
janga lupa kasih Vote dan like yaa
selamat membaca
Hari ini Ai tidak ada jadwal pertemuan jadi dia memilih untuk bersantai di dalam kamarnya. Bahkan sarapanpun Milly harus mengantarkannya ke kamar nyonyanya itu.
“ bagaimana keadaan para pelayan? Apa Grace melakukan sesuatu lagi?” tanya Ai sambil melahap satu demi satu menu makanannya.
“ mereka senang sekali dengan bantuan yang nyonya berikan. Nona Grace sekarang lebih suka pergi diam-diam, ada yang mengatakan kalau dia sering pulang malam” jawab Mily yang berhasil mencari informasi dari pekerja gerbang.
“ em begitu. Kita harus bisa mencari tau kemana dia pergi” semakin hari Ai merasa Grace semakin bertingkah aneh, yakin sekali jika Grace sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuknya.
“ apa kau bisa menyuruh seseorang untuk melakukan pengintaian?” Ai tidak mau kecolongan seperti dahulu. Cukup sekali saja dia melakukan kebodohan sekarang jangan lagi.
“ iya nyonya, saya mengenal seseorang yang bisa melakukan pengintaian” jawab Milly yakin. Hal ini membuat Ai tampak puas, dia harus bisa membuat Grace pergi dari kehidupan rumah tangganya.
Waktu sudah sampai malam, tapi Ai tidak melihat satupun kereta yang keluar dari kediaman. Sepanjang hari dia melihat dari atas balkon kamarnya yang dengan mudah bisa melihat aktifitas di depan pintu masuk kediaman. Kamarnya yang sekarang berada di bagian depan jadi menghadap gerbang masuk. Karena kebosanan, akhirnya Ai turun untuk makan malam, sekalian dia ingin mengetahui keberadaan Grace.
“ Duchess “ sapa salah satu pelayan dapur.
Ai segera duduk di meja makan, menu makan malam sudah hampir rampung. Dia memang sengaja datang lebih awal.
“ nyonya ada yang bisa saya bantu?” Milly yang mengetahui nyonyanya sudah duduk tenang di meja makan membuatnya segera mendekat.
“ tidak, kau bantulah mereka menyiapkan makanannya” Ai melihat kerepotan pelayan yang tergesa-gesa menyiapkan karena melihat dirinya sudah menunggu.
Setelah semua makanan di hidangkan, pelayan pamit kembali ke dapur.
“ tunggu, apa semua makanan sudah ada di meja ini?” tanya Ai yang membuat bingung pelayan.
“ ada beberapa makanan lebih sisa sarapan dan makan siang di dapur. Apa perlu kami hidangkan juga?” jawab pelayan Chloe.
“ iya, hidangkan semua makanan yang ada di dapur” yakin Ai. Beberapa pelayan mulai bertanya-tanya dalam hati, bukankah itu terlalu banyak, padahal rencanannya makanan sisa itu akan mereka makan nanti.
Beberapa saat kemudian pelayan mulai sibuk kembali, membawa semua makanan sesuai dengan intruksi nyonya. Kini satu meja benar-benar penuh dengan berbagai makanan, seperti akan diadakan pesta.
“ kalian panggil semua pelayan dan pekerja, selain penjaga gerbang tentunya untuk masuk dan makan bersama” beberapa saat para pelayan masih termenung tidak percaya dengan perintah nyonyanya. Sungguh kali pertama pelayan dan majikan makan satu meja bersamaan.
“ ayoo, nanti keburu dingin makanannya” Ai menyadarkan ketidak percayaan mereka. Sontak saja pelayan mulai melakukan perintah Ai meski dalam keadaan bimbang.
Kini pelayan dan pekerja berbaris mengitari meja makan, Ai yang sudah mengambil satu piring porsi makannya kini duduk tenang. Dia sengaja mendahului agar yang lain tidak merasa sungkan untuk makan.
“ mau sampai kapan kalian akan berdiri disana, ayo kita makan bersama” para pelaya dan pekerja saling pandang, sungguh mereka sedikit takut karena tidak pernah ada acara seperti ini sebelumnya. Mereka saling menunggu.
“ Mily kau bisa memberikan contoh pada mereka” Ai masih tenang menikmati makananya, meski aslinya dia juga tidak enak hati makan di hadapan orang banyak.
Mily yang sedikit terbiasa mengajak yang lain agar tidak sungkan mengambil makanan.
“ mari pelayan Chloe dan yang lain” melihat temannya mengambil makan dan duduk di samping nyonya beberapa pelayan mulai mendekati kursi dan mengambil makanan. Tak berselang lama ruang makan itu ramai dengan acara makan malam dadakan satu kediaman.
“ jangan lupa sisakan untuk penjaga gerbang “ sindir Ai yang tau keantusiasan para pekerja. Hati Ai begitu senang melihat bagaimana para pelayan dan pekerja tertawa bahagia bisa merasakan masakan lezat. Setelah memastikan semua sudah makan Ai bersiap untuk undur diri.
“ astaga, kalian benar-benar tidak sopan. Bagaimana bisa makan bersama di meja makan? Tempat kalian makan itu di dapur sana” Grace yang baru turun langsung berkomentar pedas kepada semua pelayan, dia tidak mengetahui jika diantara pelayan ini ada Duchess yang mengistruksikannya. Mendengar perkataan itu beberapa pelayan berhenti mengunyah makanan.
“ tenanglah Grace, aku sengaja menyuruh mereka makan disini. Rumah ini begitu sepi aku tidak terbiasa makan sendirian. Lagi pula apa salahnya mengajak mereka makan sekali-kali” para pelayan tertawa puas dalam hati karena di bela langsung oleh nyonya kediaman. Bahkan beberapa pekerja ada yang mencaci kesombongan Grace dalam hati.
“ tapi Duchess mereka adalah pelayan dan pekerja kediaman, tidak pantas makan satu meja dengan anda” Grace masih saja mencari-cari alasan agar dirinya tidak dipermalukan sendirian. Dia tidak benar-benar menghormati kedudukan Ai di rumah ini, pasalnya Grace masih suka membantah pendapat Ai seperti sekarang.
“ mereka memang bekerja sebagai pelayan, tapi apakah pelayan bukan manusia. Sudahlah jangan membuat nafsu makan mereka hilang, aku sendiri yang menginginkannya, apa kau keberatan?” Ai tak ingin terus berdebat, langsung saja bertanya intinnya. Grace merasa dipermalukan oleh Ai di depan semua pekerja, ingin sekali dia membalas Ai dengan makian. Namun untung saja Grace masih punya sedikit kewarasan dalam melihat situasi. Semakin dia mengelak mencari alasan semakin rendah kedudukannya di mata para pekerja dan pelayan ini.
“ tidak Duchess” jawab Grace pasrah namun memendam kemarahan. Kedua tanganya terkepal kuat, menahan emosinya yang meluap-luap. Para pekerja dan pelayan dengan puas dengan jawaban Grace, meneruskan menikmati santapan mereka. Kini status Duchess di mata mereka adalah status yang patut di hormati. Meskipun beberapa rumor dari Grace tentang Duchess yang mengetatkan masalah keuangan sedikit mengganggu mereka, tapi kini mereka sedikit meragukannya. Dengan mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan bagaimana Duchess membela mereka.
Tak perlu berlama-lama Grace langsung meninggalkan tempat dan kembali ke lantai dua. Milly melirik Ai dengan senyum senang. Mereka berdua memiliki pemikiran yang sama. Puas telah mempermalukan Grace di depan umum. Kesombongan Grace selama ini tentu harus di balas, setidaknya memberikan pelajaran untuknya agar tidak bertingkah seperti nyonya kediaman.
Ketika sampai di kamar Ai tidak langsung menaiki ranjang, dia pergi ke balkon kamarnya. Dia sudah mengganti kursi kayu balkon dengan sofa sederhana, niatnya agar ketika duduk disini saat malam, Ai bisa merasa sedikit hangat dan nyaman. Seperti sekarang ini. Ai yang menikmati pemandangan malam tidak perlu takut kedinginan.
Tok tok Mily masuk.
“ nyonya, semua pelayan dan pekerja menitipkan rasa terimakasihnya untuk anda. Mereka tidak menyangka jika Duchess mereka adalah wanita baik hati” Milly membawakan teh dan sedikit cemilan untuk Ai. Ai hanya tersenyum ringan saat mendengarnya.
“ seharian ini apa Grace keluar?” tanya Ai mengalihkan pembicaraan.
“ sepertinya tidak, apa karena nyonya juga tidak keluar ya. Pelayan mengatakan jika saat nyonya pergi, sebentar kemudian Grace ikut pergi”
“ dia cukup cerdik, tidak ingin aku menyadari kepergiannya” lirih Ai yang mulai memikirkan cara untuk mengatasi hal ini.
“ besok kita tidak perlu menghadiri jamuan” ada makna tersirat dalam kalimat Ai yang Milly tidak tau. Ai harus gesit untuk mengelabui Grace. Dirinya harus satu langkah di depan.