The New Duchess

The New Duchess
Bab 41 : Bertemu Teman



Sudah beberapa hari di kediaman Duke, Amber dan Ai menghabiskan waktu bersama. Mulai masak bersama, hingga tidur siang bersama tentu saja hal ini untuk menghindar dari jangkauan sang suami. Sedangkan sang paman terlihat sibuk mengunjungi barack. Terkadang Ai juga merasa aneh karena pamannya yang baru datang terlihat begitu akrab dengan Barack milik sang suami.


“ bibi bagaimana jika hari ini kita keliling kota, Ai akan ajak bibi melihat bagaimana toko perancang busana yang terkenal “ ajak Ai dengan nada manjanya.


“ memangnya kau mengenal perancang itu? Kau terlihat antusias sekali” jawab Amber yang masih fokus merangkai bunga.


“ tentu saja, mau ya?” Ai terus saja merengek, dia juga sebenarnya ingin membelikan bibinya ini gaun mahal sebagai hadiah.


“baiklah-baiklah” Amber tidak bisa melihat mata pengharapan ponakannya yang manis.


Hanya perlu waktu singkat untuk mempersiapkan diri, kini kedua wanita itu sudah duduk di kereta menuju toko busana langganan kediaman Duke. Beberapa lama kemudian kereta berhenti, mereka sudah sampai.


“ mari bibi” Ai membantu Amber menuruni tangga kereta.


“ Duchess Wellington, selamata datang” ucap salah satu pelayan toko.


“ kau sudah sering kemari?” bisik Amber yang melihat bagaimana renspon ramah para pelayan toko.


“ tidak, baru beberapakali saja “ kilah Ai, nyatanya ketika dia sibuk dengan pertemuan, sebagian besar gaunnya berasal dari toko ini.


Kedua wanita itu duduk di sofa toko, pelayan sedang mempersiapkan beberapa rancangan terbaik dari toko.


“ ini Duchess dan Baronees, silahkan di nikmati” ucap pelayan sambil meletakkan beberapa kudapan sambil menunggu persiapan gaun.


“ bibi cobalah, roti disini begitu manis dan enak” AI mengambil satu kue kering dari meja. Dibelakang sofa ada kaca besar, darisana bisa melihat situasi jalan dan bagian depan toko. Memudahkan jika ada pelanggan yang ingin melihat koleksi gaun dari luar.


“ ini adalah koleksi terbaik kami, silahkan anda dipilih dan bisa di coba” ucap pelayan setelah membawakan beberapa potong set gaun.


“ wah, warna-warna ini begitu mempesona, bibi kemarilah” Amber mendekati Ai yang sudah lebia dulu memilih gaun.


“ sepertinya ini bagus “


“ tidak, gaun ini lebih cocok untuk wanita muda seperti mu” Amber sudah mengira bahwa ponakannya pasti akan membelikannya gaun,  harga disini pasti mahal-mahal jadi sebisa  mungkin menolak semua keinginan Ai.


“ tidak-tidak, ini cocok,,” kalimat Ai menggantung ketika melihat siluet seorang lelaki yang ingin dia temui. Setelah memastikan dugaanya benar, Ai segera meminta izin pada Amber.


“ bibi aku tinggal sebantar, bibi harus memilih salah satu dari gaun-gaun itu” pesan Ai dan segera keluar toko.


Berjalan menyebrang menuju toko kopi, tempat lelaki itu masuk beberapa saat yang lalu.   


“ selamat datang”  seorang penjaga toko langsung menyambut pelanggannya.


“ apa kau tau kemana Lord Hardwin itu pergi?” tanya Ai yang melihat toko ini sedikit ramai sehingga menghilangkan jejak kerpergian Hardwin.


“ Lord Hardwin biasanya akan ke lantai 2, silahkan nona cari di atas” jawab penjaga toko sopan, dia tidak mengenali Ai yang sebenarnya seorang Duchess.


“ ahya, terimakasih” AI segera menaiki tangga, menuju lantai 2. Setelah beberapa saat mencari, dia akhirnya bisa menemukan orang yang dia cari. Sedang duduk sendirian di bagian balkon toko. Segera saja dengan langkah ringan menuju meja Hardwin.


“ Ai, bagaimana kau bisa disini?” Hardwin begitu terkejut dengan kehadiaran Ai.


“ tentu saja mengikutimu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu” Ai tidak ingin berlama-lama meninggalkan bibinya jadi tanpa perlu basa-basi langsung mengutarakan niatnya.


“kau sangat jagonya mengintai, mari kau ingin tanya apa?” jawab Hardwin senang. Menghabiskan waktu bersama Ai seperti sudah sangat lama terjadi, Hardwin tidak akan merusak moment langka seperti ini.


“ ini mengenai pesta ulang tahun putra mahkota, dari kabar yang ku dengar kau orang yang menolongku, apa itu benar?” Hardwin diam sejenak mencerna sebenarnya apa maksud dari pertanyaan Ai yang tiba-tiba.


“ terimakasih, aku hanya ingin mengatakan terimakasih dan maaf karena sudah membuatmu berurusan dengan Axton akhirnya” ucap Ai sambil memegang tangan Hardwin.


“ aku tidak tau jika Grace akan senekat itu, sepertinya aku harus meminta maaf pada pangeran Sea karena pasti merusak pestanya” lanjut Ai terus terang.


“ dia tidak mengatakan apapun lagi? Sungguh kau ingin meminta maaf pada Sea ?” Hardwin tidak habis pikir, kenapa bisa Ai mengatakan hal ini.


‘Sepertinya Axton tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi’ batin Hardwin. Dia begitu terbawa emosi dengan kalimat terkahir Ai.


“ dia siapa? Axton? “ tanya Ai tidak mengerti.


“ iya, apa suamimu tidak mengatakan sesuatua terkait dengan Sea ?” Hardwin benar-benar habis kesabaran, melihat kepolosan Ai.


“ pangeran Sea, memangnya kenapa dengan dia?” AI semakin penasaran dengan kalimat yang Hardwin berikan.


Hardwin terawa sejenak, sungguh membuatnya lucu dan bertanya-tanya. Kenapa bisa hal sebesar ini Ai tidak mengetahuinya.


“ aku jelaskan padamu, orang yang menyelakaimu bukan hanya Grace seorang” Hardwin mulai memancing rasa penasaran Ai.


“ lelaki itu adalah putra mahkota. Pangeran Sea, dia ingin melecehkanmu malam itu” ucap Hardwin sambil menyerumput kopinya, matanya mengamati Ai. Bagaimana respon wanita muda yang ada di depannya ini.


Ai terdiam, kaget mengetahui kebenaran ini. Dan lebih buruknya suaminya tidak mengatakan apapun terkait kejadian itu. Sungguh miris.


“ kau pasti berbohong” Ai mengelak dari kebenaran.


“ untuk apa aku berbohong padamu Ai, aku mendengarnya sendiri pembicaraan antara Grace dan Sea. Itulah alasannya kenapa aku bisa langsung menyelamatkanmu. Bahkan membawamu ke kediamanku karena si Sea menyuruh penjaga kerajaan untuk melobi kepulangan kereta bengsawan. Ai kau sungguh naif. Kau mengenalku sejak lama, kau pasti bisa merasakan kejujuranku” jelas Hardwin mengebu-gebu. Temanya ini harus disadarkan dari kebutaanya kepada cinta Axton.


“ Axton tidak mengatakan apapun” lirih Ai yang masih terdengar jelas oleh Hardwin.


“ mungkin Axton terlalu sibuk dengan teman bisnisnya” ucap Hardwin asal. Dia tau jika Axton juga mengalami hal yang sama dengan istrinya, tapi sengaja dia tutupi dari Ai.


Perang batin dalam diri Ai mendengar jawaban Hardwin. Dia benar-benar melihat kejujuran lelaki ini, tapi entah kenapa kalimat terakhir Hardwin ini begitu mengganggunya. Suaminya memang sedang berbicang dengan kolegannya , tapi mana mungkin tidak tau sedikitpun tentang hal yang menimpa istrinya.


‘ axton pasti memiliki alasan lain kenapa tidak bisa menolongku’ batin Ai mencoba menghibur dirinya. Ai sudah mendapatkan hal yang dia cari, kini dengan langkah lemas meninggalkan meja.


“ suamimu tidak sesederhana yang kau lihat, temui aku jika kau memiliki masalah” pesan Hardwin ketika Ai meranjak membelakanginya. Meski begitu dengan sangat jelas Ai mendegar perkataan Hardwin. Satu sudut bibir Ai naik, merasa  tersentuh dengan perhatian kecil Hardwin. Tanpa perlu menjawab Ai segera turun dan kembali ke toko busana. Moodnya sudah hilang, Ai sekarang berpura-pura tersenyum menyambut tatapan Amber. Dia harus menyembunyikan kesedihannya.