The New Duchess

The New Duchess
Bab 103 : Dalbert memilih



Dalbert pergi menjauh


dari kamar ayahnya. Dia seakan merasa bersalah karena dia juga ikut


merahasiakan keadaan yang sebenarnya dari adiknya. Entahlah Dalbert terkadang merasa


marah terkadang juga kasihan pada dirinya sendiri. Sebagai kakak dirinya tidak


bisa membantu Ai sama sekali.


Setelah Dalbert pergi


paman Al mengajak Ai untuk kembali bertemu dengan tuan Kleiner, mereka


sepertinya harus membicarakan sesuatu. Namun yang Ai bingung adalah dirinya


bukannya diajak ke kamar tuan Kleiner namun kembali ke ruangan awal dimana


semalam dirinya bertemu dengan lelaki itu.


“ paman akan


memanggilnya” ucap paman Al kemudian meninggalkan Ai di dalam. Ai mengangguk


sebagai jawabannya.


Kali ini wanita itu tidak


diam duduk di kursi, melainkan menelusuri setiap sudut ruangan. Bangunan ini


terbuat dari tembok dan sepertinya memang di persiapkan betul-betul untuk


menjadi markas rahasia. Ai hanya bisa menebak seperti itu, dia akan meminta


jawaban nanti pada kedua orang itu. Semua perabotan dibuat sederhana namun


layak digunakan, seperti kursi kayu ini. Meskipun hanya terbuat dari kau, namun


begitu nyaman dipakai dan begitu terawat.


Tak lama terdengar suara


langkah kaki, Ai segera menengok ke arah luar. Ai bisa melihat jika Edward


masih di sini. Seakan diberikan tugas lalu memisahkan diri dari rombongan.


Paman Al dan tuan Kleiner berjalan mendekati ruangan.


“ selamat pagi Duchess”


sapa tuan Kleiner.


“ selamat pagi juga”


jawab Ai, mereka kemudian duduk disana. Tak lupa dengan seorang pelayan yang


masuk dengan membawa minuman beserta cemilan. Ai dibuat takjub kembali, di


kawasan seperti ini mereka juga mempunyai pelayan serta bahan makanan yang bisa


dibilang bervariasi.


“ bagaimana tidur anda


semalam?” tuan Kleiner masih mengajaknya berbasa-basi. Ai tidak mau berdebat


akhirnya mengikuti saja.


“ lumayan, tempat ini


terasa begitu terawat, tidak seperti tempat terpencil pada umumnya. Sebenarnya


tempat apa ini?” Ai berusaha menyelipkan pertanyaan dalam basa-basi ini.


Kedua orang di depannya


saling berpandangan, jelas sekali jika mereka seperti salah tingkah. Apa hanya


perasaanya Ai saja atau memang kedua orang ini seakan ingin menyamakan jawaban


dengan pertemuan ini agar Ai tidak curiga.


“ sebenarnya yang


mengetahui tempat ini adalah Duke, beliau yang membuat dan memberitahu kami.


Saat ini hanya di gunakan sebagai tempat perlindungan biasa, sambil menunggu


perang benar-benar selesai” jawab tuan Kleiner yang di angguki oleh paman Al.


Ai diam mendengarkan


penjelasan tuan Kleiner. Dia merasa jika akan membuang waktu bertanya dengan


mereka. perasaan Ai seolah tidak mau percaya dengan semua jawaban yang kedua


orang itu berikan.


“kalian sedang menunggu


kabar Duke disini?” Ai mencoba memperhatikan ekspresi kedua orang yang ada di


hadapannya.


“ Ai mau sampai kapan kau


akan mencari jawaban kabar Duke, kita semua juga merasa kehilangan dan harus


bisa menerima.  Kabar yang selama ini


tersebar mungkin memang benar” paman Al berubah dramatis.


“ bukannya kami tidak


bisa menemukan kabar Duke, tapi sepertinya Duke memang tewas di tangan musuh.


Kita harus bisa menerima kenyataan ini” suara lesu dari tuan Kleiner membuat


nafas Ai menderu. Tidak dia tidak akan putus asa, sampai dia bisa memastikan


sendiri bagaimana keadaan suaminya saat ini.


“ tidak, Axton tidak


mungkin tewas dengan mudahnya. Dia pasti ada di suatu tempat” Ai seakan


menyemangati dirinya sendiri.


“ Ai dengarkan paman, kau


harus bisa menerima kenyataan pahit ini. Paman akan selalu di sampingmu nak”


paman Al berpindah duduk di samping Ai, lelaki itu memegang tangan Ai seraya


menguatkan keponakannya.


“ paman jangan bilang


hidup” lelehan hangat membasi pipi putih milik Ai. wanita itu harus bisa


meyakinkan pamannya agar tidak menyerah.


“ Ai sudah nak, sudah”


paman Al segera memeluk keponakannya, dia juga merasa sangat sedih jika melihat


Ai dalam keadaan seperti ini. Mau bagaimana lagi, ini adalah yang terbaik untuk


wanita ini. Jangan sampai harapannya malah akan menjadi beban hidup yang akan


dia tanggung selamanya.


Entah efek pelukan


pamannya yang semakin membuat Ai terus mengeluarkan air mata. Dia tak bisa


mengatur emosinya, atau karena situasi yang mendukung ini.  Rasanya dada Ai begitu sesak karena pamanya


dan tuan Kleiner seakan mengatakan jika sudah tidak ada harapan baginya untuk


bertemu kembali dengan suaminya. Jika mereka saja sudah menyerah lalu kepada


siapa dia akan berharap. Siapa lagi yang akan membantunya menemukan Axton.


Ai menghapus kasar air


matanya, dia tidak akan seperti kedua orang ini. Dia tidak boleh putus asa,


Axton sedang menunggu pertolongan darinya. Dan Ai akan melakukan apapun sampai


Axton ketemu.


“ Ai yakin jika Axton


masih hidup” Dilepaskannya pelukan itu, AI beranjak dan berjalan keluar. Dia


menuju kamarnya, wanita itu harus menenangkan diri dan fikirannya.


Baik paman Al dan tuan


Kleiner terdiam setelah kepergian Ai. keduanya sebenarnya tidak tega mengatakan


semua itu. Namun mereka tidak bisa berbuat lebih. Mereka termenung agak lama di


ruangan itu, keduanya sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Setelah


beberapa saat keduanya keluar menuju tempat masing-masing.


Sore harinya Dalbert baru


kembali dari acara jalan-jalannya atau lebih tepatnya perjalanan menenangkan


diri. Batinnya seakan dilema harus memilih apa. Lelaki itu berjalan menuju


kamar ayahnya, dia akan berbicara serius dengan ayahnya itu.


“ darimana saja kau?”


Allard langsung menanyai anaknya saat anak lelakinya itu masuk dan langsung


duduk di kursi kamar.


“ ayah, mau sampai kapan


kita menyembunyikan hal ini dari Ai?” Dalbert memulai perbincangan dengan


pertanyaan yang mengundang amarah ayahnya. Alhasil Allard hanya terdiam, tidak


mau berdebat bualan anaknya.


“ ayah!?” Dalbert yang


tau bahwa dirinya di acuhkan langsung menuntut jawaban.


“ kita tidak bisa


melakukan apapun, kau sendiri tau apa alasannya” Allard menaikan suaranya,


jangan dikira dia tidak merasa bersalah melakukan semua ini.


“ aku tidak setuju dengan


pilihan ayah, Ai sudah dewasa. Sudah waktunya dia memilih sendiri kehidupannya.


Lagipula semua ini hanya masalah waktu, dan tidak ada yang tau bagaimana


nantinya. Kenapa tidak mengatakan saja kebenarannya dalam waktu yang singkat


ini” Dalbert seakan terpancing emosinya. Dia meluapkan kegundakan hatinya


kepada sang ayah. Rasanya begitu berat merahasiakan semuanya dari adiknya,


padahal mereka tau benar jika Ai selalu berharap untuk bisa bertemu kembali


dengan sang suami.


“Dalbert ini bukan ranah


kita setuju atau tidak, jangan sekali-kali kamu mengatakan kebenarannya pada


Ai” Allard menatap serius wajah anaknya, dia memiliki firasat jika anaknya ini


akan melakukan sesuatu yang melanggar.


Sesuai dengan dugaan


ayahnya, lelaki ini memang sudah memiliki niatan untuk mengatakan semuanya pada


adiknya. Dia terdiam tidak menyahuti tatapan ayahnya, bahkan dia seakan


menghindari tatapan tajam sang ayah.


“ Dalbert berjanjilah


jika kau tidak akan membocorkan rahasia ini” Allard memegang kedua pundak anak


lelakinya, dia menuntut jawaban dari Dalbert. Dia tidak mau merusak rencana


yang sudah mereka sepakati bersama.


“ya, aku berjanji”


Dalbert menjawab sekenanya, tetapi dia memang tidak akan mengatakan rahasia


itu.


‘aku akan menunjukkan padanya’ucap Dalbert dalam hati.


Lelaki tadi melepaskan pegangan tangan ayahnya dan berlalu pergi. Allard jelas


menangkap ada sesuatu yang tidak beres, dia seakan tau jika anaknya sedang


merencakan sesuatu.