The New Duchess

The New Duchess
Bab 45 : Esme Chayton 2



Wanita itu meneliti penampilan Masy sebelum menjawabnya, terlihat sekali raut tidak ramah wanita tua itu saat ada tamu yang berkunjung.


“ kau siapa?” tidak ada jawaban malah wanita itu membalasnya dengan pertanyaan.


“ em, saya Lady  Halbert” jawab Masy tenang, beberapa detik kemudian terdengar langkah mendekat, itu adalah Ai. Merasa temannya tidak kunjung kembali Ai segera menyusul. Kini Masy dan wanita tua itu menatap kedatangan Ai. Wanita tua itu semakin merasa tidak suka dengan kehadiran 2 orang wanita itu.


“ selamat siang, Madam” sapa Ai sopan.


“ kalian siapa, mau apa kemari?” tegas wanita tua, Ai dan Masy saling pandang, mereka bingung harus menjawab apa. Antara harus berbohong atau tidak.


“ em, kami ingin menemui Sir Chayton” jawab Ai tenang, wanita tua itu terlihat kaget dan menatap kedua wanita muda dihadapannya bergantian. Sudah lama sekali tidak ada yang menanyakan nama keluarga itu. Tentu ini bukan hal yang biasa.


Segera saja wanita itu menutup pintu karena merasa takut. Untung saja Ai bergerak cepat dengan menahan pintu itu dengan kakinya.


“ madam, kami tidak ada niat jahat. Mohon biarkan kami bertemu dengan Sir Chayton” Ai terus membujuk wanita itu agar mau memberikannya informasi. Karena terus di desak wanita tua itu akhirnya membuka pintu kembali.


“ keluarga Chayton sudah pindah ke desa” jawabnya singkat.


“ anda siapanya keluarga itu?” Masy bertanya.


“ bukan siapa-siapa” wanita itu terlihat jelas sedang menyembunyikan sesuatu. Suasana benar-benar tidak mendukung, Ai tidak ingin membuang kesempatan. Jika tidak hari ini kemungkinan wanita tua ini pasti akan menolak kedatangannya di masa mendatang.


“ madam, saya Duchess Wellington, kami kesini hanya ingin mengetahui kematian mendiang Duchess. Saya benar-benar merasa janggal” manik wanita itu membola. Inilah kekhawatirannya, seseorang dari kediaman Wellington kembali. Tanpa pikir panjang wanita itu segera menutup pintu. Namun gagal ketika Masy dengan lancangnya mendorong pintu dan masuk ke dalam.


“ apa yang kalian inginkan?” wanita tua itu terlihat begitu takut, dia mundur menyudut ke dinding.


“ tenanglah madam, bahkan tidak ada siapapun yang mengetahi kepergian kami, kami bukanlah orang jahat” Masy perlahan mendekati wanita itu.


“ seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hanya ingin mengetahui kebenaran penyebab dari kematian mendiang Duchess, saya hanya takut hal ini akan menimpa saya suatu hari” Ai mencoba menarik simpati  madam, dengan raut sedihnya Ai ikut mendekati wanita tua itu.


Wanita itu terlihat bingung, menghadapi situasi yang begitu tiba-tiba dan membahas hal penting yang berusaha dia sembunyikan beberapa tahun ini.


“ kita bisa mulai dengan duduk sana” tunjuk Ai pada sofa panjang yang berada di ruangan  sebelah. Madam itu berangsur tenang, setelah memastikan jika tidak ada pengawal diluar. Mulai sedikit percaya dengan perkataan Ai dan Masy.


Kini ketiga orang itu sudah duduk di sofa, dari dalam rumah ini terlihat bersih dan terawat. Sangat berbeda dengan penampakan dari luar. Hampir menyerupai rumah kosong. Tidak berpenghuni dan terurus.


“ kalau boleh tau, anda ini siapa?” Ai membuka pembicaraan.


“ kau tidak perlu tau siapa aku, aku katakan kepadamu segera pergi jauh dari lelaki itu, sebelum kau juga mengalami kejadian yang sama dengan Duchess -Duchess sebelummu” madam itu masih belum benar-benar menerima keberadaan tamunya.


“ dialah penyebab kematian semua istrinya. Lelaki itu benar-benar memiliki rahasia besar” madam itu seperti sedang mencaci, raut wajahnya begitu meremehkan posisi Axton.


“ katakan pada saya apa rahasia itu” Ai semakin penasaran.


“ hahaaha, tidak aku masih tidak mau mati dengan sengsara” jawab madam yang semakin membuat Masy dan Ai mengerutkan keningnya.


“ apa semua istrinya meninggal karena mengetahui arahasia itu?” Masy ikut menimpali


“ jangan bertanya lagi, turuti saja saranku. Segera pergi dari kehidupan lelaki itu, pulanglah. Tidak ada lagi yang ingin aku katakan” madam itu memalingkan wajahnya, tak ingin berbicara lebih dalam.


Ai yanga merasa ini sudah lebih dari cukup tidak ingin memaksa wanita tua itu. Masy juga berfikiran yang sama. Keduanya akhirnya beranjak berdiri.


“ keluarga Chayton tidak pernah pindah bukan. Mereka ada disini, berikan salamku untuk mereka. Aku akan membuat pengadilan atas kematian para Duchess itu. Meski Axton itu suamiku jika dia bersalah akupun akan melawannya” ucap Ai penuh penekanan dan ketenangan. Ai yang sudah berdiri kini mulai melangkah keluar. Madam itu tersentak dengan perkataan Ai. Tidak menyangka secepat itu Ai menyadari jika di kediaman ini masih ada keluarga Chayton. Hati sedikit tertarik dan menyakini jika AI adalah orang yang baik.


“ ku harap ucapanmu itu benar” ucap madam itu dan berjalan masuk meninggalkan tamunya.


Dengan pelan Ai dan Masy menutup pintu kediaman. Berjalan keluar melewati pagar. Begitu akan menaiki kereta, Ai sempat mendongak melihat cendela kediaman. Jelas sekali gorden itu bergerak, ada seseorang yang mengamati mereka dari dalam. Ai yakin bahwa itu adalah orang yang dia cari. Namun Ai harus bertindak hati-hati dan pelan. Suatu hari pasti mereka akan percaya dengan dirinya.


Perjalanan pulang lebih cepat daripada keberangkatan. Hari sudah sangat sore dan Ai sudah membersihkan dirinya. Masy terlihat sedang mengurus beberapa hal di ruang kerja ayahnya.


Ai duduk di pinggir ranjang, dia masih memikirkan perkataan madam tadi. Rahasia besar apa yang dimiliki suaminya. Apalagi rahasia itu menjadi penyebab kematian istri-istrinya.


‘ apa aku nanti akan mengalami hal yang sama jika melanjutkan rencana ini? Apa ini alasan Axton menyuruhku pergi ke desa?’ batin Ai terus berkecamuk. Rasanya pikirannya begitu penuh dengan masalah kematian ini. Ai tanpa sadar melamun membayangkan jika suatu hari dirinya tetap meninggal di hari yang sama seperti sebelumnya.


“ Ai” tersadar jika ada yang memanggilnya setelah sentuhan pelan mengenai pundaknya.


“ kau melamun?, mari kita memikirkan rencana selanjutnya” Masy merasa kasihan dengan sahabatnya. Dia berusaha menguatkan diri Ai, melihatnya sendirian seperti ini terkadang mengingatkan Masy dengan kesepian yang selama ini dia rasakan. Tidak memiliki saudara dan sering di tinggal ayah ibunya keluar kota. Bertemu dengan Ai serasa memiliki saudara.


Ai tersenyum tipis, hatinya menghangat mendengar perkataan Masy yang masih mendukungnya. Ai mengangguk tipis dan mengambil berkas kedua.


Tidak seperti keluarga Chayton, Kyliee Blackton sedikit lebih populer. Bangsawan Blackton dengan mudah dapat di ketahui kediamaanya. Mereka tidak bersembunyi seperti Chayton.


“ apa kau yakin ini tempatnya?” Masy bertanya ketika mereka berhenti di depan kediaman 2 lantai yang terlihat sedikit megah, meskipun ya, sedikit sepi. Setidaknya taman depan tampak begitu terawat.


Masy mengetahui jika Lord Balckton merupakan pemilik ladang kapas, tentu saja hal ini membuat keluarga ini dengan mudah dapat di cari. Dengan mantap mereka masuk kedalam pelataran kediaman.