
“ aku tidak bicara omong
kosong, semua yang aku katakan adalah yang aku rasakan. Ku mohon mengertilah” Hardwin
seakan memelas, mencoba menarik rasa simpati wanita itu.
“ heh, mengerti? Kau yang
tidak mengerti keadaanku” Ai sudah tak ingin memperpanjang permasahan, wanita
itu memilih untuk mendekati sofa dan duduk disana, meninggalkan Hardwin yang
masih menatap mengikuti kemanapun Ai pergi
“ apa sih yang kau
harapkan dari Axton? dia hanya lelaki arogan bahkan 2 orang istrinya mati
karena dia. Kau terlalu baik untuknya Ai” Hardwin mengikuti Ai dia berdiri tak
jauh dari hadapan Ai.
“ jangan pernah
menjelekkan atau meremehkan Axton, dia suamiku dan selama itu aku tetap setia
padanya” ucap Ai penuh penekanan, tak lupa tatapan tajamnya yang mengisyratkan
keseriusan menuju kemarahan.
“ kau hanya di peralat
olehnya” Hardwin tetap tak mau kalah, dia bersikeras akan pendapatnya.
“kau tak mengenal dia,
jadi tutup mulutmu. Sekarang lebih baik kau pergi dari kamarku” final, Ai harus
mengakhiri perdebatan yang tak kunjung selesai. Wanita itu tak mau semakin
membenci Hardwin dengan perkataan sembarang dari lelaki itu.
Hardwin menghembuskan
nafas kasar, dia juga tidak ingin berlarut-larut menceramahi Ai. tunggu waktu
yang pas dia akan melanjutkan perdebatan ini.
Suara pintu tertutup,
kamar hanya terisi dirinya. Wanita itu masih sangat kesal nafasnya memburu sisa
pertengkarannya dengan Hardwin. Dia mendekati meja yang terdapat sarapannya,
awalnya Ai berniat untuk memakan sedikit. Dia juga harus memlki cukup tenaga
demi keberlanjutan rencanannya. Namun Karena teringat perkataan Hardwin dimana
dia yang membawa makanan ini, membuat Ai secara tiba-tiba tidak sudi menyentuh
makanan itu.
Dihempaskannya makanan
itu, melayang jatuh berantakan dengan suara pecahan yang keras. Ai semakin
kesal dengan dirinya kenapa bisa begitu mudahnya tertipu oleh sandiwara
temannya. Dia sudah percaya dengan Hardwin tapi kenapa lelaki itu tega
membohionginya.
Satu-satunya yang bisa
menolongnya hanya keajaiban, tidak ada siapapun lagi disisinya. Ai sungguh
kecewa, dan menyesal. Situasinya sudah sangat rumit dan dia harus tertahan
“ siall!!” teriak Ai
kencang, dia masih tidak bisa mengatur emosinya lantaran tidak ada jalan keluar
dari keadaan ini.
Hari semakin sore, Ai
masih tetap tidak mau makan. Setelah sarapan paginya yang hancur berantakan,
seorang penjaga membawa masuk makanan lainnya. Ai hanya menoleh sesaat kemudian
melanjutkan lamunannya. Keadaan ini membuat Hardwin kebingungan. Akhirnya dengan
terpaksa, dia mengizinkan Mily yang bertugas mengantar makanan. Meskipun lelaki
itu tau jika keadaan ini sangat rentan dengan siasat. Pasti kedua wanita itu
akan menyusun rencana pelarian diri.
Namun Hardwin tidak bisa
membiarkan Ai mati sia-sia seperti ini, inilah satu-satunya cara agar Ai bisa
makan dan menjaga dirinya. Dia harus ditemani dengan seseorang yang dia
percayai.
“ nyonya” Mily masuk
membawakan makan malam. Ai langsung menoleh, dia tidak menyangka jika Mily
masih berada di kediaman. Dia mengira Mily ikut dibawa bagian peradilan.
“ Mily” setelah menaruh
senampan makanan, kedua wanita itu berpelukan, melepaskan kekhawatiran
masing-masing.
“ nyonya kenapa tidak
makan?” Mily yang sudah mengetahui bagaimana situasinya, bertanya dengan penuh
kesedihan.
“ aku membencinya” ucap
Ai yang langsung bisa di pahami oleh Mily.
“ ayo sekarang nyonya
makan, saya sendiri yang menyiapkan semua makanannya” Mily membujuk Ai, membawa
kembali nampan itu dan menyiapkannya di meja. Ai kemudian duduk dan menuruti
keinginan pelayan tersayangnya.
“ bagaimana kondisi
diluar?” tanya Ai di sela-sela mengunyah makanan.
“ kacau nyonya, banyak
sekali penjaga di luar maupun di dalam gerbang kediaman. Bahkan seekor lalatpun
tidak lepas dari pengawasan mereka” Mily sudah mengamati keadaan sekitar kini
sedang melapor. Ai mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Mily.
“ kenapa kau bisa masih
di kediaman?” Ai penasaran.