The New Duchess

The New Duchess
Bab 106 : Berdua



Pagi-pagi sekali Ai sudah


bangun dan membantu pelayan untuk merebus obat untuk Axton. dia tidak mau


menganggu suaminya yang masih tertidur jadi dengan langkah pelan dia


meninggalkan kamar.


“ sejak kapan kau


menemani Axton disini?” tanya Ai kepada pelayan lelaki yang terlihat sedang


memilah-milah dedaunan.


“ sudah hampir satu bulan


lebih” jawab pelayan itu, dia baru mengatahui jika wanita asing ini ternyata


adalah Duchess, istri Duke.


“ bagaimana kondisi Axton


sekarang?” Ai seakan sedang  mengintograsi pelayan ini, dia dengan wajah serius menunggu jawaban.


“ duke, dia..”


“ ehemm” Axton tiba-tiba


berada di  belakang mereka.


“ kau sudah bangun?” Ai


segera mendekati Axton, dan memegang lengan suaminya.


“ temani aku ke tepi


danau” Axton akan menjauhkan istrinya dari pelayan itu. Dia tidak mau istrinya


kembali bertanya mengenai kondisinya.


“ kau belum minum obat”


cegah Ai, dia tidak mau kondisi Axton semakin memburuk.


“ dia akan mengatarkannya


nanti” Ai tidak mau berdebat akhirnya menyetujui keinginan Axton. sebelum pergi


Ai mengambil mantel dan memakaikannya kepada Axton. mereka kemudian berjalan


pelan menuju danau. Suasana pagi ini begitu cerah, angin juga berhembus pelan.


“ kau masih sakit, kenapa


memaksakan diri berjalan seperti ini” Ai mencoba mengurungkan niat Axton, dia


begitu menghawatirkan keadaan suaminya.


“ apa aku terlihat begitu


lemah di matamu?” Axton tidak marah, dirinya hanya tidak mau terlihat begitu


kasihan.


Mendengar pertanyaan


Axton yang seakan harga dirinya tersakiti, Ai hanya tersenyum. Dia malah mempererat


peganganya di lengan Axton sambil meletakkan kepalanya di bahu suaminya.


“ bagiku kau adalah


lelaki paling perkasa” jawaban Ai seakan menggelitik, Axton tersenyum lebar.


Istrinya selalu berhasil membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.


Sepasang suami istri itu


dengan senangnya berjalan di tepi danau, tidak ada pembicaraan. Mereka hanya


fokus menikmati kebersamaan, seakan dunia hanya milik mereka berdua.


Mereka kemudian duduk di


bawah sebuah pohon, Ai meluruskan kakinya untuk di gunakan sebagai bantal oleh


Axton, lelaki itu terbaring sambil kepalanya di erus lembut sang istri.


“ beberapa bulan lagi


kita akan merayakan ulang tahun pernikahan yang pertama, aku ingin kita


mengadakan pesta yang meriah. Bagaimana menurutmu?” Ai menerawang jauh, dia


pernikahannya. Sangat senang sekali.


Sedangkan Axton yang


mendengarnya seakan mengingatkannya bahwa waktunya sudah tidak lama lagi.


Jangankan mengadakan pesta, untuk dia bisa tertahan selama itu saja seakan


mustahil.


“ Axton!” ucap Ai yang


melihat suaminya malah melamun sendiri.


“ em, iya. Seperti yang


kau inginkan saja” jawab Axton asal. Dia tidak mau membuat Ai sedih ataupun


memberikan kebahagiaan yang semu.


“ kau tau, aku pernah


bermimpi. Di pesta pernikahan pertama kita, kau membawa selingkuhnmu yang sudah


hamil tentunya. Ikut merayakan pernikahan kita. Aku yang terlalu marah akhirnya


memilih untuk bunuh diri sedangkan kau begitu kehilangan terus meraung


meneriakkan namaku. Mimpi itu membuatku ketakutan, aku takut disaat itu salah


satu dari kita akan mengalami hal yang sama” Ai menceritakan kehidupan lalu,


sudah lama dia ingin melihat bagaimana reaksi suaminya jika mendengar cerita


ini.


“ mana mungkin aku


berselingkuh darimu. Dari mimpi itu hanya satu hal yang pasti aku lakukan. Aku akan


meraung sekeras mungkin jika aku kehilanganmu, aku bahkan akan melakukan apapun


asal kau bisa hidup kembali” Ai memikirkan dengan serius ucapan suaminya. Apa mungkin


alasan dia bisa kembali mengulang waktu semuanya karena Axton. bagaimana jika


benar saat ulang tahun pernikahan tetap ada salah satu  dari mereka yang akan mati. Tidak. Ai bahkan


tidak mau memikirkan itu sedetik saja, bagaimana dengan hidupnya jika tanpa


Axton.


“ apapun, meski dengan


menukarnya dengan milikmu?” Ai hanya asal bertanya.


“ iya, meski dengan


apapun, termasuk nyawaku” jawab Axton, lelaki itu menutup matanya. Merasakan angin


sepoi serta belaian lembut tangan istrinya di rambutnya.


“ kau begitu mencintaiku?”


Ai masih saja mempertanyakan, dia ingin mendengar jawaban Axton sekarang. Axton


membuka matanya, sesaat setelah mendengar pertanyaan istrinya.


“ aku sangat mencintaimu”


jawab Axton tegas, wajahnya menatap ke arah manic Ai yang berada tepat di


depannya. seolah hanyut dalam suasana, jawaban Axton membuat hatinya


berbunga-bunga.


Ai menundukkan kepalanya,


dia mengecup bibir Axton. pertemuan bibir mereka cukup lama. Baik Ai dan Axton


sama-sama menikmati dan tersihir dengan sentuhan bibir pasangannya. Mereka


meluapkan semua perasaan dalam ciuman itu.


“ aku juga sangat mencintaimu” Ai mengambil nafas


kemudian membalas ucapan Axton. setelah itu dia kembali mengecup bibir itu


kembali.