The New Duchess

The New Duchess
Bab 113: Cepu



Hari berganti hari,


kesehatan Duke mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Setelah


selesai dari pengobatan fase pertama kemarin lusa, hari ini menjadi jadwal


pengobatan yang kedua. Seperti biasa Axton dan Ai sedang menunggu di teras


samping.


Di pondok itu terlihat


sudah ada Dalbert dan paman Al. mereka beberapa hari yang lalu sibuk menemani


putra mahkota dan menemui Hardwin. Lelaki itu semenjak masuk ke kawasan ini selalu


saja mencari keberadaan Ai. benar-bnar tidak tau malu. Untung saja mereka


sepakat tidak memberitahu lelaki itu keberadaan pondok yang ada di tepi danau.


“ ini yang kedua, bisa


jadi reaksinya akan semakin kuat” tuan Kleiner baru duduk melingkar. Semua


melihat warna ramuan yang semakin pekat.


“ hati-hati” ucap Ai saat


Axton menerima manguk itu dan segera melahapnya. Energi Axton mulai terlihat


lebih segar. Bahkan kantung matanya mulai memudar, pipinya juga sudah tidak


terlalu tirus.


“ kali ini bagaimana


reaksi yang mungkin muncul?” Ai bertanya.


“ mungkin sama, juga


dibarengi dengan tubuh yang lemas tidak bertenaga. Duke masih berada di fase


kedua dalam pengobatan, setidaknya butuh satu lagi untuk menuju *******. Baru


setelahnya akan semakin membaik” jelas tuan Kleiner. Semua yang menyaksikan


dengan cermat mendengarkan.


“ sudah jangan bahas


lagi, bagaimana jika kau siapkan makanan untuk kami?” Axton memotong


pembicaraan, sekali lagi lelaki tidak suka orang lain terlalu berlebihan


mengkhawatirkannya. Dia menatap Ai, meminta istrinya untuk menyiapkan makanan


bersama dengan pelayan.


“ baiklah-baiklah” jawab


Ai dengan berat hati namun dia juga bersemangat sudah lama sekali dia tidak menyiapkan


makanan untuk suaminya.


“ saya pamit dulu” tuan


Kleiner juga ikut undur diri. Dia akan mengurus anaknya. Meski tidak ada


masalah serius namun karena Hardwin sedang  dalam masa pemberian darah, Aidyan akan


menyiapkann beberapa herbal untuk di konsumsi anaknya. Agar darah yang


dihasilkan akan semakin bernutrisi dan anaknya tidak mengalami hal buruk.


“hati-hati” ucap paman


Al.


Akhirnya tinggal 3 orang


saja. Axton kemudian menatap Dalbert, lelaki itu memang sudah dari lama ingin


mengobrol dengan kakak istrinya ini. Sebelum Ai datang kemari, Dalbert adalah


kaki tangannya untuk mencari tau kabar ibu kota.


Namun semenjak istrinya


datang kemari dia belum memiliki waktu untuk berdiskusi lebih lanjut. Apalagi


dengan kehadiran paman Al yang ditugaskan untuk mencari kabar terbaru dari


Brian, pengawalnya.


“ ada informasi baru?”


tanya Axton kepada mereka berdua.


“ mata-mata saya sudah


menemukan beberapa lokasi yang memungkinkan keberadaan Brian, kemungkinan lusa


kita bisa mendapatkan kepastian. Namun sayangnya beberapa dari pihak mereka


memilih terbunuh saat tertangkap, sulit bagi kami untuk menyisakan sandera.”


Paman Al menjawab pertanyaan Axton terlebih dahulu.


“ kita perlu merencanakan


jika seandainya tidak mendapat saksi, lebih baik memperbanyak bukti saja” Axton


menimpali.


“ saya akan menyampaikan


pesan ini” paman Al.


“ jika benar lusa kita


sudah dapat kepastian, sepertinya kau bisa kembali ke kota dan membawa serta


Brian. Waktu kita disini tidak perlu di perpanjang” Axton sudah merasakan jika


kondisi memang lebih baik, dia akan memulai rencananya yang terpaksa tertunda


karena racun ini.


“ baik Duke” paman Al


terlihat senang, dia sudah sangat merindukan istrinya. Meskipun istri tetap


dalam penjagaan namun ia tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya.


“ lalu bagaimana denganmu


Dalbert?” giliran Dalbert, dia sudah lama ingin mengatakan sesuatu yang


penting. Setelah menimbang-nimbang, mungkin ini waktu yang pas.


“ apa Duke tau, bahwa


ramuan yang baru saja anda minum juga tercampur dengan darah seseorang?”


Dalbert bertanya dengan penuh kehati-hatian. Wajar, persoalan darah Hardwin


hanya diketehui oleh Axton dan keluarga Kleiner. Ai baru saja mengetahui dan


setelahnya tidak ada yang tau.


“ Hardwin maksudmu?”


jawab Axton santai. Jelas saja Dalbert dibuat bingung sesaat sedangkan pama Al terlihat


sangat kaget. Kedua lelaki itu merespon jawaban Axton dengan bentuk yang


berbeda.


“ Hardwin? Bagaimana


dengar. saking kagetnya Allard bahkan melupakan etika berbicara dengan Duke.


“ dia sendiri yang


menawarkan” jawab Axton datar.


“ jadi anda sudah tau,


apa anda tidak curiga?” Dalbert kembali bertanya, dia sedang bermain-main


dengan kata-kata. Teramat sulit jika dia menjelaskan semua yang dia tau. Takutnya


akan timbul masalah baru.


“ jangan bertele-tele,


katakan semuanya padaku” Axton tidak suka menunggu, belum lagi reaksi Allard


yang heboh membuat Axton merasa tidak enak.


Dalbert diam dan telihat


ragu untuk mengatakannya. kejadian di Tordor masih sangat jelas dia ingat.


Takutnya kejadian itu malah membuat Axton mengusir Hardwin dan masa pengobatan


terpaksa batal.


“ tubuhku masih lemah,


tidak cukup kuat untuk berkelahi ataupun adu fisik” Axton mencoba memprofokasi.


Dan memang benar, saat ini dia hanya akan mendengar saja, tidak mungkin


bertindak keras. Belum saatnya.


Kalimat itu membuat


keberanian Dalbert mulai terisi, lelaki itu menatap ayahnya dan Duke secara


bergantian. Mereka kemungkinan akan syok atau tidak percaya dengan tindakan


Hardwin yang tidak pantas itu.


“sebenarnya saat di kota


Tordor, Ai tidak benar-benar ingin mengambil barangnya. Dia pergi menemui


Hardwin” Dalbert berhasil memberikan kalimat pembuka.


“ untuk apa?” paman Al


mengerutkan keningnya.


“ aku tidak tau pasti,


tapi sepertinya mereka terlibat pertengkaran dan berujung Hardwin,,,” ucapan


Dalbert menggantung. Jantungnya berdegup kencang sambil menatap takut kea rah


Axton.


“ apa? Hardwin apa?”


paman Al yang terlihat begitu penasaran. Dia memiliki firasat buruk karena


melihat ekpresi anaknya yang seperti itu.


“ dia, dia mencoba


melecehkan..”


Brak,, tangan Axton


terkepal memukul meja. Meskipun Dalbert belum menyelesaikan kalimatnya, Axton


sudah bisa menebak akhirnya. Dalbert dan Allard serentak kaget. Dan tiba-tiba


suasana meja seketika menjadi dingin. Aura marah Axton bisa terasa dengan


jelas.


“ Brengsek!” ucap Axton


tegas, dia tidak bisa dengan lantang mengatakan cacian itu. Tidak bisa karena


ada Ai  disana.


“ apa yang Hardwin


lakukan?” paman Al masih belum mengerti jelas, dia penasaran dengan itu. Dia


mau Dalbert mengatakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.


Namun karena Axton yang


sudah kepalang emosi, mana mungkin Dalbert mengatakan dengan gamblang. Alhasil


lelaki itu memberikan kode ke ayahnya dengan sedikit memajukan mulut. Isyarat


tentang ciuman.


“ aku akan memberinya


pelajaran” paman Al segera berdiri bgeitu menangkap maksud kode itu, dia tidak


mau menundanya. Dia akan membuat perhitungan dengan anak brengsek itu.


“ ayah, tenanglah. Jangan


gegabah” Dalbert menenangkan ayahnya, jangan sampai dia ketahuan mengatakan hal


ini.


“ tenangkan dirimu


Allard, jangan lakukan apapun dan jangan sampai ada yang tau” ucap Axton


dingin, lelaki itu tidak terlihat emosi kecuali dari nafasnya yang memburu dan


wajah dinginnya. Duke begitu lihai menyembunyikan perasaanya.


Mendengar kalimat


perintah dari Duke, Allard akhinya mulai menurunkan emosinya. Dia sudah


bersedia tenang dan kembali duduk.


“ apa lelaki itu


memberikan persyaratan untuk menebus darahnya?” Axton sudah terbiasa menebak


jalan cerita, dia pandai memahami siasat seseorang.


Dalbert menelan ludahnya


kasar, Duke dengan mudah bisa tau inti persoalan yang ingin Dalbert ceritakan. Membuat


lelaki itu takut sekaligus terpana. Dia memang sedang berhadapan dengan orang


hebat.


“ dia, dia meminta untuk


,, untuk Ai meninggalkan anda” jawab Dalbert takut, bahkan suaranya bergetar


saking takutnya dengan kemarahan Axton yang akan muncul.


“ Brengsek!” Brak, bukan


Axton, melainkan paman Al. dia  malah


yang lebih terlihat emosional. Lelaki itu seakan seperti cacing kepanasan,


sudah tidak bisa mengatur emosinya. Wajahnya merah padam serta tangannya


terkepal kuat.