
“ mau bagaimana lagi”
ucap Edward terus terang. Suasana mulai mencair. Kegugupan Edward juga mulai
hilang.
Perjalanan masih terus
berlanjut, sedangkan di kota Tordor sana seorang lelaki tampan sedang menahan
emosinya begitu masuk kedalam tenda miliknya. Siapa lagi kalau bukan Hardwin.
Dia merasa jika Ai dan Edward sedang merencanakan sesuatu. Bahkan Hardwin
berfikir bahwa Edward seakan memiliki rasa kepada Ai. tidak, tidak akan Hardwin
biarkan Ai di rebut oleh lelaki lain.
Hari mulai malam saat
kereta itu sampai di sebuah kawasan yang terpencil dan tersembunyi. Dari luar
memang tampak seperti bangunan terbengkalai didalam hutan. Namun jika sedikit
saja mendekati gerbang maka sengatan listriklah yang akan menyambut.
“ kita sudah sampai tuan”
Edward membangunkan Ai yang tidak sadar ketiduran dalam perjalanan.
“ ah ya” Ai langsung membuka
matanya, dirinya semalam tidak bisa tidur karena memikirkan pertemuan ini,
akibatnya dia begitu mengatuk dan tertidur dalam perjalanan.
Tak lama suara gerbang
terbuka menarik pendengaran Ai, dibukanya jendela kereta untuk melihat suasana.
“ jangan”cegah Edward,
kawasan ini memiliki peraturan khusus. Seakan melakukan kesalahan, Ai segera
menarik tangannya dari jendela kereta.
Kereta kemudian berjalan
masuk, mereka sudah memasuki bagian dalam bangunan. Ai merasa sedikit gugup,
dia tidak tau tempat apa yang sedang dia kunjungi.
“ mari “ pintu sudah
terbuka dan Edward berjalan keluar terlebih dahulu. Setelahnya disusul Ai yang
langsung mengamati keadaan sekitar. Diluar tidak ada apapun. Bangunan ini
seakan mati tidak ada suara ataupun tanda-tanda kehidupan.
“ kau yakin disini
tempatnya?” Ai mencoba menghilangkan keraguannya.
“ ya tuan” jawab Edward.
Dia mengerti dengan pertanyaan Ai, dia sendiri sewaktu pertama kali datang
kemari juga memiliki pertanyaan yang sama. Tempat ini seakan tidak berpenghuni.
Begitu turun kereta yang
mereka tumpangi langsung pergi meninggalkan mereka. Edward segera melangkah
mendahului Ai, mereka menuju sebuah pintu kayu yang berada tepat di depan
mereka, hanya terpisah beberapa meter saja.
AI segera menyusul,
Edward membuka pintu tersebut didalam tampak gelap tidak ada penerangan.
“ hati-hati, perhatikan
langkah anda” Edward mencoba mengingatkan. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan
Duchess.
“ apa tidak ada obor atau
semacamnya?” Ai hanya bisa melangkah sedikit demi sedikit, dia meraba bangian
dinding. Jika di perhatikan ruangan ini seperti sebuah lorong. Karena hanya
memiliki lebar tidak lebih dari 2 meter.
“ tidak, memang kita akan
berjalan dalam kegelapan sampai beberapa meter lagi” ucap Edward. Lelaki itu
meski sudah terbiasa dengan keadaan ini dia juga masih berhati-hati. Dia juga
memperhatikan Ai yang ada dibelakangnya.
Sampai beberapa saat
kemudian penglihatan mereka menangkap remang-remang sebuah cahaya di depan.
Seperti dugaan Ai mereka memang sedang berada di sebuah lorong.
Kini langkah mereka mulai
cepat, karena sudah tidak perlu lagi meraba dan berhati-hati dalam melangkah.
Ai dan Edward sudah akan mendekati pintu keluar, semakin dekat dengan
penerangan.
Begitu pintu terbuka di
sana sudah ada seorang yang menyambut kedatangan mereka, seorang lelaki dengan
berpakaian serba hitam, dia dengan wajah datar membimbing kedua tamunya
berjalan melewati jalan setapak. Dari pengukuran Ai kemungkinan mereka sekarang
sudah berada di dalam hutan. Bangunan tadi merupakan gerbang pintu masuknya,
dan memang benar bangunan itu berada persis di tepi hutan lebat.
Baik Ai dan Edrward tidak
ada yang mengeluarkan suara, terdiam sambil terus memperhatikan jalan. Mereka
begitu fokus dengan penerangan yang dibawa oleh seseorang berbaju hitam itu.
Perjalanan terasa lumayan
lama hingga mereka melihat sebuah gerbang pintu masuk, gambarannya seakan sama
dengan pondok milik pelayannya Ai dulu. Di depanya menggunakan gerbang kayu
“ kita sampai” ucap
Edward. Lelaki itu segera membuka gerbang sedang pemandu itu berbalik badan
kembali menelusuri jalan yang sudah mereka lalui. Tugasnya sudah selesai untuk
mengantar tamu kediaman.
“ mari” Edward
membuyarkan perhatian Ai yang semenjak tadi mengikuti perginya pemandu jalan.
Mereka masuk, didalam
suasanya sepi, Ai berjalan menuju ke sebuah ruangan yang berada di paling
depan.
“ silahkan duduk tuan”
Edward mempersilahkan Ai duduk, sedang dirinya keluar untuk menemui seseorang.
Ai ditinggal seorang diri.
Lama berselang suara
langkah kaki sayup-sayup terdengar, Ai membenarkan posisi duduknya. Dia akan
memberikan kesan yang bagus agar seseorang itu mau memberikan informasi
selengkapnya kepadanya.
“ anda sudah datang” Ai
menatap dengan seksama seseorang yang baru saja berucap padanya. Rasa-rasanya
wajah itu terasa tidak asing baginya. Ai segera berdiri menyambut kedatangan
seseorang itu, dia masih dalam keadaan mengingat siapa sosok lelaki yang ada di
hadapannya.
“ anda tuan Kleiner
bukan?” ya, seseorang itu sepertinya adalah ayah Hardwin. Namun keadaanya tampak
lebih tidak terurus, jenggotnya begitu tebal dengan wajah yang seakan lelah.
“ anda benar Duchess”
lelaki tadi langsung menjabat tangan Ai dan mempersilahkan wanita itu duduk
kembali.
“ jadi selama ini anda
disini? Hardwin tidak pernah mengatakan apapun” Ai tidak bisa menyembunyikan rasa
kagetnya. Dia tidak menyangka seseorang yang akan dia temui adalah orang
ibukota juga.
“ anak itu tidak tau
apa-apa, saya juga tidak menyangka dia berada di perbatasan bersama dengan anda”
Tuan Aidyn Kliener membalas pertanyaan Ai. wanita itu akhirnya tidak jadi marah
pada Hardwin, andai saja lelaki itu menyembunyikan hal ini, Ai jelas tidak akan
mempercayainya lagi.
Tuan Kleiner sudah di
beritahu jika ada seseorang yang mengaku sebagai Duchess datang beserta lelaki
bernama Hardwin. Mengetahui informasi ini jelas saja dia langsung mengizinkan
Ai datang menemuinya. Namun tidak dengan anaknya. Lelaki itu perlu berbicara
empat mata pada Duchess terlebih dahulu.
“ dia memiliki surat Raja”
jawab Ai dia mengatakan semua yang dia ketahui, wanita ini tidak tau bahwasanya
lelaki di hadapannya juga sudah mengatahui semuanya dari Edward, yang tidak
Edward ketahui bahwa lelaki yang selama ini dia benci adalah anak dari lelaki
yang dia segani.
“ ya, Edward sudah
mengatakan semuanya” jawan tuan Kleiner.
Suasana kemudian senyap
mendadak, berhadapan dengan Tuan Kleiner Ai menjadi bingung harus bertanya apa.
Wanita ini bimbang apa mungkin lelaki di hadapannya ini bisa menjawab semua
rasa penarasarannya.
“ em, aku tidak tau harus
mulai darimana. Apa mungkin anda sudah berada disini bahkan sebelum perang
dimulai?” Ai mencoba menyusun kelimatnya.
“ ya, saya disini memang
mengikuti arahan Duke” jawab tuan Kleiner.
“ mengenai kondisi di
perbatasan, apa saja yang anda ketahui?” Ai harus memastikan jika lelaki ini
bisa memberikan informasi mengenai suaminya. Jika tuan Kleiner berada di sini
sebelum perang pecah, sepertinya untuk tau dimana Axton berada akan sangat
kecil.
“ saya tidak mengetahui
apapun,” Ai mengerutkan keningnya, ternyata ekspektasinya terlalu tinggi. Wanita itu menghembuskan nafas panjang, bukan
ini yang dia ingin dengar. Edward seakan mempermainkan dirinya, Ai merasa di
bohongi.
“ tapi apa yang terjadi
setelah perang pecah, saya mengetahui semuanya” lanjut tuan Kleiner kemudian. Hampir
saja pupus harapan Ai, kini dia menatap dalam lelaki dihadapannya.