The New Duchess

The New Duchess
bab 91 : Berat



Suami istri itu mulai


sedikit goyah, semua pertanyaan yang Ai berikan kepada mereka sudah menjelaskan


bahwa selama ini Ai sudah mengetahui rahasia mereka. namun bagaimana jika


keputusan yang mereka ambil malah akan membawa keburukan. Ini adalah rahasia


besar, semakin sedikit yang tau akan semakin terjaga, namun sayangnya mereka


seakan merasa iba melihat Duchess yang memohon meminta penjelasan.


“ Duchess maafkan kami,


semua yang Duchess katakan tidaklah benar. Sebenarnya kami memang berkomunikasi


dengan perbatasan, namun bukan dengan Duke melainkan dengan paman anda, Allard


dan dengan tuan Dalbert. saja” jawaban ini seakan menampar kesadaran Ai. wanita


ini begitu menantikan kabar yang selama ini ingin dia dengar, baru saja ada


sedikit harapan namun dengan cepat langsung sirna begitu saja.


“ tidak, kalian sedang


berbohong padaku. Katakan yang sebenarnya tuan Halbert” Ai terus mengiba, dia


tidak mau menerima jawaban seperti itu. Dia yakin pasti suami istri ini sedang


menutupi kebenarannya.


“ kami sudah mengatakan


yang sebenarnya, kami tidak berkomunikasi dengan Duke” nyonya Halbert ikut


menimpali, dari raut wajahnya memang menegaskan bahwa mereka tidak sedang


berbohong.


“ lalu bagaimana dengan


waktu kalian menerima surat dan seakan mengatakan Duke, aku pernah mendengar


hal itu” Masy mencoba mengulik kembali, mungkin saja kedua orang tuanya mau


jujur.


“ tidak Masy, kami memang


menyebutkan tentang Duke, namun kami tidak berkirim surat dengannya. Paman


Allard mengatakan jika saat itu keberadaan Duke tidak dapat di ketahui, dia


menghilang sebelum baku tembak dimulai” Tuan Halbert terus mencoba agar dua


orang wanita muda ini percaya dengan ucapannya. Memang kenyataanya sedikit


pahit, namun jika mereka berbohong malah akan menjadi jauh lebih buruk.


“ maksud kalian perang


pecah tanpa adanya Axton?” logika Ai mulai kembali, dia memang kecewa dengan


pengakuan mereka namun ucapan Tuan Halbert perlu dimintai kejelasan.


Merasa keceplosan


mengatakan isi surat menyurat mereka, tuan Halbert membisu. Lelaki itu tidak


benar-benar ingin mengatakan semuanya kepada Duchess.


“ katakan semua isi surat


menyurat kalian. Aku mohon” Ai sudah tidak bisa menunggu lagi, dia akan mengiba


dan terus begitu sampai semua rahasia itu bisa dia dengar.


Tidak ada jalan kembali,


dia sudah menghapus harapan wanita didepannya. Permintaanya kali ini tidak bisa


dengan mudah di tolak. Duchess benar-benar memohon padanya.


“ baiklah” tuan Halbert


menghembuskan nafas kasar, dia tidak memiliki pilihan.


“ awalnya surat menyurat


kami hanya seputar perkembangan ibukota serta kabar anda, namun semakin lama


surat itu juga meminta bantuan kami. Mulai dari logistic sampai meminta bantuan


pasukan. Kami mengusahakan agar semuanya bisa terpenuhi. Mulai saat itu


bagaimana kondisi perbatasan dan perang yang pecah semuanya juga diberitakan


kepada kami. Kekurangan bahan makan dan sejata semuanya bisa tercukupi lewat


bantuan dari para kawan Duke. Mereka dengan suka rela memberikan bantuan tanpa


pasukan yang ada segera di tarik menuju kota-kota terdekat  perbatasan dan hanya menyisakan puluhan orang


saja. Duke hanya di temani pengawalnya saat memimpin proses negosiasi antar


kerajaan, dan sejak saat itu Duke tidak pernah kembali, karena rasa marah para


pasukan dengan ketidakpulangan Duke maka perang akhirnya pecah. sampai sekarangpun


kabar Duke belum juga kami dapatkan” nyonya Halbert merangkul suaminya yang


terlihat begitu emosional, sedih dan merasa bersalah karena hanya kabar buruk


yang dia sampaikan pada Duchess. Lelaki itu bahkan tidak bisa menutupi lelehan


air matanya merembes membasahi salah satu pipinya.


Masy mendengarnya juga


merasa sangat sedih, dia menatap Ai. khawatir dengan perasaan Ai yang semakin


hancur. Masy bergerak mendekati Ai dan memeluk temannya perlahan. Ai sama


sekali tidak memberikan respon, wajahnya datar tak terbaca. Dan ini semakin


membuat Masy takut.


“ kau bisa menangis jika


kau mau” Masy membisikkan kalimat penenang, dia tidak mau Ai berlagak sok kuat


yang nanti malah membuat mentalnya jatuh.


Dan memang setelah


mendegar semua penjelasan tuan Halbert baik otak dan perasaanya seakan mengolah


emosinya secara terpisah. Otaknya mengirimkan sinyal kemungkinan Axton sudah


dicelakai musuh sehingga tidak kembali ke pasukan sedangkan hatinya menolaknya


dan mengatakan bahwa Axton pasti tidak mati karena Axton tidak berada di medan


perang saat perbatasan jatuh.


Antara otak dan hatinya


saling bertabrakan sehingga dirinya tidak bisa memunculkan emosi apa yang tepat.


Haruskan sedih ataukah lega. Ai terus terdiam dengan wajah datar. Bahkan


pendengarannya ikut tertutup, suara mendadak sunyi di telinganya. Bisikan Masy


sama sekali tidak bisa dia dengar.


“ Ai, “ Masy mencoba


memanggil temannya yang masih saja terdiam dengan wajah datar.


Namun tetap sia-sia, Ai


sedang dalam perang batih. Dalam diri dan fikirannya sangat sibuk mengolah


berita baru. Wanita it uterus mencari apa mungkin ada sesuatu yang terlewat,


yang bisa menjauhkannya dari fikiran bahwa suaminya sedang tidak baik-baik


saja.


“Duchess” Nyonya


Halbertikut panik melihat reaksi Ai yang masih mematung. Perempuan itu berdiri


dan berniat mendekati Ai yang masih di dalam pelukan anaknya.


Ai masih bisa melihat,


dia melihat kegusaran dari orang-orang di sekitarnya, namun memang tidak ada


suara yang terdengar. Wanita itu melepaskan pelukan Masy dan berniat untuk


mencari udara segar di luar. Baru saja dia beranjak dan melangkahkan kaki,


penglihatannyaikut terganggu. Pandangannya mulai kabur dan menyempit. Dan secara


tiba-tiba tubuh Duchess limbung tidak sadarkan diri.


Semua orang langsung


berlari mencoba memegang tubuh Duchess agar tidak jatuh ke lantai. Untung saja


masih sempat. Nyonya Halbert memegangi kepala Ai melindungi dari benturan.


Ketiga orang itu begitu


kasihan kepada Duchess, sudah Duke tidak ada kabar. Dirinya juga sudah menjadi


target pencarian oleh pihak kerajaan. Hidupnya terasa lebih berat dari


kehidupannya yang dulu.