The New Duchess

The New Duchess
Bab 60 : Berlawanan



“ sepertinya bisnis kami


memang membaik beberapa tahun terakhir ini” jawaban aman dari tuan Halbert.


“ kemarin Masy mengatakan


jika kuda-kudamu beberapa juga kabur, bagaimana keadaanya sekarang?” saut Ai.


Wanita itu tidak memiliki niat buruk pada kedua orang tua sahabatnya. Mungkin


saja kedua pasangan ini memiliki beberapa informasi atau terlibat dalam rencana


dengan suaminya.


“ ah itu, terkadang


memiliki peternakan seperti ini tidak semudah kelihatannya” kini giliran nyonya


Halbert yang menimpali.


“ sepertinya nyonya


Halbert begitu mengerti, apa mungkin ikut mengembangkan bisnis?” Ai mencoba


memancing. Dalam kehidupan ini seorang wanita yang memiliki bisnis hanya


diperuntukkan yang tidak memiliki suami atau pergaulannya tidak baik. Bisnis


adalah dunia lelaki seorang istri hanya mengurusi rumah tangga dan keturunan.


Kehidupan masih membedakan wanita dan lelaki cukup jelas. Apalagi politik,


tidak ada seorang wanita yang secara terang-terangan ikut andil dalam politik


kenegaraan. Hal ini terbilang tabu.


“ tentu dia wanita yang


selalu menyemangati suaminya, itu adalah bentuk keikutsertaan nya dalam


mendukung bisnis ini” tuan Halbert  merangkul istrinya. Keduanya tampak natural tidak menutupi apapun. Tapi


tidak bagi Ai.


“ bagaimana kalau nyonya


Halbert saya undang minum teh beberapa hari lagi, sepertinya  saya butuh sedikit pelajaran kerumahtanggan


dari anda” Ai memulai rencana dadakannya.


“ tentu Duchess” sesuai


dengan dugaan Ai. Wanita di depannya in tidak akan menolak undangannya. Siapapun


tidak akan berani menolak undangan dari Duchess Wellington.


“ tidak sabar menunggu”


Ai terlihat antusias.


Setelah berbincang


sedang, acara lelang sudah akan dimulai. Para tamu di arahkan menuju ruang


khusus lelang. Ai yang sedari tadi  berbincang kini mulai mencari tempat duduk.


“ Duchess” pundaknya


tiba-tiba di tepuk seseorang. Ai langsung menoleh.


Di ruangan lain ada


seorang yang sedang duduk dan seorang lagi berdiri. Mereka tampak serius


membicarakan sesuatu.


“ saya tidak tau pasti,


tapi sepertinya mereka mempersiapkan sesuatu” seorang yang berdiri itu adalah


pengawal. Dia sedang melaporkan semua informasi yang di dapatkannya.


“ sebaiknya kita tunggu”


jawab yang lain. Pengawal itu kemudian keluar dari ruangan.  Dari pintu bisa terdengar suara acara lelang


yang sudah akan di mulai.


“ baiklah, lelang pertama


adalah sebuah hiasan kepala dengan mutiara yang memukau.” Pembawa acara lelang


sudah memulai acara awal.


Semua para tamu tampak


memperhatikan hiasan kepala dengan oramen mutiara putih mengkilap. Kecuali dua


orang. Tentu saja Ai, di bangkunya dia duduk paling depan dan hanya di temani


oleh Leyna. Dokter pribadi kediaman Duke. Ai sedang memikirkan rencananya.


Harus berhasil, jika tidak entah apa yang akan dia lakukan untuk bisa bebas


bertemu dengan pamannya.


“ Duchess apa anda


berminat dengan hiasan itu, sepertinya cocok dengan penampilan anda” dokter


Leyna memulai perbicangan.


“ kita tunggu barang


utamanya saja” jawab Ai asal. Sesungguhnya wanita itu tidak focus dengan acara.


“ ah ya, anda benar.


Pasti itu barang yang cukup diminati”Leyna tersenyum ringan lalu kembali


menatap panggung.


“ sepertinya aku butuh


memperbaiki penampilanku” Ai pamit pergi sebentar. Harus memastikan sesuatu.


“ mau ditemani Duchess?”


Leyna menawarkan diri.


“ tidak perlu” Ai keluar


dari ruangan. Dia berjalan mengikuti lorong menuju ruang jamuan tadi. Dia


mencari seseorang.


Menoleh kesana kemari


seseorang yang dicari tak kunjung ketemu. Ai berjalan menuju anak tangga ke


atas mungkin bisa membuatnya bertemu dengan seseorang itu. Namun sayang sekali


baru saja selesai menaiki ada seorang pelayan lelaki yang berjalan menjauhinya.


Ai sedikit mengenali siluet itu. Entah karena terlalu focus dengan seseorang


yang ada di depannya, Ai yang mencoba mengejar lelaki itu malah tertahan dengan


cekalan tangan seseorang.


“ lepas” Ai langsung


mengatakannya.


“ Duchess Wellington,


lama tidak berjumpa” lelaki itu berusaha mencium tangan Ai. Wanita itu dengan


kasar menarik tangannya menjauh.


“ putra mahkota,


bagaimana bisa memiliki waktu datang ke acara seperti ini” Ai sedikit menjauh


dari tubuh Sea. Dia harus berjaga-jaga.


“ jika itu membuatku


bertemu denganmu pasti akan ada waktu” Sea terus saja mencoba merayu Ai. Wanita


ini tidak dalam keadaan yang mengutungkan. Lorong ini begitu sepi, situasi ini


pasti akan merugikannya.


“ saya tidak akan


mengganggu waktu anda. Saya per..” belum juga menyelesaikan ucapannya, Sea


menarik lengan Ai menuju ke suatu tempat. Ai panik, dia memberontak. Meski sea


tak di temani pengawal nyatanya lelaki itu tetap berani bertindak seenaknya.


“ lepaskan aku Sea, “ Ai


sudah tidak bisa berkata sopan santun. Cukup sudah sandiwara sopan santunnya.


“ tidak, “Sea terus


menarik Ai menuju lorong yang tidak dia ketahui. Merasa keadaan akan semakin


memburuk Ai menarik salah sebuah besi yang sudah dia siapkan. Sejenis pisau


tetapi tidak tajam, hanya lancip seperti jarum. Dengan sekali ayunan besi itu


di tancapkan ke tangan Sea.


Cekalan itu terlepas


bersamaan dengan suara teriakan Sea.


 Tak ingin menyiakan keadaan Ai segera berlari


menjauh menuju anak tangga. Dia harus kembali ke dalam ruangan lelang. Persetan


dengan seseorang yang dia cari. Rencana untuk melukai diri sendiri kini tidak


berjalan semestinya.


Derap langkah semakin


dekat, Sea tak menyerah dan terus mengejar Ai. Ambisinya begitu kuat. Didukung


dengan situasi yang cocok.


Anak tangga sudah ada di


depan mata, Ai mempercepat langkahnya. Dia menoleh kebelakang, Sea sudah dekat


dengannya.


Brughh,… Ai menabrak


seseorang.


“ Duchess” lelaki itu


membantu Ai berdiri. Hamper saja dia jatuh dari anak tangga.


“ pangeran Aric” Ai


mengenali lelaki yang dia tabrak. Menatapnya sejenak kemudian kembali menatap


kea rah lorong. Sea yang melihat adiknya berada di sana sedikit mengendalikan


aksinya.


“ kakak” Aric menatap Sea


dengan penuh kebingungan. Dua orang di depannya tampak terengah-engah seperti


habis berlari. Apa mungkin yang mengejar Duchess adalah putra mahkota. Sapaan


Aric membuat Sea salah tingkah, adiknya tidak boleh megetahui aksinya.


“  kita lanjutkan perbincangan kita lain waktu


Duchess” Sea segera menjauh. Ai mengatur nafasnya. Dia sedikit lega dengan


kehadiran pengeran Aric, Sea tidak akan menyakitinya. Setidaknya sekarang Ai  harus mulai berjaga-jaga.


“ apakah ada yang terluka?”


Aric yang melihat keadaan Ai yang sedikit kasihan mencoba mengajaknya


berbicara.


“ tidak” Ai mencoba


menarik diri, lelaki dihadapannya ini tidak tau apakah lebih baik atau buruk


daripada kakaknya. Ai tidak mau langsung mengatakan kebenarannya. Meski sedikit


limbung, Ai tetap meneruskan langkahnya untuk menuruni tangga.


“ biar saya bantu” Aric


mencoba memapah Ai yang sepertinya kakinya terkilir. Wanita itu jelas terlihat


syok dan ketakutan.


Ai terus menolak


pertolongan Aric, tatapannya tidak focus. Namun ketika melihat anak tangga Ai


mendapatkan sebuah ide buruk.


“ Duchess sepertinya kaki


anda..” brugghh


“ Duchesss… seseorang


segera kemari” teriak Aric. Kejadianya begitu cepat. Wanita yang berjalan


tertatih di hadapannya, tiba-tiba ambruk dan jatuh menuruni anak tangga. Meski


tidak terlalu tinggi, namun Aric yakin tubuh wanita itu pasti mengalami luka.


“ Duchesss” Aric yang


sudah mencapai dasar anak tangga, menepuk pipi Ai. Ai sudah tidak sadar, belum


lagi kepala wanita itu mengeluarkan darah. Membuat Aric semakin panik.


Seorang pelayan yang mengetahui


ini segera melaporkan pada tuannya. Acara lelang tiba-tiba di kagetkan dengan


kejadian jatuhnya Duchess dari anak tangga.