
Dalbert pergi menjauh
dari kamar ayahnya. Dia seakan merasa bersalah karena dia juga ikut
merahasiakan keadaan yang sebenarnya dari adiknya. Entahlah Dalbert terkadang merasa
marah terkadang juga kasihan pada dirinya sendiri. Sebagai kakak dirinya tidak
bisa membantu Ai sama sekali.
Setelah Dalbert pergi
paman Al mengajak Ai untuk kembali bertemu dengan tuan Kleiner, mereka
sepertinya harus membicarakan sesuatu. Namun yang Ai bingung adalah dirinya
bukannya diajak ke kamar tuan Kleiner namun kembali ke ruangan awal dimana
semalam dirinya bertemu dengan lelaki itu.
“ paman akan
memanggilnya” ucap paman Al kemudian meninggalkan Ai di dalam. Ai mengangguk
sebagai jawabannya.
Kali ini wanita itu tidak
diam duduk di kursi, melainkan menelusuri setiap sudut ruangan. Bangunan ini
terbuat dari tembok dan sepertinya memang di persiapkan betul-betul untuk
menjadi markas rahasia. Ai hanya bisa menebak seperti itu, dia akan meminta
jawaban nanti pada kedua orang itu. Semua perabotan dibuat sederhana namun
layak digunakan, seperti kursi kayu ini. Meskipun hanya terbuat dari kau, namun
begitu nyaman dipakai dan begitu terawat.
Tak lama terdengar suara
langkah kaki, Ai segera menengok ke arah luar. Ai bisa melihat jika Edward
masih di sini. Seakan diberikan tugas lalu memisahkan diri dari rombongan.
Paman Al dan tuan Kleiner berjalan mendekati ruangan.
“ selamat pagi Duchess”
sapa tuan Kleiner.
“ selamat pagi juga”
jawab Ai, mereka kemudian duduk disana. Tak lupa dengan seorang pelayan yang
masuk dengan membawa minuman beserta cemilan. Ai dibuat takjub kembali, di
kawasan seperti ini mereka juga mempunyai pelayan serta bahan makanan yang bisa
dibilang bervariasi.
“ bagaimana tidur anda
semalam?” tuan Kleiner masih mengajaknya berbasa-basi. Ai tidak mau berdebat
akhirnya mengikuti saja.
“ lumayan, tempat ini
terasa begitu terawat, tidak seperti tempat terpencil pada umumnya. Sebenarnya
tempat apa ini?” Ai berusaha menyelipkan pertanyaan dalam basa-basi ini.
Kedua orang di depannya
saling berpandangan, jelas sekali jika mereka seperti salah tingkah. Apa hanya
perasaanya Ai saja atau memang kedua orang ini seakan ingin menyamakan jawaban
dengan pertemuan ini agar Ai tidak curiga.
“ sebenarnya yang
mengetahui tempat ini adalah Duke, beliau yang membuat dan memberitahu kami.
Saat ini hanya di gunakan sebagai tempat perlindungan biasa, sambil menunggu
perang benar-benar selesai” jawab tuan Kleiner yang di angguki oleh paman Al.
Ai diam mendengarkan
penjelasan tuan Kleiner. Dia merasa jika akan membuang waktu bertanya dengan
mereka. perasaan Ai seolah tidak mau percaya dengan semua jawaban yang kedua
orang itu berikan.
“kalian sedang menunggu
kabar Duke disini?” Ai mencoba memperhatikan ekspresi kedua orang yang ada di
hadapannya.
“ Ai mau sampai kapan kau
akan mencari jawaban kabar Duke, kita semua juga merasa kehilangan dan harus
bisa menerima. Kabar yang selama ini
tersebar mungkin memang benar” paman Al berubah dramatis.
“ bukannya kami tidak
bisa menemukan kabar Duke, tapi sepertinya Duke memang tewas di tangan musuh.
Kita harus bisa menerima kenyataan ini” suara lesu dari tuan Kleiner membuat
nafas Ai menderu. Tidak dia tidak akan putus asa, sampai dia bisa memastikan
sendiri bagaimana keadaan suaminya saat ini.
“ tidak, Axton tidak
mungkin tewas dengan mudahnya. Dia pasti ada di suatu tempat” Ai seakan
menyemangati dirinya sendiri.
“ Ai dengarkan paman, kau
harus bisa menerima kenyataan pahit ini. Paman akan selalu di sampingmu nak”
paman Al berpindah duduk di samping Ai, lelaki itu memegang tangan Ai seraya
menguatkan keponakannya.
“ paman jangan bilang
hidup” lelehan hangat membasi pipi putih milik Ai. wanita itu harus bisa
meyakinkan pamannya agar tidak menyerah.
“ Ai sudah nak, sudah”
paman Al segera memeluk keponakannya, dia juga merasa sangat sedih jika melihat
Ai dalam keadaan seperti ini. Mau bagaimana lagi, ini adalah yang terbaik untuk
wanita ini. Jangan sampai harapannya malah akan menjadi beban hidup yang akan
dia tanggung selamanya.
Entah efek pelukan
pamannya yang semakin membuat Ai terus mengeluarkan air mata. Dia tak bisa
mengatur emosinya, atau karena situasi yang mendukung ini. Rasanya dada Ai begitu sesak karena pamanya
dan tuan Kleiner seakan mengatakan jika sudah tidak ada harapan baginya untuk
bertemu kembali dengan suaminya. Jika mereka saja sudah menyerah lalu kepada
siapa dia akan berharap. Siapa lagi yang akan membantunya menemukan Axton.
Ai menghapus kasar air
matanya, dia tidak akan seperti kedua orang ini. Dia tidak boleh putus asa,
Axton sedang menunggu pertolongan darinya. Dan Ai akan melakukan apapun sampai
Axton ketemu.
“ Ai yakin jika Axton
masih hidup” Dilepaskannya pelukan itu, AI beranjak dan berjalan keluar. Dia
menuju kamarnya, wanita itu harus menenangkan diri dan fikirannya.
Baik paman Al dan tuan
Kleiner terdiam setelah kepergian Ai. keduanya sebenarnya tidak tega mengatakan
semua itu. Namun mereka tidak bisa berbuat lebih. Mereka termenung agak lama di
ruangan itu, keduanya sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Setelah
beberapa saat keduanya keluar menuju tempat masing-masing.
Sore harinya Dalbert baru
kembali dari acara jalan-jalannya atau lebih tepatnya perjalanan menenangkan
diri. Batinnya seakan dilema harus memilih apa. Lelaki itu berjalan menuju
kamar ayahnya, dia akan berbicara serius dengan ayahnya itu.
“ darimana saja kau?”
Allard langsung menanyai anaknya saat anak lelakinya itu masuk dan langsung
duduk di kursi kamar.
“ ayah, mau sampai kapan
kita menyembunyikan hal ini dari Ai?” Dalbert memulai perbincangan dengan
pertanyaan yang mengundang amarah ayahnya. Alhasil Allard hanya terdiam, tidak
mau berdebat bualan anaknya.
“ ayah!?” Dalbert yang
tau bahwa dirinya di acuhkan langsung menuntut jawaban.
“ kita tidak bisa
melakukan apapun, kau sendiri tau apa alasannya” Allard menaikan suaranya,
jangan dikira dia tidak merasa bersalah melakukan semua ini.
“ aku tidak setuju dengan
pilihan ayah, Ai sudah dewasa. Sudah waktunya dia memilih sendiri kehidupannya.
Lagipula semua ini hanya masalah waktu, dan tidak ada yang tau bagaimana
nantinya. Kenapa tidak mengatakan saja kebenarannya dalam waktu yang singkat
ini” Dalbert seakan terpancing emosinya. Dia meluapkan kegundakan hatinya
kepada sang ayah. Rasanya begitu berat merahasiakan semuanya dari adiknya,
padahal mereka tau benar jika Ai selalu berharap untuk bisa bertemu kembali
dengan sang suami.
“Dalbert ini bukan ranah
kita setuju atau tidak, jangan sekali-kali kamu mengatakan kebenarannya pada
Ai” Allard menatap serius wajah anaknya, dia memiliki firasat jika anaknya ini
akan melakukan sesuatu yang melanggar.
Sesuai dengan dugaan
ayahnya, lelaki ini memang sudah memiliki niatan untuk mengatakan semuanya pada
adiknya. Dia terdiam tidak menyahuti tatapan ayahnya, bahkan dia seakan
menghindari tatapan tajam sang ayah.
“ Dalbert berjanjilah
jika kau tidak akan membocorkan rahasia ini” Allard memegang kedua pundak anak
lelakinya, dia menuntut jawaban dari Dalbert. Dia tidak mau merusak rencana
yang sudah mereka sepakati bersama.
“ya, aku berjanji”
Dalbert menjawab sekenanya, tetapi dia memang tidak akan mengatakan rahasia
itu.
‘aku akan menunjukkan padanya’ucap Dalbert dalam hati.
Lelaki tadi melepaskan pegangan tangan ayahnya dan berlalu pergi. Allard jelas
menangkap ada sesuatu yang tidak beres, dia seakan tau jika anaknya sedang
merencakan sesuatu.