
Suami istri itu mulai
sedikit goyah, semua pertanyaan yang Ai berikan kepada mereka sudah menjelaskan
bahwa selama ini Ai sudah mengetahui rahasia mereka. namun bagaimana jika
keputusan yang mereka ambil malah akan membawa keburukan. Ini adalah rahasia
besar, semakin sedikit yang tau akan semakin terjaga, namun sayangnya mereka
seakan merasa iba melihat Duchess yang memohon meminta penjelasan.
“ Duchess maafkan kami,
semua yang Duchess katakan tidaklah benar. Sebenarnya kami memang berkomunikasi
dengan perbatasan, namun bukan dengan Duke melainkan dengan paman anda, Allard
dan dengan tuan Dalbert. saja” jawaban ini seakan menampar kesadaran Ai. wanita
ini begitu menantikan kabar yang selama ini ingin dia dengar, baru saja ada
sedikit harapan namun dengan cepat langsung sirna begitu saja.
“ tidak, kalian sedang
berbohong padaku. Katakan yang sebenarnya tuan Halbert” Ai terus mengiba, dia
tidak mau menerima jawaban seperti itu. Dia yakin pasti suami istri ini sedang
menutupi kebenarannya.
“ kami sudah mengatakan
yang sebenarnya, kami tidak berkomunikasi dengan Duke” nyonya Halbert ikut
menimpali, dari raut wajahnya memang menegaskan bahwa mereka tidak sedang
berbohong.
“ lalu bagaimana dengan
waktu kalian menerima surat dan seakan mengatakan Duke, aku pernah mendengar
hal itu” Masy mencoba mengulik kembali, mungkin saja kedua orang tuanya mau
jujur.
“ tidak Masy, kami memang
menyebutkan tentang Duke, namun kami tidak berkirim surat dengannya. Paman
Allard mengatakan jika saat itu keberadaan Duke tidak dapat di ketahui, dia
menghilang sebelum baku tembak dimulai” Tuan Halbert terus mencoba agar dua
orang wanita muda ini percaya dengan ucapannya. Memang kenyataanya sedikit
pahit, namun jika mereka berbohong malah akan menjadi jauh lebih buruk.
“ maksud kalian perang
pecah tanpa adanya Axton?” logika Ai mulai kembali, dia memang kecewa dengan
pengakuan mereka namun ucapan Tuan Halbert perlu dimintai kejelasan.
Merasa keceplosan
mengatakan isi surat menyurat mereka, tuan Halbert membisu. Lelaki itu tidak
benar-benar ingin mengatakan semuanya kepada Duchess.
“ katakan semua isi surat
menyurat kalian. Aku mohon” Ai sudah tidak bisa menunggu lagi, dia akan mengiba
dan terus begitu sampai semua rahasia itu bisa dia dengar.
Tidak ada jalan kembali,
dia sudah menghapus harapan wanita didepannya. Permintaanya kali ini tidak bisa
dengan mudah di tolak. Duchess benar-benar memohon padanya.
“ baiklah” tuan Halbert
menghembuskan nafas kasar, dia tidak memiliki pilihan.
“ awalnya surat menyurat
kami hanya seputar perkembangan ibukota serta kabar anda, namun semakin lama
surat itu juga meminta bantuan kami. Mulai dari logistic sampai meminta bantuan
pasukan. Kami mengusahakan agar semuanya bisa terpenuhi. Mulai saat itu
bagaimana kondisi perbatasan dan perang yang pecah semuanya juga diberitakan
kepada kami. Kekurangan bahan makan dan sejata semuanya bisa tercukupi lewat
bantuan dari para kawan Duke. Mereka dengan suka rela memberikan bantuan tanpa
pasukan yang ada segera di tarik menuju kota-kota terdekat perbatasan dan hanya menyisakan puluhan orang
saja. Duke hanya di temani pengawalnya saat memimpin proses negosiasi antar
kerajaan, dan sejak saat itu Duke tidak pernah kembali, karena rasa marah para
pasukan dengan ketidakpulangan Duke maka perang akhirnya pecah. sampai sekarangpun
kabar Duke belum juga kami dapatkan” nyonya Halbert merangkul suaminya yang
terlihat begitu emosional, sedih dan merasa bersalah karena hanya kabar buruk
yang dia sampaikan pada Duchess. Lelaki itu bahkan tidak bisa menutupi lelehan
air matanya merembes membasahi salah satu pipinya.
Masy mendengarnya juga
merasa sangat sedih, dia menatap Ai. khawatir dengan perasaan Ai yang semakin
hancur. Masy bergerak mendekati Ai dan memeluk temannya perlahan. Ai sama
sekali tidak memberikan respon, wajahnya datar tak terbaca. Dan ini semakin
membuat Masy takut.
“ kau bisa menangis jika
kau mau” Masy membisikkan kalimat penenang, dia tidak mau Ai berlagak sok kuat
yang nanti malah membuat mentalnya jatuh.
Dan memang setelah
mendegar semua penjelasan tuan Halbert baik otak dan perasaanya seakan mengolah
emosinya secara terpisah. Otaknya mengirimkan sinyal kemungkinan Axton sudah
dicelakai musuh sehingga tidak kembali ke pasukan sedangkan hatinya menolaknya
dan mengatakan bahwa Axton pasti tidak mati karena Axton tidak berada di medan
perang saat perbatasan jatuh.
Antara otak dan hatinya
saling bertabrakan sehingga dirinya tidak bisa memunculkan emosi apa yang tepat.
Haruskan sedih ataukah lega. Ai terus terdiam dengan wajah datar. Bahkan
pendengarannya ikut tertutup, suara mendadak sunyi di telinganya. Bisikan Masy
sama sekali tidak bisa dia dengar.
“ Ai, “ Masy mencoba
memanggil temannya yang masih saja terdiam dengan wajah datar.
Namun tetap sia-sia, Ai
sedang dalam perang batih. Dalam diri dan fikirannya sangat sibuk mengolah
berita baru. Wanita it uterus mencari apa mungkin ada sesuatu yang terlewat,
yang bisa menjauhkannya dari fikiran bahwa suaminya sedang tidak baik-baik
saja.
“Duchess” Nyonya
Halbertikut panik melihat reaksi Ai yang masih mematung. Perempuan itu berdiri
dan berniat mendekati Ai yang masih di dalam pelukan anaknya.
Ai masih bisa melihat,
dia melihat kegusaran dari orang-orang di sekitarnya, namun memang tidak ada
suara yang terdengar. Wanita itu melepaskan pelukan Masy dan berniat untuk
mencari udara segar di luar. Baru saja dia beranjak dan melangkahkan kaki,
penglihatannyaikut terganggu. Pandangannya mulai kabur dan menyempit. Dan secara
tiba-tiba tubuh Duchess limbung tidak sadarkan diri.
Semua orang langsung
berlari mencoba memegang tubuh Duchess agar tidak jatuh ke lantai. Untung saja
masih sempat. Nyonya Halbert memegangi kepala Ai melindungi dari benturan.
Ketiga orang itu begitu
kasihan kepada Duchess, sudah Duke tidak ada kabar. Dirinya juga sudah menjadi
target pencarian oleh pihak kerajaan. Hidupnya terasa lebih berat dari
kehidupannya yang dulu.