
Dereck masuk kedalam kereta kudanya, rencananya hari ini dia akan datang ke rumah Duke Wellington, dia berniat menggunakan Ai untuk menggertak ataupun mengancam sang bangsawan. Dengan ini seperti melempar batu pada 2 ekor merpati, balas dendamnya mengenai 2 orang sekaligus.
Tidak sampai 20 kaki dari kediamanny, Dereck melihat sebuah kereta kuda yang sedikit familiar, membuat lelaki itu berfikir keras dimana dia pernah melihatnya.
“ sial” lirih Dereck saat mengingat pemilik kereta yang terparkir itu.
“ kembali ke kediaman!” teriak Dereck.
Masy sudah begitu lihai menyembunyikan diri dalam mengikuti seorang pelayan yang membawakan makanan. Dia yakin jika pelayan ini akan membawanya kepada Ai sahabatnya.
Dan dalam beberapa saat kemudian pelayan itu berhenti dan membuka sebuah kamar. Masy awalnya ragu karena kamar itu sepertinya dikunci dari luar, apa mungkin selama ini Ai sudah mengalami hal buruk. Perasaan Masy semakin tidak enak.
Siapa sangka jika tepat di belakang Masy sudah ada Dereck dengan seringainya berniat jahat pada wanita itu. Ketika Masy ingin melangkah maju untuk menyerang pelayan itu Dereck langsung saja membekap mulut dan hidung Masy. Pelayan itu berbalik dalam keadaan kaget. Melihat tuannya melakukan hal kasar pada wanita membuat pelayan itu menjatuhkan nampan makanan yanga dia pegang.
Masy memberontak sebisanya, setelahnya kesadarannya menghilang.
“ buka pintunya” ucap dereck pada si pelayan. Lelaki itu berniat mengurung Masy dan Ai dalam satu kamar.
Didalam Ai sudah menduga ada hal yang tidak beres ketika mendengar suara piring pecah di depan kamarnya, kini secara tiba-tiba pintu terbuka dengan Dereck melemparkan tubuh Masy kedalam.
“ astaga. Apa yang kau lakukan padanya?” belum juga sampai di tubuh sahabatnya, Dereck langsung menutup dan mengunci kembali pintu kamar. Lelaki itu tidak mau ambil resiko jika Ai melawannya.
“ Masy” Ai menepuk pipi sahabatnya itu, namun tak kunjung sadar. Ai akhirnya membopong tubuh Masy untuk di pindahkan ke atas ranjang. Ai sedikit khawatir dengan kondisi Masy yang tak kunjung sadar bahkan sampai sore menjelang.
Dereck terpaksa menunda rencananya menemui Axton, dia sedang mempersiapkan rencana lain untuk memaksukkan Masy kedalam masalah ini.
“ masy ?” Ai duduk di samping Masy yang mulai membuka matanya.
“ Masy kau bisa mendengarku?” kembali Ai mencoba mengembalikan kesadaran sahabatnya.
“ egh, kepalaku.. Ai? Kau, bagaimana kabarmu?” Masy segera memeluk Ai dia begitu senang dapat melihat sahabatnya lagi.
“ aku tak apa, bagaimana kau bisa tertangkap lelaki itu?” tanya Ai.
“ aku menyelinap masuk dan tiba-tiba di menyerangku dari belakang. Payah sekali bukan” Masy berganti menjadi duduk bersandar.
“ kau tak kunjung kembali aku begitu cemas, apa lelaki itu melakukan hal jahat padamu?” tanya Masy sambil meneliti tubuh Ai.
“ sejak awal aku memang merasakan hal janggal, namun tidak sampai berfikir jika Dereck sampai melakukan hal seperti ini. Dia tidak melakukan apapun padaku, selain mengurung di kamar Kyliee” jawab Ai. Membuat Masy mengerutkan keningnya, karena baru mengetahui jika kamar ini adalah milik mendiang Kyliee.
“ aku menemukan banyak hal menarik disini jadi memutuskan untuk tinggal sebentar”
“ tinggal sebentar?” Masy semakin tidak mengerti dengan pemikiran Ai.
“ kau taulah, dia hanya mengunci kamar, aku bahkan bisa membukanya dengan hiasan rambutku. Aku tidak selemah itu Masy. Untung saja lelaki itu mengurungku di kamar adiknya. Disini semua barang Kyliee begitu membantuku, wanita itu bahkan menulis diary, lihatlah. Aku sudah membaca semuanya, tinggal menemukan satu barang penting baru berniat pergi” Masy terdiam mencerna semua perkataan Ai. Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu ternyata memang memilih untuk berdiam sedikit lama disini. Masy merasa rasa khawatirnya itu terlalu berlebihan.
“ barang apa itu?” tanya Masy
“ surat Ratu untuk Kyliee” jawab Ai yakin. Masy seketika tak percaya dengan ucapan Ai. Kenapa Ratu dibawa-bawa dalam masalah ini.
“ ratu? Kenapa ratu mengirim surat ke Kyliee?”
Kedua gadis itu kini sedang sibuk mencari surat yang dikatakan Ai sebelumnya. Terdapat 5 peti besar, beberapa berisi pakaian dan yang lainnya berisi benda milik Kyliee. Inilah alasannya di kediaman Duke, Ai tidak bisa menemukan barang-barang mendiang istri Axton. Karena semuanya di kirim kembali ke kediaman wanita. Entah kejadian ini sebuah keberuntungan atau tidak, namun dengan kejadian ini Ai bisa mengetahui secara lengkap alasan kematian Kyliee yang sebenarnya.
Krek krek suara lubang kunci pintu. Ai segera menarik Masy menjauh dari peti. Seorang pelayan masuk memberikan makan malam, Setelah seharian tidak mendapatkan jatah makan. Ini adalah perintah Dereck, dia memberikan hukuman kepada kedua wanita itu.
Ai dan Masy hanya terdiam sampai pelayan itu keluar dari kamar.
“ ah akhirnya” Masy segera mendekati makanan itu, Dereck masih memiliki hati dengan memberikan makanan yang cukup untuk 2 orang.
Ai terseyum ringan melihat kelakuan sahabatnya yang langsung menyantap makanan itu tanpa berfikir macam-macam.
“ hey jangan makan dulu” Masy seketika berhenti mengunyah. Ai menatapnya seperti sedang ketakuatan.
“ apa makanan ini beracun?” Masy ikut ketakuatan.
“ bbhahahah” Ai tertawa menatap Masy yang ketakutan. Menyadari kejahilan sahabatnya Masy menatap datar Ai dan malah mengambil porsi Ai untuk dimakan.
“ hey hey, itu punyaku” Ai ikut berebut makanan.
Setelah selesai makan kedua wanita itu kembali pada peti-peti kembali. Malam ini jika surat itu ditemukan mereka sudah siap untuk melarikan diri.
“ apa ini?” Masy mengangkat sebuah amplop. Ai segera membukanya, membaca tulisan didalamnya.
“ bukan “ jawab Ai setelah mengetahui jika kertas ini berisi pesan biasa antar kyliee dengan sahabatnya. Beberapa lama kemudian Ai melihat sebuah buku tebal di dasar peti. Dia membuka sekilas ternyata didalamnya berisi beberapa ampol. Dengan segera Ai langsung membukanya, Masy juga cukup tertarik dengan Ai yang menemukan beberapa amplop.
“ lihatlah ini yang kita cari” Ai merasa senang dan sangat puas.
“ kita bawa semua surat ini beserta satu buku diary” Ai memasukkan semuanya kedalam tasnya. Masy ikut senang karena mereka akan segera melarikan diri.
Saat waktu menunjukkan tengah malam Ai dan Masy segera menyusun rencana. Awalnya mereka ingin melarikan diri lewat jendela, namun harus terpaksa diurungkan karena ternyata semua jendela di paten dari luar. Dereck benar-benar memperhitungkan semuanya.
Akhirnya Ai menggunakan keahlian khususnya membobol pintu kamar menggunakan kawat hiasan rambutnya. Tanpa mengalami kesusahan pintu itupun terbuka.
“ hati-hati, ikuti aku” Ai memimpin perjalanan. Dia sedikit mengingat beberapa lorong yang terlewati.
Dengan penerangan yanga terbatas kedua wanita itu berjalan mengendap-endap. Berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara, dan membuat mereka ketahuan.
“ mau kemana kalian?” teriak Dereck yang memergoki mereka dari lantai atas. Segera saja berlari turun. Masy dan Ai berlari tak tentu arah, yang penting jangan sampai tertangkapa kembali.
“ ayo” Ai menggandeng tangan Masy menyeretnya berlari. Dereck dengan cepat langsung menghadang dan menyudutkan kedua wanita itu.
“ dereck ku mohon jangan lakukan ini, percayalah dengan hal ini akan membuat adikmu semakin sedih” Ai mencoba memprofokasi Dereck. Ai dan Masy tersudut diruangan tengah. Samping mereka tembok dan tak ada jalan keluar.
“ kau tidak akan mengerti sakitnya kehilangan !” Dereck seakan kesetanan, dia berteriak dan melemparkan satu vas kearah dinding.
“ siapa bilang aku tidak mengerti sakit itu, aku sudah menjadi yatim piatu sejak berumur 10 tahun, berusaha bertahan hidup dalam segala kondisi yang menekanku, kau yang terlalu lemah. Sadarlah dan terima semuanya” Ai tak kalah tegas membalas ucapan Dereck. Lelaki itu sempat terdiam mendengar cerita AI yang tak pernah dia tahu.
“ biarkan mereka pergi Der” suara wanita mengalun lembut dari lantai atas. Seoranga wanita paruh baya berdiri disana. Dereck terlihat kaget melihat wanita itu, seakan tak percaya Dereck langsung naik mendekati wanita itu. Tak ingin membuang waktu Ai segera memanfaatkan keadaan.
“ terimakasih Baroness” Ai dan Masy segera pergi darisana.