
Pagi-pagi buta kediaman Duke sudah terlihat sibuk. Ai mulai mengemasi beberapa pakaian. Pagi ini paman dan bibinya akan kembali bersama dengannya. Meski ada ribuan pertanyaan namun Ai harus menelan semua rasa penasaranya.
“ bagaimana sudah siap?” tanya Axton begitu masuk ke kamar yang sedikit berantakan,
“ he’em, tinggal kau angkat ke bawah” jawab Ai singkat. Dia sedikit kesusahan memilih baju awalnya, jadi mulai penat.
“ aku akan memanggil,,,”
“ angkat saja, tak perlu menyusahkan orang lain” potong Ai. Axton tentu saja menuruti ucapan istrinya.
“ aku akan bersiap sebentar” lanjut Ai agar axton segera turun tanpa menunggunya.
Beberapa saat setelah memastikan jika suaminya berjalan turun, Ai mulai mengendap memasuki ruang kerja Axton. Dia mencari berkas kematian dua mendiang Duchess, kemungkinan Axton masih menyimpannya jika tidak di berikan kepada keluarga sang wanita. Ai berharap memang berkas itu ada disana.
Bolak-balik membuka segala laci dan lemari, membuka satu-persatu amplop yang terlihat lama, tak kunjung membuahkan hasil. Sudah terlalu lama Ai berada di sana, takutnya Axton mulai curiga. Akhirnya maniknya melihat sesuatu yang menarik di lemari, Ai mengambil amplop yang terletak paling bawah di lemari.
“ mungkin ini bisa digunakan” lirih Ai saat menemukan berkas pernikahan Axton disana, ada dua atas nama Esme dan Kyilee. Tanpa perlu banyak berfikir Ai segera mengambil kedua berkas tersebut dan menyembunyikannya di dalam tasnya.
“ kau lama sekali” keluh Axton saat melihat kedatangan Ai yang terlambat. Amber sudah menunggu di samping kereta sejak tadi.
“ maaf aku mencari sapu tangan tadi” kilah Ai tak ingin menimbulkan kecurigaan.
“ kemana paman Allard?” Ai tidak melihat pamannya di sana.
“ pamanmu akan menyusul nanti, ada urusan mendesak” jawab Amber lugas.
“ baiklah, sudah waktunya” lanjut Amber segera masuk ke kereta.
Membuat Ai dan Axton saling memandang, waktu kepergian sudah tiba.
“ jaga dirimu ya” pesan Ai memeluk suaminya erat.
‘ maafkanku, mulai sekarang aku akan mencari semuanya sendiri’ ucap Ai dalam hati.
“ kau juga, tunggu aku disana” jawab Axton tak kalah sedih, mereka berpelukan sedikit lama.
‘ semoga semuanya akan berakhir’ batin Axton mengelus punggung istrinya pelan. Mereka kemudian berciuman singkat kemudian Ai masuk ke dalam kereta.
Kereta mulai meninggalkan kediaman, pandangan mata Ai dan Axton tidak terputus hingga kereta itu berbelok keluar gerbang. Dalam hati mereka menyimpan perasaan masing-masing. Perasaan serta keinginan untuk tidak saling menyakiti.
Perjalanan berlangsung lancar, hari sudah sore ketika kereta itu sampai di pelantaran sebuah rumah sederhana. Rumah yang memiliki cat putih hampir disemua sisinya. Kedua wanita itu turun, sedang kusir dan satu pengawal membantu menurunkan barang.
“ sudah lama “ lirih Ai sambil menatap rumah itu. Meski tidak banyak waktu yang dihabiskan Ai disana. Namun inilah satu-satunya rumah dimana dia mendapatkan kasih sayang selayakanya keluarga.
“ kau pasti letih, ayo kita istirahat di dalam” ajak Amber. Setelah membuka kunci pintu mereka masuk. Disana tidak ada siapapun, tak ada belasan pelayan ataupun penjaga. Begitu sederhana, biasanya akan ada satu pembantu setengah hari, untuk membantu keseharian Amber. Dan sekarang diliburkan karena kunjungan Baron ke kota.
“ ah iya bibi” Ai dengan semangat segera masuk. Mulai membersihkan beberapa sudut rumah, sedang Amber memasak di dapur. Setelah selesai, mereka membersihkan diri dan menunggu waktu makan malam.
Tok tok Ai segera menyembunyikan berkas itu.
“ ya, bibi” berjalan membuka pintu.
“ mari makan malam” ajak Amber, Ai langsung menutup pintu dan ikut bibinya ke meja makan.
Tampilan yang begitu sederhana dan merindukan. Menu masakan malam ini adalah makanan kesukaanya. Bibi Amber begitu perhatian kepada Ai.
“ wah bibi, ini yang aku rindukan, masakan bibi terlihat begitu lezat” Ai langsung menarik kursi dan mendudukinya.
“ tidak mungkin, makanan di kediaman Duke jauh lebih lengkap dan lezat” goda Amber.
“ disana memang terlihat megah, tapi disini begitu bermakna, tidak ada tandingannya “ puji Ai, membuat Amber tersenyum ringan.
Makan malam berlangsung dengan begitu hangat. Didalam rumah itu hanya ada mereka. Dalbert yang merupakan anak lelaki Amber sedang bertugas. Baru besok pagi pelayan rumah akan datang.
Malam ini Ai sudah menyusun rencana bagaimana caranya agar dia bisa mengetahui rahasia dibalik kematian mendiang Duchess. Meski sedikit beresiko namun Ai sudah membulatkan tekad.
Hari ke-2 di kediaman Bohmen, paman Allard datang. Ai semakin berhati-hati dalam bertindak. Tentu saja jalan terbaiknya adalah dengan meninggalkan rumah.
“ paman, bibi sepertinya Ai akan berkunjung dan menginap beberapa hari di Barack. Ai begitu merindukan suasana disana” ucap Ai meminta Izin saat sarapan berlangsung.
Allard dan Amber saling pandang, tidak tau harus mengambil keputusan apa.
“ em, apa kau yakin? kondisimu sekarang begitu berbeda dengan dulu” jawab Allard mengingatkan soal batasan kepada Ai.
“ sebentar saja, setidaknya ini jadi moment perpisahanku. Dulu bahkan tidak sempat berpamitan dengan temanku disana” Ai tidak mau menyerah, hari ini harus bisa keluar dari rumah. Selama ini Ai merasakan betul jika mereka sedang menahannya untuk tidak keluar.
“ mau bagaimana lagi, izinkan saja. Hanya beberapa hari kan?” Amber merasa sedikit kasihan mendengar keinginan Ai. Amber juga berfikir ini akan mengalihkan perhatian Ai dari kota. Membuatnya melupakan Duke sejenak.
“ yasudah, hanya beberapa hari” Allard akhirnya menyetujui keinginan Ai, meski dengan berat hati. Jika di cegah takutnya Ai akan semakin tidak betah tinggal disini.
“ terimakasih paman, bibi. Ai akan mulai berkemas” Ai begitu bersemangat, segera saja meninggalkan meja makan.
“ sarapanmu Ai!” teriak Amber.
“ sudah kenyang” balas Ai dengan berteriak. Allard serta Amber sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Ai yang tidak banyak berubah, masih saja seperti dulu. Berlari dan berteriak jika sedang dalam kondisi hati yang baik.
Setelah siap dengan perlengkapannya Ai pamit dan segera menaiki kereta, perjalanan tidak terlalu lama. Jadi sebelum sore Ai sudah sampai di barack tempat tinggalnya dulu.
Suasana masih sepi, kemungkinan para tentara sedang memiliki tugas keluar. Ai berjalan memasuki bangunan dimana kamarnya dulu berada. Bangunan khusus yang merangkap dengan kantor.
“ Ai kau kembali?” teriak salah satu temannya yang kini menjadi kepala barack.
“ hanya berlibur sebentar, melepas rindu pada kamar tersayangku” jawab Ai. Mereka terlibata perbincangan singkat kemudian Ai pergi menuju ke kamarnya. Ini adalah barack milik ayahnya, tentu saja tidak ada yang berani mengotak-atik kamar berharganya. Ai hanya membersihkan ruangan itu sebentar, mengecek beberapa perabotan. Sebelum akhirnya kereta pesananya datang, Ai segera menaikinya untuk menuju ke rumah seseorang. Temannya hanya mengira jika Ai bersiap pulang, dan hanya berkunjung sebentar. Jadi tidak curiga sedikitpun.