.
Penjaga itu tidak mau
ambil resiko, akhirnya dia terpancing dengan penawaran pengawal pengeran.
Hardwin dan pengawal itu segera menyingkir, mereka bersiap melarikan diri.
Penjaga itu perlahan
menaiki tangga, dia dengan penuh kehati-hatian tidak mau jika pengeran merasa terganggu
akan prosedur pemeriksaan.
“ maaf yang mulia” ucap
penjaga itu sebelum membuka tirai dan melihat seseorang sudah terbaring di
sana. Lelaki itu menyangka jika pangeran sedang tertidur, namun begitu dia
melihat wajah seseorang yang tergeletak itu, penjaga langsung terduduk kaget.
“ tangkap mereka” teriak
penjaga langsung keluar dari kereta. sayangnya dia kalah cepat. Hardwin dan
pengawal itu sudah bersiap dan dengan mudah meloloskan diri. Mereka berpencar
demi bisa memecah fokus penjaga.
Hardwin menerobos
melewati penjaga timur sedangkan Pengawal pangeran menerobos penjaga barat.
Semuanya berjalan dengan lancar. Kedua lelaki itu langsung melarikan diri
sambil mencari celah untuk masuk.