
“ sepertinya bisnis kami
memang membaik beberapa tahun terakhir ini” jawaban aman dari tuan Halbert.
“ kemarin Masy mengatakan
jika kuda-kudamu beberapa juga kabur, bagaimana keadaanya sekarang?” saut Ai.
Wanita itu tidak memiliki niat buruk pada kedua orang tua sahabatnya. Mungkin
saja kedua pasangan ini memiliki beberapa informasi atau terlibat dalam rencana
dengan suaminya.
“ ah itu, terkadang
memiliki peternakan seperti ini tidak semudah kelihatannya” kini giliran nyonya
Halbert yang menimpali.
“ sepertinya nyonya
Halbert begitu mengerti, apa mungkin ikut mengembangkan bisnis?” Ai mencoba
memancing. Dalam kehidupan ini seorang wanita yang memiliki bisnis hanya
diperuntukkan yang tidak memiliki suami atau pergaulannya tidak baik. Bisnis
adalah dunia lelaki seorang istri hanya mengurusi rumah tangga dan keturunan.
Kehidupan masih membedakan wanita dan lelaki cukup jelas. Apalagi politik,
tidak ada seorang wanita yang secara terang-terangan ikut andil dalam politik
kenegaraan. Hal ini terbilang tabu.
“ tentu dia wanita yang
selalu menyemangati suaminya, itu adalah bentuk keikutsertaan nya dalam
mendukung bisnis ini” tuan Halbert merangkul istrinya. Keduanya tampak natural tidak menutupi apapun. Tapi
tidak bagi Ai.
“ bagaimana kalau nyonya
Halbert saya undang minum teh beberapa hari lagi, sepertinya saya butuh sedikit pelajaran kerumahtanggan
dari anda” Ai memulai rencana dadakannya.
“ tentu Duchess” sesuai
dengan dugaan Ai. Wanita di depannya in tidak akan menolak undangannya. Siapapun
tidak akan berani menolak undangan dari Duchess Wellington.
“ tidak sabar menunggu”
Ai terlihat antusias.
Setelah berbincang
sedang, acara lelang sudah akan dimulai. Para tamu di arahkan menuju ruang
khusus lelang. Ai yang sedari tadi berbincang kini mulai mencari tempat duduk.
“ Duchess” pundaknya
tiba-tiba di tepuk seseorang. Ai langsung menoleh.
Di ruangan lain ada
seorang yang sedang duduk dan seorang lagi berdiri. Mereka tampak serius
membicarakan sesuatu.
“ saya tidak tau pasti,
tapi sepertinya mereka mempersiapkan sesuatu” seorang yang berdiri itu adalah
pengawal. Dia sedang melaporkan semua informasi yang di dapatkannya.
“ sebaiknya kita tunggu”
jawab yang lain. Pengawal itu kemudian keluar dari ruangan. Dari pintu bisa terdengar suara acara lelang
yang sudah akan di mulai.
“ baiklah, lelang pertama
adalah sebuah hiasan kepala dengan mutiara yang memukau.” Pembawa acara lelang
sudah memulai acara awal.
Semua para tamu tampak
memperhatikan hiasan kepala dengan oramen mutiara putih mengkilap. Kecuali dua
orang. Tentu saja Ai, di bangkunya dia duduk paling depan dan hanya di temani
oleh Leyna. Dokter pribadi kediaman Duke. Ai sedang memikirkan rencananya.
Harus berhasil, jika tidak entah apa yang akan dia lakukan untuk bisa bebas
bertemu dengan pamannya.
“ Duchess apa anda
berminat dengan hiasan itu, sepertinya cocok dengan penampilan anda” dokter
Leyna memulai perbicangan.
“ kita tunggu barang
utamanya saja” jawab Ai asal. Sesungguhnya wanita itu tidak focus dengan acara.
“ ah ya, anda benar.
Pasti itu barang yang cukup diminati”Leyna tersenyum ringan lalu kembali
menatap panggung.
“ sepertinya aku butuh
memperbaiki penampilanku” Ai pamit pergi sebentar. Harus memastikan sesuatu.
“ mau ditemani Duchess?”
Leyna menawarkan diri.
“ tidak perlu” Ai keluar
dari ruangan. Dia berjalan mengikuti lorong menuju ruang jamuan tadi. Dia
mencari seseorang.
Menoleh kesana kemari
seseorang yang dicari tak kunjung ketemu. Ai berjalan menuju anak tangga ke
atas mungkin bisa membuatnya bertemu dengan seseorang itu. Namun sayang sekali
baru saja selesai menaiki ada seorang pelayan lelaki yang berjalan menjauhinya.
Ai sedikit mengenali siluet itu. Entah karena terlalu focus dengan seseorang
yang ada di depannya, Ai yang mencoba mengejar lelaki itu malah tertahan dengan
cekalan tangan seseorang.
“ lepas” Ai langsung
mengatakannya.
“ Duchess Wellington,
lama tidak berjumpa” lelaki itu berusaha mencium tangan Ai. Wanita itu dengan
kasar menarik tangannya menjauh.
“ putra mahkota,
bagaimana bisa memiliki waktu datang ke acara seperti ini” Ai sedikit menjauh
dari tubuh Sea. Dia harus berjaga-jaga.
“ jika itu membuatku
bertemu denganmu pasti akan ada waktu” Sea terus saja mencoba merayu Ai. Wanita
ini tidak dalam keadaan yang mengutungkan. Lorong ini begitu sepi, situasi ini
pasti akan merugikannya.
“ saya tidak akan
mengganggu waktu anda. Saya per..” belum juga menyelesaikan ucapannya, Sea
menarik lengan Ai menuju ke suatu tempat. Ai panik, dia memberontak. Meski sea
tak di temani pengawal nyatanya lelaki itu tetap berani bertindak seenaknya.
“ lepaskan aku Sea, “ Ai
sudah tidak bisa berkata sopan santun. Cukup sudah sandiwara sopan santunnya.
“ tidak, “Sea terus
menarik Ai menuju lorong yang tidak dia ketahui. Merasa keadaan akan semakin
memburuk Ai menarik salah sebuah besi yang sudah dia siapkan. Sejenis pisau
tetapi tidak tajam, hanya lancip seperti jarum. Dengan sekali ayunan besi itu
di tancapkan ke tangan Sea.
Cekalan itu terlepas
bersamaan dengan suara teriakan Sea.
Tak ingin menyiakan keadaan Ai segera berlari
menjauh menuju anak tangga. Dia harus kembali ke dalam ruangan lelang. Persetan
dengan seseorang yang dia cari. Rencana untuk melukai diri sendiri kini tidak
berjalan semestinya.
Derap langkah semakin
dekat, Sea tak menyerah dan terus mengejar Ai. Ambisinya begitu kuat. Didukung
dengan situasi yang cocok.
Anak tangga sudah ada di
depan mata, Ai mempercepat langkahnya. Dia menoleh kebelakang, Sea sudah dekat
dengannya.
Brughh,… Ai menabrak
seseorang.
“ Duchess” lelaki itu
membantu Ai berdiri. Hamper saja dia jatuh dari anak tangga.
“ pangeran Aric” Ai
mengenali lelaki yang dia tabrak. Menatapnya sejenak kemudian kembali menatap
kea rah lorong. Sea yang melihat adiknya berada di sana sedikit mengendalikan
aksinya.
“ kakak” Aric menatap Sea
dengan penuh kebingungan. Dua orang di depannya tampak terengah-engah seperti
habis berlari. Apa mungkin yang mengejar Duchess adalah putra mahkota. Sapaan
Aric membuat Sea salah tingkah, adiknya tidak boleh megetahui aksinya.
“ kita lanjutkan perbincangan kita lain waktu
Duchess” Sea segera menjauh. Ai mengatur nafasnya. Dia sedikit lega dengan
kehadiran pengeran Aric, Sea tidak akan menyakitinya. Setidaknya sekarang Ai harus mulai berjaga-jaga.
“ apakah ada yang terluka?”
Aric yang melihat keadaan Ai yang sedikit kasihan mencoba mengajaknya
berbicara.
“ tidak” Ai mencoba
menarik diri, lelaki dihadapannya ini tidak tau apakah lebih baik atau buruk
daripada kakaknya. Ai tidak mau langsung mengatakan kebenarannya. Meski sedikit
limbung, Ai tetap meneruskan langkahnya untuk menuruni tangga.
“ biar saya bantu” Aric
mencoba memapah Ai yang sepertinya kakinya terkilir. Wanita itu jelas terlihat
syok dan ketakutan.
Ai terus menolak
pertolongan Aric, tatapannya tidak focus. Namun ketika melihat anak tangga Ai
mendapatkan sebuah ide buruk.
“ Duchess sepertinya kaki
anda..” brugghh
“ Duchesss… seseorang
segera kemari” teriak Aric. Kejadianya begitu cepat. Wanita yang berjalan
tertatih di hadapannya, tiba-tiba ambruk dan jatuh menuruni anak tangga. Meski
tidak terlalu tinggi, namun Aric yakin tubuh wanita itu pasti mengalami luka.
“ Duchesss” Aric yang
sudah mencapai dasar anak tangga, menepuk pipi Ai. Ai sudah tidak sadar, belum
lagi kepala wanita itu mengeluarkan darah. Membuat Aric semakin panik.
Seorang pelayan yang mengetahui
ini segera melaporkan pada tuannya. Acara lelang tiba-tiba di kagetkan dengan
kejadian jatuhnya Duchess dari anak tangga.