
“ kapan aku meremehkanmu, aku hanya memberikan pernyataan” jawab Hardwin santai.
“ dasar kau ini, oh ya, kau ikut acara amal ini?” tanya Ai.
“ iya begitulah. Untuk menggantikan ayahku, mana mungkin aku tertarik dengan acara membosankan ini” jawab Hardwin sambil mengangkat bahunya.
“ ya aku juga setuju dengan itu. Acara ini memang membosankan. Aku berniat mencuci muka agar bisa bertahan”
“ oh, kau memang mudah mengantuk dari dulu” mereka tertawa bersama. Tak terasa acara lelang telah usai. Mereka yang keasyikaan berbincang sampai tidak mengingat waktu.
“ nyonya, sedari tadi saya mencarimu” Milly yang kelelahan terlihat sedikit kesal.
“ oh, acaranya sudah selesai?” tanya Ai yang bingung kenapa Milly mencarinya.
“ sudah dari tadi, saya bahkan tidak berhasil mendapatkan hiasan rambut itu” jawab Milly sedikit emosional. Sudah tidak dapat barang yang dia incar, dia juga harus mencari keberadaan nyonyanya yang ternyata sedang bersantai dengan lelaki ini.
“ astaga, maafkan aku. Baiklah ayo kita pulang “ Ai merasa bersalah kepada Milly.
“ Hardwin aku pergi dulu” pamit Ai dengan melambaikan tangannya.
“ bagaimana dengan tawaranku tadi?” Hardwin yang masih belum mendapatkan kepastian mencoba mengingatkan Ai.
“ kau bisa datang ke kediaman. Kita bisa membahasnya lebih dalam” Ai sedikit berteriak karena jarak mereka cukup jauh.
Saat sampai di kediaman malam sudah sangat larut. Bahkan mendekati tengah malam. Beberapa lampu kediaman juga sudah di matikan. Dengan langkah gontai karena mengantuk Ai masuk ke kamarnya. Dia hanya melepaskan gaunnya dan langsung menaiki ranjang. Alam mimpi sudah menunggunya.
Ternyata Hardwin tidak bercanda dengan penawaran bisnisnya. Beberapa hari setelah acara lelang itu dia bertamu di kediaman Duke. Tanpa perlu lama Ai yang sudah mengetahui maksud kedatangan Hardwin langsung mengajaknya berbincang di balkon taman samping.
“ jadi kau benar-benar ingin mengajakku berbisnis, Hard?” tanya Ai sekali lagi, untuk memastikan niat Hardwin.
“ tentu, dari dulu kau pandai membuat alasan ini akan memudahkanku dalam bernegosiasi” Hardwin terus menarik minat Ai.
“ dengar ini bisnis yang menguntungkan, kau akan menjadi asisten pribadiku, mengatur pembukuan dan ikut dalam pertemuan. Bagaimana?” ajak Hardwin lagi yang sedikit menggungah minta Ai.
“ em, sepertinya aku belum bisa memastikannya. Kau tau sendiri sekarang hidupku sedikit penuh aturan. Apalagi Axton masih belum kembali. Aku akan menanyakan pendapatnya dulu untuk meminta izin” ucap Ai lemah. Baru saja Ai ingin menyetujui tawaran Hardwin tapi entah tiba-tiba teringat dengan Axton. Jadi Ai tidak langsung menyetujui ajakan Hardwin.
“ wah Ai kini menjadi istri yang patuh” sindir Hardwin.
“ hanya tidak ingin membuatnya marah saja. Kau akan tau jika menikah nanti” serang balik Ai.
“ jika aku menikah tentu aku tidak akan mengekang istriku” jawab Hardwin mencoba membandingkan dengan Axton. Secara halus menolak pandangan Axton yang selalu mengaitkan dengan aturan. Dia terbiasa bebas jadi tidak menganggap penting aturan, yang baginya malah membuat repot.
“ aku akan mengingat itu” perbicangan mereka terasa begitu asyik, hingga waktu sudah sangat siang. Tak ingin membuat rumor buruk pada Ainsley, Hardwin meminta pamit sebelum masuk makan siang.
“ aku juga tidak tau kenapa bisa seperti ini. Dari dulu tidak pernah ada masalah dengan keuangan, sekarang malah honor kita di potong” keluh salah satu pelayan.
“ kau benar, aku tidak percaya nyonya begitu tega. Uang harian semakin sedikit, kita bahkan kesulitan mengambil makanan sisa”
“ ah, enak sekali menjadi Mily dia tidak kekurangan apapun”
Hati Ai langung mencelos, pelayan-pelayan itu sedang membicarakan dirinya dan masalah keuangan. Tentu saja Ai merasa tersinggung, dengan mencoba mengatur emosinya Ai berjalan masuk ke dapur. Alhasil membuat ke 3 pelayan itu diam ketakutan.
“ apa yang kalian maksud dengan aku yang begitu tega?” Ai mencoba tenang, jangan sampai membuat mereka semakin takut yang malah akan menutupi keresahan hati mereka.
“ ii,,iitu kami. Em, hanya , mungkin nyonya salah dengar” jawab pelayan yang begitu gugup dan tak tau harus berkata apa.
“ begini saja, aku memang nyonya disini, tapi bukan aku yang mengolah keuangan. Mengenai honor bahkan uang harian aku tak tau menahu. Jadi aku mohon kalian katakan yang sebenarnya padaku” ketiga pelayan itu saling pandang. Mereka begitu kaget dengan perkataan nyonyanya. Seperti tidak percaya karena setiap harinya Grace mengatakan bahwa semua perintah datangnya dari Ai.
“ benarkah itu nyonya?” cicit salah satu pelayan yang mencoba mempercayai ucapan Ai.
“ benar, si Grace yang sombong itu yang mengambil alih” jawab Ai mencoba memprovokasi pelayan. Tampak raut lega yang pelayan itu tampilkan, ternyata benar. Nyonyanya tidak sekejam yang Grace katakan.
“ saya tidak tau alasannya tapi sudah 2 mingguan lebih ini uang harian berkurang hampir setengahnya. Beberapa pekerja harus rela mengambil porsi makan sedikit agar yang lain juga kebagian. Apalagi honor yang keluar juga hanya setengahnya. Nona Grace mengatakan jika hal ini adalah keputusan dari nyonya” akhirnya satu pelayan berani mengatakan kejujurannya. Hati Ai memanas mendengar semua penjelasan. Jadi masalah pembukuan waktu itu memang benar adanya, inilah alasan kenapa firasat Ai buruk mengingat pembukuan itu.
“ jadi begitu, kalian tenang saja aku akan mengurusnya. Kalian tetap berlaku seperti biasa jangan sampai Grace tau tentang ini” ucap Ai mantap yang langsung di angguki oleh ke tiga pelayan itu.
Sudah hampir 3 minggu kepergian Axton, Grace sudah sangat berani dengan kelancangannya mengatur keuangan, bahkan berani mengatas namakan dirinya.
‘ apa ini yang dia coba sembunyikan padaku’ lirih Ai yang sedang duduk di balkon kamarnya. Milly sedang menjalankan tugas yang dia berikan secara sembunyi-sembunyi. Ai tidak mungkin membiarkan masalah ini berlalu terlalu lama. Kepulangan Axton juga tidak jelas, Ai benar-benar kasihan dengan nasib para pelayan dan pekerja.
Tok tok tanpa menunggu jawaban, Milly langsung masuk ke kamar.
“ kau sudah selesai?” tanya Ai yang tau jika yang datang adalah Milly.
“ iya nyonya, ini catatan yang nyonya inginkan” jawab Milly sambil membawa beberapa lembar kertas yang berisi tulisan.
“ bagus, terimakasih” mengambil kertas itu dan membacanya singkat. Senyum senang langsung tercetak jelas di wajah Ai.
“ kenapa nyonya tidak langsung menegurnya saja, bila perlu usir saja darisini” Milly menuangkan teh di gelas nyonyanya yang kosong.
“ tidak ini akan merusak rencananya. Kita hanya perlu terlihat masuk dalam rencananya. Begitu terbuka akan kita putar balik” seringai Ai begitu menakutkan. Tidak pernah sekalipun Milly melihat ini, nyonyanya terlihat begitu menyeramkan.
Bagi Ai luka di masa lalu sudah seharusnya di balaskan. Masih sangat jelas bagaimana raut meremehkan Grace ketika memberinya pistol dulu. Dengan tak malunya selalu merangkul lengan Axton dan menahan keberadaan Axton di sampingnya. Semuanya Ai tidak akan pernah lupa.