
Tok tok , bunyi ketukan
pintu. Penjaga memang sudah berpesan agar Hardwin jangan terlalu lama
berkunjung ke kamar para wanita. Ini merupakan etika kerajaan.
“ jaga diri kalian”
Hardwin tidak menjelaskan secara detail maksud perkataanya. Dia sendiri tidak
tau kenapa firasatnya buruk terhadap raja.
Lelaki itu kemudian
berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan Grace dan Mily dalam rasa
kekhawatiran.
Sudah beberapa hari Masy
menginap dan menemani Ai di rumah pelayannya dulu. Mereka tidak mengetahui
apapun mengenai ibukota. Hari ini Masy berniat untuk kembali ke kediaman,
sekedar mengecek peternakan dan kepulangan kedua orang tuanya.
“ Masy kau cepatlah
kembali, dan ini surat untuk kau berikan pada Grace” sebuah kereta sudah
menunggu di depan gerbang rumah.
“ aku akan kembali besok”
ucap wanita itu sebelum masuk kedalam kereta. hari sudah mulai siang saat
kereta itu berjalan meninggalkan rumah. Ai kembali masuk, wanita itu sejak
kemarin perasaanya tidak enak, entah ada firasat apa.
Hari berganti hari,
kedatangan Masy begitu di nantikan. Ai sudah tidak sabar mengetahui bagaimana
kabar ibukota sepeninggalnya dalam pelarian. Wanita itu sama sekali tidak bisa
diam memikirkan bagaimana keadaan orang-orang kediaman. Dia takut mereka akan
menemui masalah karena dirinya. Namun jika harus kembali wanita ini juga tak mau.
Kalau bukan karena bujukan Masy agar tidak ikut ke perbatasan Ai pasti sudah
menaiki kuda dan pergi sendiri kesana.
Hari sudah hampir senja
saat suara langkah kuda mendekati rumahnya. Ai segera menunggu di teras ruang
tamu. Dia menunggu kedatangan Masy. Tak beberapa lama gerbang kayu terbuka, ada
seorang lelaki bertopi dengan setengah wajahnya tertutupi topi masuk. Ai
menatap sambil menerka-nerka siapa tamunya sore ini. Kemudian disusul seorang
wanita dan satu orang yang Ai kenal sekali.
“ Ai” seseorang yang dia
tunggu kedatangannya sudah kembali. Ternyata kali ini Masy membaw serta kedua
orang tuanya. Ini hal yang sangat menggembirakan.
“ kalian masuklah” ucap
Ai, menunjukkan ruang tamunya. Tuan dan nyonya Halbert langsung masuk dan duduk
di sofa, disusul dengan Masy dan Ai yang masuk kemudian menutup pintu.
“ terimakasih sudah
menyanggupi undanganku dan bersedia datang kemari, tuan dan nyonya Halbert”
ucap Ai sebagai bentuk rasa terimakasihnya kepada pasangan bangsawan itu.
“ justru kamilah yang
memiliki hal yang perlu kami sampaikan pada anda Duchess” baik Masy juga ikut
mengerutkan keningnya. Pasalnya orang tuanya baru sampai tadi pagi dan setelah
mendengar semua cerita dari anak gadisnya kedua orang itu segera meminta
bertemu dengan Duchess tanpa menjelaskan apapun pada anaknya.
“ hal apa itu?” Ai jelas merasa jika hal ini
cukup penting, terlihat dari seriusnya wajah tuan Halbert. Lelaki itu bahkan
menautkan kedua tangannya sebagai bentuk kecemasan. Kemudian memberikan kode
kepada anaknya untuk menceritakan apa yang dia sampaikan sebelumnya kepadanya.
“ aku sudah mengunjungi
kediaman Grace dan kata pelayan mereka, Grace dan Hardwin pergi sejak kemarin
dan tidak kembali lagi. Ditahanan Mily juga tidak ada, mereka mengatakan jika
dia sudah di pindahan. Kini baik Mily, Grace dan Hardwin tidak bisa diketahui
dimana keberadaanya” ucap Masy sedih. Wanita ini sudah berputar-putar di
barrack, kediaman Grace bahkan masuk diam-diam di kediaman Wellington namun
tetap saja dia tidak mengetahui keberadaan ketiga orang itu.
“ tidak mungkin mereka
menghilang, apa mungkin Sea sudah mencelakai mereka?” Ai tercengang dengan
kabar yang baru saja dia dengar. Wanita itu semakin dibuat bingung.
“ tidak Duchess, menurut
kabar orang kami mereka berada di istana” tuan Halbert segera memberikan
jawaban agar Ai tidak terlalu cemas.
bisa berada di istana?” Ai semakin tidak bisa menebak apa yang sebenarnya
terjadi di ibukota.
“ tidak tau apa yang
mereka lakukan disana, namun kami memiliki firasat jika kemungkinan mereka
bertemu dengan raja dan mengatakn semuanya” Ai berfikir mereka pasti melakukan
semuanya demi keselamatan dirinya. Ini juga merupakan langkah yang bagus, jika
raja mengatahui kebenarannya mereka akan mendapatkan perlindungan.
“ baguslah jika raja mau
melindungi mereka” ucap Ai dengan polosnya.
“ justru itu
permasalahannya” tuan Halbert langsung menimpali penilaian Ai.
“ kenapa?” baik Ai dan
Masy bertanya dengan kalimat yang sama. Kedua wanita muda itu kurang mengatahui
siasat politik.
“ inilah yang ingin kami
sampaikan pada anda Duchess” situasi semakin serius, Ai bahkan melupakan niatnya
yang ingin menanyakan terkait surat menyurat kediaman Halbert dengan situasi di
perbatasan. Dia lebih terfokus pada kabar terbaru mengenai keadaan ibukota dan
kerajaan.
“ tidak ada yang tau apa
sebenarnya maksud raja membiarkan mereka di istana. Entah melindungi atau malah
menahan mereka. kami meminta agar anda tidak lagi masuk ke ibukota” kini
giliran nyonya Halbert yang menjelaskan detailnya.
Ai hanya diam mematung,
ada benarnya juga perkataan nyonya Halbert. Namun apa raja tidak bisa bersikap
adil. Ai menebak selama ini hanya ada satu orang yang begitu mengerti perangai
raja Bavaria, dan perkataan Nyonya Halbert malah membuat Ai kembali mengingat
maksud dan tujuannya meminta bertemu dengan sepasang suami istri yang tepat
berada di depannya. Mereka tidak mungkin begitu perhatian dengan keselamatannya
jika bukan ada yang menyuruh mereka.
“ kalian yang meminta
atau ada seseorang yang meminta kalian?” kata ganti kami jelas tidak hanya
mengacu pada nyonya Halbert dan suaminya saja, Ai akan meminta kejelasan.
Sepasang suami istri itu
tampak salah tingkah, Masy juga menangkap gelagap yang aneh pada kedua orang
tuanya.
“ apa maksud Duchess?”
mereka tidak mengetahui jika Masy dan Ai sudah mencurigai mereka berkirim surat
dengan Duke. Dan inilah saat yang tepat agar mereka mengaku.
“ apa Duke yang meminta
kalian mengatakannya padaku?” Ai malah memberikan pertanyaan lagi. Membuat
sepasang suami istri itu semakin tersudut tidak bisa mencari alasan.
“ Duke?, tidak mungkin.
Bagaimana bisa itu terjadi?” Tuan Halbert mencoba mengelak, dia seakan sedang
menyembunyikan sesuatu.
“ ayah, katakan yang
sebenarnya “ Masypun ikut mendesak kedua orang tuanya, dia tidak mau melihat Ai
tersiksa dalam ketidak pastian.
“ tuan dan Nyonya Halbert
jangan menutupi semuanya lagi, tidak mungkin anda begitu perhatian kepada saya.
Katakan apakah memang benar semua ini adalah perintah dari Axton?” Ai mencoba
mengiba memperlihatkan sedikit sisi lemahnya selayaknya seorang istri yang
menunggu suaminya pulang.
Suami istri itu saling
pandang dalam kebisuan. Mereka terihat bimbang mengambil keputusan.
“ saya hanya ingin
mengetahui bagaimana kondisi Axton disana, kalian selama ini berkomuniskasi
dengan Axton bukan?” Ai terus mencerca pertanyaan demi pertanyaan. Wanita itu
harus mendapatkan jawabannya. Dia tidak mungkin menghabiskan hidupnya dengan
terus bersembunyi disini tanpa bisa melakukan apapun.
Masy pun ikut memberikan
ekpresi memohon, dia tau kedua orang tuanya tidak bisa mengabaikan wajah
sedihnya. Inilah serangannya sebagai anak semata wayang di kediaman Halbert.