
Hari berganti hari,
kesehatan Duke mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Setelah
selesai dari pengobatan fase pertama kemarin lusa, hari ini menjadi jadwal
pengobatan yang kedua. Seperti biasa Axton dan Ai sedang menunggu di teras
samping.
Di pondok itu terlihat
sudah ada Dalbert dan paman Al. mereka beberapa hari yang lalu sibuk menemani
putra mahkota dan menemui Hardwin. Lelaki itu semenjak masuk ke kawasan ini selalu
saja mencari keberadaan Ai. benar-bnar tidak tau malu. Untung saja mereka
sepakat tidak memberitahu lelaki itu keberadaan pondok yang ada di tepi danau.
“ ini yang kedua, bisa
jadi reaksinya akan semakin kuat” tuan Kleiner baru duduk melingkar. Semua
melihat warna ramuan yang semakin pekat.
“ hati-hati” ucap Ai saat
Axton menerima manguk itu dan segera melahapnya. Energi Axton mulai terlihat
lebih segar. Bahkan kantung matanya mulai memudar, pipinya juga sudah tidak
terlalu tirus.
“ kali ini bagaimana
reaksi yang mungkin muncul?” Ai bertanya.
“ mungkin sama, juga
dibarengi dengan tubuh yang lemas tidak bertenaga. Duke masih berada di fase
kedua dalam pengobatan, setidaknya butuh satu lagi untuk menuju *******. Baru
setelahnya akan semakin membaik” jelas tuan Kleiner. Semua yang menyaksikan
dengan cermat mendengarkan.
“ sudah jangan bahas
lagi, bagaimana jika kau siapkan makanan untuk kami?” Axton memotong
pembicaraan, sekali lagi lelaki tidak suka orang lain terlalu berlebihan
mengkhawatirkannya. Dia menatap Ai, meminta istrinya untuk menyiapkan makanan
bersama dengan pelayan.
“ baiklah-baiklah” jawab
Ai dengan berat hati namun dia juga bersemangat sudah lama sekali dia tidak menyiapkan
makanan untuk suaminya.
“ saya pamit dulu” tuan
Kleiner juga ikut undur diri. Dia akan mengurus anaknya. Meski tidak ada
masalah serius namun karena Hardwin sedang dalam masa pemberian darah, Aidyan akan
menyiapkann beberapa herbal untuk di konsumsi anaknya. Agar darah yang
dihasilkan akan semakin bernutrisi dan anaknya tidak mengalami hal buruk.
“hati-hati” ucap paman
Al.
Akhirnya tinggal 3 orang
saja. Axton kemudian menatap Dalbert, lelaki itu memang sudah dari lama ingin
mengobrol dengan kakak istrinya ini. Sebelum Ai datang kemari, Dalbert adalah
kaki tangannya untuk mencari tau kabar ibu kota.
Namun semenjak istrinya
datang kemari dia belum memiliki waktu untuk berdiskusi lebih lanjut. Apalagi
dengan kehadiran paman Al yang ditugaskan untuk mencari kabar terbaru dari
Brian, pengawalnya.
“ ada informasi baru?”
tanya Axton kepada mereka berdua.
“ mata-mata saya sudah
menemukan beberapa lokasi yang memungkinkan keberadaan Brian, kemungkinan lusa
kita bisa mendapatkan kepastian. Namun sayangnya beberapa dari pihak mereka
memilih terbunuh saat tertangkap, sulit bagi kami untuk menyisakan sandera.”
Paman Al menjawab pertanyaan Axton terlebih dahulu.
“ kita perlu merencanakan
jika seandainya tidak mendapat saksi, lebih baik memperbanyak bukti saja” Axton
menimpali.
“ saya akan menyampaikan
pesan ini” paman Al.
“ jika benar lusa kita
sudah dapat kepastian, sepertinya kau bisa kembali ke kota dan membawa serta
Brian. Waktu kita disini tidak perlu di perpanjang” Axton sudah merasakan jika
kondisi memang lebih baik, dia akan memulai rencananya yang terpaksa tertunda
karena racun ini.
“ baik Duke” paman Al
terlihat senang, dia sudah sangat merindukan istrinya. Meskipun istri tetap
dalam penjagaan namun ia tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya.
“ lalu bagaimana denganmu
Dalbert?” giliran Dalbert, dia sudah lama ingin mengatakan sesuatu yang
penting. Setelah menimbang-nimbang, mungkin ini waktu yang pas.
“ apa Duke tau, bahwa
ramuan yang baru saja anda minum juga tercampur dengan darah seseorang?”
Dalbert bertanya dengan penuh kehati-hatian. Wajar, persoalan darah Hardwin
hanya diketehui oleh Axton dan keluarga Kleiner. Ai baru saja mengetahui dan
setelahnya tidak ada yang tau.
“ Hardwin maksudmu?”
jawab Axton santai. Jelas saja Dalbert dibuat bingung sesaat sedangkan pama Al terlihat
sangat kaget. Kedua lelaki itu merespon jawaban Axton dengan bentuk yang
berbeda.
“ Hardwin? Bagaimana
dengar. saking kagetnya Allard bahkan melupakan etika berbicara dengan Duke.
“ dia sendiri yang
menawarkan” jawab Axton datar.
“ jadi anda sudah tau,
apa anda tidak curiga?” Dalbert kembali bertanya, dia sedang bermain-main
dengan kata-kata. Teramat sulit jika dia menjelaskan semua yang dia tau. Takutnya
akan timbul masalah baru.
“ jangan bertele-tele,
katakan semuanya padaku” Axton tidak suka menunggu, belum lagi reaksi Allard
yang heboh membuat Axton merasa tidak enak.
Dalbert diam dan telihat
ragu untuk mengatakannya. kejadian di Tordor masih sangat jelas dia ingat.
Takutnya kejadian itu malah membuat Axton mengusir Hardwin dan masa pengobatan
terpaksa batal.
“ tubuhku masih lemah,
tidak cukup kuat untuk berkelahi ataupun adu fisik” Axton mencoba memprofokasi.
Dan memang benar, saat ini dia hanya akan mendengar saja, tidak mungkin
bertindak keras. Belum saatnya.
Kalimat itu membuat
keberanian Dalbert mulai terisi, lelaki itu menatap ayahnya dan Duke secara
bergantian. Mereka kemungkinan akan syok atau tidak percaya dengan tindakan
Hardwin yang tidak pantas itu.
“sebenarnya saat di kota
Tordor, Ai tidak benar-benar ingin mengambil barangnya. Dia pergi menemui
Hardwin” Dalbert berhasil memberikan kalimat pembuka.
“ untuk apa?” paman Al
mengerutkan keningnya.
“ aku tidak tau pasti,
tapi sepertinya mereka terlibat pertengkaran dan berujung Hardwin,,,” ucapan
Dalbert menggantung. Jantungnya berdegup kencang sambil menatap takut kea rah
Axton.
“ apa? Hardwin apa?”
paman Al yang terlihat begitu penasaran. Dia memiliki firasat buruk karena
melihat ekpresi anaknya yang seperti itu.
“ dia, dia mencoba
melecehkan..”
Brak,, tangan Axton
terkepal memukul meja. Meskipun Dalbert belum menyelesaikan kalimatnya, Axton
sudah bisa menebak akhirnya. Dalbert dan Allard serentak kaget. Dan tiba-tiba
suasana meja seketika menjadi dingin. Aura marah Axton bisa terasa dengan
jelas.
“ Brengsek!” ucap Axton
tegas, dia tidak bisa dengan lantang mengatakan cacian itu. Tidak bisa karena
ada Ai disana.
“ apa yang Hardwin
lakukan?” paman Al masih belum mengerti jelas, dia penasaran dengan itu. Dia
mau Dalbert mengatakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.
Namun karena Axton yang
sudah kepalang emosi, mana mungkin Dalbert mengatakan dengan gamblang. Alhasil
lelaki itu memberikan kode ke ayahnya dengan sedikit memajukan mulut. Isyarat
tentang ciuman.
“ aku akan memberinya
pelajaran” paman Al segera berdiri bgeitu menangkap maksud kode itu, dia tidak
mau menundanya. Dia akan membuat perhitungan dengan anak brengsek itu.
“ ayah, tenanglah. Jangan
gegabah” Dalbert menenangkan ayahnya, jangan sampai dia ketahuan mengatakan hal
ini.
“ tenangkan dirimu
Allard, jangan lakukan apapun dan jangan sampai ada yang tau” ucap Axton
dingin, lelaki itu tidak terlihat emosi kecuali dari nafasnya yang memburu dan
wajah dinginnya. Duke begitu lihai menyembunyikan perasaanya.
Mendengar kalimat
perintah dari Duke, Allard akhinya mulai menurunkan emosinya. Dia sudah
bersedia tenang dan kembali duduk.
“ apa lelaki itu
memberikan persyaratan untuk menebus darahnya?” Axton sudah terbiasa menebak
jalan cerita, dia pandai memahami siasat seseorang.
Dalbert menelan ludahnya
kasar, Duke dengan mudah bisa tau inti persoalan yang ingin Dalbert ceritakan. Membuat
lelaki itu takut sekaligus terpana. Dia memang sedang berhadapan dengan orang
hebat.
“ dia, dia meminta untuk
,, untuk Ai meninggalkan anda” jawab Dalbert takut, bahkan suaranya bergetar
saking takutnya dengan kemarahan Axton yang akan muncul.
“ Brengsek!” Brak, bukan
Axton, melainkan paman Al. dia malah
yang lebih terlihat emosional. Lelaki itu seakan seperti cacing kepanasan,
sudah tidak bisa mengatur emosinya. Wajahnya merah padam serta tangannya
terkepal kuat.