The New Duchess

The New Duchess
Bab 74 : bodoh



“ aku tidak bicara omong


kosong, semua yang aku katakan adalah yang aku rasakan. Ku mohon mengertilah” Hardwin


seakan memelas, mencoba menarik rasa simpati wanita itu.


“ heh, mengerti? Kau yang


tidak mengerti keadaanku” Ai sudah tak ingin memperpanjang permasahan, wanita


itu memilih untuk mendekati sofa dan duduk disana, meninggalkan Hardwin yang


masih menatap mengikuti kemanapun Ai pergi


“ apa sih yang kau


harapkan dari Axton? dia hanya lelaki arogan bahkan 2 orang istrinya mati


karena dia. Kau terlalu baik untuknya Ai” Hardwin mengikuti Ai dia berdiri tak


jauh dari hadapan Ai.


“ jangan pernah


menjelekkan atau meremehkan Axton, dia suamiku dan selama itu aku tetap setia


padanya” ucap Ai penuh penekanan, tak lupa tatapan tajamnya yang mengisyratkan


keseriusan menuju kemarahan.


“ kau hanya di peralat


olehnya” Hardwin tetap tak mau kalah, dia bersikeras akan pendapatnya.


“kau tak mengenal dia,


jadi tutup mulutmu. Sekarang lebih baik kau pergi dari kamarku” final, Ai harus


mengakhiri perdebatan yang tak kunjung selesai. Wanita itu tak mau semakin


membenci Hardwin dengan perkataan sembarang dari lelaki itu.


Hardwin menghembuskan


nafas kasar, dia juga tidak ingin berlarut-larut menceramahi Ai. tunggu waktu


yang pas dia akan melanjutkan perdebatan ini.


Suara pintu tertutup,


kamar hanya terisi dirinya. Wanita itu masih sangat kesal nafasnya memburu sisa


pertengkarannya dengan Hardwin. Dia mendekati meja yang terdapat sarapannya,


awalnya Ai berniat untuk memakan sedikit. Dia juga harus memlki cukup tenaga


demi keberlanjutan rencanannya. Namun Karena teringat perkataan Hardwin dimana


dia yang membawa makanan ini, membuat Ai secara tiba-tiba tidak sudi menyentuh


makanan itu.


Dihempaskannya makanan


itu, melayang jatuh berantakan dengan suara pecahan yang keras. Ai semakin


kesal dengan dirinya kenapa bisa begitu mudahnya tertipu oleh sandiwara


temannya. Dia sudah percaya dengan Hardwin tapi kenapa lelaki itu tega


membohionginya.


Satu-satunya yang bisa


menolongnya hanya keajaiban, tidak ada siapapun lagi disisinya. Ai sungguh


kecewa, dan menyesal. Situasinya sudah sangat rumit dan dia harus tertahan


“ siall!!” teriak Ai


kencang, dia masih tidak bisa mengatur emosinya lantaran tidak ada jalan keluar


dari keadaan ini.


Hari semakin sore, Ai


masih tetap tidak mau makan. Setelah sarapan paginya yang hancur berantakan,


seorang penjaga membawa masuk makanan lainnya. Ai hanya menoleh sesaat kemudian


melanjutkan lamunannya. Keadaan ini membuat Hardwin kebingungan. Akhirnya dengan


terpaksa, dia mengizinkan Mily yang bertugas mengantar makanan. Meskipun lelaki


itu tau jika keadaan ini sangat rentan dengan siasat. Pasti kedua wanita itu


akan menyusun rencana pelarian diri.


Namun Hardwin tidak bisa


membiarkan Ai mati sia-sia seperti ini, inilah satu-satunya cara agar Ai bisa


makan dan menjaga dirinya. Dia harus ditemani dengan seseorang yang dia


percayai.


“ nyonya” Mily masuk


membawakan makan malam. Ai langsung menoleh, dia tidak menyangka jika Mily


masih berada di kediaman. Dia mengira Mily ikut dibawa bagian peradilan.


“ Mily” setelah menaruh


senampan makanan, kedua wanita itu berpelukan, melepaskan kekhawatiran


masing-masing.


“ nyonya kenapa tidak


makan?” Mily yang sudah mengetahui bagaimana situasinya, bertanya dengan penuh


kesedihan.


“ aku membencinya” ucap


Ai yang langsung bisa di pahami oleh Mily.


“ ayo sekarang nyonya


makan, saya sendiri yang menyiapkan semua makanannya” Mily membujuk Ai, membawa


kembali nampan itu dan menyiapkannya di meja. Ai kemudian duduk dan menuruti


keinginan pelayan tersayangnya.


“ bagaimana kondisi


diluar?” tanya Ai di sela-sela mengunyah makanan.


“ kacau nyonya, banyak


sekali penjaga di luar maupun di dalam gerbang kediaman. Bahkan seekor lalatpun


tidak lepas dari pengawasan mereka” Mily sudah mengamati keadaan sekitar kini


sedang melapor. Ai mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Mily.


“ kenapa kau bisa masih


di kediaman?” Ai penasaran.