
Pagi-pagi sekali Ai sudah
bangun dan membantu pelayan untuk merebus obat untuk Axton. dia tidak mau
menganggu suaminya yang masih tertidur jadi dengan langkah pelan dia
meninggalkan kamar.
“ sejak kapan kau
menemani Axton disini?” tanya Ai kepada pelayan lelaki yang terlihat sedang
memilah-milah dedaunan.
“ sudah hampir satu bulan
lebih” jawab pelayan itu, dia baru mengatahui jika wanita asing ini ternyata
adalah Duchess, istri Duke.
“ bagaimana kondisi Axton
sekarang?” Ai seakan sedang mengintograsi pelayan ini, dia dengan wajah serius menunggu jawaban.
“ duke, dia..”
“ ehemm” Axton tiba-tiba
berada di belakang mereka.
“ kau sudah bangun?” Ai
segera mendekati Axton, dan memegang lengan suaminya.
“ temani aku ke tepi
danau” Axton akan menjauhkan istrinya dari pelayan itu. Dia tidak mau istrinya
kembali bertanya mengenai kondisinya.
“ kau belum minum obat”
cegah Ai, dia tidak mau kondisi Axton semakin memburuk.
“ dia akan mengatarkannya
nanti” Ai tidak mau berdebat akhirnya menyetujui keinginan Axton. sebelum pergi
Ai mengambil mantel dan memakaikannya kepada Axton. mereka kemudian berjalan
pelan menuju danau. Suasana pagi ini begitu cerah, angin juga berhembus pelan.
“ kau masih sakit, kenapa
memaksakan diri berjalan seperti ini” Ai mencoba mengurungkan niat Axton, dia
begitu menghawatirkan keadaan suaminya.
“ apa aku terlihat begitu
lemah di matamu?” Axton tidak marah, dirinya hanya tidak mau terlihat begitu
kasihan.
Mendengar pertanyaan
Axton yang seakan harga dirinya tersakiti, Ai hanya tersenyum. Dia malah mempererat
peganganya di lengan Axton sambil meletakkan kepalanya di bahu suaminya.
“ bagiku kau adalah
lelaki paling perkasa” jawaban Ai seakan menggelitik, Axton tersenyum lebar.
Istrinya selalu berhasil membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
Sepasang suami istri itu
dengan senangnya berjalan di tepi danau, tidak ada pembicaraan. Mereka hanya
fokus menikmati kebersamaan, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Mereka kemudian duduk di
bawah sebuah pohon, Ai meluruskan kakinya untuk di gunakan sebagai bantal oleh
Axton, lelaki itu terbaring sambil kepalanya di erus lembut sang istri.
“ beberapa bulan lagi
kita akan merayakan ulang tahun pernikahan yang pertama, aku ingin kita
mengadakan pesta yang meriah. Bagaimana menurutmu?” Ai menerawang jauh, dia
pernikahannya. Sangat senang sekali.
Sedangkan Axton yang
mendengarnya seakan mengingatkannya bahwa waktunya sudah tidak lama lagi.
Jangankan mengadakan pesta, untuk dia bisa tertahan selama itu saja seakan
mustahil.
“ Axton!” ucap Ai yang
melihat suaminya malah melamun sendiri.
“ em, iya. Seperti yang
kau inginkan saja” jawab Axton asal. Dia tidak mau membuat Ai sedih ataupun
memberikan kebahagiaan yang semu.
“ kau tau, aku pernah
bermimpi. Di pesta pernikahan pertama kita, kau membawa selingkuhnmu yang sudah
hamil tentunya. Ikut merayakan pernikahan kita. Aku yang terlalu marah akhirnya
memilih untuk bunuh diri sedangkan kau begitu kehilangan terus meraung
meneriakkan namaku. Mimpi itu membuatku ketakutan, aku takut disaat itu salah
satu dari kita akan mengalami hal yang sama” Ai menceritakan kehidupan lalu,
sudah lama dia ingin melihat bagaimana reaksi suaminya jika mendengar cerita
ini.
“ mana mungkin aku
berselingkuh darimu. Dari mimpi itu hanya satu hal yang pasti aku lakukan. Aku akan
meraung sekeras mungkin jika aku kehilanganmu, aku bahkan akan melakukan apapun
asal kau bisa hidup kembali” Ai memikirkan dengan serius ucapan suaminya. Apa mungkin
alasan dia bisa kembali mengulang waktu semuanya karena Axton. bagaimana jika
benar saat ulang tahun pernikahan tetap ada salah satu dari mereka yang akan mati. Tidak. Ai bahkan
tidak mau memikirkan itu sedetik saja, bagaimana dengan hidupnya jika tanpa
Axton.
“ apapun, meski dengan
menukarnya dengan milikmu?” Ai hanya asal bertanya.
“ iya, meski dengan
apapun, termasuk nyawaku” jawab Axton, lelaki itu menutup matanya. Merasakan angin
sepoi serta belaian lembut tangan istrinya di rambutnya.
“ kau begitu mencintaiku?”
Ai masih saja mempertanyakan, dia ingin mendengar jawaban Axton sekarang. Axton
membuka matanya, sesaat setelah mendengar pertanyaan istrinya.
“ aku sangat mencintaimu”
jawab Axton tegas, wajahnya menatap ke arah manic Ai yang berada tepat di
depannya. seolah hanyut dalam suasana, jawaban Axton membuat hatinya
berbunga-bunga.
Ai menundukkan kepalanya,
dia mengecup bibir Axton. pertemuan bibir mereka cukup lama. Baik Ai dan Axton
sama-sama menikmati dan tersihir dengan sentuhan bibir pasangannya. Mereka
meluapkan semua perasaan dalam ciuman itu.
“ aku juga sangat mencintaimu” Ai mengambil nafas
kemudian membalas ucapan Axton. setelah itu dia kembali mengecup bibir itu
kembali.