The New Duchess

The New Duchess
Bab 101 : Harapan



“ mau bagaimana lagi”


ucap Edward terus terang. Suasana mulai mencair. Kegugupan Edward juga mulai


hilang.


Perjalanan masih terus


berlanjut, sedangkan di kota Tordor sana seorang lelaki tampan sedang menahan


emosinya begitu masuk kedalam tenda miliknya. Siapa lagi kalau bukan Hardwin.


Dia merasa jika Ai dan Edward sedang merencanakan sesuatu. Bahkan Hardwin


berfikir bahwa Edward seakan memiliki rasa kepada Ai. tidak, tidak akan Hardwin


biarkan Ai di rebut oleh lelaki lain.


Hari mulai malam saat


kereta itu sampai di sebuah kawasan yang terpencil dan tersembunyi. Dari luar


memang tampak seperti bangunan terbengkalai didalam hutan. Namun jika sedikit


saja mendekati gerbang maka sengatan listriklah yang akan menyambut.


“ kita sudah sampai tuan”


Edward membangunkan Ai yang tidak sadar ketiduran dalam perjalanan.


“ ah ya” Ai langsung membuka


matanya, dirinya semalam tidak bisa tidur karena memikirkan pertemuan ini,


akibatnya dia begitu mengatuk dan tertidur dalam perjalanan.


Tak lama suara gerbang


terbuka menarik pendengaran Ai, dibukanya jendela kereta untuk melihat suasana.


“ jangan”cegah Edward,


kawasan ini memiliki peraturan khusus. Seakan melakukan kesalahan, Ai segera


menarik tangannya dari jendela kereta.


Kereta kemudian berjalan


masuk, mereka sudah memasuki bagian dalam bangunan. Ai merasa sedikit gugup,


dia tidak tau tempat apa yang sedang dia kunjungi.


“ mari “ pintu sudah


terbuka dan Edward berjalan keluar terlebih dahulu. Setelahnya disusul Ai yang


langsung mengamati keadaan sekitar. Diluar tidak ada apapun. Bangunan ini


seakan mati tidak ada suara ataupun tanda-tanda kehidupan.


“ kau yakin disini


tempatnya?” Ai mencoba menghilangkan keraguannya.


“ ya tuan” jawab Edward.


Dia mengerti dengan pertanyaan Ai, dia sendiri sewaktu pertama kali datang


kemari juga memiliki pertanyaan yang sama. Tempat ini seakan tidak berpenghuni.


Begitu turun kereta yang


mereka tumpangi langsung pergi meninggalkan mereka. Edward segera melangkah


mendahului Ai, mereka menuju sebuah pintu kayu yang berada tepat di depan


mereka, hanya terpisah beberapa meter saja.


AI segera menyusul,


Edward membuka pintu tersebut didalam tampak gelap tidak ada penerangan.


“ hati-hati, perhatikan


langkah anda” Edward mencoba mengingatkan. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan


Duchess.


“ apa tidak ada obor atau


semacamnya?” Ai hanya bisa melangkah sedikit demi sedikit, dia meraba bangian


dinding. Jika di perhatikan ruangan ini seperti sebuah lorong. Karena hanya


memiliki lebar tidak lebih dari 2 meter.


“ tidak, memang kita akan


berjalan dalam kegelapan sampai beberapa meter lagi” ucap Edward. Lelaki itu


meski sudah terbiasa dengan keadaan ini dia juga masih berhati-hati. Dia juga


memperhatikan Ai yang ada dibelakangnya.


Sampai beberapa saat


kemudian penglihatan mereka menangkap remang-remang sebuah cahaya di depan.


Seperti dugaan Ai mereka memang sedang berada di sebuah lorong.


Kini langkah mereka mulai


cepat, karena sudah tidak perlu lagi meraba dan berhati-hati dalam melangkah.


Ai dan Edward sudah akan mendekati pintu keluar, semakin dekat dengan


penerangan.


Begitu pintu terbuka di


sana sudah ada seorang yang menyambut kedatangan mereka, seorang lelaki dengan


berpakaian serba hitam, dia dengan wajah datar membimbing kedua tamunya


berjalan melewati jalan setapak. Dari pengukuran Ai kemungkinan mereka sekarang


sudah berada di dalam hutan. Bangunan tadi merupakan gerbang pintu masuknya,


dan memang benar bangunan itu berada  persis di tepi hutan lebat.


Baik Ai dan Edrward tidak


ada yang mengeluarkan suara, terdiam sambil terus memperhatikan jalan. Mereka


begitu fokus dengan penerangan yang dibawa oleh seseorang berbaju hitam itu.


Perjalanan terasa lumayan


lama hingga mereka melihat sebuah gerbang pintu masuk, gambarannya seakan sama


dengan pondok milik pelayannya Ai dulu. Di depanya menggunakan gerbang kayu


“ kita sampai” ucap


Edward. Lelaki itu segera membuka gerbang sedang pemandu itu berbalik badan


kembali menelusuri jalan yang sudah mereka lalui. Tugasnya sudah selesai untuk


mengantar tamu kediaman.


“ mari” Edward


membuyarkan perhatian Ai yang semenjak tadi mengikuti perginya pemandu jalan.


Mereka masuk, didalam


suasanya sepi, Ai berjalan menuju ke sebuah ruangan yang berada di paling


depan.


“ silahkan duduk tuan”


Edward mempersilahkan Ai duduk, sedang dirinya keluar untuk menemui seseorang.


Ai ditinggal seorang diri.


Lama berselang suara


langkah kaki sayup-sayup terdengar, Ai membenarkan posisi duduknya. Dia akan


memberikan kesan yang bagus agar seseorang itu mau memberikan informasi


selengkapnya kepadanya.


“ anda sudah datang” Ai


menatap dengan seksama seseorang yang baru saja berucap padanya. Rasa-rasanya


wajah itu terasa tidak asing baginya. Ai segera berdiri menyambut kedatangan


seseorang itu, dia masih dalam keadaan mengingat siapa sosok lelaki yang ada di


hadapannya.


“ anda tuan Kleiner


bukan?” ya, seseorang itu sepertinya adalah ayah Hardwin. Namun keadaanya tampak


lebih tidak terurus, jenggotnya begitu tebal dengan wajah yang seakan lelah.


“ anda benar Duchess”


lelaki tadi langsung menjabat tangan Ai dan mempersilahkan wanita itu duduk


kembali.


“ jadi selama ini anda


disini? Hardwin tidak pernah mengatakan apapun” Ai tidak bisa menyembunyikan rasa


kagetnya. Dia tidak menyangka seseorang yang akan dia temui adalah orang


ibukota juga.


“ anak itu tidak tau


apa-apa, saya juga tidak menyangka dia berada di perbatasan bersama dengan anda”


Tuan Aidyn Kliener membalas pertanyaan Ai. wanita itu akhirnya tidak jadi marah


pada Hardwin, andai saja lelaki itu menyembunyikan hal ini, Ai jelas tidak akan


mempercayainya lagi.


Tuan Kleiner sudah di


beritahu jika ada seseorang yang mengaku sebagai Duchess datang beserta lelaki


bernama Hardwin. Mengetahui informasi ini jelas saja dia langsung mengizinkan


Ai datang menemuinya. Namun tidak dengan anaknya. Lelaki itu perlu berbicara


empat mata pada Duchess terlebih dahulu.


“ dia memiliki surat Raja”


jawab Ai dia mengatakan semua yang dia ketahui, wanita ini tidak tau bahwasanya


lelaki di hadapannya juga sudah mengatahui semuanya dari Edward, yang tidak


Edward ketahui bahwa lelaki yang selama ini dia benci adalah anak dari lelaki


yang dia segani.


“ ya, Edward sudah


mengatakan semuanya” jawan tuan Kleiner.


Suasana kemudian senyap


mendadak, berhadapan dengan Tuan Kleiner Ai menjadi bingung harus bertanya apa.


Wanita ini bimbang apa mungkin lelaki di hadapannya ini bisa menjawab semua


rasa penarasarannya.


“ em, aku tidak tau harus


mulai darimana. Apa mungkin anda sudah berada disini bahkan sebelum perang


dimulai?” Ai mencoba menyusun kelimatnya.


“ ya, saya disini memang


mengikuti arahan Duke” jawab tuan Kleiner.


“ mengenai kondisi di


perbatasan, apa saja yang anda ketahui?” Ai harus memastikan jika lelaki ini


bisa memberikan informasi mengenai suaminya. Jika tuan Kleiner berada di sini


sebelum perang pecah, sepertinya untuk tau dimana Axton berada akan sangat


kecil.


“ saya tidak mengetahui


apapun,” Ai mengerutkan keningnya, ternyata ekspektasinya terlalu tinggi. Wanita  itu menghembuskan nafas panjang, bukan


ini yang dia ingin dengar. Edward seakan mempermainkan dirinya, Ai merasa di


bohongi.


“ tapi apa yang terjadi


setelah perang pecah, saya mengetahui semuanya” lanjut tuan Kleiner kemudian. Hampir


saja pupus harapan Ai, kini dia menatap dalam lelaki dihadapannya.