The New Duchess

The New Duchess
Bab 135 : Terbongkar



Pesta dihentikan dan


mayat Myra dibereskan oleh pelayan istana. Sea sudah berada di kamarnya dan


melanjutkan tidur. Lelaki itu bahkan tidak tau apa yang sudah dia lakukan.


Kabar mengenai kematian


penari cantik, Myra. Sudah mulai tersebar di area istana. Tidak ada yang berani


mengatakannya di luar, mereka pasti akan menerima hukuman berat akibat


berbicara lancang.


Sedangkan di sayap istana


bagian selatan, pasukan Duke sudah beristirahat di dalam sebuah ruangan. Akibat


pesta yang Sea adakan penjagaan istana menjadi sedikit longgar dan itu


menguntungkan Axton dan Aric memasuki istana.


Pasukan mereka tidak


diperbolehkan beraktifitas saat pagi hari, mereka akan tetap bersembunyi


didalam ruangan. Dengan ini mereka bisa lebih aman.


“ Duke apakah yang kau


ucapan padaku saat di perbatasan adalah benar?” tanya pengeran Aric yang saat


ini sedang duduk berdua dengan Duke. hanya ada mereka didalam ruangan ini.


Pasukan lainnya bersembunyi di tempat lain.


“ mengenai apa pangeran?”


Axton yang terlihat masih sibuk melihat peta istana. Meskipun dirinya sudah


sangat familiar dengan istana namun dipeta ini menunjukkan beberapa ruangan


rahasia beserta jalan rahasia yang belum pernah Axton ketahui.


“ mengenai asal usal


putra mahkota” ucap Aric pelan. Axton menatap Aric dengan wajah datar. Aric


mulai goyah, dia sedikit meragukan ucapan Axton mengenai anggota kerajaan.


Kekhawatiran yang Axton


fikrikan akhirnya terjadi juga, Axton menatap Aric dengan waja datar karena dia


sudah memperkiraan hal ini akan terjadi.  Anggota kerajaan seperti Aric yang polos tidak akan mudah percaya jika


tidak melihatnya secara langsung, dan ini sulit untuk dilakukan.


“ saya tidak berbohong


atau ingin memecah belah anggota kerajaan. Saya dan Sea memiliki darah yang


sama” ucap Axton tegas. Sudah sampai sejauh ini, jika sampai Aric menghalangi


rencananya maka semaunya akan sia-sia.


“anda tidak mempercayai


saya?” tanya Axton balik. Lelaki ini akan bersiap jika memang Aric tidak mau


percaya padanya.


“ buka begitu, tapi


aku,,” Aric menghentikan ucapannya, dia bingung harus bagaimana mengatakannya.


dia ragu karena memang selama ini dia tidak pernah melihat sisi gelap sang


kakak. Dia tidak berani mengambil sikap. Dan ini yang Axton takutkan. Aric


masih terlalu lemah.


“ anda akan meyakininya


setelah melihat bagaimana kondisi raja” ucap Axton yakin. Sea pasti sudah


melakukan hal buruk pada Raja sehingga kerajaan bisa seperti ini, Axton berani


jamin.


Aric ssedikit merasa


bersalah karena sudah meragukan Duke. kalimat Duke ini mulai membuat dirinya kembali.


Jika memang benar Raja dalam keadaan yang buruk, Aric akan berani mengambil


sikap.


Hardwin dan pengawal


semakin dekat dengan kota terakhir, kepala penjaga mulai curiga karena sedari


tadi pengeran Aric tidak mengatakan apapun. Lelaki itu menatap Hardwin dan


Pengawal secara bergantian.


“ pengeran kemungkinan


masih tertidur, sudah beberapa hari beliau tidak beristirahat dengan baik”


jelas pengawal tanpa ditanya. Lelaki itu harus cermat menilai keadaan. Dia


tidak mau rahasianya terbongkar.


Kepala penjaga mengangguk


pelan sebagai jawaban dia tidak menghiraukan. Toh kalaupun bukan  pangeran, dia juga tidak terancam, semua


senjata sudah diberikan. Hardwin dan pengawal itu bagaikan macan tanpa taring


bagi kepala penjaga.


Mereka terus berjalan,


bahkan kepala penjaga itu dengan mudah membawa mereka masuk tanpa menyertakan


surat dan idetitas pangeran. Hardwin dan pengawal sudah seperti berjalan menuju


kematian. Entah apa yang akan mereka hadapi disana.


“ sebentar lagi kalian


bisa masuk ke istana, segera bangunkan pengeran” ucap kepala itu kepada


Pengawal, lelaki itu mulai berkeringat dingin mereka akan segera ketahuan. Satu-satunya


sejata yang mereka punya hanya senjata jarak dekat. Seperti pisau dan sebuah


anak panah yang mereka sembunyikan didalam baju.


Hardwin mendekati


kedalam kereta kuda. Dia membuka tirai dan menyuruh seseorang yang didalam


keluar dengan menundukkan kepala.


Kepala penjaga yang


melihatnya seakan percaya bahwa memang benar seseorang yang keluar adalah


pangeran Aric.


“ hati-hati” pengawal itu


memapah seseorang itu dengan hati-hati. Dia sudah memberikan intruksi untuk


segera kabur begitu dia melepaskan pegangan tangannya.


Hardwin mulai mengatur


posisi untuk bisa menyerang kepala penjaga itu dalam sekali langkah. Kepala itu


sedang fokus memperhatikan seseorang yang sangat mirip denga pangeran Aric.


“ mari pangeran” pengawal


itu dengan cepat melepaskan pegangan tangannya dan seseorang yang menyamar itu


segera berlari menyelamatkan diri.


Kepala penjaga bahkan


tidak menyadari kehadiran Hardwin yang sudah dibelakangnya. Begitu akan mengejar


dan berteriak Hardwin segera meletakkan pisau di leher kepala penjaga.


Sedangkan pengawal melucuti senjata pada tubuh kepala itu.


Kini sang kepala penjaga


sudah menjadi sandera mereka. sebelum penjaga lainnya mencurigai tindakan


mereka, Hardwin segera memasukkan kepala pejaga ke dalam kereta tidak lupa dia


membuat lelaki itu menjadi tidak sadarkan diri dengan pukulannya.


Hardwin dan Pengawal itu


tetap melanjukan perjalanan sampai menuju pintu  masuk istana. mereka juga mendapatkan sebuah pistol sebagai senjata


baru.


Kedua lelaki itu dengan


tanpa takut mendekati pos penjagaan terakhir, mereka akan bersiap melakukan


pertarungan disini. Disini mereka akan berencana menerobos istana secara


terpisah.


“ ada urusan apa kalian


kemari?” ucap salah satu penjaga gerbang.


Hardwin segera


mengeluarkan surat mandat dan lencana  indentitas milik pengeran Aric. Petugas iitu melihat kereta kuda dengan


begitu lama.


“ cepat buka, pangeran


tidak mau menunggu lama” ucap Hardwin memperkeruh suasana. Dia tidak mau


berlama-lama terdiam takutnya akan ada penjaga lain yang memperlambat aksinya.


“ yang mulia, anda bisa membuka


gorden kereta agar kami bisa memastikan” ucap penjaga itu lembut.


Ini merupakan pos


terakhir, semuanya harus ketat dan tidak boleh ada kesalahan. Para penjaga akan


memeriksa secara menyeluruh siapapun dan apapun yang akan masuk ke dalam


istana.


Tidak ada sautan ataupun


pergerakan dari dalam kereta, penjaga itu melihat pengawal dan Hardwin secara


bergantian. Sedangkan yang dilihat hanya menampilkan wajah datar tidak tau


apapun.


“ yang mulia” penjaga itu


tetap mencoba berkomunikasi dengan pengeran.


“ kau mau bisa melihatnya


sendiri?” pengawal itu memberikan penawaran. Dia bahkan menurunkan tangga


kereta agar penjaga bisa melihat bagian dalam kereta.


Penjaga itu tidak mau


ambil resiko, akhirnya dia terpancing dengan penawaran pengawal pengeran.


Hardwin dan pengawal itu segera menyingkir, mereka bersiap melarikan diri.


Penjaga itu perlahan


menaiki tangga, dia dengan penuh kehati-hatian tidak mau jika pengeran merasa terganggu


akan prosedur pemeriksaan.


“ maaf yang mulia” ucap


penjaga itu sebelum membuka tirai dan melihat seseorang sudah terbaring di


sana. Lelaki itu menyangka jika pangeran sedang tertidur, namun begitu dia


melihat wajah seseorang yang tergeletak itu, penjaga langsung terduduk kaget.


“ tangkap mereka” teriak


penjaga langsung keluar dari kereta. sayangnya dia kalah cepat. Hardwin dan


pengawal itu sudah bersiap dan dengan mudah meloloskan diri. Mereka berpencar


demi bisa memecah fokus penjaga.


Hardwin menerobos


melewati penjaga timur sedangkan Pengawal pangeran menerobos penjaga barat.


Semuanya berjalan dengan lancar. Kedua lelaki itu langsung melarikan diri


sambil mencari celah untuk masuk.